Mengapa Menulis?
Mengapa menulis jika belum ada hasrat untuk menulis?
Mengapa makan jika nyatanya belum juga lapar?
Lalu, mengapa tidur jika saat ini belum mengantuk?
Layaknya makan dan tidur, bagiku saat ini menulis menjadi kebutuhan dalam kehidupan yang harus dikerjakan. Meski bisa ditunda tapi tetap dibutuhkan, meski bisa dilakukan nanti tapi diri harus siap untuk menghadapi ketergesa-gesaan karena tak segera dilakukan.
Apakah menulis itu susah dilakukan? Ya, awalnya pasti demikian. Apalagi jika belum ada ide untuk memulai awal kalimat, belum ada keinginan yang kuat dan masih harus bergulat dengan kegiatan lainnya. Tapi, tanpa disadari setiap hari kegiatan menulis sudah dilakukan oleh hampir semua orang di dunia, baik menulis secara manual, maupun memproduksi kata-kata dengan teknologi.
Bahkan sejak kecil manusia biasanya sudah mengikuti kebiasaan orang tua dengan meminta pensil, pulpen atau spidol dan selembar kertas untuk bercoret-coret, seakan menghasilkan goresan tangan yang kelak bisa dipahami ketika sudah dewasa. Saat memasuki bangku Taman Kanak-Kanak, ibu guru juga mulai mengenalkan bagaimana cara menuliskan huruf dan angka; hingga kemampuan meningkat di bangku Sekolah Dasar dengan menulis kata demi kata hingga terbentuk kalimat dan paragraf. Di bangku Sekolah Menengah, kemampuan menulis akan semakin berkembang dengan ditambahnya Pekerjaan Rumah, tugas-tugas, dan makalah. Dan ketika memasuki Perguruan Tinggi menulis menjadi salah satu syarat untuk dapat mendapat gelar sarjana, master atau doktor dengan menyelesaikan skripsi, tesis ataupun disertasi.
Tak sekedar untuk menyelesaikan studi, menulis juga bisa menjadi salah satu sumber pundi-pundi keuangan bagi kalangan professional di bidangnya. Banyak manfaat lain yang bisa diambil dari kebiasaan yang baik satu ini. Selain untuk menuangkan isi hati dan melatih diri untuk lebih produktif, menulis juga bisa menjadi kesenangan tersendiri untuk merekam kejadian-kejadian perjalanan hidup pribadi yang kelak bisa diceritakan bagi generasi selanjutnya. Melalui menulis juga bisa meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam menanggapi fenomena-fenomena kehidupan dengan lebih bijaksana. Bagi kalangan akademisi, menulis merupakan tuntutan profesi dengan menghasilkan karya-karya ilmiah. Lalu masih bertanyakah mengapa menulis? Yang jelas, menulislah siapa tahu kelak tulisanmu bermanfaat bagi dunia (gapapa berangan-angan setinggi langit, jangan lupa sertakan Allah di setiap langkah pencapaian agar senantiasa dimudahkan dan diridhoi-Nya).
Hiroshima, 2017年11月21日
Iva Nandya Atika
















