Puisiku
(Untuk Sahabat)
Dimula kita tak sama
Janji temu tak pernah ada
Ambisi kita hal yang serupa
Satu tujuan untuk mimpi hidup kita
Hingga akhirnya jadi pengikat temu kita
Biar tak seibu tak sebapa
Tapi kita ini saudara
(Edisi Reuni)
~Nurul Aulia~
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from Malta
seen from France

seen from Indonesia
seen from China
seen from Sweden
seen from France
seen from Serbia
seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from United States

seen from United States

seen from Lithuania

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
Puisiku
(Untuk Sahabat)
Dimula kita tak sama
Janji temu tak pernah ada
Ambisi kita hal yang serupa
Satu tujuan untuk mimpi hidup kita
Hingga akhirnya jadi pengikat temu kita
Biar tak seibu tak sebapa
Tapi kita ini saudara
(Edisi Reuni)
~Nurul Aulia~
PAGI INI UNTUK SAHABATKU ! Jangan bertanya tentang seseorang, tetapi bertanyalah tentang sahabatnya. Sebab, setiap orang akan mengikuti sahabatnya. (Abdul Qadir Isa) #menujujalansunyi #ibozavasnoz #tentangsahabat
D-3 Mereka (1)
Bertahun-tahun aku mengenal mereka Semenjak segaram putih merah, putih biru dan putih abu Adakalanya hari kita penuh tawa Adakalanya hari kita penuh sendu
Satu per satu pergi Apakah digandeng oleh suami Merantau ke kota yang dingin Atau kembali membuka lembaran diktat untuk sebuah ilmu baru yang akan diwarisi
Sebuah perjalanan masing-masing Aku tak bisa marah pada mereka kalau-kalau rindu ingin bertemu namun raga tak bisa bersatu Tak boleh egois, yang hanya ingin bersenang-senang setiap kali hati ini bahagia Tapi tak begitu Jarak yang menciptakan rindu Rindu yang akan meletup ketika wajah saling pandang, dengan senyum yang terpasang Mungkin satu bulan sekali Atau bahkan satu tahun sekali kita meletupkan rindu Tak apa..
*Siang tadi di rumah Shinta dan Lusi Untuk tahun yang penuh kejutan ini, kita sama-sama terkejut yaaa
Subang, 3 Juli 2017
#13for14th : #11 Lovely Moments We Had Spends Together
Rekonsiliasi Semesta Atas Kita
Hidup akan lebih berenergi jika kita mampu untuk saling menghormati, dan hidup akan lebih beresensi jika kita mau memilih merekonsiliasi perbedaan serta bersinergi dalam toleransi. Sehingga hanya satu kata yang dunia dapat benar-benar terjemahkan, DAMAI. Secara sadar saya berusaha menerapkan hal tersebut dalam kehidupan saya, tercermin dari lingkungan yang telah saya bentuk sampai saat ini.
Sahabat paling dekat sekaligus mentor saya adalah seorang peranakan Cina, Nasrani yang taat. Dia merupakan salah seorang yang mampu membelajarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu membaikkan sesama.Teman kerja sekaligus sahabat perempuan saya adalah mantan ketua organisasi Nasrani di sebuah Universitas. Saya juga mempunyai seorang mentor menulis, seorang Katolik yang pernah memurtadkan wanita yang kini menjadi istrinya. Di sisi yang lain, saya sangat mengagumi Murabbi (guru spiritual) saya yang seorang Ikhwanul Muslimin. Sementara itu, teman sekontrakan saya sendiri adalah seorang Salafi dan saya sangat menikmati statement-statement cerdas di tiap perkataannya. Serta satu lagi, teman berdiskusi saya adalah seorang muslim yang sangat tergila-gila dengan konsep trimurti, Budha, dan sempat beberapa kali mengikuti kebaktian di vihara secara langsung. Demikian, saya berada dalam satu lingkaran bersama mereka, hidup bersama dan saling berinteraksi, menumbuhkan toleransi di tiap jedanya. Hingga saat ini masih baik-baik saja. Baik-baik dalam arti yang sebenarnya serta artian saya masih bertanggung jawab atas hubungan saya dengan Tuhan.
Jadi saya termasuk golongan mana? Aliran apa? Agama apa?
Saya muslim. Titik.
