Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.
—Tan Malaka
EXPECTATIONS

JVL
Not today Justin

if i look back, i am lost
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Product Placement
hello vonnie
Monterey Bay Aquarium
RMH

Discoholic 🪩

#extradirty

pixel skylines
will byers stan first human second
untitled

No title available

blake kathryn
Sade Olutola
𓃗
wallacepolsom
Misplaced Lens Cap

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from India

seen from Finland
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Canada

seen from Türkiye

seen from Singapore

seen from Russia
seen from United States
seen from Finland
seen from South Africa
@fatahyasina
Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.
—Tan Malaka
HUJAN SEPULUH MUHARRAM
Selain kemenangan Nabi Musa, Asyura juga merupakan tanggal bersejarah bagi beberapa peristiwa sepanjang perjalanan semesta. Imam Abu Bakr Syatho’ dalam kitab masyhurnya, I’anatu Thalibin, mencatat setidaknya ada enam belas peristiwa emas pada tanggal tsb. Termasuk di antaranya adalah; hari pertama turunnya hujan.
Jika Alm. Sapardi punya sajak “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni”, maka izinkan saya menyebut “tak ada yang lebih menyimpan kenangan dari hujan sepuluh Muharram”.
Sebagaimana kita diperkenankan menikmati hujan, mudah-mudahan kelak Allah juga limpahkan kita kemenangan; seperti ke(me)nangan Nabi Musa pada Asyura. SEPULUH MUHARRAM
Selain kemenangan Nabi Musa, Asyura juga merupakan tanggal bersejarah bagi beberapa peristiwa sepanjang perjalanan semesta. Imam Abu Bakr Syatho’ dalam kitab masyhurnya, I’anatu Thalibin, mencatat setidaknya ada enam belas peristiwa emas pada tanggal tsb. Termasuk di antaranya adalah; hari pertama turunnya hujan.
Jika Alm. Sapardi punya sajak “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni”, maka izinkan saya menyebut “tak ada yang lebih menyimpan kenangan dari hujan sepuluh Muharram”.
Sebagaimana kita diperkenankan menikmati hujan, mudah-mudahan kelak Allah juga limpahkan kita kemenangan; seperti ke(me)nangan Nabi Musa pada Asyura.
Be sunshine for others.
Puncak dari cinta adalah mendoakan.
ما كان لله يبقى//
//وما كان لغيره يفنى
ليس الطريق لمن سبق،
إنما الطريق لمن صدق
Nampaknya bahasa Belanda perlu dilirik selain bahasa Arab dan bahasa Inggris untuk dipelajari atau diluaskan pengajarannya di negeri kita.
Sebab mau diakui atau tidak, negeri ini juga pernah punya sejarah panjang serta pengaruh besar Belanda, dan sayang sekali jika kita harus kehilangan banyak pelajaran mahal dari masa kelam tsb karena kendala bahasa.
Tidak ada agama selain Islam yang untuknya misi bekerja keras banting tulang 'tanpa hasil' dan padanya misi menggarukkan jarinya sampai berdarah dan terkoyak.
—Hendrik Kraemer
"مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ؟"
"Hari apakah ini, sehingga kalian berpuasa?", tanya Nabi ﷺ di Madinah kala itu kepada orang-orang Yahudi yang didapatinya berpuasa pada Hari Asyura (10 Muharram).
فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ؛ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ، وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ؛ فَصَامَهُ مُوسَى؛ شُكْرًا؛ فَنَحْنُ نَصُومُهُ.
"Hari ini adalah hari istimewa, hari di mana Allah memenangkan Musa serta kaumnya, dan menenggelamkan Firaun bersama pasukannya. Karenanya, Musa puasa setiap hari itu (10 Muharram) untuk menyatakan rasa syukur, maka kami pun melakukannya", jawab mereka.
Menanggapi hal tsb, Rasulullah ﷺ bersabda:
"فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ". فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. [رواه مسلم]
"Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian."
Lantas beliau ﷺ berpuasa dan memerintahkan (muslimin) puasa pada hari tsb. [HR. Muslim]
Dalam riwayat lain:
هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ. [رواه البخاري]
"Hari ini (10 Muharram) adalah hari kemenangan Musa atas Firaun". [HR. Bukhari]
