Reasons Why I Choose To Leave
And here I am......... writing this story.
Sebenernya nggak ada kepentingan ke siapapun untuk menceritakan ini atau keharusan untuk menjawab pertanyaan orang yang kebingungan kenapa akhirnya saya mengambil keputusan untuk hengkang disaat semua kebaikan sudah ditawarkan. Tapi ingin aja menulis apalagi ini merupakan salah satu momen terberat dan keputusan terbesar yang pernah saya ambil.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Do not hate a thing which Allah has chosen for you, certainly whatever Allah has chosen for you has a great benefit which you do not know about.” - @islamictruths
Eaaa, mulai dari mana ya. Mulai dari di suatu hari yang cerah tiba-tiba katanya ada pembukaan Abdi Negara gede-gedean. Wow instansinya banyak banget wow. Pas orang tua ngasih tau dengan semangatnya, ku juga yauda antusias aja ikutan. Pas Bapak ampe ngeprint semua dokumen setiap instansi, ku yauda masi antusias (apresiasi kan). Pas seiring dengan berjalannya waktu, ku sudah lupa ada bukaan, ada orang tua yang rajin menanyakan almost every day “sudah daftar belum, Nak?” “pilih instansi apa, Nak?”.
Lalu suatu malam habis galau dan lagi libur, ku random aja daftar mengingat deadlinenya udah deket. Beklah, ku pilih-pilih, baca-baca, dan menimbang-nimbang, kepilihlah satu instansi yang buka buat TI dan roie nya pun nampak menantang “Analis Data”. Yasud daftar lah, Deputi nya aja pilih berdasarkan feeling semata tanpa perhitungan. Dengan segala dokumen yg harus di upload ini itu, wa daftar aja bismillah.
Munculah pengumuman administrasi, lolos. Oke, disini masih stay cool. Nggatau apa yang akan di hadapi. Keluar jadwal tes CAT, masih mencerna tes apaan ya nih. Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan kesibukan kantor, boro-boro belajar.... H-1 masi no idea harus bawa apa, pake baju apa. Pas hari H baru mulai mikir, belajar sebentar 2jaman, coba-coba simulasinya, eh kok tesnya susah ya? Baru mulai panik sedikit. Pas cari baju putih, eh nda punya yg bagus polos. Panik agak banyak. Yauda lah seadanya, ada corak dikit dipenitiin HA biar jd polos. Menuju tes CAT, pake drama nyasar taxi nya ngotot gedung padahal salah. Telat hampir setengah jam lebih dari jadwal. Mulai panik banyak dan nggak mau tes padahal udah depan gedungnya. Tapi akhirnya tetep masuk juga.
Keluar lah hasil tes CAT, cukup surprising liat rankingnya, dan ternyata lanjut tes selanjutnya. Mulai lah bingung, galau... ikut enggak ya.. ikut enggak ya... apa cari alesan ke ortu bilang gabisa.. segala opsi dipikirin. Akhirnya setelah minta saran kesana kemari, ikut aja. Alhamdulillah punya atasan bae bener, bilang mau cuti dua hari, engga ditanya mau kemana, langsung diiyain aja.
Ikutan deh tuh tesnya, alamakkk kaga sangka soal macam begitu, otak modal nol total lagi cuma belajar renstra yang kaga keluar samsek. Psikotest juga panjang bener, susah, alamak... Ada interviewnya, pas di interview udah jawab sejujur-jujurnya, gapake filter samsek. Interview final benerannya minggu depannya, alamak... pertanyaannya juga menohok-menohok amat, ngga kejawab bener pula. “sampai kapan kamu mau makan hikmah?” “kalau suami kamu nyuruh resign gimana?” “kalau nginep di kantor gimana?” and so on. Ngebandingin diri ini sama seseteteh yang ikutan tes juga, buset jauh bener asli, doi super confidence dan meyakinkan. Udah deh pasrah dan nothing to lose aja prinsipnya. Disini udah mulai galau, kalau keterima gimana ya. Mulai panik, ngga siap resign cepet-cepet.
Akhirnya hari pengumuman datang juga, dikasih tau temen malem-malem. Baru kebaca subuh, pas ulangtaun Amel 22 November, dan tepat di hari membuat masalah di kantor yang cukup genting. Udah hari itu semua ngumpul jadi satu, berasa jackpot, mulai memilah-milah aksi apa yang dilakukan. Hari itu fokus banyak hal, kelarin masalah di kantor, lanjut mengkonfirmasi dan bertanya pada orang instansi, lalu surprise Amel.