Ini hanya bagian yang disebut keberagaman saja. Dimana saya harus dihadapkan dengan orang-orang tersebut dan bagaimana saya harus bersikap paling bijak dalam menghadapi semuanya. Mereka adalah teman sekaligus ujian yang Tuhan persiapkan satu-satu untuk saya hadapi dengan berwibawa. Tuhan sebenarnya ingin melihat metode yang saya pakai dalam memproses keberagaman tersebut, serta mengenai hasil akhirnya yang seharmonis apa. Setiap orang punya penilaian sendiri atas diri dan dunia saya, begitu halnya dengan Tuhan.
Sebenarnya perbedaan itu sendiri merupakan bentuk kearifan atas kehendak Tuhan. Tidak harus kita permasalahkan secara bertele-tele. Saya tak punya hak untuk menghakimi macam-macam dengan orang-orang yang “berbeda” dari saya. Saya rasa semua orang yang dihadapkan untuk hidup bersama saya adalah jenis orang yang sama-sama bermartabat. Rasulullah sendiri yang mengatakan hal itu. Diriwayatkan ada orang yang berkata kepada Rasulullah,”Ya Rasulullah, orang itu adalah orang Yahudi!” Rasulullah kemudian berkata, “Bukankah dia manusia juga?”. Jelaskan, kita akan bermartabat dengan memanusiakan manusia, semua jenis manusia.
Saya selalu tertarik dengan pembicaraan mengenai Yerusalem. Kota sekaligus rahim bermacam peradaban, yang lahir dengan berlumuran darah, dan tumbuh berkembang dengan kedewasaan yang sarat akan candu politik. Itulah Yerusalem, kota tiga agama besar di dunia, Yahudi, Kristen, dan Islam. Simon Sebag Montefiore dalam bukunya yang berjudul Jerusalem : The Biography pernah menyebutkan bahwa selama 1.000 tahun, Yerusalem secara eksklusif Yahudi, selama 400 tahun Kristen, dan 1.300 tahun Islam, dan tak ada satu pun dari ketiga agama ini yang memenangi Yerusalem.
Terlahir dari sejarah yang menurut saya sangat sadis itu, Yerusalem kini berdiri bersama batu-batu bekas darah yang merekam bermacam pembantaian. Yang kini melahirkan budaya baru. Tatanan kota baru. Di sana tempat beribadah tiga agama yang berbeda berdiri berdampingan. Gambaran megahnya spiritual yang bermula dari serentetan peristiwa yang diatasnamakan kekuasaan, meretakkan yang seharusnya dapat berdampingan dan menyatu. Peristiwa yang tumpang tindih, bergantian saling memutuskan pertalian. Dari peristiwa kemenangan Alexander, perang salib, sampai perang suci lain yang pada akhirnya dapat juga saling damai.
Yerusalem adalah sebuah penghormatan atas toleransi yang terlambat datang. Tapi tak apa, silaturahim menandakan kemenangan atas toleransi dan perdamaian. Goenawan Mohamad pernah menuliskan dalam artikelnya mengenai Yerusalem “Memang itulah yang penting: bukan kekuasaan memutus, melainkan hasrat menyambung, bukan kolonisasi, melainkan silaturahmi sehari-hari.” Menurut saya, Yerusalem adalah simbol yang Tuhan lukiskan dengan tidak sederhana, yang selanjutnya diberdirikan tegar, dipenuhi angin yang meniupkan doa-doa damai. Mungkin suatu saat nanti saya akan tersenyum hikmad melihat Gereja di seberang jalan seusai beribadah sholat di salah satu masjid di sisi kota itu.
Sama halnya dengan Yerusalem, saya dan mereka hidup dengan damai, bebas, juga dengan batasan. Dan batasan tersebut sering dihiperbolakan sebagian orang yang kemudian menjurus kepada hal-hal menyimpang dan tidak pada tempatnya. Sebenarnya kita bisa hidup lebih adem dengan tidak buang-buang energi menyimpangkan hal-hal yang bisa diatur dan dijadikan lurus. Kita hidup di dunia dimana terdapat bermacam jenis manusia dengan kebhinekaanya, kita hanya perlu satu jurus untuk menghadapi gejolak perbedaan itu. Dan jurus itu bernama toleransi.
