Akhirnya, Merbabu yang Pertama
Akhirnya salah satu wish list saya kecoret juga, naik gunung! Sebelumnya paling pol cuma ke Bromo, tapi itu juga gak dihitung ‘gunung’ kan? Dan di hari jumat (18/08) kemarin, akhirnya saya dikasih kesempatan buat naik ke gunung Merbabu bareng dua teman SMA saya. Sebenernya rencana naik gunung ini gak dipersiapkan bener-bener sih, spontan aja gitu rencananya. Kadang kan emang gitu, yang spontan malah justru kejadian daripada yang cuma wacana. Tapi, sepertinya rencana spontan buat naik gunung itu sangatlah gak dianjurkan, apalagi buat pendaki pemula seperti saya kan.
Jadi ceritanya gini, berawal dari liburan SP yang saya pake buat pulang ke Malang awal Agustus kemarin. Niat awalnya emang sekedar pulang aja, gak bawa apapun yang berhubungan sama naik gunung. Sampai akhirnya ada notif di grup wasap SMA yang intinya ngajak ke Jogja buat naik gunung, itung-itung sekalian liburan karena emang lama juga gak pernah main bareng. Juga mumpung teman saya, Herdi, sekarang lagi tinggal di jogja. Jadi ya, saya okein aja. Sekalian ke Museum Sonobudoyo buat nyari bahan penelitian dan setelahnya bisa langsung cus ke Bandung, gitu pertimbangan saya.
Akhirnya saya berangkat hanya berbekal tas ransel (bukan tas gunung), sandal gunung (yang akhirnya terpaksa harus beli dulu, daripada harus pake sneakers), tas kamera, jaket parka + sleeping bag + head lamp (dipinjemin mbak adin), dan semua barang-barang yang harus saya bawa sekalian ke Bandung setelahnya. Sungguh, bukan starter pack anak gunung. Malah mirip anak-anak endorsan kekinian yang mau cari tempat bagus cuma buat foto, kata Bagus, teman SMA saya yang satunya lagi. Pret.
*Starter pack yang salah, kan?
Kamis (17/08) malam saya sama Bagus berangkat dari Malang menuju Jogja. Sesampainya di Jogja sekitar pukul 3.30 pagi, kami langsung cus ke kosnya Herdi. Nah, disini terjadi perubahan tujuan. Tiba-tiba Herdi malah ngajakin ke Merbabu, bukannya Merapi. Merapi tracknya curam tapi sebentar, Merbabu tracknya lebih panjang tapi lebih tinggi daripada Merapi, gitu kata Herdi. Bagus setuju, ya karena emang dia udah sering naik gunung jadinya gak ada masalah mau lebih tinggi atau lebih susah tracknya. Saya sendiri? Ya ikutan setuju lah. Pengalaman cuma sekali naik Gunung Bromo gak cukup buat adu argument sama mereka. Tapi di dalam hati tetep sih, “duh, semoga kuat, semoga iso”.
So, setelah browsing tentang Merbabu serta rute perjalanannya gimana, akhirnya sekitar jam 10 pagi kami bertiga berangkat ke daerah Selo, Boyolali, sebagai titik pertama menuju Merbabu. Perjalanan dari pusat kota Jogja menuju Selo memakan waktu sekitar 3 jam, itu udah kepotong kami berhenti dulu buat Jum’atan. Berbekal tanya sana-sini, akhirnya kami sampe juga di Gancik, buat pendaftaran untuk naik ke Merbabu.