Semua masih in control sampe akhirnya pengumuman itu sampai ke tangan Bapak dan Bapak konfirmasi ke saya. Pertama ke Bapak, mencoba menjelaskan dulu kondisi saat ini di Kantor dan bahwa instansi inginnya masuk 2 Desember. Bahwa kondisi tidak memungkinkan untuk saya resign, kerjaan akhir tahun banyak, sedang ada masalah, nggak one month notice, dan beberapa petimbangan lainnya. Hati nurani nggak mengizinkan untuk pergi gitu aja. Kedua, ditelepon sama Ibu Negara, awalnya manis, baik, bisa diskusi menjelaskan kondisi, ujungnya, ah sudahlah. Cukup kan malam itu malam terdrama dan bikin pusing lengkap dengan segala efek setelahnya, yang gak cuma ke saya, tapi ke seisi keluarga inti.
Besokannya, coba diskusi dengan psikolog dan bertanya pada ustadzah, seserius itu sampe saya ingin buka mata dari berbagai sisi. Tapi, posisi saya jadi defensif dan menghindari seluruh kontak dengan orangtua. Bapak saya masih mencoba ngehubungin, saya reject dan chatnya saya abaikan. Sampai akhirnya beliau sepertinya mengerti saya menjauh karena merasa sendirian dan mulai berada di titik netral dan mendukung jalan apapun yang akan diambi. Ku merasa sangat senang. :”))
Hari Jumatnya, thing is getting serious. Ngga perlu di mention seberapa seriusnya, yang jelas I left with no option for the sake of the rest of family, nda ada opsi not go. Konfirmasi lagi ke instansi, ternyata dimundurin jadi 2 Januari. Bener-bener amazing gimana Allah membukakan satu-satu jalan yang udah mentok. Di hari itu pula harus pulang ke Bandung, dan pertama kali ngerasa risih ga nyaman dan rasanya ingin cepet-cepet balik ke Jakarta. Di Bandung juga cuman untuk tes kesehatan dan malemnya cau Jakarta. Lagi-lagi, Allah membukakan jalanNya dengan membuktikan bahwa Allah lah Maha Membolak Balikan Hati, Ibu tiba-tiba ngewhatsapp panjang yang intinya akan mencairkan suasana. Semakin yakin kalau Allah akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi hambaNya yang hanya berharap padaNya...
Hari-hari berlalu, waktu terus jalan. Tetep nurut ngikutin orangtua untuk masukin berkas daftar ulang. Tapi sejujurnya, masih ngga bisa memutuskan akan ambil atau enggak karena masih secinta itu di Telkomsel, lagi sesuka itu sama pekerjaannya. Kaya lagi pacaran sayang-sayangnya terus dipaksa putus gitu. Gaenak banget kan, yang terakhir aja sampe susah moveon bertahun-tahun #eeeh eaaa ko curcol. Adapula tambahan fakta yang berhubungan sama pasangan, yang rasanya tuh duh mending saya aja yang stay deh.
Sambil ikhtiar sama-sama berdoa dan bertanya saran pada orang-orang sekitar dan orang yang bisa dipercaya, saya mulai pelan-pelan bilang masalah ini sama peers dan manager yang have no idea kalau ini akan terjadi. Kalau ada probabilitas harus resign like SOON. Boom. Reaksi peers sangat suportif untuk mengambil, mengingat memang harus salah satu resign, dan karena udah ada yang dapet duluan, ya yang dapet itulah yang mendingan pergi, karena itu rezeki dari Allah. Mas rendyka bilang quotes yang sangat menenangkan saya, bahwa “Kita itu sama Allah pandangannya jauh berbeda. Kita itu pandangan terbatas, liat pintu aja, mentok di pintu itu pandangannya. Tapi Allah, bisa lihat even yang ada di balik pintu itu, ngga sampai itu aja, bahkan yang diluar gedung ini juga bisa. Artinya, kita itu cuma bisa lihat mungkin yang seminggu ke depan, proyeksi, itu juga belum tentu bener. Tapi Allah, bisa lihat Aini ke depan, berapa tahun lagi, berapa puluh tahun lagi, dan apa yang terbaik buat Aini.” Deg. Dalem banget. Kalau Mas Akbar, lain lagi responnya, ngakak ngga kelar-kelar tapi beliau juga sangat suportif. Memberi waktu untuk berdiskusi dengan keluarga dan gausah buru-buru memutuskan. Nanti dia bantu aturin.
