Detik berjalan mundur melawan arah jam yang sebenarnya. Jam dinding itu terlalu aneh. Aku berada di sekolah lamaku. Bertemu beberapa teman yang aku tidak begitu mengenalnya. Warna udara hari ini agak keabuan seperti menyimpan sebuah misteri. Aku berada di sebuah kelas di depan taman dan kolam ikan. Aku tau ini disekolah tapi aku pikir ini bukan sekolahku. Dikelas ini terdapat 4 orang anak laki-laki dan mereka berada di depan lokernya masing - masing menyiapkan buku untuk jam pelajaran selanjutnya. Aku bingung, aku hanya berdiri melihat keadaan sekitar. Tak lama muncul seorang lelaki dengan perawakan tinggi dan garis wajah yang tegas memasuki ruang kelas. 4 lelaki yang sedari tadi diam, sekarang berkasak kusuk di belakang. Setelah lelaki berwajah tegas itu keluar kelas mereka menghampiriku dan berkata “hey, kamu tau kan dia sebentar lagi akan menikah” ucap satu dari mereka. Lalu aku mulai mengerti. Ah ini acara reuni ternyata. Lalu yang lainnya berkata. “dan tau ngga? Calon istrinya cantik, baik budi, pintar, keibuan, bener-bener calon istri idaman.” Aku hanya diam mendengarkan mereka. Dadaku terasa sedikit sesak. Apakah semua ini nyata? Perasaanku campur aduk. Aneh sekali. Aku merasakan sedikit sakit di dadaku. Lalu para lelaki itu pergi dan akupun kemana mengikuti mereka pergi.
Aku tiba disebuah rumah sederhana, pintu rumah itu terbuka. Aku melihat seorang perempuan. Dan mereka memberikan selamat pada perempuan itu. Aku tau ini adalah perempuan yang sedari tadi mereka bicarakan. Aku berlari kembali ke kelas. Aku merasa lemas. Tanganku berpegangan pada kursi kelas. Menahan badanku yang lemas. Terdengar langkah kaki menggema di ruang kosong ini, lelaki itu, masuk kedalam kelas. Ia berjalan mendekat sambil menatapku. Aku balas tatapannya. Dahiku berkerut menandakan aku bingung dengan semua ini dan menuntutnya menjawab kebingunganku. Mulutnya tertutup rapat, enggan memberi penjelasan. Tapi mataya berbicara. Sekarang aku dapat dengan berani mengartikan sorot mata yang tajam dan dalam itu. Aku seperti mendengarnya berbicara hanya dengan melihat matanya. Sorot matanya mengatakan ‘maafkan aku, sebenarnya aku sungguh-sungguh padamu tapi aku tidak bisa’. Aku pun mengalihkan pandangan. Menatap lantai dimana aku berpijak. Lututku terasa lemas dan mataku memanas. Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa ia harus pergi jika ia sungguh-sungguh?!. Aku ingin tau. Aku mengangkat kepalaku den kembali menatapnya. Ia masih menatapku. Sama seperti tadi. Sorot mata penuh penyesalan. Percakapan tanpa suara itu berlangsung lama. Detik yang berjalan mundur itu kini berhenti. Seperti kami yang mematung dan saling tatap di ruang abu-abu yang fana itu.
Aku bangun dari tidurku. Napasku memburu. Mimpi itu seperti nyata. Apakah ini pertanda sesuatu atau hanya mimpi tanpa arti. Aku berusaha untuk tidak memikirkan mimpi itu begitu dalam. namun akupun tak bisa memungkiri bahwa mimpi itu selalu terlintas dipikiranku paling tidak satu kali dalam sehari. Aku sedikit khawatir karena beberapa kali mimpiku selalu menjadi kenyataan. Dan entah mengapa kali ini aku merasakan mimpi kali ini adalah suatu pertanda.
