TIDAK semudah sekarang untuk menonton tivi dizaman saya masih kecil dahulu. Siaran televisi di Indonesia sudah ada sejak tahun 1962, namun hingga 1970-an belum banyak warga yang bisa menikmati siara televisi.
Beruntunglah, ada sejumlah orang yang telah memiliki televisi dan baik hati memberikan izin bagi anak-anak untuk menonton tivi.
Menonton tivi itu perlu perjuangan. Bisa jadi, tempat yang biasanya diperbolehan tiba-tiba sedang pergi sehingga membuka pintu atau jendela. Atau, tiba-tiba giliran -- mati listrik. Atau aki (accu) habis dan belum disetrum, apalagi karena Selasa malam yang hampir seluruh acara tidak menarik, sehingga pemilik memilih tidak menghidupkan tivi atau belum mengambil sccu dari tempat setruman.
Saya yang tinggal di Ketanggungan Kulon, biasa menonton tivi di tetangga. Di rumah Pak Pedro Sudjono -- jika menonton yang dulunya di ruang belakang, kemudian pindah menontonnya dari jendela sebelah timur, atau di kediaman Mas Moesnono, yang membuka izin menonton tivi bagi anak-anak pada sore hari saja, atau di kediaman Pak Amin Siradj (sekarang jadi Joulie) Jalan Kapten Pierre Tendean, menonton dari luar ruang di halaman belakang.
Atau di kediaman Pak Rai Mahendra, nontonnya di halaman, tivi di pasang di depan pintu. (sungguh mulia beliau memberi izin menonton tivi dengan mengorbankan kenyamanan keluarga).
Di kecamatan? Belum ada.
Acara favorit? Film anak-anak seperti Rin Tin Tin, Herculoid, Shintaro, Primus, Voyage To The Bottom of The Sea, I Dream of Jeannie, atau agak malam seperti The Saint, Wild Wild West, Mannix, Little House on The Prairie, Startrex, Film Cerita Akhir Pekan dan sebagainya. Atau acara musik.
Saat TVRI menyiarkan berita, biasanya televisi dimatikan, untuk menghemat listrik. Tak ada yang anak-anak tonton ketika hari Rabu malam pas kebetulan habis sidang Kabinet. "Menurut petunjuk bapak presiden…." ****