yaAllah baik-baik banget, dimudahkan banget. Pas long weekend awal Desember, berencana untuk menyelesaikan guna mencari jawaban kan. Tapi hasilnya nihil, karena kata Bapak, Ibu nggak mau bahas-bahas itu langsung sama saya. Jadi, ya kita berkomunikasi biasa, tanpa membahas dan menyeret hal itu, karena setiap kali bahas itu sama Bapak dan ada opsi untuk stay di Telkomsel, ya reaksinya masih begitu. Argo waktu jalan terus, akhirnya saya memutuskan untuk resign dengan pertimbangan bahwa toh nanti harus resign, dan pilihan ini juga sama-sama baik, mari kita fokus mempersiapkan nikahan, kita tutup cerita tentang siapa yang harus resign, dan nyari lagi kerja dari awal. Niat ngasih surat resmi di hari Jumat, tapi ternyata kata manager w tunggu aja minggu depan karena sebuah misi rahasia w yang ingin beliau kabulkan.
Akhirnya diputuskan tanggal 14 Desember saya akan kasih surat resign. Dari pagi dateng, udah langsung print dan masukin amplop. Apalah daya ya, manager ga masuk karena anaknya sakit. Tiba-tiba siang dapet berita, MK ngebolehin nikah satu kantor. Alamak... apaan lagi ini... siang bolong kaga ngarep kaga ngimpi ada macam begini berita? Ini beneran? Kenapa sih di hari mau kasi surat resign... Jadi lah galau (lagiiii).
Udah ini artinya excuse terkuat untuk resign sudah punah. Beneran pilihan adalah di tangan diri sendiri. Langsung lah bergeriliya lagi, dan usahakan yang bisa diusahakan, diskusi lagi minta saran, sambil tanya HCM probabilitas aturan gimana, paralel sambil istikharah lagi... berdoa terus bener-bener minta sama Allah dikasih jalan yang terbaik. Eh, kok aneh ya perasaan... seharusnya kan hati tenang, bisa dong stay di Telkomsel, gausah resign, tapi ini makin lama malah makin gelisah. Gelisah ga tenang ketika mikirin udah mau stay aja di Telkomsel.
Mulai diskusi lagi heart to heart dengan pasangan, orangtua, dan beberapa teman dekat. Orang tua dan pasangan bilang lebih tenang kalau satu aja yang di swasta, satu lagi di abdi negara. Bukan untuk keamanan yang diagung-agungkan itu, tapi mungkin untuk perempuan lebih klop lah, karena di Jakarta gapunya saudara yang stay, bapak saya ngerasa tenang kalau pas saya berkeluarga tidak di swasta, supaya anak ngga keteteran nanti karena cuma berdua sama pasangan di kota yang keras ini.
Saya merenung dan menanyakan lagi sama diri saya, “kamu cari apa aini di hidup ini?” “apa yang kamu cari sebenernya?” “uang? keluarga? atau apa?”. Jawabannya adalah keluarga, saya ingin fokus pada keluarga saya. Baik orangtua maupun nanti pasangan jika sudah berkeluarga. Kalau kata chissy mah, di akhirat ga akan ditanyain slip gaji berapa, bisa bayar pajak ke negara berapa banyak setahun, ditanyanya gimana keluarga, gimana ke suami, gimana ngedidik anak. Sebenernya mah ingin jawab uang juga, tapi tau itu fana, jadi yasudahlah, mari kita kesampingkan itu semua.
Setelah berpikir dan terus berdoa, Bismillah yakin resign aja. Dengan segala berat hati dan rasa tidak ingin segera meninggalkan Telkomsel, mari hadapi kenyataan yang ada. Pas udah memantapkan hati dan bilang sama atasan berbagai level supaya resign segera di proses, hati malah lega banget. Plong aja gitu. Sampe ditanya sama orang, “Kok lo ga sedih sih mau resign? Kaya biasa aja?”. Sebenernya bingung ya, antara udah mati rasa atau beneran karena sudah mengambil jalan yang benar, tapi maunya percaya kalau ini pertanda sudah mengambil jalan yang benar, xi xi xi.