Sejak malam dimana aku bermimpi dirinya aku tak pernah bermimpi lagi. Sebetulnya aku memiliki hal aneh yang tidak pernah dapat kumengerti. Mimpi-mimpiku seringkali menjadi sebuah pertanda. Dan aku dapat merasakan mana mimpi yang merupakan sebuah pertanda dan mana mimpi yang kosong. Jika mimpi itu terasa seperti di dunia nyata dengan gambaran sempurna tapi aku menyadari bahwa itu adalah mimpi, itu artinya mimpi itu hanyalah mimpi kosong. Sedangkan jika mimpi itu memiliki gambaran yang tidak jelas dan aneh, mimpi itu biasanya pertanda. Atau bisa dibilang akan menjadi kenyataan. Dan malam itu gambaran dalam mimpiku aneh. Entahlah, aku tidak ingin menebaknya. Aku hanya memersiapkan diri untuk hal yang terjadi kedepan. Aku berusaha melupakan lelaki itu. Menghilangkan harapanku padanya dan berjalan terus pada hal-hal yang lebih penting di depan mata. Begitu banyak hal yang lebih penting dilakukan dibanding memikirkan hal yang tidak jelas.
Lelaki dalam mimpi itu. Ia adalah temanku, bintang. Kami sudah berteman sejak lama. Ia tak banyak bicara. Pekerja keras. Santun. Bersahabat. Entahlah, aku belum pernah bertemu orang sepertinya. Dia berbeda dari yang lainnya. Di mataku dia sangat sempurna. Setelah lulus sekolah kami mengambil jalan yang berbeda, kami berada di kota yang berbeda namun cukup dekat. Sebetulnya aku juga orang yang jarang bicara. Jadi hubungan kami bisa dibilang merenggang. Walau begitu aku percaya ada suatu massa yang terdiri dari zat-zat kasat mata yang membentuk sebuah tali hubungan diantara aku dengannya. Aku percaya padanya, pada alam yang tak berbicara, pada reaksi kimia tak kasat mata. Berbuah kepercayaan itu aku pun bertahan menunggunya. Walau pasti dalam masa itu keraguan dan masalah kecil terkadang muncul di pertengahan jalan.
Akhir-akhir ini ia sering muncul. Kami beberapa kali bertemu dan bertukar cerita. Tak seperti biasanya, ia meluangkan waktunya untukku. Perasaan gembira tentunya membuncah di dadaku. Tapi entah mengapa ada satu bagian yang membuatku tidak tenang. Aku merasa kebahagiaan ini mayoritas berada di kepalaku saja. Hatiku merasakan hal yang berbeda. Kegelisahan tanpa alasan yang jelas. Sepertinya ini akan berakhir buruk.
Pagi itu langit cerah. Beberapa waktu setelah pertemuan-pertemuan itu , kami kembali seperti dulu. Tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Dan bertemu dengan orang-orang baru dalam perjalanan. Fokus kadang berubah namun tetap kembali ke tempat asalnya. Sungguh hari itu langit tidak menandakan akan bersedih. Ia terlihat cerah menyinari bumi dengan sinarnya yang menghangatkan. Tak ada seorangpun yang tau apa yang akan terjadi di menit bahkan detik yang akan datang.
Aku duduk dipojokan café bergaya vintage yang sedang sepi pengunjung siang itu. Musik karya komposer asing itu mengalun lembut di ruangan ini. Kopi yang sedari tadi diletakkan di meja sudah mulai dingin. Ia lama sekali. Sudah setengah jam aku menunggu dan ia tak kunjung datang. ku angkat telepon genggamku hendak meneleponnya namun ia sudah muncul di depanku. Sahabatku.
“mr. ngaret. Kebiasaan deh telatnya” ucapku. Yang diprotes hanya nyengir memperlihatkan giginya yang rapi. Cengengesan seperti biasanya. Rambutnya sudah tumbuh panjang. Lelaki gondrong selalu terlihat berantakan. Aku tidak suka itu.
“rambutnya bisa kali dicukur. Berantakan kaya preman” ucapku lagi mencercanya. Ia malah merebut kopi ditanganku lalu meminumnya. Kemudian kami diam. Ia menatapku dan membuang nafas panjang. Ada sebuah binar dimatanya yang tidak dapat aku artikan. Itu seperti sebuah kegelisahan. Aku tidak ingin bertanya. Aku memutuskan untuk membicarakan bintang. Seseorang yang sekarang frekuensi kemunculannya semakin tinggi.
