Ruang Di Sudut Pikiran (14)
Untuk apa, Untuk Apa Perempuan Tercipta?
Ini pengalaman pribadiku, serta bagaimana dua puluh tahun aku memendam berbagai pertanyaan di kepala.
Untuk apa perempuan tercipta, untuk apa?
Sejak kecil, anak perempuan cenderung banyak yang sudah diajarkan menyapu, mengepel, dan melipat baju dengan rapi. Salah satu alasannya adalah demi menjaga kebersihan.
Diriku kecil menurut saja, tetapi satu pertanyaan tercipta di kepalaku. Kenapa hanya perempuan? Bukankah menjaga kerbesihan itu adalah tugas tanpa memandang jenis kelamin? Menjaga kebersihan adalah tugas seluruh manusia.
Kemudian ketika aku mulai memasuki remaja, aku memahami kenapa sejak kecil perempuan sudah diajarkan ini dan itu. Oh, ternyata ditambah perlu pandai memasak. Katanya itu semua tugas perempuan. Kalau perempuan resik, gesit, dan pandai memasak, itu akan membuat laki-laki senang. Pertanyaanku, memangnya kami ini perempuan lahir untuk apa? Menjadi babu di rumah sendiri kah setelah menikah?
Semakin aku besar, aku semakin banyak mendapatkan kalimat-kalimat menyebalkan tentang 'Perempuan harus bisa ini dan itu' juga 'Perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena nanti kembalinya hanya ke dapur, mengurus rumah, anak, dan suami.'
Aku bahkan pernah memiliki pengalaman yang agaknya sangat tidak mengenakan saat baru saja akan memulai perkuliahan. Aku adalah anak gap year, tidak langsung kuliah sesaat setelah lulus dari SMA. Selama masa kosong itu, aku banyak mengisinya dengan tampil sebagai penggiat literasi, menjadi salah satu tim dalam komunitas literasi, menulis beberapa antalogi, belajar bahasa korea, dan menyusun trilogi sajak.
Setelah setahun berlalu, aku mencoba membanting stir untuk terjun ke dunia pendidikan anak. Sebab selama masa kosong setahun itu, aku memiliki ketertarikan berbeda pada bidang pendidikan anak tersebut.
Mama—sebagai salah satu pendukungku dalam terjun ke dunia pendidikan anak—menemaniku dalam mengurus berbagai macam hal yang berkaitan dengan kuliahku. Beliau ingin tahu, dan beliau ingin mendampingiku.
Sepulangnya, aku dan Mama berkunjung ke salah satu kenalan lama Mama. Seorang yang sejak lulus SMA sudah diambil pihak keluarga untuk menjalani usaha keluarga besar; sudah terjamin pekerjaannya. Beliau berkata: "Untuk apa kamu kuliah 4 tahun? Itu buang-buang waktu. Perempuan tidak perlu membuang waktu selama itu untuk pendidikan, nanti ujungnya urus anak dan suami. Jadi pandai-pandai saja di dapur dan mengurus pekerjaan rumah."
Hatiku sakit bukan main. Mama tidak pernah menahan hobi dan cita-cita anak-anaknya, meskipun kami semua adalah perempuan. Sementara orang yang bukan dari keluarga intiku malah dengan percaya diri mengungkapkan hal semacam itu.
Aku bisa dengan tenang menjawab pertanyaan meremehkan itu, dan semua kuanggap tidak ada masalah.
Waktu berlalu dan aku hampir saja menyelesaikan satu semester, saudara dekat Mama datang berkunjung saat aku baru saja tiba di rumah sepulang kuliah. Basa-basi yang terlalu basi; bertanya perihal sudah kuliah semester berapa, kemudian mulutnya berucap: "Kamu kuliah ini sudah telat usianya. Belum pernah punya pacar, sekarang sudah ada belum? Buru-buru cari, nanti kalau kelamaan takut jadi perawan tua. Malu."
Pertanyaanku lagi, apakah harga diri seorang perempuan hanya diukur dari apakah dia cepat menikah atau tidak? Jadi yang belum menikah meski usianya sudah matang itu adalah perempuan yang memalukan? Iya begitu??
Apakah perempuan tercipta hanya untuk menjadi tukang bersih-bersih rumah, mengurus suami, dan mengurus anak seorang diri? Padahal menjaga kebersihan di rumah bukan hanya tugas perempuan, mengurus anak juga tugas kedua orang tua karena ayah dan ibu memiliki perannya masing-masing dalam proses tumbuh kembang anak.
Apakah segala bentuk insekyuritas laki-laki adalah kewajiban perempuan untuk menanggungnya? Laki-laki tidak mau memiliki perempuan yang pendidikannya lebih tinggi dari mereka dengan alasan yang sampai sekarang masih tidak bisa diterima akal sehatku.
Masih banyak sekali bentuk pemikiran patriarki yang ternyata negara ini masih terus lakukan secara turun temurun. Jadi, untuk apa? Untuk apa kami perempuan diciptakan? Selalu penuh tuntutan dan sering sekali menjadi pihak yang disudutkan jika tidak sempurna.
Untuk apa, untuk apa?
-gds_monoton
