Kebutlah kerjaan yang masih kesisa banyak itu, mulai sounding user dan vendor kalau w mau resign supaya proses semua di speed up lagi. Sampe hari akhir, rasanya masih kaya ngawang banget gitu, kalau itu hari terakhir. Sangat gak berasa, karena masi aja sibuk kerjaan. Ga berasa farewell yang beneran farewell sedih-sedihan, baru pas sore aja ada kumpul-kumpul sebentar dan sedikit. Ternyata, 29 Desember kemarin, semua perjalanan indah yang penuh jatuh bangun harus berakhir. Nyesel sih, ngga ambil cuti buat break liburan dulu, ha ha terlalu ga tega untuk tinggalin kerjaan (bahkan wa masi double job minggu ini). Sekarang ga punya cuti deeey kaya isi bensin “dimulai dari nol ya mbak”. lol.
Kalau kata Fadel Muhamad, di sebuah timeline Line, berkata :
1. “Pada akhirnya, hidup kita memang bukan hanya milik kita. Banyak hal yang kita inginkan, banyak pencapaian yang ingin kita raih untuk memuaskan ego kita, tapi selalu ada orang lain yang harus dipertimbangkan. Karena toh kita bisa sejauh ini, karena perjuangan dan pengorbanan mereka kan? Pada akhirnya, kita akan sadar bahwa kita tidak akan pernah sendiri, dan hidup ini bukan milik kita.”
2. “Ternyata menekan ego bukan berarti ga bahagia, mungkin ada bentuk bahagia lain yang tidak pernah kita duga, yang Allah siapkan untuk kesabaran kita menekan ego”
Yes, could not agree more! :) I’m waiting for Allah’s surprise.
Selalu percaya dan sangat percaya akan ada hikmah dibalik ini semua dan kejutan menarik yang Allah siapkan. Sebagai hambaNya, hanya bisa berpasrah dan menjalani hidup sebaik-baiknya, dengan penuh semangat dan keceriaan. Look at the bright side, always. We may not know what’s gonna happen tomorrow, but dont ever lose hope. Memilih jalan ini bukan berarti kalah ataupun menang, bukan pula karena terlalu naif, karena toh seluruh harapan plus minus yang dipertimbangkan itu bisa saja meleset semuanya.
Tapi semua ini untuk mereka, orang yang memang penting buat saya. I’ll be happy if they’re happy. :)
Lagipula, hidup cuma permainan kalau kata pujangga-pujangga kan, jalanin & nikmatin aja lah perjalanannya. Apa atuh kita mah hanya butiran molekul di dunia ini, ngga ada apa-apanya dibanding Allah yang sudah berkehendak. hee. Apa yang manusia kira lebih baik, belum tentu menurut Allah lebih baik. Karena kita hanya bisa lihat secuil dari seluruh yang bisa Allah lihat :’)
Kiss, luv, n gawl dari Kamar Kosan, 6 Januari 2018 di malam minggu yang sendirian nda ada kawan apalagi nongki. hix.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan berdasarkan cerita di atas, maka berikut jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang sangat sering ditanyakan:
(Monmaap aja ini kl ada yang mikir ko berasa artis, apa atuh aku hanya manusia biasa kalau lagi kesel kadang-kadang lupa harus jawab apa, jadi mending ditulis ajah lah biar inget kalau lupa tinggal nyontek):
1. Kok anak ITB mau sih bekerja di pemerintahan?
Saya nggak melihat diri saya berbeda dengan orang lain apalagi merasa spesial dan lebih daripada oranglain hanya karena saya lulus dari ITB. Apalagi mengingat saya juga kayaknya hoki aja modal doa orang tua yang kenceng makanya bisa keterima dan survive hingga akhirnya bisa lulus. Apalah aku hanya lumut nya kolam intel ganesha. Saya tetep manusia biasa yang pengen nurut orang tua dan setiap langkahnya diberkahi. Eaa.
2. Lho kan itu Telkomsel udah enak? Sama-sama BUMN dan yang bonusnya berlimpah sampe 24x gaji itu? Penempatan Jakarta lagi. Kenapa coba harus resign? Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?
