TBJT, Artis Panggung dan Artis TV
Pertama kali aku ke Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), biasa juga disebut TBS, kalau tidak salah itu ketika ikut liputan mbak Anna, Om Wisnu, dan Khusnun. Waktu itu ada acara pentas Opera Anak. Tari-tarian hingga teater. Yang main ya anak-anak.
TBJT tempat yang membahagiakan. Pendapha ageng berbentuk joglo dengan tiang yang super duper besar. Ornamen-ornamen khas Jawa menyempurnakan ciri sebuah taman budaya. Di atas, tak sampai atap, menggantung lampu-lampu yang sangat besar. Ada juga beberapa lampu yang biasa digunakan untuk berteater berbaris rapi. TBJT adalah tempat yang menyenangkan.
Turun ke bawah, pentas Opera Anak sudah dimulai. Ada sedikit yang menyentil kuping ternyata. Perihal administrasi, teater anak ini membawakan satir yang humoris kepada khalayak. Anak-anak ini menyebut betapa mahalnya biaya sewa untuk pentas di TBJT. Padahal, biaya produksi sebuah kelompok teater nyatanya memang cukup tinggi. Belum termasuk tenaga dan waktu yang digunakan. Padahal, acara waktu itu tidak dipungut biaya.
Cukup masuk akal jika adek-adek ini mengkritisi kebijakan pihak TBJT. Mereka menyerukan, taman untuk rakyat, dari rakyat oleh rakyat, dan dari rakyat. Kalau tidak salah ada ungkapan begitu. Kalau tidak pun, ada sebuah fenomena di sini, menyewa TBJT itu mahal!
Jika bertanya pada pihak TBJT pun pasti akan memberikan rincian pemasukan dikurangi dengan pengeluaran untuk perawatan, yang mungkin juga cukup tinggi. Apakah berhenti begitu saja? Tidak, aku melihat yang lebih tinggi dari ini. Yaitu antusias yang tak pernah padam.
Salahkan pemerintah jika pertunjukan untuk rakyat tapi perlu membayar. Salahkan rakyat jika untuk tampil, penampil harus merogoh kocek tinggi untuk sewa tempat. Salahkan pemerintah jika kelompok-kelompok peduli budaya ini tergerus zaman karena pendapatan tidak sesuai dengan ongkos produksi.
Aku berpikir demikian. Namun, tidak jadi ketika akhirnya sering menonton pertunjukan. Orang yang bermain adalah orang yang memiliki passion. Aku melihat orang-orang yang berdedikasi karena mereka suka. Mereka tentu tahu jika pekerjaan seperti ini nantinya tidak terlalu menghasilkan banyak uang. Mereka orang yang rela hidup pas-pasan, sederhana. Padahal, akting para penampil di acara-acara ini tak kalah hebat bila cuma dibandingkan dengan Rafi Ahmad, Raditya Dika, atau Al-El-Dul.
Ya aku pikir memang hidup harus begini. Masih banyak di daerah-daerah lain yang memiliki kearifan lokal lainnya. Kadang kita pasti juga berpikir kenapa artis yang aktingnya buruk dan ceritanya buruk di televisi itu gajinya besar-besar, sedangkan teater rakyat yang kaya akan nilai kemanusiaan dan pemeran-pemeran yang jago tidak mendapatkan gaji yang tinggi? Apakah ini adil?
Tidak usah membandingkan dengan yang di luar negeri. Aku yakin mereka juga sama.Kalah dengan aktris di TV yang aktingnya buruk.
Aku mencoba masuk ke perspektif seorang pelaku teater. Apakah aku bercita-cita masuk TV? Tidak! Bermain di panggung TBJT adalah kenikmatan yang tinggi. Penonton di sini pastilah orang yang memang ingin menyaksikan pentas budaya. Untuk itu, tampil di depan para pecinta budaya lebih penting dan tinggi ketimbang tampil di TV menuruti skrip yang buruk.
Kenapa ceritaku ngalur ngidul ga jelas? Aku juga ga tahu. Yasudah, sekian.















