Maaf
"Selamat ya, semangat dengan amanah barunya." Sebuah pesan berhasil masuk ke WhatsAppku.
"Iya, makasih." balasku.
Selang beberapa menit setelah dia membaca balasanku, pesan darinya kembali masuk.
"Ra, kamu nggak suka ya dekat sama laki-laki?" tanyanya tiba-tiba.
‘Loh ini kenapa pertanyaannya gini ya?’ Pikirku.
Pertanyaan seperti ini sudah sering ditanyakan oleh orang-orang sekitarku, termasuk teman kuliah. Tapi kali ini yang menanyakan hal ini bukan teman kuliah, melainkan teman satu organisasi eksternal. Beda kampus pula.
Aku masih terdiam, belum balas pesan itu.
"Kenapa ?" Pesanku terkirim.
"Aku lihat kamu nih beda Ra sama anak-anak di organisasi kita. Kamu beneran nggak mau dekat sama laki-laki?"
"Ya kan ga dekat bukan berarti musuh, tetap temen lah. Aku tetap nganggap anak laki-laki di organisasi kita sebagai teman." Balasku sekaligus menjadi pesan akhir malam itu.
Dia, Aldi, balik membalas pesan dimalam itu lagi. Ira hanya membacanya saja.
Esok paginya, Ira mendapatkan notifikasi baru di instagram. Notifikasi likes keseluruhan foto Ira.
"Maaf di, aku malah ga suka berteman sama laki-laki yang begini." Gumam Ira menutup hpnya. Hampir saja ia blokir.

