“ri, bintang kemarin bilang sesuatu. Aku gabisa mengartikannya. Mungkin kalau aku tanya kamu bisa mengerti sebagai sesama laki-laki” ucapku. Yang ditanya malah menghembuskan nafas panjang lagi. Aku dapat melihat dari raut wajahnya, ia malas membahas ini.
“bosen bahas ini terus” jawabnya.
“matahari kan harus kerja sama baik sama bulan. Kalo engga nanti bumi nya gelap huu.” Aku memberikan analogi dengan nama kami. Ya, namaku bulan dan sahabatku ini bernama matahari. Ia terkekeh, “selalu bikin analogi dari nama. Kalo gitu tanya aja sama bintang yang lebih dekat” jawaban menyebalkan. Membuatku ingin melemparnya dengan bantal yang sedari tadi aku dekap.
“bulan dan bintang itu pasti selalu bareng sih, sampai akhir. Happily ever after kayanya hidupnya. Hehe” aku buat analaogi lain. Analogi yang aku amini setiap hari. Dan aku sangat percaya dengannya. Aku dan dia. Sama-sama cinta pertama. Dan aku percaya ini sudah takdir. Entahlah, aku sangat percaya kediaman antar aku dan dia ini sebetulnya berisi partikel-partikel ajaib yang nanti akan menyatukan kami pada waktu yang tepat. Aku cepat-cepat menghilangkan lamunanku melihat wajah sahabat yang sedari tadi diam di hadapanku. Wajahnya mengeras. Ia membuang pandangannya keluar jendela. Seperti ada suatu hal yang mengusiknya.
“lan, kita harus udah mulai masuk dunia realita. Kamu harus bisa pilih mana yang bisa kamu percaya dan kamu tinggalkan”ucapnya. Masih melihat keluar jendela. Ia tidak menatapku sama sekali. Sebetulnya aku ingin menjawanya dengan ‘kamu ngomong apa sih. Kaya di drama aja’. Tapi intuisiku berkata bahwa kali ini aku harus menanggapinya dengan serius. Ada suara dalam hatiku yang juga ingin melepas kegelisahan yang selama ini mengungkung diriku. “aku percaya yang bener kok. Dan aku tau mana yang realita dan imajinasi” jawabku masih dengan nada yang dibuat santai. Aku mempunyai dugaan percakapan ini akan berbeda dari percakapan kami biasanya.
Ia kembali membuang nafas panjang. “kalau apa yang kamu percayai itu benar, sekarang kamu harus meminta kejelasan darinya. Untuk memasuki dunia realita.” Ia akhirnya menatapku. Sorot matanya tajam. Aku tak pernah melihatnya seserius ini.
“hubungi dia sekarang juga” ucapnya.
aku terkejut dengan kata-kata yang barusan ia keluarkan. Apa dia salah minum obat sehingga dia bersikap absurd seperti ini.
“kok aku ngga ngerti. Maksudnya apa sih?” aku mulai mengeluarkan kekesalanku.
“dia itu sibuk hari, aku ngga mau ganggu. Lagipula aku yakin dengan yang aku tunggu. Kenapa kamu tiba-tiba jadi kaya gini. Bukannya dari dulu kamu sering mendorong-dorong aku dengan dia” suasana diantara kami menegang. Aku melihat lurus ke bola matanya begitupun dengannya. Seperti ada garis laser yang saling beradu diantaranya.
“aku Cuma ingin kamu sadar dan memilih jalan yang nyata. Dan jika kamu anggap dari dulu aku mendorongmu dengannya, Bulan, kamu terlalu naif. Aku lelah dan bosan. Kalo memang kamu percaya itu, yasudah lakukan saja seperti apa yang kamu bangun di ruang imajinasimu yang sudah melampaui batas itu” ucapnya dengan intonasi yang tinggi. Ia lalu beranjak dari kursinya. Meninggalkan aku yang kesal danmasih tidak mengerti apa yang ia bicarakan.
