Terimakasih.
Pernah menjadi bagianmu, kau jadi bagianku. Pernah mencoba banyak cara untuk mendapatkan pengampunanmu. Ribuan kali mengucapkan maaf, ribuan kali pula kesalahan yang sama terulang.
Aku pernah disitu, jadi bagian dari bab kehidupanmu yang kemudian menguap jadi kisah yang tidak sudi kamu hampiri sebentar saja hanya untuk kau kenang. Memastikan kalau kisah itu pernah ada, dan kita berdua pernah benar-benar berada disitu.
Aku pernah disitu, di jam-jam malammu yang menemanimu sampai kau terlelap lalu kembali membuka mata dengan suaraku yang masih berada diujung sambungan.
Aku pernah disitu, di penantian hari demi hari menuju titik temu di kota yang dingin itu. Memandang langit di tengah lapang alun-alun, lalu merapal beberapa mantra masa depan seakan-akan semua akan selalu berjalan seperti apa yang pernah kita rencanakan.
Aku juga pernah disitu, di malam-malam mimpi terburukmu.
Pada hal-hal yang pernah terjadi, juga mimpi-mimpimu yang ku khianati.. Setidaknya, terimakasih karena kau pernah dengan tulus mencintai.
Aku cukup senang melihatmu kini baik-baik saja, walau aku tau kamu juga sebenarnya sedang tidak sebaik-baik itu.
Terimakasih paling banyak kuucapkn karena kamu pernah menjadikanku lelaki.
Ya, kau menjadikanku lelaki seutuhnya dimana saat itu aku hanyalah banci separuhnya. Separuhnya lagi hanya bajingan tengik yang menantang dunia dengan ketololan nya.
Kini dalam pelukku ada seorang perempuan yang perlahan membuatku sadar kalau apa apa yang kita punya dulu membuatku paham bahwa pelajaran terbesar dari masa lalu adalah untuk menjadikan kita bertumbuh dan berkembang menjadi versi diri kita yang lebih baik lagi di masa kini.
Perempuanku yang ini begitu lemah lembut, bapak ibubya tak pernah sedikitpun meninggikan nada suara mereka saat berbicara dengannya. Akupun jadi belajar banyak untuk bisa memerlakukan nya lebih baik dari apa yang pernah bapak dan ibunya berikan untuknya.
Benar katamu dulu, tak semua kisah harus terus dipertahankan. Terimakasih karena telah menbuat keputusan yang benar saat itu. Kalau kau tidak melepaskanku, aku tidak akan bisa belajar dari masa itu. Tidak pula bisa menjadi aku yang sekarang.
Aku harap kamu menemukan kebahagiaanmu sepertiku yang sudah mendapatkan kebahagiaanku dengan seseorang dalam pelukku saat ini.
Semesta dan Tuhan akan selalu mengiringi langkah-langkah baikmu untuk menjadikan kamu perempuan yang lebih tegar dan lebih baik lagi.
Terimakasih untuk banyak pelajaran berharga di waktu yang singkat yang pernah sama-sama kita perjuangkan.













