MANUSIA
Selembar penat kutulis sebab tak mampu lagi mengucap, kata-kata jamak yang begitu bodoh kau artikan, tidaklah salah menjadi begitu. Jangankan menjadi ‘aku’, menjadi dirimu saja kau tak ingin.
Di atas tebing, yang paling curam jurangnya, kita bercerita tentang bagaimana hidup seharusnya selesai. Kau inginnya akhir yang bahagia, tanpa adanya susah. Sedang aku sedikit ingin tertantang. Beberapa ‘bagaimana jika’ begitu mudah kuucapkan. Tapi memang tidak buruk, ‘kan, tantangan itu?
Lalu kita coba ‘tuk terjun. Ingin tahu bagaimana dasarnya jurang ini. Di udara, semuanya hampa. Bahkan kita tak mampu hanya sekedar bertatap mata. Tapi tangan kita merayap. Di tubuhmu, ada gemetar. Kau takut? Akan apa? Padahal kau tak sendiri. Bibirmu sedikit tersumbing. Lalu kau bertanya, akan parasku yang khawatir. Pucat ini apa? Padahal aku tak sendiri.
Manusia yang paling munafik adalah dirinya sendiri. Jadi wajar, ketika aku yang takut, aku bilang kau yang takut. Begitupun sebaliknya.
Tapi manusia yang paling jujur adalah dirinya sendiri juga. Jadi wajar, saat kita saling menenangkan, kita tersenyum akan terpenuhinya harapan.
— Purwakarta, A.















