Aku si Pemalas
Aku adalah si pemalas.
Manakala langit mulai gelap, binar mataku mengerjap-ngerjap. Secangkir tugas yang sudah mengepulkan asapnya lebih menarik perhatianku ketimbang tempat tidur yang menatapku penuh rayu.
Aku adalah si pemalas.
Setelah diujung hari merasa lelah dengan hiruk pikuk dunia, jemari ini bermalas-malasan berselancar di atas gawai. Ia lebih memilih membuka mushaf dan membacanya.
Aku adalah si pemalas.
Ketika kelas telah usai, aku segera pergi menuju perpustakaan atau toko buku ditengah kota. Rasanya malas sekali berkumpul di kantin dan membicarakan kehidupan orang lain.
Aku adalah si pemalas.
Melihat mereka membeli ini dan itu, lalu terbuang hanya karena telah bosan. Duh, memang malas sekali aku untuk membeli keinginan semata itu. Lebih baik aku menabung sekeras yang aku bisa untuk masa setelah nanti aku tiada.
Aku adalah si pemalas.
Makanan restoran junk food tempak terbuang percuma. Dasar aku yang malas menyisakan makanan, sebab diluar sana masih banyak yang tidak dapat merasakan makanan ini. Lalu, apa yang tidak bisa ku syukuri?
Ya, aku lah si pemalas itu. Mau bermalas-malasan denganku?

