Pertama, Telkomsel bukan BUMN, hitungannya anak dari BUMN a.k.a swasta. Kedua, perusahaan mana yang bonus nya doang ampe 24x gaji, kekna nda ada....... (oke ini FYI aja ya)
Nah saya sudah cerita di atas bahwa saya sangat menyukai pekerjaan saya. Relasi sudah banyak, lingkungan kerja yang baik, rekan kerja yang suportif, punya sahabat yang baik-baik banget, gaji yang alhamdulillah lebih dari cukup, dan penempatan kerja udah di kota Jakarta. Tapi semua itu ga akan ada artinya tanpa restu dan dukungan dari orangtua maupun pasangan nanti. As much as I love my job, prioritas saya kelak bukan disitu. Prioritas saya adalah menjadi anak yang baik, dan menjadi istri serta ibu yang baik. Ladang pahala saya disana. Balik lagi, “apa yang kamu cari di hidup ini?”. Semua orang punya jawaban berbeda, untuk saya jawabannya adalah mengejar ridho orang tua dan nantinya ridho suami, yang keduanya mencerminkan ridho Allah. Selama pilihan yang Allah berikan adalah sama-sama baik (dan saya beruntung menjadi orang yang diberikan pilihan seperti ini), maka saya memilih untuk yang lebih berkah dan yang sudah Allah gerakkan hatinya untuk saya. Lagipula kita nggak tahu apa yang terjadi di depan, saya takut nanti kualat si he he udah songong stay tp trnyata ya tida seperti keinginan.
Saya percaya rezeki udah ada yang atur, rezeki itu ga selalu berbentuk uang yang bisa kita nikmati, sangat banyak hal lainnya yang masuk ke dalam label rezeki tapi sering luput kita sebut rezeki dan baru inget pas udah ga ada. Walau saya gamau naif, saya juga khawatir perihal itu, cuman bismillah kalau emang rezeki mah ga akan kemana. Kalau kata quotes masa kini kan, gaji selalu cukup buat hidup, tapi kalau buat gaya hidup emang sering ga cukup. Ku percaya aja bahwa jika kita meninggalkan sesuatu untuk yang baik, Allah pasti akan siapkan kejutan-kejutan indah untuk kita, mungkin enggak hari ini atau besok, tapi pasti akan ada saatnya :)
Nikmat Allah mana yang kau dustakan karena Allah baik banget menyadarkan saya banyak hal melalui kejadian ini :)
Kalau ada yang bernasib sama kaya saya dan memilih untuk stay? Nggapapa juga :) karena semua orang tentu punya pertimbangan dan perhitungannya masing-masing serta nasib yang berbeda yang sudah ditentukan Allah. Kita sebagai sesama manusia hanya perlu saling menghargai dan mendukung.
3. Denger-denger gegara mau nikah sesama Telkomsel? Loh kenapa ga cowonya aja yang resign? Kan cowo lebih mudah beradaptasi.
Iya, mau nikah sesama Telkomsel. Iya, MK udah bolehin loh nikah sekantor. Meski pada awalnya saya daftar ini karena iya saya mau nikah dan harus resign, sedangkan skrg udah bisa sekantor dan gak perlu resign, pada akhirnya keputusan saya berdasarkan prioritas saya saat ini dan ke depannya. Kalau misal nanti pasangan saya mau resign juga, ya nggak apa-apa, toh saya resign juga karena pertimbangan personal, bukan melibatkan profesional aspek seperti “siapa yang lebih betah”, “siapa yang lebih akan berkarir bagus disini”, dan sebagainya ;)
4. Ngga takut tuh nyesel? Emang udah yakin ini jalan yang terbaik?
Mau di Telkomsel, ngga di Telkomsel, pasti masalah akan datang terus. Namanya juga ujian hidup. Saya pilih pindah bukan artinya saya yakin hidup saya akan lebih lancar apalagi lebih baik. Bisa jadi malah lebih berat ujiannya. Udah tau gitu kok ga takut nyesel? Buat apa nyesel, semua pasti ada hikmahnya. Pilihannya jalanin aja dulu yang dipilihin Allah dan terus minta dukungan pas hidup berasa lebih berat, ya pasti masa-masa itu akan berlalu juga. Lagipula, keputusan ini diambil setelah banyak berdiskusi, dari ustadzah, psikolog, temen kerja yang seumur sampe yang seumur orangtua saya, berdoa, dan solat. Hasil akumulasi itu semua, condong untuk sepertinya resign aja. Hati saya malah ga tenang kan pas keukeuh ingin stay. Pas yakin resign aja, malah hati rasaya lega dan tenang.
