Ada beberapa riwayat & teori ulama mengenai awal mula pendirian Masjid Al Aqsha (Baitulmaqdis), di antaranya adalah riwayat yang disajikan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalany dalam karya ilmiahnya mengenai wabah epidemi; Badzlul Ma'un fi Fadhlit Tha'un (بذل الماعون في فضل الطاعون):
ثم رأيت في ((المبتدأ)) لابن إسحاق، في سبب تأسيس داود عليه السلام بيت المقدس:
“... Bahwa latar belakang didirikannya Baitulmaqdis oleh Nabi Dawud a.s. adalah:
أن الله تعالى أوحى إلى داود أن بني إسرائيل قد كثر طغيانهم، فخيرهم بين ثلاث: إما أن أبتليهم بالقحط سنتين، أو أسلط عليهم العدو شهرين، أو أرسل عليهم الطاعون ثلاث أيام.
Allah Ta'ala mewahyukan kepada Dawud bahwa Bani Israel sudah keterlaluan melampaui batas dalam melanggar syariat, maka Allah berikan mereka tiga pilihan: (1) diberi musibah berupa paceklik selama dua tahun, atau (2) diberi musibah berupa musuh yang adidaya selama dua bulan, atau (3) dikirimkan kepada mereka wabah Tha'un (epidemi) selama tiga hari.
فخيرهم، فقالوا: أنت نبينا فاختر لنا. فقال: أما الجوع فإنه بلاء فاضح لا صبر عليه، وأما العدو فلا بقية معه، فاختار لهم الطاعون.
Bani Israel disuruh memilih. Mereka berkata: ’(Wahai Dawud,) Engkau adalah nabi kami, maka pilihkanlah mana yang terbaik untuk kami’.
Jawab Nabi Dawud a.s.: ‘Adapun paceklik, itu adalah musibah yang sangat berat, kalian tidak akan kuat. Jika kalian memilih musuh yang adidaya, maka dari kalian tak akan ada yang tersisa.’
Nabi Dawud a.s. akhirnya memilihkan wabah epidemi Tha'un untuk mereka.
فمات منهم إلى أن زالت الشمس سبعون ألفاً/، ويقال: مائة ألف.
Maka hingga matahari terbenam, tujuh puluh ribu dari mereka sudah meregang nyawa. Sebagian mengatakan: seratus ribu jiwa.
فتضرع داود إلى الله تعالى، فرفعه عنهم.
Tak kuasa melihat hal tsb, Nabi Dawud a.s. akhirnya memohon belas kasih kepada Allah Ta'ala. Maka segera berakhirlah wabah tsb.
فقال داود: إن الله تعالى قد رحمكم فأحدثوا شكرا بقدر ما أبلاكم. فشرع في تأسيس المسجد، إلى أن كان إكماله على يد ولده سليمان عليه السلام.
Setelah itu Nabi Dawud a.s. berkata:
'Sungguh Allah telah menyayangi kalian, maka lakukanlah sesuatu sebagai bentuk syukur kepada-Nya atas apa yang telah Dia berikan kepada kalian’.
Lalu Nabi Dawud a.s. memproyeksikan untuk membangun masjid (Al Aqsha), yang nantinya baru selesai pada masa putranya; Nabi Sulaiman a.s.”
***
Badai pasti berlalu. Epidemi pasti berhenti. Udara akan kembali segar, aktivitas akan kembali lancar, dengan izin Allah.
Jika waktu itu tiba, maka itu adalah nikmat yang sangat mahal, yang sangat patut disyukuri.
Nabi Dawud a.s. mewujudkan rasa syukurnya atas nikmat tsb dengan membangun karya mulia berupa Baitulmaqdis yang di kemudian hari (dan hingga hari ini masih) menjadi salah satu simbol besar kegagahan & kesucian umat ini.
***
Maka kelak jika badai wabah ini telah usai; karya mulia apa yang akan kita wujudkan sebagai bentuk rasa syukur?
Mari cita-citakan.
Jika memang tak selesai sampai nafas berusai, mudah-mudahan dilanjutkan dan sempurna oleh generasi berikutnya. Sebagaimana Baitulmaqdis yang belum juga sempurna hingga Nabi Dawud a.s. tutup usia, tapi tetap dilanjutkan dan sempurna di tangan Nabi Sulaiman a.s., sang putra.
Atau jika memang umur ditakdirkan tak sampai wabah mereda, setidaknya (mudah-mudahan) Allah ﷻ sudah menilai cita-cita mulia & mimpi besar kita. Dia ﷻ Mahatahu akan niat serta relung-relung hati setiap kita.