Satu hadis yang cocok buat mengingatkan orang tua yang anak-anaknya pelaku kriminal namun berusaha menutup-nutupi:
Demi Allah, kalaulah Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti aku sendiri yang memotong tangannya.
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Ukraine
seen from Italy
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from China
seen from Germany
seen from Germany

seen from United States
seen from Ukraine
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from Germany
seen from United States
Satu hadis yang cocok buat mengingatkan orang tua yang anak-anaknya pelaku kriminal namun berusaha menutup-nutupi:
Demi Allah, kalaulah Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti aku sendiri yang memotong tangannya.
Doa mohon perlindungan.
Selamat hari Isnin. Moga hari ini kita semua lebih kuat lagi. Semangat! ✨
Inilah yang Aku Takutkan Atas Kalian di Muka Bumi
Inilah yang Aku Takutkan Atas Kalian di Muka Bumi
Bagi sebagian manusia, dunia terlihat begitu menggiurkan. Dunia terasa begitu indah dan menyenangkan. Tak heran jika saat ini begitu banyak manusia yang berlomba-lomba untuk mendapatkan manusia dengan cara apapun. Baik itu cara yang halal maupun cara yang haram. Padahal, tahukah Anda? Empat belas abad yang lalu Rasulullah telah menjelaskan tentang dunia ini.
Abu Sa’id Al Khudri mengisahkan, pada…
View On WordPress
Ukhti, Mendidiklah dengan Lembut
Ukhti, Mendidiklah dengan Lembut
Ukhti, Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling lembut perangainya kepada orang lain. Beliau selalu bersikap dengan memperhatikan faktor psikologis dan kondisi orang lain. Dengan demikian, sudah sepantasnya, kita, yang mengaku sebagai umat Muhammad, meneladani sikapnya yang lembut ini.
Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan akan memperindahnya dan…
View On WordPress
Seperti Nabi, Suami Tempat Istri Bersandar Kala Galau
Seperti Nabi, Suami Tempat Istri Bersandar Kala Galau
Nabi SAW adalah suami yang sangat memahami kondisi para istrinya, baik kondisi fisik maupun psikis. Dua kondisi ini dari satu waktu ke lainnya dapat berubah-ubah. Nabi SAW sangat pandai memahami hal itu terhadap para istrinya.
Maymunah, salah satu istri Nabi, berkata, “Suatu kali Rasulullah mendatangi salah seorang dari kami. Salah seorang dari kami itu sedang haid. Maka beliau meletakkan…
View On WordPress
Cukuplah Hanya Allah Penolong Kita
“Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah sebaik-baik tempat bersandar.” (QS. Ali-Imran: 173)
Kalimat di atas adalah ucapan doa Nabi Ibrahim kepada Allah, manakala beliau berhadapan dengan penguasa Babilonia yaitu taja Namrud. Kita tentu tahu betul bagaimana kisah beliau ketika itu. Nabi Ibrahim menghancurkan seluruh berhala yang disembah rakyat dan penguasa Babilonia, dan menyisakan satu…
View On WordPress
GPS dan ‘Curangnya’ Anak Kecil
Perjalanan itu selalu membawa pelajaran, bahkan sekedar perjalanan pulang. Seperti kemarin, saat akan pulang dari Bandung menuju kampung halaman, Baturaja, tanteku menyadari kalau ia lupa mengisi ulang daya power bank. “Nggak apa-apa kan ya, power bank-nya nggak di-recharged?” tanya tanteku. Aku mengangguk mantap sambil berkata, “Nggak apa-apa, nggak perlu GPS. Nggak mungkin nyasar kan.” Memang selama berwisata ke Jawa kemarin, kami mengandalkan GPS dan Google Maps sebagai pemandu arah, dan itu menyebabkan kami harus selalu sedia power bank karena batere ponsel cepat habis.
Tetapi ini cuma perjalanan pulang. Rute Bandung-Baturaja lewat darat ini sudah menjadi rutinitas minimal sekali setahun sejak aku kecil, kadang lebih. Aku begitu yakin tidak akan ada masalah.
Selanjutnya bisa ditebak—kami memang tersasar, untuk pertama kalinya. Sepanjang perjalanan aku memang tidur, terbangun saat kami berhenti di SPBU, daerah Jakarta Utara. Lumayan juga jauhnya. Melihatku bangun, Mama menyuruhku ‘bekerja’. “Coba pakai GPS, cari jalan yang bener.” Mobil kembali masuk tol sambil menanyakan arah ke merah pada petugas penjaga pintu tol. Alhamdulillah, kami sudah kembali ke jalan yang benar, hehe. Tapi perjalanan yang biasanya cukup memakan waktu 4 jam mundur jadi 6 jam, baru masuk kapal pukul 3.00 dini hari.
Cerita tersasar ini sebenarnya biasa saja, tapi aku langsung teringat kisah Rasulullah yang ‘ditegur’ Allah SWT karena lupa mengucapkan “Insya Allah”. Sama seperti aku yang begitu yakin kami tidak akan memerlukan GPS, Rasulullah saat itu begitu yakin akan turunnya wahyu. Mungkin aku juga sedang diperingatkan, betapa pentingnya mengucapkan Insya Allah dalam setiap perbuatan. Laa haula walaa quwwata illaa billaah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.
Manusia memang tempat salah dan lupa.
Kemudian di siang hari, kami kembali berhenti di musala pom bensin untuk melaksanakan salat Zuhur, kalau tidak salah di daerah Lampung Utara. Ketika salat, aku merasa terganggu dengan suara berisik motor-motoran yang dimainkan anak kecil di dalam musala. Ditambah suara ibunya yang berusaha memperingatkan si anak tapi tidak digubris, menambah ramai saja. Kesal jadinya. Tetapi ketika aku selesai salat, tak disangka anak kecil yang dimaksud mendekatiku dan menyodorkan motor-motorannya. Ternyata salah satu rodanya lepas. Aku memasangnya sambil melihat ke bocah itu... dan rasa kesal tadi menguap entah kemana. Usianya mungkin sekitar 2 tahun, laki-laki, dengan wajah bulat dan sepasang mata hitam khas anak kecil—bulat dan polos.
Curang! Dia membuatku jatuh cinta hanya dalam sekali pandang, padahal tadinya sudah kesal.
Si anak ini lucu sekali, berlarian kesana-kemari dengan mainannya. Di teras musala, roda motornya copot lagi dan dia meminta tanteku yang berada di dekatnya untuk membetulkan. Aih, lucunya. Tanteku yang sedang makan rambutan memberinya sebuah, yang langsung diterimanya, tapi kemudian dilemparkannya lagi dengan ekspresi geli—membuat kami semua tertawa. Mengingatkanku dengan salah satu kisah Rasulullah SAW yang lain, ketika Beliau sujud lamaaaaa sekali dalam salatnya. Ternyata Beliau melakukan itu karena salah satu cucunya menduduki punggungnya. Alih-alih bangkit, Beliau tetap bersujud sampai sang cucu yang sedang bermain-main itu turun sendiri. Masya Allah. Betapa seharusnya aku meneladaninya. Betapa seharusnya aku jauh lebih bersabar.
Selalu ada cerita dalam perjalanan. Sesederhana apapun itu... bahkan sesederhana perjalanan pulang.