Resume Buku Tokoh Pergerakan: Catatan Seorang Demonstran
Catatan Seorang Demonstran adalah buku yang cukup kontroversial yang ditulis oleh seorang aktivis mahasiswa bernama Soe Hok Gie. Buku ini menjadi salah satu bacaan wajib bagi mahasiswa yang ingin menjadi mahasiswa seutuhnya; intelek demi rakyat. Buku ini merupakan catatan harian dari Gie, pemuda idealis yang mempunyai mimpi besar untuk kepentingan orang banyak; bangsa Indonesia. Sesuai dengan judul buku “Catatan Harian Seorang Demonstran”, buku ini bukan hanya sekedar karya sastra, namun hasil dari catatan keseharian seorang keturunan Cina yang begitu kritis terhadap pemerintahan, dialah Gie.
Dalam buku yang diterbitkan oleh LP3S ini, cerita dibagi dalam beberapa bagian. Pada bagian awal dituturkan kata pengantar dan berbagai pandangan orang tentang sosok Gie. Catatan Gie sendiri yang dimulai sejak masa kecil, remaja, hingga menjadi mahasiswa disajikan dalam bagian kedua.
Pada bagian kedua, pembaca benar-benar diajak untuk meneleanjangi catatan harian seorang aktivis mahasiswa yang memang lebih banyak berjuang lewat tulisan. Pemikirannya yang begitu radikal sering dimuat di koran-koran nasional dan bahkan sering tanpa menggunakan nama samaran. Pemerintahan Soekarno pun tidak terlewat untuk ia kritisi. Namun, setelah tumbangnya kekuasaan Soekarno dan terbit rezim Orde Baru, ia memilih untuk lebih sering menyepi menikmati alam dan segala kekuasaan-Nya bersama teman-temannya yang tergabung dalam MAPALA UI (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia).
Kehidupannya sebagai mahasiswa jurusan sejarah FIB UI, dipenuhi oleh rapat, aksi, dan menyebarkan pamflet propaganda, serta aktif dalam organisasi kemahasisswaanseperti KAMI dan Gemsos, hingga menjadi salah satu pelopor gerakan mahasiswa-militer yang mampu menumbangkan kekusasaan Soekarno pada tahun 1966 akibat meletusnya G30S di Jakarta.
Gie merupakan sosok yang idealis, nasionalis, dan realis. Berdebat adalah salah satu sarananya dalam mengemukakan pendapat serta pemikirannya, perbedaan pendapat tak membuatnya sama sekali gentar. Ia tidak menekankan pada benar atau salah dalam setiap tindakannya, namun ia hanya berusaha mengambil sikap. Seperti salah satu kutipan Pramoedya Ananta Toer yang merefleksikan tokoh Minke, Gie adalah: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatannya.”
Bagian ketiga buku yang merupakan pergolakan pemikiran seorang pemuda ini berkisah tentang perjalanan Gie ke Amerika, politik, serta pencarian makna akan catatan sehari-hari yang menggambarkan peristiwa, pendapat, gejolak perasaan serta lika-liku hidup seorang pemuda yang tak lepas dari cinta. Pemikiran Gie yang begitu kritis seringmendapat penolakan dari lingkungan pergaulannya, Memang dia tak gentar terhadap bisik-bisik negative tersebut, namun sebagai manusia normal, ia juga merasa ingin diterima. Ia mendamba kehidupan manusia normal selayaknya. Dan kerinduan tersebut ia tuangkan dalam sajak-sajak indah bertaburan makna.
Gie adalah sosok pemuda yang pantas dijadikan potret mahasiswa ideal; berani mengambil sikap, menjunjung intelektual dan interitas. Pemikirannya begitu jujur dan selalu berdasarkan itikan baik. Memang tidak selalu benar, namun jujur. Salah satu alasan segala tindakannya yang ‘berani’ adalah bahwa mahasiswa merupakan sedikit orang bahagia yang terpilih hingga dapat kuliah.
Catatan ini ditutup oleh kisah Gie yang mendaki gunung tertinggi di Jawa. Ia memang mencintai gunung dan alam bebas. Sajaknya juga banyak berisah tentang kecintaanya dalam pendakian gunung. Hidupnya pun diakhiri di dalam dekap kekasihnya, alam. Ia meninggal akibat menghirup gas beracun saat mendaki Semeru, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27.
Sayangnya, catatannya yang dibukukan bersifat begitu spontan hingga terkesan kurang sistematis dan memihak. Soe Hok Gie mati muda, namun perjuangannya dalam aksi tak akan pernah mati, Ia mewariskan semangat aksi kepada kita; kaum muda; generasi penerus bangsa. Dan kisahnya bukan hanya mengenai sejarah pergerakan mahasiswa, namun merupakan undangan terbuka untuk kita—mahasiswa kaum intelektual—untuk sama-sama sadar dan bergerak memperjuangkan nasib rakyat yang tertindas.
Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!
ESENSI:
Dengan membaca buku Catatan Seorang Demonstran yang diangkat dari catatan harian sosok aktivis mahasiswa Soe Hok Gie, saya merasakan semangat kaum muda saat itu. Semangat yang tulus membangun bangsa. Jika saya hidup pada zaman itu hingga sekarang, tentunya saya akan merindukan masa-masa dimana mahasiswa berani mengambil sikap dan turun aksi, bukan yang kebanyakan menjadi potret mahasiswa masa kini: individualis. Indonesia sedang dilanda kebobrokan kepemerintahan, dan ini saatnya pemuda menyiapkan diri untuk memegang tongkat estafet kepemimpinan; Indonesia lebih baik.














