Kabur ke Ujung Pulau Sumatera #3
Bagian terbaik dari perjalanan Singkil- Banda Aceh ini adalah pantainya. Aku sungguh tidak akan bosan dan mengeluh meskipun jarak yang kutempuh jauh selama di sisi kanan atau kiri jalan adalah pantai. Aku juga menikmati setiap melihat mesjid yang kulewati, visual mesjid dari kayu di sore yang temaram, anak-anak berlarian menujunya, sebagian sudah ada yang membuka al quran yang mereka bawa, sebagian sudah duduk bershaf-shaf didepan pak ustad. Ah suasananya amat mirip dengan cerita Delisa dengan Hafalan Shalatnya yang kubaca.
***
Aku teringat waktu itu selepas dzuhur kami putuskan untuk istirahat di sebuah warung makan tepi pantai di daerah Tapak Tuan. Aku sempat mengambil beberapa kenangan dengan kamera ponselku. Tidak terlalu ramai disini, hanya ada dua pondok yang terisi pengunjung, satu kedai si penjual dan rombonganku. Ah iya, aku ingat laut birunya cukup membuatku terpesona. Birunya mengingatkanku pada bola mata penduduk Desa Lamno, Aceh Jaya. yang kubaca dari beberapa artikel, di desa itu dulu penduduknya memiliki bola mata berwarna biru dan fisik seperti orang Eropa. Barangkali bangsa Portugis pernah mendarat dan hidup disana. Entah sekarang masih tersisa atau tidak dan sepertinya aku belum punya kesempatan untuk mencari tau lebih lanjut.
Tidak terlalu banyak hal penting untuk kuceritakan pada bagian ini. Setelah selesai sholat, makan dan istirahat perjalanan pun dilanjutkan. Karena perjalanan ini cukup jauh, amat penting untuk membawa bekal selain nasi tentunya seperti roti-rotian, biskuit, keripik atau sejenisnya. Kusarankan sebab ini hal yang lupa kami persiapkan. Kami hanya menyiapkan nasi beserta lauknya tanpa ada cemilan yang akhirnya membuat ku harus puasa hingga masuk waktu isya. Entah aku yang tidak melihat minimarket di sepanjang jalan atau mobil ini yang malas berhenti untuk sekadar membeli pengganjal perut. :)
Dan akhirnya, sekitar pukul 01.00 dinihari kami memasuki kota Banda Aceh. Di jalan menuju penginapan, mobilku sempat melewati Mesjid Baiturahman. Aku tersenyum, akhirnya aku sampai disini..
***
Hari pertama di Banda Aceh
Agendaku hari ini adalah menemani kakakku ke kampusnya di Unsyiah, sementara suaminya harus mengikuti agenda pelatihan di markas TNI kota ini. Aku dan kakakku memutuskan untuk naik Bus Trans yang jarak haltenya tidak jauh dari penginapanku.
Setelah menunggu sekitar 5 menit, akhirnya Bus pun datang. Karena busnya tidak ramai, kami mendapatkan tempat duduk. Aku mengedarkan pandangan ke luar jendela, menikmati bangunan dan suasana kota ini. Lalu pandaganku beralih ke dalam bus kembali, ada sedikit perbedaan dari luas bus disini dengan dikotaku. Satu lagi perbedaannya, dan ini membuatku tersenyum sekaligus malu..
Bersambung lagi