Aku masih duduk di cafe itu. Pikiranku terusik oleh kejadian beberapa menit yang lalu. Aku membuka ponselku. Mencoba untuk menelpon bintang tapi akupun tak sanggup. ‘siapa aku’ tiba-tiba suara itu terdengar di dalam kepalaku. Aku mulai menyadari dimana aku berjalan selama ini. Kegelisahan itu menembus masuk ke ruang imajinasi besar dimana aku menaruh harapan akan masa depan yang abu-abu. Kegelisahan memaksaku keluar dari ruang imajinasi dan menarikku ke jembatan menuju dunia nyata. Ingatan-ingatan akan pertanda buruk yang sudah dari lama aku dapatkan muncul kembali. Aku mulai bangun dari tidur panjangku dalam ruang fana.
6 bulan yang lalu. Salah seorang temanku pernah berbicara padaku bahwa ia tidak menyukai sifat bintang, ia menjelekkannya bahkan menyuruhku untuk tidak berhubungan lagi dengannya. Saat itu aku tidak ingin mendengarnya. Aku pikir ia tidak mengerti apa yang terjadi antara aku dan bintang. Akupun malas untuk bertemu dengannya lagi. Aku tidak pernah tau bahwa itu adalah salah satu peringatan halus untukku.
Dan hari ini aku tiba-tiba ingat perkataan temanku itu. Tanpa pikir panjang akupun berlari menuju tempatnya. “bulan...” Ia sedikit terkejut melihatku yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Napasku masih tersengal. Aku masih mengatur pernapasanku kembali normal.
“ceritakan semuanya padaku...”
Dan seluruh rahasia mengalir lembut memasuki telingaku. Pikiranku menerimanya lalu ditransfer ke hati sang pengendali perasaan. Hati yang saat itu penuh dengan perasaan yang tercampur melakukan penstabilan dengan hembusan nafas panjang yang mengeluarkan karbon dioksida sekaligus membuang segala kegelisahan yang selama ini mengungkung. Kebenaran itu telah datang. Tak ada lagi gelisah yang berkepanjangan
Hati tak pernah mengkhianati sang empunya. Ia selalu memberikan petunjuk pada sang pikiran akan apa yang sebenarnya terjadi. Namun arogansi pikiran seringkali menolak petunjuk itu. Membuat ketimpangan perasaan seringkali terjadi dan membuat sang empunya tidak dapat membedakan antara realita dan imajinasi. Sampai pada akhirnya sang empunya tak menyadari bahwa ia telah dikhianati dan dibodohi selama ratusan hari oleh harapan yang ia ciptakan sendiri yang diprakarsai oleh sang pengkhianat nyata yang selama ini tak pernah sungguh-sungguh padanya. Hanya menggantungkan sebuah harapan yang tak mungkin dapat digapainya. Sengaja digantung kalau-kalau suatu hari ia harus turun, setidaknya ada yang melompat dan menggapainya. Terkadang kelicikan menguasai manusia. Dan kelicikan itu menarik kenaifan dengan kuat. Bagaikan batang magnet dengan 2 kutub yang berbeda jika dihadapkan. Mereka akan tertempel sangat kuat. Akan berpisah jika ada yang menarik dengan paksa.
Aku bagaikan duduk di depan sebuah ruang dengan pintu kaca transparan, merasa seperti telah memasuki ruangan tersebut padahal aku hanya berada di depannya. Tak bisa memasukinya. Sehingga tak sadar ada pintu lain yang selalu terbuka lebar dibelakangku. Karena terlalu lama menyadari bahwa ruang dihadapanku itu tertutup pintu kaca sepenuhnya aku pun terlambat menyadari pintu terdekat yang selama ini terbuka lebar. Ia terlanjur pergi. Tidak. Sebenarnya aku yang pergi meninggalkannya karena terus mengikuti kemana pintu kaca ini pergi. Aku hilang arah. Tak tau harus kemana. Dan akupun memutuskan untuk tidak berusaha memasuki pintu manapun. Aku hanya akan berjalan kedepan entah sampai kapan. Aku tak tau.
Hati ini mengetahuinya, mimpi saat itu adalah sebuah pertanda.