The Architecture of Deception
Dunia adalah panggung sandiwara dengan penonton yang buruk.
Aku melihat foto itu. Dia duduk di sana, tersenyum lebar di samping wanitanya, dikelilingi teman-teman yang masih menganggapnya sebagai "role model". Seolah-olah lima tahun yang dia habiskan untuk meruntuhkan harga diriku tidak pernah terjadi. Seolah-olah prosedur kaku dan kata-kata dinginnya hanyalah imajinasiku semata.
Lucu, bagaimana seseorang bisa menjadi "pahlawan" di mata dunia, sementara dia adalah "penyiksa" di ruang yang lebih intim.
Malam ini adrenalin pasca-gym itu mulai luruh. Rasa lelahnya mulai menyentuh tulang. Aku marah, sedih, dan kecewa—terutama pada diriku sendiri. Kecewa karena pernah menjadi orang yang begitu sabar menunggu dia berubah, berharap pada hati yang basisnya memang bukan untukku.
Di jalan pulang, bahkan seorang driver asing mengasihani statusku yang belum menikah. Seolah-olah tidak memiliki "tuan" adalah sebuah kekurangan, padahal aku adalah wanita yang berdiri tegak di kaki sendiri.
Aku bukan sampah. Aku bukan beban. Aku hanya sedang belajar memaafkan diriku yang pernah terlalu buta demi seseorang yang tidak punya niat untuk melihatku.
Mungkin dia menang di meja itu. Mungkin dia menang di mata teman-temannya. Tapi aku menang di hadapan kebenaran.
Aku tidak butuh validasi di mejanya. Aku sudah cukup dengan duniaku sendiri.