- Yulaika Ramadhani
#TentangSahabat : Hujan Kita Terakhir, Kemarin
Kenapa tiba-tiba hujan. Aku bertanya, mengulang pertanyaan sama yang belum lama kamu tanyakan beberapa detik lalu, di sore basah itu. Pertanyaanku mengambang, kamu diam, dengan sengaja membiarkan aku menikmati langit yang menderas, merekam apapun dalam jeda yang sengaja kita buat saat menanti reda. Selanjutnya aku membiarkanmu merasai hujan yang menjatuhi lenganmu yang semenjak tadi belum kulepaskan. Aku, kamu, membelah kota hujan, menyeberang di sela asap jalan raya yang beku oleh dingin, meninggalkan plaza botani, menuju jalan pulang. Saling menatap sembari tertawa. Dalam hujan kecil-kecil.
Masih kuingat jelas, detail rasaku saat kamu mengatakan bahwa sebenarnya aku tahu jawabannya tanpa harus kamu jelaskan, tentang mengapa hari ini mendadak hujan. Aku hanya terdiam menikmati kebiasaanmu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya selepas-lepasnya. Kemudian kamu mengangguk dua tiga kali sambil tersenyum sesak, melipat tangan di dada, mengangguk-angguk lagi, dan kemudian kembali berbicara dengan binar baru. Aku sudah siap. Aku siap pergi. Dengan mantap kamu berkata itu, lebih dari dua kali. Saat itu juga, aku mengangguk menatap matamu yang berusaha menguatkanku meski selanjutnya merapuh, pecah, tumpah.
Aku bisa paham dengan kekhawatiran atas jarak kita yang selanjutnya akan melebar dan melebur bersama jeda waktu yang tidak sebentar, menunda pertemuan atas kita, menoreh rindu karenanya. Ini babak barumu, babak baruku tanpamu. Kamu sendiri yang kemarin bilang, bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita sendiri. Kamu akan berjumpa dengan orang-orang baik di sana, dan sekembalinya pasti akan membaikkan yang baik. Ada atau tidak ada aku. Karena ini bukan masalah siapa tanpa siapa, babakmu ini lebih dari itu.
Kita masih bersebelahan, menikmati parodi hujan kecil-kecil di kaca miniarta yang mengantarkan kita pulang, menemani kita berkisah, sehari sebelum aku memiliki kehilangan atas kamu. Kulihat kamu yang sedang memetakan Bogor, dan bertutur tentang tempat-tempat yang belum sempat kita sambangi bersama. Aku tersenyum saat itu, sedetik kemudian aku berkata, mengharuskan pertemuan kita di Bogor selanjutnya akan ada di sana, di tiga tempat yang kamu sebut-sebut belum kita jamah bersama itu. Puncak - Kebun Raya - Warung Jambu.
Dan jika Tuhan mempertemukan Jogja dengan kita, ada satu tempat yang sengaja kupilih. Di bawah pohon matoa tua, di kampus kita. Aku hanya ingin mengizinkan kampus yang pertama tahu perihal kedekatan kita, karena di Jogja kita belum pernah saling menukar sapa semesra sekarang. Ada satu janji untuk satu temu itu, aku-kamu harus bertemu dalam kondisi yang lebih hebat dari saat ini. Mempersilahkan Bogor atau Jogja berbangga atas kita.
Masih di jalan pulang bersama hujan kecil kita, ada kamu, yang sedari tadi mengambil waktu sebanyak yang kamu bisa untuk memindai file-file kita berdua, ada aku yang kamu berikan ruang seluas yang kamu bisa untuk merasaimu, merasaiku yang bersamamu dua purnama ini. Dan sekali lagi untuk saat itu, saat kamu memilih untuk mendefinisikanku lebih panjang dari biasanya. Aku tak tahu sepandai apa kamu mengukur sesuatu, yang aku tahu aku harus tertegun tepat saat kamu mengukur kadar dewasaku yang katamu lebih besar dari kadarmu. Dan kamu mempelajariku karenanya. Lalu, kamu dengan pelan-pelan memastikan mataku menatapmu yang berterimakasih atas hal-hal yang kamu pelajari tadi. Aku menggeleng kecil, mengangguk kemudian, dan menggenggam tanganmu saat itu juga selagi masih bisa. Kamu tahu, aku juga demikian, aku juga dalam diam mempelajarimu, diam-diam. Tentang bagaimana berdamai dengan hati, tentang bagaimana mendapatkan katalisator semangat, tentang bagaimana semesta bisa berdamai dengan kita yang penuh semangat. Aku yang harusnya bertutur tentang terima kasih lebih banyak.
