1. Mendidik anak butuh kesabaran tingkat tinggi, banyak bercermin pada Nabi Nuh yang berdakwah selama 950 tahun, namun bahkan anaknya sendiri pun enggan beriman, namun beliau tetap bersabar, tidak pernah berkata kasar kepada anaknya, atau mendokan buruk kepada anaknya.
2. Jika suami tidak dapat menjadi contoh untuk anak, misal: tidak sholat dll, jangan pernah salahkan suami tapi salahkan diri kita, mengapa kita memilih laki-laki yang demikian sebagai suami dan ayah dari anak-anak kita? Ada 2 kmgkinan:
– Dulu kita jahil seperti dia, atau kita tidak mengetahui kriteria pasangan untuk dijadikan suami dan lebih memilih kriteria-kriteria duniawi, atau bahkan kita sebenarnya sudah tahu tapi lebih memperturutkan hawa nafsu kita untuk tetap memilih dia. Solusi: banyak-banyak bertaubat dan bersabar, karena ujian ini sebabnya adalah kesalahan kita sendiri.
– Yang kedua, dulu dia shalih tapi dia berubah. Untuk hal ini kita sebagai istri memililki hak untuk menggugat pada suami.
3. Jika suami tidak mau banyak terlibat dalam pengasuhan anak, tetap bersabar karena balasan itu sesuai dengan amal, dan tidak perlu mengungkit-ngungkit hal ini didepan anak-anak.
4. Jangan membatalkan smua pahala-pahala kita dengan menyebut nyebutnya dihadapan manusia, terlebih lebih didepan anak. Baik dalam keadaan marah ataupun tidak.
Semoga bermanfaat. Kurang lebihnya mohon maaf. Kurangnya karena keterbatasan ilmu dan pemahaman saya, sedangkan semua lebihnya adalah dari Allaah.
Faidah Kajian “Mendidik Anak Tanpa Amarah” Pertemuan ke 4, Ustadz Abu Ihsan Al Atsary, Jumat 25 Jun 2021