Hai, kamu. Masihkah ingat ketika kita pergi menikmati Yogyakarta malam itu bersama teman-teman yang lain? Dadaku berdegup sangat kencang kala kamu memboncengku. Mungkin karena grogi kamu menunggu di beranda kos, aku sampai lupa membawa jaket. Kamu mengancingkan helm di kepalaku, “supaya gak terbang kayak dulu,” ujarmu, membawaku kembali ke masa yang tak ingin kuingat lagi. Saat tiba di kilometer 0, kamu menyadarkanku perihal jaket, yang kujawab dengan wajah dungu, padahal kita merencanakan untuk menghabiskan malam di jalan.
Tengah malam, aku mulai menggigil kedinginan. Danis meminjamkanku jaketnya setelah melihatku gemetar. Ketika akan kukenakan, kamu malah mengembalikannya dan menyampirkan jaketmu di bahuku. “Aku gerah nih, kamu aja yang pakai jaketku,” dustamu. Padahal, aku tahu kamu pun tengah kedinginan, karena hanya mengenakan selembar kaos oblong yang menutupi tubuh kurusmu. Jantungku hampir melesak keluar karena perlakuanmu yang tak biasa padaku.
Dini hari, saat yang lain telah pulang ke kos masing-masing, menyisakan aku, kamu, Danis, Angga, dan Yuda, kamu memutuskan untuk mampir di sebuah kedai burjo sekadar menghangatkan tubuh dengan segelas kopi. Aku merasakan dinginnya tanganmu saat menyentuh pipiku yang mulai memerah. “Kenapa sih, pipi kamu selalu bulat kayak bakpao? Bikin aku laper aja,” Kamu membuatku hampir tak sanggup berdiri.
Kamu memilih duduk di ujung yang berbeda, memberiku ruang untuk bernapas setelah beberapa kali lupa caranya. Saat fajar meretas di ufuk timur dan tubuh terasa hangat, kita sepakat untuk pulang dan beristirahat. Aku meminta Danis memboncengku karena tempat tinggal kami berdekatan. Tapi, kamu mengajakku pulang bersama. Lagi, kamu mengencangkan helm di kepalaku juga mengancingkan jaketmu di badanku. “Supaya gak masuk angin,” katamu. Aku memilih diam sepanjang jalan, bahkan ketika sampai kos. Saat aku akan mengembalikan jaketmu, kamu berkata, “Pakai aja dulu, kembaliin ke aku nya nanti saja,”. Lalu, kamu pergi meninggalkan aku yang sesak napas.
Bertahun-tahun setelahnya, ketika kita tak lagi saling menatap satu sama lain, kamu menghubungiku dengan sebaris kalimat, “Andai kamu bilang menyukaiku, maka aku akan bersamamu,”. Ini cukup membuatku luluh lantak. Setelah semua yang terjadi, segala perasaan yang kusimpan selama ini terasa sia-sia meskipun akhirnya aku mendapatkan pengakuanmu; sahabatku, yang telah berada di pelukannya.