***
Mengomentari sejarah ini, Syekh Muhammad Wael Alhambaly (ahli hadis asal Damaskus) mengatakan dalam kanal Telegram-nya (t.me/waelh1399 — 9/9/2019):
أيها الطغاة الظالمون: في مثل هذا اليوم أغرق الله صاحبَكم فرعون فاعتبروا
أيها المستضعفون المظلومون: في مثل هذا اليوم أنجى الله صاحبَكم موسى فلا تيأسوا [الشيخ محمد وائل الحنبلي]
"Wahai para penguasa yang telah melampaui batas lagi zalim; ingatlah, pada tanggal ini Allah pernah menenggelamkan orang yg semisal dengan kalian; Firaun. Maka, ambillah pelajaran.
Dan, duhai orang-orang yang sedang tertindas lagi terzalimi; ingatlah, pada tanggal ini, Allah pernah memenangkan panutan kalian; Musa. Maka, jangan pernah menyerah." [Syekh Muhammad Wael Alhambaly]
***
Hari kejayaan orang-orang beriman pasti akan tiba. Bersabarlah. Jangan pernah menyerah.
Wallahu a'lam.
Sekiranya Sabar
Selain pada Al-Qur'an surah Al Kahfi, kisah tentang perjalanan Nabi Musa a.s. belajar kepada Nabi Khadhir a.s. juga pernah diceritakan detailnya oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadis panjang yang di antaranya diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari. Di akhir hadis, beliau ﷺ bersabda tentang kisah tsb: يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى، لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ حَتَّى يُقَصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا. [رواه البخاري]
"Semoga Allah merahmati Musa. Kita sangat berharap sekiranya Musa bisa sabar sehingga akan banyak cerita yang dikisahkan kepada kita tentang keduanya (Nabi Musa a.s. & Nabi Khadhir a.s.)." [HR. Bukhari]
***
Bahwa proses mempelajari (dan mengamalkan) wahyu itu memang menguras kesabaran. Sebab terkadang wahyu tak sejalan dengan logika kepala dan rasa hati, sebagaimana yang pernah Nabi Musa a.s. alami ketika belajar kepada Nabi Khadhir a.s. atas perintah Allah ﷻ. Namun kelak, proses tsb akan menjadi cerita & pelajaran tersendiri. Sebagaimana Nabi kita Muhammad ﷺ yang pernah berharap kalau saja kala itu Nabi Musa a.s. lebih sabar, niscaya lebih banyak lagi cerita yang kita dengar.
***
Maka makin sabar kita hari ini, mudah-mudahan kelak makin banyak cerita yang kita wariskan untuk dijadikan pelajaran bagi generasi selanjutnya. Wallahu a'lam.
Hujan Bersama Nabi
Anas bin Malik ra. pernah menceritakan kenangannya saat terguyur hujan bersama Nabi ﷺ:
قَالَ أَنَسٌ: أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ صَنَعْتَ هَذَا ؟ قَالَ: " لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى". [رواه مسلم]
"Kami pernah diguyur hujan ketika sedang bersama Rasulullah ﷺ. Seketika itu beliau menyingkap sebagian pakaiannya sehingga hujan membasahi beliau, lalu kami pun bertanya;
'Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan hal itu?'
Beliau menjawab;
"Karena hujan ini baru saja turun dari sisi Rabb-nya Yang Maha Tinggi." [HR. Muslim]
Menjelaskan hadis ini, Imam An Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim mengatakan:
معناه: أن المطر رحمة، وهي قريبة العهد بخلق الله تعالى لها فيتبرك بها.
وفي هذا الحديث دليل لقول أصحابنا أنه يستحب عند أول المطر أن يكشف غير عورته ليناله المطر، واستدلوا بهذا [شرح صحيح مسلم]
"...maknanya adalah: bahwa hujan itu merupakan rahmat/karunia yang baru saja Allah tetapkan, maka dari itu Nabi ﷺ ber-tabarruk (mengais berkah) darinya.
Berangkat dari hadis ini pula, para penganut mazhab kami (Mazhab Syafii — Imam An Nawawi merupakan salah satu ulama pakar dalam Mazhab Syafii) berpendapat bahwa dianjurkan untuk menyingkap sebagian pakaian yang menutupi badan (selain aurat tentunya) pada awal turunnya hujan supaya terbasahi oleh air hujan..." [Syarh Sahih Muslim]
Imam Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad juga meriwayatkan:
عن ابن عباس رضي الله عنهما أَنَّهُ كَانَ إِذَا مَطَرَتِ السَّمَاءُ يَقُولُ يَا جَارِيَةُ أَخْرِجِي سَرْجِي أَخْرِجِي ثِيَابِي. وَيَقُولُ: (وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ) (ق: 9)
[رواه البخاري في الأدب المفرد]
