Rekonsiliasi Semesta Atas Kita
Hidup akan lebih berenergi jika kita mampu untuk saling menghormati, dan hidup akan lebih beresensi jika kita mau memilih merekonsiliasi perbedaan serta bersinergi dalam toleransi. Sehingga hanya satu kata yang dunia dapat benar-benar terjemahkan, DAMAI. Secara sadar saya berusaha menerapkan hal tersebut dalam kehidupan saya, tercermin dari lingkungan yang telah saya bentuk sampai saat ini.
Sahabat paling dekat sekaligus mentor saya adalah seorang peranakan Cina, Nasrani yang taat. Dia merupakan salah seorang yang mampu membelajarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu membaikkan sesama.Teman kerja sekaligus sahabat perempuan saya adalah mantan ketua organisasi Nasrani di sebuah Universitas. Saya juga mempunyai seorang mentor menulis, seorang Katolik yang pernah memurtadkan wanita yang kini menjadi istrinya. Di sisi yang lain, saya sangat mengagumi Murabbi (guru spiritual) saya yang seorang Ikhwanul Muslimin. Sementara itu, teman sekontrakan saya sendiri adalah seorang Salafi dan saya sangat menikmati statement-statement cerdas di tiap perkataannya. Serta satu lagi, teman berdiskusi saya adalah seorang muslim yang sangat tergila-gila dengan konsep trimurti, Budha, dan sempat beberapa kali mengikuti kebaktian di vihara secara langsung. Demikian, saya berada dalam satu lingkaran bersama mereka, hidup bersama dan saling berinteraksi, menumbuhkan toleransi di tiap jedanya. Hingga saat ini masih baik-baik saja. Baik-baik dalam arti yang sebenarnya serta artian saya masih bertanggung jawab atas hubungan saya dengan Tuhan.
Jadi saya termasuk golongan mana? Aliran apa? Agama apa?
Ini hanya bagian yang disebut keberagaman saja. Dimana saya harus dihadapkan dengan orang-orang tersebut dan bagaimana saya harus bersikap paling bijak dalam menghadapi semuanya. Mereka adalah teman sekaligus ujian yang Tuhan persiapkan satu-satu untuk saya hadapi dengan berwibawa. Tuhan sebenarnya ingin melihat metode yang saya pakai dalam memproses keberagaman tersebut, serta mengenai hasil akhirnya yang seharmonis apa. Setiap orang punya penilaian sendiri atas diri dan dunia saya, begitu halnya dengan Tuhan.
Sebenarnya perbedaan itu sendiri merupakan bentuk kearifan atas kehendak Tuhan. Tidak harus kita permasalahkan secara bertele-tele. Saya tak punya hak untuk menghakimi macam-macam dengan orang-orang yang “berbeda” dari saya. Saya rasa semua orang yang dihadapkan untuk hidup bersama saya adalah jenis orang yang sama-sama bermartabat. Rasulullah sendiri yang mengatakan hal itu. Diriwayatkan ada orang yang berkata kepada Rasulullah,”Ya Rasulullah, orang itu adalah orang Yahudi!” Rasulullah kemudian berkata, “Bukankah dia manusia juga?”. Jelaskan, kita akan bermartabat dengan memanusiakan manusia, semua jenis manusia.
Saya selalu tertarik dengan pembicaraan mengenai Yerusalem. Kota sekaligus rahim bermacam peradaban, yang lahir dengan berlumuran darah, dan tumbuh berkembang dengan kedewasaan yang sarat akan candu politik. Itulah Yerusalem, kota tiga agama besar di dunia, Yahudi, Kristen, dan Islam. Simon Sebag Montefiore dalam bukunya yang berjudul Jerusalem : The Biography pernah menyebutkan bahwa selama 1.000 tahun, Yerusalem secara eksklusif Yahudi, selama 400 tahun Kristen, dan 1.300 tahun Islam, dan tak ada satu pun dari ketiga agama ini yang memenangi Yerusalem.
Terlahir dari sejarah yang menurut saya sangat sadis itu, Yerusalem kini berdiri bersama batu-batu bekas darah yang merekam bermacam pembantaian. Yang kini melahirkan budaya baru. Tatanan kota baru. Di sana tempat beribadah tiga agama yang berbeda berdiri berdampingan. Gambaran megahnya spiritual yang bermula dari serentetan peristiwa yang diatasnamakan kekuasaan, meretakkan yang seharusnya dapat berdampingan dan menyatu. Peristiwa yang tumpang tindih, bergantian saling memutuskan pertalian. Dari peristiwa kemenangan Alexander, perang salib, sampai perang suci lain yang pada akhirnya dapat juga saling damai.
Yerusalem adalah sebuah penghormatan atas toleransi yang terlambat datang. Tapi tak apa, silaturahim menandakan kemenangan atas toleransi dan perdamaian. Goenawan Mohamad pernah menuliskan dalam artikelnya mengenai Yerusalem “Memang itulah yang penting: bukan kekuasaan memutus, melainkan hasrat menyambung, bukan kolonisasi, melainkan silaturahmi sehari-hari.” Menurut saya, Yerusalem adalah simbol yang Tuhan lukiskan dengan tidak sederhana, yang selanjutnya diberdirikan tegar, dipenuhi angin yang meniupkan doa-doa damai. Mungkin suatu saat nanti saya akan tersenyum hikmad melihat Gereja di seberang jalan seusai beribadah sholat di salah satu masjid di sisi kota itu.
Sama halnya dengan Yerusalem, saya dan mereka hidup dengan damai, bebas, juga dengan batasan. Dan batasan tersebut sering dihiperbolakan sebagian orang yang kemudian menjurus kepada hal-hal menyimpang dan tidak pada tempatnya. Sebenarnya kita bisa hidup lebih adem dengan tidak buang-buang energi menyimpangkan hal-hal yang bisa diatur dan dijadikan lurus. Kita hidup di dunia dimana terdapat bermacam jenis manusia dengan kebhinekaanya, kita hanya perlu satu jurus untuk menghadapi gejolak perbedaan itu. Dan jurus itu bernama toleransi.