Sepetak Tanah di Surga Untuk Ibu Patmi
Dalam beberapa hari terakhir rasanya ada yang aneh. Semacam rasa pilu dan nyeri di hati. Semua nampak seperti biasanya, rutinitas bekerja, bersosial media, bersenda gurau dengan teman-teman, dll. Namun duka itu tetaplah terasa. Di sudut tempat yang lain, 1 nyawa melayang dalam perjuangan mempertahankan tanah tumpah darahnya.
Di media masa yang saya baca, namanya Ibu Patmi. Seorang ibu yang berjuang bersama-sama sedulur kendeng. Seorang petani sama seperti latar belakang keluarga saya. Terus terang bapak ibu saya juga petani. Tak perlu konstruksi berpikir yang muluk-muluk, untuk kasus rembang ini saya mengambil sisi yang kontra. Tak butuh alasan yang rumit, bagi saya petani adalah pelestari alam, beliau-beliau senantiasa merawat, menjaga dan mempertahankan ekosistem alam. Merawat bumi, merawat kehidupan. Maka, tak khayal ketika para pejuang rembang memilih melawan saya pun mendukung walaupun lewat doa. Iya, beginilah saya. Tidak bisa sekuat dan seheroik beliau-beliau yang tegar melawan dan terus melawan korporasi dan negara dengan sangat arif, santun dan tanpa kekerasan. Beliau-beliau hanya menuntut hak atas tanahnya atas penghidupannya. Sungguh saya terharu melihat perjuangan semacam itu. Perjuangan spritual yang begitu panjang dan pastinya sangat melelahkan.
Kasus di rembang memang dilematis. Para petani harus melawan korporasi. Bahkan sosok yang dianggap “bapak” ataupun “sesepuh” yang dituakan di Jawa Tengah, dalam hal ini adalah Pak Gubernur pun berada di pihak yang berseberangan dengan mereka. Keputusan dari MA dan mandat dari Pak Presiden pun diabaikan oleh Pak Gubernur yang terhormat. Padahal slogan dalam twitter beliau “Tuanku ya rakyat, Gubernur hanya mandat”. Sungguh ironis sekali. Beberapa hari terakhir pun Menteri BUMN memberikan indikasi bahwa pabrik semen akan segera beroperasi April dengan berbagai perhitungan produksi sekian dan sekian. Sebuah kalkulasi yang menarik dalam bidang bisnis dan investasi. Namun beliau-beliau melupakan banyak hal. Sisi kemanusiaan, sisi lingkungan, sisi spritual. Kacamata korporasi selalu profit oriented. Persetan dengan alam, persetan dengan nasib anak cucu, persetan dengan kelangsungan air, persetan dengan lahan pertanian! Semuanya harus diganti dengan industri.
Dan terakhir hari ini. Berita menyedihkan kembali saya baca. Perwakilan petani sudah bertemu Presiden dan mendapat jawaban yang menurut saya pribadi “kurang ajar” sekali. Bagaimana bisa atas nama otonomi daerah seorang Presiden tidak bisa ikut campur terhadap apa yang sudah diputuskan Kepala Daerah? Bagaimana bisa jika jelas-jelas sesuatu itu salah namun tetap dilanjutkan? Bagaimana bisa mereka-mereka yang kita tunjuk sebagai pemimpin tidak menggunakan hati, akal dan nuraninya dan memilih tunduk dan patuh terhadap kapitalisme, korporasi dan uang? Ini menyedihkan, sungguh sangat menyedihkan. Tidak heran jika ibu-ibu yang mendengar jawaban Pak Presiden menangis. Saya di sini pun meneteskan air mata. Sepertinya tidak ada lagi yang bisa diandalkan di negeri ini.
Kepada Ibu Patmi, sugeng tindak. Alfatihah dari saya akan terus mengalir untuk Panjenengan. Jika di negeri ini tuntutan ibu atas tanah diabaikan dan dicurangi habis-habisan oleh pemerintah, saya yakin di sana Gusti Allah sudah menggantikannya dengan sepetak tanah di surga. Amin..
Dan terakhir saya yakin perjuangan petani kendeng tidak akan surut. Kebenaran tidak bisa dibungkam. Alam harus tetap dilestarikan. Bumi harus senantiasa dirawat. Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali dengan cara melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Gusti Allah mboten sare. Alfatihah.
Dari saya, Warga Desa Wonosoco, Undaan -Kudus (Lereng bukit kendeng)