Kurang dari lima menit kebersamaan kita, setelahnya kita diharuskan berpisah. Begitu katamu, di jalan paling ujung dimana kita menikmati satu kepulangan.
Aku tak menjawab apapun, hanya mampu merengkuhmu, memelukmu lebih lama dari biasanya. Merekam segalanya. Merekam apapun yang bisa kurekam. Merekam kalimat-kalimatmu, merekam rasa yang membuncah, meluap, tumpah.
Kemudian, mengusap pipi kanan-kirimu, menyisipkan rindu di semua sisi. Membiarkan seluruh pemirsa di miniarta kita membatin dan berkomentar bahwa kita terlalu berlebihan atau apapun yang aku tak mau tahu.
Tenang-tenang, jangan panik.
Itu mantra favoritmu yang selalu kamu rapal saat kamu merasa aku membutuhkannya. Satu mantra yang setahuku kamu dapat dari dia-mu. Ah, aku akan sangat merindukan saat-saat itu, saat kamu memberiku ruang untuk meracaukan dia-ku lebih panjang, saat aku bahagia yang melihatmu yang bahagia mengisahkan dia-mu. Menikmati binar matamu yang mendongengkannya. Kemudian, kita akan buat istilah-istilah yang hanya kita berdua yang tahu untuk menyebut sesuatu atau seseorang. Saling bertukar pesan singkat cuma untuk menyampaikan bahwa aku atau kamu sedang meluap-luap senang, atau sebaliknya, tertatih mungkin.
Kamu menghitung mundur waktu, menerjemahkan hujan yang mengantarkan kita pulang ke bilik kita masing-masing dari satu tempat yang menguatkan kemudian mengeratkan kita itu, dan di tempat itu juga basuh terakhir senyum manismu terpasung di mataku, tadi. Tempat yang sering orang-orang sebut Botani itu. Kisah kita melayang di sana bersama rindu dan teman-temannya. Bersama angkot dan sisa nyanyian bersama kita di dalamnya, bersama miniarta Bogor-Kampung Rambutan yang kerap sesak itu. Dan bersama kita dalam formasi lengkap.
Lalu kau bergumam tentang metanotrof, membahasakannya untukku. Memberitahuku atas jenis-jenis keberuntungan yang Tuhan beri lewat bakteri ajaib itu, untukku. Aku menimpali penjelasanmu, metanotrof juga sangat berbaik hati, membuatkan waktu lebih lama untuk kita merasai Bogor bersama.
Aku pernah memetaforakan fajar yang berkejaran dengan senja, menjelaskan detail-detailnya kepadamu. Aku pernah membuat satu bifurkasi absurd antara kamu, dia-ku, dia-mu. Aku pernah menceritakan padamu mengenai beberapa hal yang sebelumnya belum pernah aku ceritakan ke orang lain. Aku pernah-bersamamu-tertawa-terisak-berdua.
Tiba juga kata pulang di depan ubun-ubun yang kadang tertimbun rambutmu yang tak pernah lurus itu, selanjutnya miniarta kita sudah kamu minta berhenti. Kamu melihatku sekali lagi, memastikan aku siap, menguatkan selagi kamu bisa. Episode berikutnya mengharuskan kamu turun panggung miniarta kita, membiarkanku masih terduduk melihatmu menembus hujan, kau mengangkat tanganmu untukku, mengisyaratkan bahwa kita sudah resmi menemui perpisahan saat itu juga. Kubalas dengan gerakan pelan tangan kananku, menitipkan banyak asa di udara. Pulanglah, dan bersiaplah untuk kepergianmu esok hari. Salam untuk hujan.
Kita punya cara versi kita sendiri untuk menjadikan waktu lebih berkualiatas, selagi kita mampu membuatnya sempurna, selagi masih bersama. Aku. Kamu. Akan merindukan itu semua.
Aku kini tahu tanpa harus kau jelaskan langsung, kenapa hujan mendadak jatuh sore ini.
