Kedatanganmu seminggu yang lalu bak seperti mimpi. Kebenaran bahwa kau benar-benar datang pun abu-abu, begitu tiba-tiba dan cepat.
“Sudah jam 2 apa nggak kesorean?” katamu
“Nanti malah nggak bisa naik?”
“Naik ke kebun maksudmu? Tentu saja bisa, mengapa tidak?” jawabku
Perkebunan ini terbuka 24 jam, asal kau mempunyai kenalan disana. Aku sudah memberi tanda pun peta agar kau bisa sampai ke rumah tapi nyatanya kau masih saja tersesat
“Aku sudah di desa, di depan masjid yang ada menaranya” katamu
“Masjid dimana? di sebelah kiri? yahh rumah aku kelewatan, yaudah langsung ke kebun aja aku susulin” balasku sembari bergegas mengeluarkan motor.
Hatiku pun semakin berdegup tak karuan kala kau bilang tengah berada di sekitar sini karena sebelumnya kau bilang akan datang berdua saja. Entah berdua dengan siapa? dengan tunanganmu mungkin? entah tapi kuyakin pasti perempuan. Semoga Tuhan menguatkan hatiku.
Sesampainya di depan masjid
“Hei ai, yahh rumahnya kelewatan, yaudah langsung ke kebun yuk” kataku tanpa turun dari motor yang hanya kau balas dengan sebuah anggukan kepala tanda setuju. Aku melihat wanita di sampingmu, ahh tampaknya bukan ia, tunanganmu. Kaupun mengikuti di belakangku, menyusuri jalan perkebunan, sesekali aku memandangmu dari kaca spion. ai kau tak banyak berubah. Sesampainya di rumah perkebunan, aku mengulurkan tanganku & memberi salam kepada teman perempuanmu yang sedang sibuk dengan ponselnya. Kupersilahkan kalian masuk, kusuguhkan beberapa makanan kecil & sebotol es syrup mangga sembari kita berbincang.
“Katanya mau pulang kampung? katanya mau kesini abis liburan?” tanyaku padamu yang tiba-tiba berkunjung
“Lhoo pulangnya yaa Kamis lah kan libur panjang” ucapmu tanpa menjawab pertanyaanku yang kedua
“Ooo gitu, eh orang itu ngapain coba? nyanyi-nyanyi di tengah sungai” ucapku mengomentari seorang pemancing di televisi
“Mungkin dia mulai lelah nggak dapet ikan, abisnya mancing di air keruh” Lagi-lagi aku berkomentar
“Itu mah masih lebih keruh di tempatku dulu” *tempatmu mengabdi dulu
“Iya, mau dapat air darimana lagi?”
“Buat mandi? nyuci? masak? minum?” tanyaku semakin penasaran
“Yaa kalo minum dari air hujan” jawabmu semakin membuatku kagum, bagaimana tidak, di tengah keterbatasan fasilitas yang ada kamu tetap bertahan disana menjadi seorang pengajar, membagikan ilmu dan mendidik anak-anak di pedalaman.Meski tak mungkin, ingin rasanya lebih banyak mendengarkan celotehmu seputar pengalaman hidupmu selama di sana. Sudah hampir jam empat, kaupun berpamitan ingin jalan-jalan berkeliling kebun.
“Aku mau jalan-jalan dulu, ikut?” tanyamu
“Enggak deh, aku disini aja, belum ashar juga”
“Oiya kita juga belum sholat” katamu pada teman wanitamu, yang kuyakini bukan kekasihmu
“Ya sholat dulu gih, disini bisa kok” ucapku sembari menunjukkan kamar mandi & ruang sholat.
Hening dan canggung, kala hanya ada kita berdua di ruang tamu, sebagai tuan rumah aku pun bingung dan lebih banyak memilih diam, entah ada semburat bahagia di dalam dada sebelah kiri, keringat dingin membanjir di kening dan punggungku, namun berbeda dengan mataku terasa perih kala melihat cincin yang melingkar di jari manismu, ahh ada apa dengan diriku? namun kemudian aku memilih mengajakmu bicara perihal acara di televisi yang sedang kita tonton hingga tiba giliranmu untuk sholat setelah teman perempuanmu. Setelah selesai sholat kaupun kembali berpamitan ingin berkeliling kebun teh menggunakan motor.
“Katanya jalan-jalan, kenapa naik motor? itu namanya nggak jalan-jalan.” sindirku kepadamu, bukan apa-apa, daerah perkebunan rawan bila berkeliling menggunakan motor, beberapa kali kejahatan pernah terjadi, jadi lebih baik motor di parkir saja.
“Hehehe iya mbaknya bener juga” ucap teman perempuanmu
Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit, sembari menunggumu aku menyirami tanaman di sekeliling rumah, pelan-pelan karena takut motormu ikut tersiram, sedikit terkejut kala aku menemukan nama tunanganmu di plat belakang motor maticmu, ahh begitu istimewakah ia sehingga di plat motormu pun ada namanya, mataku mulai berkaca-kaca. Akhirnya kaupun pulang, ahh ai kenapa hanya sebentar pasti kau tidak berkeliling penuh. Satu menit, lima menit, sepuluh menit kita menonton film kartun yang di tayangkan sebuah stasiun televisi, sedikit tertawa, Tuhan rasa-rasanya aku ingin menghentikan waktu, tetap seperti ini saja, gumamku dalam hati. Sudah hampir maghrib, kaupun berpamitan pulang, aku memintamu untuk mampir ke rumah, yaa ada sedikit teh kemasan yang ingin ku berikan. Kau hanya mampir sebentar, karena keterbatasan jam di asramamu, kau tidak bisa pulang malam. Adzan Maghrib dan kaupun berpamitan pulang. Ahh ai kenapa hanya sebentar? bukannya sudah lama kau ingin berkunjung kemari, ke perkebunan. Menghilangkan penat katamu? kau belum berkeliling penuh, kau hanya berkeliling di sisi selatan, kau belum berkeliling ke sisi utara, tempat acara kampus kita dulu di adakan. Kau ucapkan terima kasih banyak, memangnya aku memberimu apa? tak banyak yang bisa ku berikan, harusnya aku yang berterima kasih karena kau tidak datang membawa ia kemari, mungkin kedengarannya jahat, tapi bagaimana lagi, hatiku belum sepenuh hati siap bertatap muka dengannya. Seminggu telah berlalu, dan akupun merasa kedatanganmu kemari seperti mimpi di siang hari.
Lawang, 07 Mei 2016 13:57