Terkadang dalam hidup, kita membutuhkan adanya tekanan (pressure). Agar ada dorongan motivasi buat diri ini untuk lebih maju, lebih cepat, dan lebih unggul. Bercakap-cakap dengan sohib kala S2 dan akhirnya saya paham bahwa setiap orang punya pressure-nya masing-masing. Ada yang hamil dan selalu tiap minggu bolak-balik pulkam demi anak pertamanya, ada pula yang sedang menyusui sehingga ibu teman saya turut merawat buah hatinya agar anaknya dapat fokus menyelesaikan tesis. Qadarallah dan mereka lulus tercepat diantara kita dengan nilai yang sungguh memuaskan. Saya pun waktu itu ditekan dengan deadline yang semakin dekat dan alhasil saya pun lulus tepat waktu meskipun mepet.
Ternyata tekanan dalam hidup itu perlu dan penting. Saat ini, tekanan yang kita hadapi tiap-tiap jiwa adalah kematian. Entah kapan deadline kematian itu datang, kita siap tidak siap harus rela meninggalkan dunia. Mungkin kita lupa akan kampung halaman kita yang sesungguhnya yaitu akhirat dan akhirnya terlena dan tidak mempunyai tujuan yang jelas hidup di dunia ini. Pada akhirnya kita menjadi pribadi yang tidak mau berbenah diri setiap harinya, "hidup gini-gini aja, iman gak naik-naik kan gak ada salahnya. Toh masih lama hidup di dunia ini kan?"
Pernah tidak kita lupa bahwa kita dituntut untuk selalu bermuhasabah diri, bukan dengan bermalas-malasan dan bersantai ria seperti di pinggir pantai. Tanpa beban dan tanpa khawatir cukup atau tidak bekal kita di akhirat. Pernah? Mungkin kita belum mendapatkan deadline kematian akan tiba. Seandainya kita tahu kapan kita meninggal dunia, pasti kita akan takut dan bersegera diri bertobat, melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Namun sayangnya tak ada seorang pun tahu kapan dia akan dimatikan oleh Allah dan yang perlu kita waspadai adalah sudah siapkah kita?
Tanpa memperhatikan bekal apa yang akan kita bawa ke alam yang kekal tersebut, kita akan menjadi umat yang merugi. Kemudian kita akan menyesal mengapa dulunya selama hidup di dunia menyia-nyiakan umur dihabiskan dengan tidak memberikan kebermanfaatan bagi diri sendiri maupun orang lain. Itulah mengapa Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita untuk sering-sering mengingat kematian. Agar kita tidak lupa bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Ketika kita mengingat kematian, yang diingat pasti ingin selalu melakukan yang terbaik dalam amal ibadah dan kebaikan, ingin bertobat atas kesalahan yang telah kita lakukan, dan ingin lebih banyak hal yang bermanfaat yang kita lakukan.
Seolah-olah ibadah atau kebaikan itu adalah yang terakhir yang dapat kita lakukan di dunia ini dan tentu saja kita ingin meninggal dalam keadaan husnul khotimah, mampu mentalqilkan kalimat la ilaha illallah. Namun apakah kita bisa dan sanggup? Ketika banyak dosa yang bergelimang di hati kita. Ketika masih banyak orang yang tersakiti karena kita. Dan ketika kita dimatikan dalam keadaan kita sedang berbuat dosa. Karena Allah menutup umur kita sesuai dengan kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari. Jika di dunia terbiasa berbuat kemungkaran, Allah pun akan menutup usianya disaat dia dalam berbuat mungkar.
Jangan sampai penyesalan datang terlambat setelah Allah peringatkan berkali-kali kepada kita untuk mengingat kematian seharusnya kita berusaha untuk mempersiapkannya dengan baik. Perhatikan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang kita ucapankan. Karena itu dapat menjadi kebiasaan kita lalu membentuk karakter pada diri masing-masing individu. Biasakan diri untuk beramal sholeh agar kita termasuk golongan orang-orang yang beriman dan beruntung. Aamiin ya rabbal alamiin.