Disini kami bertiga sama masnya dikasih info kalo ternyata ada 2 jalur buat mendaki Merbabu. Yang pertama via Selo, tracknya memutar dan memakan waktu sekitar 4-5 jam. Yang kedua, via Gancik, tracknya lebih cepat 2 jam daripada Selo tapi lebih terjal sedikit dan lebih landai. Rutenya, basecamp-Pos 1-Pos 2-Pos 3-Sabana 1-Sabana 2-Puncak Merbabu. Karena kami sampenya udah siang dan juga harus menghemat waktu, akhirnya kami pilih jalur Gancik. Semua motor bisa di parkir di basecamp terakhir, biayanya Rp. 5000. Di Gancik juga ada mas-mas ojek yang bisa nganterin kita sampai batas cor-coran/tanah plesteran (apa se bahasa Indonesianya?), biayanya Rp. 10.000. Atau bisa juga sampe di bawah pos 1, biayanya sekitar 30-40rb tergantung keahlian kita nawar aja. Track awal buat naik ke pos 1 emang beneran berat sih menurut saya. Tanah cor-coran yang harus dilewati itu kemiringannya ada kali sekitar 600 dan emang curam banget. Herdi aja sampe menyerah dan akhirnya ngojek sampe bawah pos 1. Sedangkan saya sama Bagus memutuskan untuk jalan kaki dari awal. Masak gini aja ngojek, pikir kami berdua.
Kenyataanya, saya lebih banyak minta waktu buat istirahat daripada Bagus. Maklum, pemula. :P
Setelah ketemu sama Herdi di Pos 1, kami bertiga akhirnya melanjutkan perjalanan sampe Pos 3. Butuh waktu sekitar 3,5 jam hingga akhirnya kami bertiga sampe di Pos 3. Itu udah ditambah tragedi kakinya Herdi yang kram kiri-kanan, yang akhirnya memutuskan kami untuk mendirikan tenda di Pos 3. Karena kakinya si Herdi lagi gak tenang butuh istirahat, dia memutuskan untuk di tenda aja dan gak ikut naik ke puncak. Soalnya track sabana 1-sabana 2-Puncak emang terjal dan menanjak sih. Bisa butuh waktu sampe puncak 2 hari kalo Herdi ikut, kan. :P
*ekspresi nahan kram. Sakit banget kayak e ya.
*Tolong menolong adalah koentji.
Saya sendiri, Cuma bisa sampe sabana 2 aja, gak kuat lagi buat naik ke puncak buat ngejar sunrise. Maklum, pemula (alesanmu, mid!). Jadi ya saya biarkan Bagus dengan hasrat petualangnya buat lanjut ke puncak, saya titip absen aja sama dia. Ohya, di perjalanan ke sabana 2, saya ketemu 2 orang dari Surabaya yang juga lagi summit ke puncak, Pak Anang dan Pak satunya-yang-gak-sempet-saya-tanyakan-namanya. Bagus lanjut summit ke puncak bareng Pak satunya-yang-gak-sempet-saya-tanyakan-namanya, sedangkan saya sama Pak Anang (55th) berhenti di sabana 2 dan memutuskan untuk duluan balik ke Pos 3.
Yah, walaupun saya gak bisa dapet sunrise di puncak Merbabu, karena kebetulan pagi itu agak mendung, saya masih bisa menikmati keindahan gunung Merbabu. Jadi ini, yang bikin orang-orang ketagihan naik gunung. Ya emang pemandangan dari ketinggian itu waksi banget sih. Apalagi kontur tanah serta perbukitannya, perpaduan antara puncak-puncak gunun dan awan, serta kabut yang perlahan-perlahan masuk itu emang waksi pol! Meskipun saya dapet jekpot ngglundung 2x waktu perjalanan turun ke pos 3, itu gak mengurangi kebahagiaan saya. Alhamdulillah akhirnya saya bisa merasakan momen seperti ini.
*Konco SMA, @bagus_akbarr & @herditami
*savanna Pos 3
*Pos 3 dengan view gunung Merapi
*mencari semak-semak buat beraksi
Rutam nuwus, Merbabu, belum 3142 Mdpl. Sampai jumpa lagi. Gak tau juga kapan saya akan melunasi PR mu untuk sampai puncak.
Bukan tentang seberapa jauh dan seberapa berat medan yang ditempuh. Tapi tentang seberapa kuat tekadmu untuk melalui itu semua. Itu yang lebih penting. – dimazfakhr
Jogjakarta, 210817 @dimazfakhr