Hujan itu jatuh
Untuk memberikan kita jeda lebih lama menikmati awal dari akhir babak ini, babak kita ini
Hujan itu jatuh satu-satu
Untuk kita
Untuk menginisiasi babak baru kita masing-masing
Hujan itu berkali-kali jatuh di depan kita
Mengisyaratkan bahwa musim sudah berganti
Hujan itu kemudian menderas
Memeluk mimpi-mimpi kita, yang pernah kita amini bersama, meski dengan cara berdoa yang berbeda. Aku dengan DIAku. Kamu dengan DIAmu. Aku jadi tahu, istimewa kita adalah di sana. Dan aku biarkan, Tuhan tahu ada kita di sini yang membicarakannya.
Salam untuk langit Singapura ya, Ce.
Aku menyapa rindu-rindumu di sini.
Baik-baik di sana.
Peluk. Erat.
Ce, setelah kamu pergi, Bogor hujan terus. Lebih dingin. Musim sepertinya sudah benar-benar berganti. Tapi senyummu masih ada di sini. Di dekat degup ini. :D
Memoar bersama Ce Senlie, setahun lalu.
Selesai penelitian skripsi di LIPI. Kemudian, aku yang harus kembali berjumpa Jogja dan Cece bersama Singapura-nya.
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-19 : Nae Chingu
Dear kalian,
Bagaimana Bogor menurut kalian? Seseru yang pernah aku narasikan, bukan?
Aku selalu percaya bahwa kita bisa belajar apapun kapan saja dan dimana saja, asal kita mau sedikit mengesensikan apa-apa yang sering kita sepelekan. Membentuk hal-hal tersebut sebagai cara kita mendewasa dan membaikkan yang sudah baik. Kalian adalah salah satunya.
Menjalani segala ritual yang kita atasnamakan kebersamaan, menjalani apapun yang bisa kita lakukan secara berjamaah, menjalani apa saja yang membuat kita mendewasa bersama.
Dear kalian,
Melebur bersama kalian yang membawa berbagai karakter yang kadang masih asing untuk aku cerna dalam damai adalah pembelajaran mahal untukku. Memengertikan aku tentang apa itu damai dalam perbedaan, damai dalam keberagaman, dan damai dalam rasa yang berwarna-warna di sini.
Selamat belajar aku, selamat membelajarkan dan menjadi pembelajaran... kalian.
Bogor, 13072013
Peluk,
Cium,
~
Yula
teruntuk kalian; Mba Pamela, Ike, Icha, Kiki, Anna, Hanif, Fera, Cici, Irma.
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-17 : Bogor Kita
Dear kalian,
Bagaimana kabarnya setelah setahun lalu kita pernah merasai Bogor bersama? Kalian sudah berada di posisi kalian masing-masing, berdiri dengan perjuangannya sendiri-sendiri.
Ingat sapaanku setahun lalu?
Ini:
Masih dalam atmosfer Bogor yang melarutkan rasa,
membuat kita meracau sering-sering
dan kupastikan esok kita akan merapal banyak kata rindu untuk Bogor, Bogor, dan Bogor..
Seluarbiasa ini, ranah ini membekaskan rasa yang terlebur menjadi satu dalam tiap harap
Tiap harapan atas perjuangan juga bertubi-tubi semangat
Yang kita rangkai bersama seribu tawa dan sedikit lara
Melingkupi kita, memeluk kita, bersama dengan asa
Esok akan kukatakan lebih sering daripada sekarang
Bahwa selanjutnya aku akan sangat merindukan Bogor
Merindukan kerinduan-kerinduan lain
Yang kini tersimpul rapi, berbunga-bunga
Lebih dari sekedar indah
Dalam atmosfer yang masih membogor
Aku bercerita
Ada aku yang mengisahkan dia
Ada temanku yang meracaukan dianya
Ada kita yang meng-indahkan Bogor dengan tawa di sela cerita
Di sini
Kita penuh semangat menikmati langkah dalam cita
Menebar tawa yang membentukkan keluarga
Membentukkan sebuah kemesraan megah
Antara
Kita
Dan
Bogor
~
Mungkin besok kita akan bertemu kembali, bersama-sama menuai rindu dan memindai kenangan, di Bogor mungkin?
Bogor, 11072013
Peluk,
rindu,
~
Yula