Aku melihatnya di sudut dinding masjid bersandar dalam keadaan murung. Tatapannya kosong tapi katanya pikirannya begitu melayang-layang dan banyak yang dia pikirkan.
Aku sempat bertanya ada apa gerangan kepada si penyandang hypophrenia tersebut. Dia hanya diam seperti biasa begitu berat untuk bercerita pada sekitar.
Katanya kapan ada orang yang bisa sayang tulus padanya. Memberikan rasa tentram pada dirinya. Yang mampu meredakan segala sedihnya. Yang mampu menenangkan di saat ketakutan hadir dalam dirinya. Tapi ternyata dia baru sadar bahwa bagaimana seseorang bisa menyayanginya, peduli padanya, sedangkan dia sendiri tak pernah mampu menyayangi dirinya, tak pernah mampu peduli padanya, apalagi selalu ada untuk dirinya. Dia sendiri saja tidak sanggup melakukan itu tapi selalu berharap ada orang yang melakukan itu padanya.
Seperti biasa dia selalu berkata, aku lebih menyukai hidup di dunia bayangan, angan-angan, sebab semua di sana apa yang aku inginkan bisa kuwujudkan. Di sana aku mampu pergi kemana aku mau. Aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Bahkan aku bisa mendapatkan pelukan, kepedulian kasih sayang dari orang-orang sekitar. Daripada hidup di dunia nyata dengan segala kepahitan. Begitu katanya.
Ahh... Aku tak pernah mampu untuk menenangkan dia. Aku tak pernah tau bagaimana memberi solusi padanya. Sedangkan aku begitu terenyuh dalam cerita-ceritanya dan mataku pun ikut berkaca-kaca hingga kelopak mata tak sanggup lagi menahan derasnya air mata pada akhirnya membasahi pipi.
Maafkan aku kawan, aku belum bisa berguna untuk dirimu.