Part 3 (Tidak setiap selamat tinggal layak mendapat Hallo baru :’))
Sebuah cerita berkelanjutan, dari cerita sebelumnya…
Bertemu terakhir di sabtu pertama November-
Meninggalkan belasan wajah lugu selama nyaris 13 hari, membuat bibirku melengkung berkali-kali sebab membayang ocehan bernada protes mereka. Ah aku rindu-
Menikmati udara selepas subuh lantas mengelilingi desa, melihat lahap pakan sapi-kambing ternak, lalu mengelilingi sawah melihat hektaran padi yang menguning, tomat dan lombok menggantung siap dipanen, mendatangi Lek So di kandang ayam petelur miliknya.
dipekarangan rumah, mbah ty menyambut, lalu aku bercerita dan tertawa bersamanya. Sederhana, tapi ini membahagiakan-
Pagi hari ini aku dan lek Nut boncengan motor melewati hektaran sawah dengan tawa, kami membeli kembang kemudian ke makam. Pada nisan mbah kung tertulis tanggal dan bulan yang sama dengan tanggal dan bulan hari ini, hanya tahun yang berbeda. Maka, hari ini saat aku mendatangi makam mbah kung genap 13 tahun sudah mbah kung lebih dulu meninggalkan kita, hingga kini aku hanya memiliki beberapa potret senyum simpul, beberapa raut wajah saat menyambut datang dan pergiku yang sesekali kuingat kala rindu. Dan hari ini sebelum dzuhur aku menghadiahi doa-doa serta indah warna-warni taburan bunga sebagai pamitku untuk kembali mengirimi doa dari kejauhan
Diperjalanan pulang, dari kejauhan samar-samar terlihat dipekarangan rumah mbah Ty ada tiga laki-laki bercengkrama begitu hangat dan dekat. Mereka punya dunia yang tidak mampu untuk ku definisikan. Mereka punya ruang yang tak bisa kususupi, mereka punya cerita yang tak bisa kupahami. Mereka yang entah mengapa bisa saling mengenal dan begitu akrab. Bagaimana mungkin tiga orang yang ada dalam hidupku yang tak pernah saling mengenal, terpisah dengan jarak ribuan kilometer, terpisah dengan bentangan pulau, kini berada dalam satu senyum simpul yang sama. mereka ada, entah bagaimana bisa-
“Ca, tau ngak akan selalu ada yang tetap ingin meminta maaf” ucap lek Nut membuka percakapan sejalan dengan melambatkan gas motor dan memecah pikiranku.
“Maksudnya Lek?”jawabku sambil mencoba mencerna kalimat tersebut
“Akan tetap ada bagian yang ngak akan bisa di obati waktu. Itu, mangkan’ne ada namanya penjelasan yang terlambat” jawab lek Nut menjelaskan
“But not every goodbye deserves a new hello kan Lek?” jawabku
“Tergantung Ca, perlakuan ngak baik jangan dibalas ngak baik. Patah hati di umur 20 tahunan itu berat, tapi ada banyak pemahaman yang harusnya kita bisa gunakan diumur menginjak usia 20 tahunan, dan pemahaman itu diciptakan waktu, Kamu tau apa?” tanya lek Nut
“Kedewasaan?” jawabku dengan setengah nada bertanya
“Kedewasaan aja ngak cukup kalau akhirnya kita ngak bisa menerima Ca. You must teach your heart to accept what cannot be changed.” Seketika aku menjadi hening, lalu beberapa saat kemudian lek nut menambahkan kalimat yang membuatku semakin tersentak
“Kalau penjelasan itu terlambat, mendengarkan tetap sebaik-baiknya pilihan” ucap Lek Nut.
Lanjutkan membaca













