Dibalik Kesederhanaan Doa Seorang Ibu
“Alhamdulillah, nak.” terdengar ucap perempuan di seberang sana dengan suara haru.
Gadis berusia 18 tahun tersebut masih tidak percaya bahwa namanya tertulis dalam daftar peserta yang dinyatakan lulus USM STAN. Gadis ini menyempatkan untuk bingung, karena tak tahu apakah harus sedih atau senang. Kebingungannya seketika terhenti kala seorang teman serumahnya menepuk bahunya dan menanyakan apakah dia akan masuk kuliah hari ini atau tidak. Dan dengan segala keraguannya, gadis tersebut menjawab dengan pelan, “Iya.”
…………………………………………………………………………….
Aku mungkin adalah satu dari ratusan anak yang ‘terpaksa’ mengubah haluan pendidikan dengan dalih ‘keinginan orangtua’. Aku tak mengatakan bahwa menjalani pendidikan di kampus ini sama sekali tak menyenangkan. Aku hanyalah anak yang beruntung karena mendapat doorprize berupa kuliah gratis. Tidak, bukan gratis, lebih tepatnya dibiayai oleh saudara tanpa ikatan darah namun terikat oleh nusa dan bangsa serta bahasa. Oke, skip.
Mungkin cerita perjuanganku untuk bisa menjadi bagian dari kampus ini kurang begitu heroik jika dibandingkan dengan perjuangan teman-teman lain yang begitu bahagianya kala mereka dinyatakan lulus dari ujian saringan masuk. Bukan apa, sebenarnya kampus ini bukanlah tempat yang aku harapkan untuk melanjutkan pendidikan. Jadi, perjuanganku pun hanya seadanya saja. Bisa dikatakan bahwa perjuanganku sudah kukerahkan secara penuh untuk kampus lain. Dan kau tahu? Sekarang aku bersyukur karena telah berulang kali ditolak oleh kampus impianku tersebut.
“Kau ditolak, berulang kali, lalu bersyukur. Dan sekarang kau masih bisa tertawa. Karena tawamu datang dari sebuah rasa syukur.”
Karena aku tak punya perjuangan yang akan dikisahkan, maka aku akan menceritakan tentang kekuatan sebuah doa yang terpanjat oleh seorang malaikat dunia yang penuh cinta. Ya, perjalananku ini tidak pernah terlepas dari doa seorang ibu. Dan aku yakin, pasti ada banyak kisah yang mirip dengan kisahku ini diluar sana.
Setiap hari sepanjang akhir 2013 merupakan bukti bagi diriku pribadi bahwa kekuatan doa dari seorang ibu itu mutlak adanya. Percaya atau tidak, aku tak pernah tahu apa yang Ibu doakan kepada setiap kami, anak-anaknya. Namun doa itu mampu menembus hingga ke arsy-Nya. Dengan segala kesibukan beliau di sekolah dan di rumah, aku yakin, Ibu tak pernah melewatkan sedikitpun waktu untuk tidak mendoakan kami. Dulu, aku termasuk anak yang jarang mencurahkan perhatian kepada kedua orangtuaku. Ketika SMA, hidupku disibukkan dengan les sana-sini, yang artinya aku menghabiskan begitu banyak uang orangtua demi pendidikan, dan juga waktu. Dan Ibu membalas semua kelakuan anaknya dengan doa. Mungkin hanya serangkaian doa sederhana yang mampu terucap oleh Ibu, namun doa sederhana itulah yang telah mengantarkan anak-anaknya hingga bisa bertahan dan menyelesaikan pendidikan seperti saat ini.
…………………………………………………………………………………
Satu-satunya alasanku mendaftar USM STAN adalah karena permintaan dari Ibu. Entah apa yang Ibu pikirkan waktu itu, namun dari kata-katanya aku mendengar sebuah keoptimisan yang begitu kuat. Aku ingat sekali, tepat setelah keluar dari ruangan tempatku tes SBMPTN, aku berjalan menuju ATM di fakultas tersebut untuk mentransfer biaya pendaftaran USM STAN. Sebenarnya, aku bisa saja menyengaja untuk tidak mentransfer, jadi aku tidak akan mengikuti ujiannya nanti karena hari itu adalah akhir batas waktu transfer biaya pendaftaran. Namun setelah kupikir-pikir, mungkin kali ini aku harus melakukannya agar ibu tak kecewa padaku yang tak kunjung mendapat tempat untuk kuliah. Akhirnya, aku harus merelakan kesempatanku untuk mengikuti tes masuk salah satu universitas pendidikan setempat melalui jalur mandiri karena jadwal ujiannya bersamaan dengan jadwal USM STAN. Sejujurnya, yang aku inginkan dahulu hanya satu: bisa melanjutkan pendidikan di kota pelajar. Maka dari itu aku bersikeras mengejar kampus impianku yang ada di kota itu. Tapi apa daya, usaha ku semuanya seakan sia-sia. Dan segala kesia-siaan tersebut mampu terbayar hanya dengan doa yang telah Ibu panjatkan kepada Allah swt.
“Doa merupakan senjata terhebat yang dimiliki oleh setiap diri umat Islam.”
Di dalam sebuah hadits juga pernah disebutkan bahwa tidak ada yang mampu mengubah takdir kecuali doa. Untaian doa sederhana yang mengetuk pintu langit-Nya, tetesan air mata tulus, rintih kesedihan di malam hari merupakan berkah dan hadiah terindah yang pernah aku dapatkan selama hidupku (hingga saat ini), terlebih kesemuanya datang dari sosok perempuan yang telah berjuang dan berkorban untuk selalu membahagiakan aku serta kakak dan adik.
Aku berani mengatakan bahwa aku bisa kuliah di STAN berkat kekuatan dari doa Ibuku. Tak penting lagi apakah aku setengah hati selama menjalani kuliah di kampus tercinta ini atau tidak, karena pada akhirnya segala keraguanku terjawab, seluruh gundahku terhapuskan, semua kesia-siaan ku terbayar, oleh sebuah doa yang terucap dari lisan lembut Ibuku.
Disetiap langkah seorang anak akan selalu teriring doa dari kedua orangtuanya. Bisa jadi aku tak akan mencicipi rasanya magang di salah satu kantor pusat unit eselon I Kementerian Keuangan bersama 134 teman lainnya seperti saat ini, jika Ibu tak mendorongku untuk mendaftarkan diri mengikuti USM STAN 3 tahun silam. Bisa jadi, aku tak akan pernah ‘berubah’ menjadi seperti sekarang ini, jika dorongan Ibu tadi tak terselipi dengan doa. Ya, jika ditanya apa yang telah aku dapatkan dari STAN, aku akan menjawab, “aku mendapatkan diriku yang selalu mencoba untuk terus dekat dengan Rabb-nya”. Dan itu semua sudah lebih dari cukup.
“Bahwa dibalik kesederhanaan sebuah doa yang tulus dari seorang Ibu tersimpan begitu besar kekuatan yang bahkan kau sendiri tak mampu membayangkannya. Tak terlihat memang, tapi dia ada, karena pada akhirnya objek dari doa tersebutlah yang akan merasakan.”
Jakarta - Bintaro, penghujung 2016