Haii kak.. Manusia memang penuh dengan ambisi yak
Boleh sharing dong dan kasih nasihatnya.
Semisal nih, bbrapa tahun silam katakanlah ada yang naruh rasa diam - diam sama kk entah sejak kapan tumbuhnya. Sempat satu lingkup. Walau kk tak mengindahkannya, tapi ttep berharap ke Allah bahwa kk itu takdirnya. Tapi pas dia liat sikap kk itu sprti mengindahkan orglain, dia mengalah dan lebih menghindar dari lingkup yang berkaitan dg kk.
Memulihkan hati, terus menjalani hari, juga mencoba berproses. Bbrapa kali berproses, takdir berkata lain. Sempat dia pas minta petunjuk, tetiba bbrapa kali, kka lah yang datang dlm mimpi, tapi dihiraukan karena dia tau kk itu ada rasa ke yg lain.
Hingga akhirnya dia tau bahwa kk bukanlah takdir dari yang kk suka. Sempat berpikir, apa mimpi dulu petunjuk dari Allah yak? Tapi saat menoleh ke belakang, tak mau jatuh ke lubang yang sama, menaroh rasa dan tak pasti kan terbalas.
Perempuan nya mencoba lagi berproses dg santri pilihan gurunya di pondok dulu, hari berganti hari, petunjuk Allah terus dipintai, ternyata banyak sekali halangrintangnya, dia terus berhusnudzhan tapi selalu aja terpatahkan, kebanyakan temen yang sudah berkeluarga bilang, ga usah dilanjut, karena kamu itu berhak dapat yang lebih baik. Sontak smpat terpikir, apa pilihan Allah itu kk yak? Tapi terus ingat lagi, jangan banyak berkhayal, jalani aja yang di depan.
Saat coba menjalani berproses dg kenalan gurunya, itu berasa semakin rumit, mencoba tuk melepas jadi terasa terikat, tak karuan arah tujuan.
Semisal skarang stlah kk tau semua, saran dan nasihat kk untuk perempuan nya harus bagaimana?
Halo yang disana! Nasihat terbaik ada pada syari’at, quran dan hadist. Pada dasarnya rasa suka dan harap itu fitrah manusia yang wajar. Namun yang perlu diperhatikan adalah dampak dari rasa dan harap tersebut menyebabkan tindakan / sikap apa setelahnya.
Termasuk bab manajemen qolbu (hati) dan perihal jodoh (pernikahan). Pada hakikatnya hanya kepada Allah tempat kita bergantung, Allahu Shomad (QS: Al Ikhlas: 2) Perlu dipahami juga bahwa pria dan wanita secara tugas kewajiban dan hak itu berbeda. "Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri)“ (QS: An-Nisa:34) Pada hakikatnya perihal jodoh, wanita itu menunggu dan pria memulai. Jika sebaliknya yang terjadi, maka akan terjadi ketidak wajaran.
Jika dari rasa dan harap tersebut, muncul tindakan harap dan sikap yang berlebihan, menyelisihi fitrah atau syari’at; maka ini perlu diperbaiki.
Wanita punya hak prerogatif menerima dan menolak, namun resikonya menunggu atau ‘salah tunggu’. Pria punya hak prerogatif memilih dan dipilih, namun resikonya ditolak atau ‘didahului’.
Tidak mudah jadi wanita maupun pria. Namun Allah Maha Adil dengan segala pertimbangan perkaranya.
Pria dapat memililh wanita yang dia sukai namun belum tentu diterima. Wanita dapat memilih pria mana yang dia akan terima, namun terkadang harus sabar menunggu.
Pria dapat memilih dari sekian banyak kenalan wanitanya mulai dari sekolah dasar hingga bekerja, namun itu bukan perkara sederhana; yang berarti wanita tersebut berada di peringkat nomer satu dari puluhan bahkan ratusan kenalannya hingga ia pilih. Walaupun dengan catatan tidak ada garansi untuk diterima.
Wanita bisa menyeleksi pria mana yang lebih pantas baginya, berapapun dan seperti apapun yang sudah datang; namun resikonya harus sabar menunggu. Walaupun dengan catatan tidak ada garansi sosok pria yang ia tunggu akan datang.
Keduanya pria maupun wanita, dibayangi oleh ketidak pastian. Namun, memang begitulah seorang muslim hidup. Kita dituntut percaya / meyakini akan ketidak pastian (hal yang belum nampak) yaitu menjadi orang beriman, karena dalam Islam ada Rukum Iman, kita harus percaya adanya Allah, Rasulullah, kebenaran Al Qur’an, adanya Hari Kiamat, Surga dan Neraka, dll. Walaupun masih ghaib. Alladziina yu’ minuuna bil ghaib (QS: Al Baqarah: 3).
Jika seorang pria tidak mampu ‘beriman’ bahwa wanita yang akan ia persunting menjadi istrinya akan menerimanya. Maka bisa jadi tidak akan dia menikah sampai akhir hayatpun.
Serupa halnya dengan wanita, jika dia tidak mampu ‘beriman’ bahwa sosok pria yang akan dia nikahi adalah yang terbaik maka bisa jadi dia tidak akan menikah pula.
Intinya ada peran ikhtiar salah satunya dalam mempercayai hal yang ghaib (belum pasti / tidak nampak) dan kita sebagai orang mu’min harusnya sudah sangat terlatih dengan hal tersebut.
Saran penulis bagi wanita tersebut, perbaiki hati, perbaiki sikap, dan sabar. Ali bin Abi Thalib: "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia." Jika wanita tersebut ambil jalan ‘memulai’ maka harus siap akan resiko penolakan.
Tinggal pilih resiko mana yang diambil: menunggu atau penolakan?
Allah lebih tahu bahwa pria cenderung lebih kuat dengan penolakan daripada harus sabar menunggu. Perempuan cenderung lebih kuat sabar menunggu daripada menerima penolakan. Risk management, kita tidak bisa menghindar dari resiko. Kita hanya bisa meminimalisirnya dan mengantisipasi resiko mana yang siap kita tanggung.
Sederhananya: Jika yang datang duluan pria B bukan pria A yang kamu tunggu / harapkan, namun si B jauh lebih baik dari segi seluruh aspek dari si A. Untuk apa selama ini wanita tersebut mengharap - harap dan menunggu - nunggu si A? Kasian ga sih ke si B yang memilih kamu dari sekian banyak wanita yang dia kenal, tapi hati kamu dipenuhi si A dan sibuk memikirkan si A. Padahal si B lah yang Allah rencanakan menjadi jodoh terbaik wanita tersebut.
Atau wanita tersebut memilih resiko sebagai ‘pemulai’, dengan resiko penolakan atau diterima dengan ‘rasa kasihan’? Rasanya wanita terlalu mulia untuk menerima kedua resiko tersebut.
Sabar, jika pria yang wanita itu tunggu ternyata mendatanginya maka itu adalah hadiah terindah dari Allah. Namun jika yang datang adalah pria lain yang terbaik menurut Allah untuknya, sejatinya wanita tersebut telah mendapatkan segalanya.
“.. boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.“ QS: Al Baqarah 216.














