Kritisi Artikel Pilrek UI: Ini waktunya!
Artikel: http://okk-fkmui-2014.tumblr.com/post/97465574449/menakar-peran-mahasiswa-ui-dalam-pemilihan-rektor
Setelah membaca artikel yang diunggah di akun tumblr OKK IM FKM UI 2014 mengenai Pilrek UI, saya mengkritisi beberapa hal terkait. Namun, sebelum saya masuk pada poin-poin yang menarik fokus, saya mengapresiasi pihak penulis karena telah berkontribusi dalam mengajak sesama mahasiswa UI untuk berpartisipasi dalam Pilrek UI; sebuah momen emas untuk UI menemukan titik baliknya.
Saya setuju dengan UI yang menghadapi banyak masalah. Mungkin bagi orang luar, UI tampak begitu gagah dengan gedung rektoratnya, tanpa mereka tahu ada masalah apa saja di dalam kampus perjuangan tersebut. Setidaknya hal itulah yang saya pandang saat sebelum saya menjadi mahasiswa jaket kuning. Setelah saya menjadi maba (mahasiswa baru), saya mengalami sendiri berbagai proses terkait BOPB, lalu mendengar pengalaman teman-teman seperjuangan saya mengenai pembiayaan yang begitu mahal, dan saya juga mengamati sendiri kesenjangan fasilitas antar fakultas.
Pertama, mengenai BOPB. Sedih hati saya saat mengetahui ada calon mahasiswa baru yang mengundurkan diri saat daftar ulang hanya karena ketidakmampuan biaya. Mmimpinya kandas begitu saja terkikis oleh tuntutan biaya kuliah. Belum lagi, berbagai pilihan program studi di UI menurut saya bukan menawarkan program tetapi lebih menekankan pada, “Mampu bayar yang mana?”. Bukankah seharusnya, “Ingin belajar di program apa?” yang menjadi pertanyaannya?Ditambah lagi mengenai isu biaya pendidikan UI yang terancam naik tahun depan. Apakah pantas disebut kampus rakyat disaat hanya sebagian kecil yang mampu duduk disana?
Kedua, kesenjangan fasilitas antar fakultas. Dulu saya tidak percaya, apakah benar di UI yang katanya merupakan miniatur Indonesia ada kesenjangan fasilitas yang sesignifikan itu? Ternyata benar ada. Dan UI benar-benar “miniatur” Indonesia. Jika ada kesenjangan sosial yang sangat tampak di bangsa kita, ternyata di UI juga ada. Coba lihat gedung dan fasilitas yang ada di Fasilkom. Lalu bandingakan dengan fasilitas di gedung RIK UI. Bukankah begitu jelas kesenjangan diantaranya?
Ketiga, mengenai fasilitas bis kuning dan proyek-proyek yang terbengkalai seperti salah satunya proyek rumah sakit UI. Bis kuning mendapat banyak komplein karena kedatangannya yang tidak sesuai jadwal dan pengamanannya yang sangat rendah. Bikun tidak lagi menjadi transportasi umum yang aman dan nyaman namun semakin meresahkan karena frekuensi terjadinya pencurian yang semakin besar. Proyek rumah sakit maupun master plan UI masih tampak sebagai wacana tanpa ada perubahan yang nyata.
Sudah tersadarkah kita bahwa UI memang sedang tidak baik-baik saja. Dan kondisi UI yang sekarang tidak lepas pengaruhnya dari pemimpin yang terdahulu. Memang ada baiknya jika kita tidak usah mengungkit-ungkit yang lalu, tapi tolong kita resapi bersama bahwa jadikanlah pelajaran untuk kedepannya.
Momen pemilihan rektor UI merupakan yang pertama kali sejak UI diberi otonom untuk menentukan rektornya sendiri. Dan mahasiswa diberi kesempatan untuk menyumbangkan suaranya yang diwakilkan oleh MWA UI unsur mahasiswa, yaitu Moh. Ammar. Tentu beban yang cukup besar bagi Kak Ammar untuk menampung dan mewakilkan puluhan ribu mahasiswa demi terpilihnya rektor amanah. Maka dari itu, sudah saatnya kita kawal pilrek UI bersama. Momen ini bukan untuk Kak Ammar, tetapi ini adalah momen kita sebagai mahasiswa; mau bawa UI kemana?
Dari seluruh mahasiswa UI, suara kita hanya dihitung 4% dalam Pilrek. Persenan yang kecil ini seharusnya bukan menjadi hal yang membuat kita pesimis, tapi ini adalah peluang emas bagi kita untuk turut membangun UI; membangun Indonesia. Kawal #PilrekUI bersama. Ini waktunya!
Hidup mahasiswa!
Esensi:
Membaca artikel mengenai Pilrek UI membuat mata saya terbuka bahwa benar memang UI sedang tidak baik-baik saja. Masih banyak potensi UI yang harus diusahakan oleh pemimpin yang amanah. Dan dengan mengkritisi artikel terkait saya jadi tersadar bahwa UI sedang butuh mahasiswanya; UI butuh kita. Jika sebelumnya calon mahasiswa baru yang mendambakan UI sebagai Universitas Idaman, sekarang saatnya kita sebagai mahasiswa UI yang mewujudkannya.