5. Tapi kan orangtua ga selalu benar? Ada hak anak juga untuk menentukan apa yang lebih baik karena kita yang jalanin?
Saya rasa semua manusia dasarnya memiliki kemauan dan keinginan sendiri. Begitupun dengan orangtua, beliau adalah orang yang sudah bersusah payah untuk membesarkan, tentulah ada harapan-harapan yang dititipkan pada kita. Kita, sebagai anak juga memiliki aspirasi sendiri. Menurut saya, titik utamanya adalah di kadar baik atau tidak, benar atau tidak itu relatif. ITB dan UI mana yang lebih baik? Itu relatif sesuai selera. Telkomsel dan Abdi Negara mana yang lebih baik? itupun menurut saya sangat relatif dan depends on point of view juga. Jadi, saya tidak menyalahkan orangtua saya untuk memiliki aspirasi dan keinginan meski caranya pada awalnya sulit diterima pun tidak menyalahkan diri sendiri karena sempat memiliki keinginan yang berbeda dengan orang tua. Tidak ada jaminan saya lebih benar ataupun orangtua lebih benar, tapi yang saya pegang adalah Ridho Allah adalah Ridho orangtua. Jadi saya menggunakan hak saya untuk menentukan jalan hidup kok pada akhirnya, karena alasan tersebut. Saya pun mengambil keputusan ini dengan sadar, atas kemauan sendiri, sangat hati-hati dan sangat berusaha untuk meminimalisir celah untuk menyalahkan oranglain di kemudian hari, sehingga tentunya keputusan ini diambil sudah dengan pertimbangan plus minusnya juga dan serta probabilitas apa saja yang akan terjadi di depan. Prinsipnya mah lagi-lagi, jalanin aja dulu. Percaya bahwa kalau niatnya nurut orangtua, sesial-sialnya juga akan selalu dibawah lindungan Allah a.k.a akan ada perlindungan dariNya.
6. Sekarang kan udah masuk, gimana tuh?
Saya ga pernah berekspektasi apapun. Saya ga berharap apapun juga. Jadi.... ya yaudah. Segala hal pasti ada tantangannya sendiri. Saya pribadi cuman ingin keputusan saya dianggap wajar dan berhenti dipertanyakan orang-orang, lupakan semua background saya (ni muluk kali ye). Kalau bisa ganti identitas, ganti deh sekalian wkwkwkw Ohya saya juga malah ngerasa harusnya saya yang banyak belajar untuk menahan diri dan mendewasakan diri. Enjoy ae lah bruh pokoknya apapun juga hadapi aja.
7. Kerjaannya beda banget dong sama di Telkomsel?
Yaiya cuy, satu procurement. satu lagi analis data. ya cemana nggak beda. Tapi ada kesamaannya, sama-sama saya nggak pernah berharap mereka jadi kerjaan saya alias ga suka. Lol. Tapi toh dulu juga procurement ga suka, apalagi tentang it, double kill ga suka, akhirnya bisa juga suka dan sangat menikmati. Sekarang tentang keuangan, korporasi, aturan, dan lain-lain. It’s okay, i’ll take it as a new challenge dan membuat saya “dipaksa” buat belajar lagi tentang hal baru. Challenge accepted! ;)
Semakin dewasa semakin jarang banget berharap. Udah lupa dulu pengen banget msdm, hcm, apalah itu pkknya tentang manusia-manusia dan cara menanganinya dan rasanya ngga suka yang lain. Sekarang, apa aeee lah kerjain pelajarin dan kuasain. wkwkwk!
Inti dari segala cerita ini yang paling ultimate, tenang aja gaes Badai Pasti Berlalu kok, mungkin nggak sesingkat lagunya Chrisye, mungkin agak lamaan dikit kaya nontonin dosen di kelas lagi ngajar ‘kok ngga kelar-kelar daritadi cuma nambah 5 menit’, atau ya agak lebih panjang dari musim pancaroba di Indonesa. Banyak-banyakin sabar aja. Seburuk-buruknya waktu pasti akan terlalui juga.
Last but not least, beneran terimakasih untuk semua orang yang waktunya sudah mau diambil untuk mendengarkan segala keababilan manusia satu ini, yang sabar menghadapi tersanjung dari season satu sampe final season ini. Sungguh waktu kalian semua yang mahal itu sangat berarti untuk ku saat ini :”))