"Bahwa jika turun hujan, Ibnu Abbas ra. mengatakan kepada budaknya: 'Tolong keluarkan pelana serta pakaian-pakaianku (supaya terbasuh hujan yang mengandung keberkahan —penj), kemudian beliau melantunkan ayat:
'Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah...' [QS. 50:9]" [HR. Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad]
***
Jika dari bawah bumi ada air Zamzam yang Nabi ﷺ sabdakan keberkahannya, maka dari langit juga ada air yang Allah ﷻ firmankan keberkahannya. Selain dua jenis air itu, kita tak pernah tahu air mana lagi yang terjamin label ke-ber-tuah-an-nya.
Maka hujan adalah sebuah anugerah mahal yang sepatutnya selalu kita syukuri dan kita kais keberkahannya, sebagaimana nabi dan para pendahulu kita juga demikian melakukannya.
Jika saat ini, kemarin, atau di kemudian hari kita punya masalah yang berkaitan dengan hujan, maka sejatinya yang sedang bermasalah adalah kita; bukan hujannya, sebab pada dasarnya hujan adalah berkah.
***
Para penikmat hujan, pluviophile, atau apa pun istilahnya; jangan lupa untuk meniatkan kegemaran yang satu ini sebagai salah satu jalan untuk mengenang dan meniti kembali ajaran nabi kita. Mudah-mudahan dengan demikian, antusiasme kita terhadap hujan mengantarkan kita kelak bertemu Sang Panutan ﷺ.
Wallahu a'lam.
//DAGING YANG DULU BUKANLAH YANG SEKARANG//
Mengapa daging membusuk?
Mengenai hal ini, Abu Hurairah r.a. pernah menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
لَوْلَا بَنُو إِسْرَائِيلَ لَمْ يَخْنَزِ اللَّحْمُ (رواه البخاري)
“Kalau bukan gara-gara Bani Israel, daging tidak akan membusuk.” [HR. Bukhari]
Dalam riwayat lain:
لَوْلَا بَنُو إِسْرَائِيلَ لَمْ يَخْبُثِ الطَّعَامُ، وَلَمْ يَخْنَزِ اللَّحْمُ (رواه مسلم)
“Kalau bukan gara-gara Bani Israel; makanan tidak akan rusak, dan daging tidak akan membusuk.” [HR. Muslim]
Menjelaskan hadis ini, Imam An Nawawi dalam Al Minhaj (Syarh Sahih Muslim) mengatakan: قال العلماء: معناه أن بني إسرائيل لما أنزل الله عليهم المن والسلوى نهوا عن ادخارهما فادخروا ففسد وأنتن واستمر من ذلك الوقت والله أعلم. (شرح صحيح مسلم)
“Para ulama mengatakan: bahwa Bani Israel ketika Allah turunkan bagi mereka Manna & Salwa (hidangan dari surga), mereka dilarang untuk menyimpannya (cukup makan sebutuhnya, tanpa menimbun). Tapi mereka nekat menimbunnya. Maka akhirnya rusak dan busuk, hingga berlanjutlah (rusak & busuknya makanan) sejak saat itu. Wallahu a'lam.” [Syarh Sahih Muslim, Imam An Nawawi]
***
Pelajaran: kalau ada syariat, jangan diselisihi, jangan diotak-atik, jangan dilanggar; bisa-bisa nanti Allah ﷻ datangkan kehidupan yang serba mahal & susah terbeli. Hari ini akhirnya kita butuh kulkas untuk menyimpan daging supaya tidak (cepat) busuk, kita butuh pengawet supaya makanan tidak (cepat) rusak; itu pun tidak sepenuhnya baik/thayyib, belum lagi efek sampingnya. Ujungnya, makanan segar & sehat jadi tak mudah didapat.
Gara-gara maksiat (Bani Israel) yang entah sudah berapa ribu tahun yang lalu, hari ini kita semua masih menanggung dampaknya. Mereka kelewat mengedepankan isi kepala dan terlalu mengkhawatirkan perut hingga nekat menerabas aturan Allah ﷻ. Yang demikian itu jangan sampai terulang di kita. Mari mengambil pelajaran dari kisah nonfiksi ini.
***
Dear para ahli serta pembelajar biologi, sains, dsb.; mohon kiranya bawakan teori nabawi ini di bab pembusukan, sebelum teori yang lain. Mudah-mudahan menambah lapisan iman.
Wallahu a'lam.
Share juga donk di ig dan fb. :)
Hi, welcome.
Baik, sudah kita share di IG dan FB.
Terima kasih sarannya. :) 👌🏼
//MENATAP LANGIT: SEBUAH IBADAH YANG TERLUPAKAN//
@fatahyasina
قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِی ٱلسَّمَاۤءِۖ
"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, ..." [QS. 2: 144]
Mengenai sebab turunnya ayat ini, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.:
وَذَلِكَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَمَّا هاجرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَكَانَ أَكْثَرُ أَهْلِهَا الْيَهُودَ، فَأَمَرَهُ اللَّهُ أَنْ يَسْتَقْبِلَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَفَرِحَتِ الْيَهُودُ، فَاسْتَقْبَلَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بضْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، وَكَانَ يُحِبُّ قِبْلَةَ إِبْرَاهِيمَ فَكَانَ يَدْعُو إِلَى اللَّهِ وَيَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ﴾ ... [تفسير ابن كثير]
"... bahwa Nabi ﷺ hijrah ke Madinah yang mana termasuk mayoritas penduduknya kala itu adalah orang-orang Yahudi, dan ketika itu perintah Allah adalah untuk salat menghadap kiblat ke Baitulmaqdis. Yahudi pun senang (karena kala itu Yahudi juga beribadat menghadap ke Baitulmaqdis, sedangkan Nabi ﷺ biasanya selalu menyelisihi dan selalu berusaha berbeda dari Yahudi dalam segala hal —penj)
Nabi ﷺ (beserta kaum muslimin) kala itu salat menghadap Baitulmaqdis selama beberapa belas bulan, dan Nabi ﷺ sangat berharap kiblat dipindahkan ke Masjidilharam yang dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. (supaya tidak mirip dengan orang-orang Yahudi yang ibadatnya juga menghadap ke Baitulmaqdis —penj)
Maka beliau ﷺ kala itu banyak berdoa dan sering menengadahkan pandangannya ke langit (berharap kiblat dipindahkan ke Ka'bah —penj), maka turunlah ayat ini." [Tafsir Ibnu Katsir, QS. 2: 144]
***
//BAITULMAQDIS & WABAH EPIDEMIS//
@fatahyasina
Ada beberapa riwayat & teori ulama mengenai awal mula pendirian Masjid Al Aqsha (Baitulmaqdis), di antaranya adalah riwayat yang disajikan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalany dalam karya ilmiahnya mengenai wabah epidemi; Badzlul Ma'un fi Fadhlit Tha'un (بذل الماعون في فضل الطاعون):
ثم رأيت في ((المبتدأ)) لابن إسحاق، في سبب تأسيس داود عليه السلام بيت المقدس:
“... Bahwa latar belakang didirikannya Baitulmaqdis oleh Nabi Dawud a.s. adalah:
//BANI ISRAEL & WABAH PENYAKIT MENULAR MEMATIKAN//
@fatahyasina
مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الطَّاعُونِ؟
“Apa yang pernah Engkau dengar dari Rasulullah ﷺ mengenai Tha'un (wabah penyakit menular mematikan)?”, tanya Sa'ad bin Abi Waqqash kala itu kepada Usamah bin Zaid.
Jawab Usamah; “Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
الطَّاعُونُ رِجْسٌ أُرْسِلَ عَلَى طَائِفَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ [رواه البخاري]
‘Tha'un adalah hukuman/azab yang Allah kirimkan pada segolongan Bani Israel …’” [HR. Bukhari & Muslim]
Lebih jauh mengenai wabah ini, Imam Tirmidzi juga pernah meriwayatkan:
//SEKIRANYA SABAR// @FatahYasinA . Selain pada Al-Qur'an surah Al Kahfi, kisah tentang perjalanan Nabi Musa a.s. belajar kepada Nabi Khadhir a.s. juga pernah diceritakan detailnya oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits panjang yang di antaranya diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari. Di akhir hadits, beliau ﷺ bersabda tentang kisah tsb: . يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى، لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ حَتَّى يُقَصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا. [رواه البخاري] . "Semoga Allah merahmati Musa. Kita sangat berharap sekiranya Musa bisa sabar sehingga akan banyak cerita yang bisa kita dengar tentang keduanya (Nabi Musa a.s. & Nabi Khadhir a.s.)." [HR. Bukhari] . *** . Bahwa proses mempelajari (dan mengamalkan) wahyu itu memang menguras kesabaran. Sebab terkadang wahyu tak sejalan dengan logika kepala dan rasa hati, sebagaimana yang pernah Nabi Musa a.s. alami ketika belajar kepada Nabi Khadhir a.s. atas perintah Allah ﷻ. . Namun kelak, proses tsb akan menjadi cerita & pelajaran tersendiri. Sebagaimana Nabi kita Muhammad ﷺ yang pernah berharap kalau saja kala itu Nabi Musa a.s. lebih sabar, niscaya lebih banyak lagi cerita yang kita dengar. . *** . Maka makin sabar kita hari ini, mudah-mudahan kelak makin banyak cerita untuk dijadikan pelajaran bagi generasi selanjutnya. . Wallahu a'lam. -- *Sabar ya, kamu. 🐣 -- . 📸: @al.chandra_14 https://www.instagram.com/p/B80oIt-BcoZ/?igshid=1ty6a8pa9rt17