Lari Pagi: Ikhtiar Membikin Tubuh Segar Bugar
Saya sebenarnya mulai lari itu kemarin sore. Sekitar pukul setengah 5-an. Saya menargetkan bisa sampai pasar Cineam yang diprediksi jaraknya 5 km. Ternyata dugaan itu meleset.
Kemarin jaraknya cuma 3 KM-an. Dan salahnya saya, kemarin itu malah nekan tombol finish. Padahal untuk mencapai 5 KM bisa dengan me-resume sambil melanjutkannya lagi kemudian. Jadilah pagi tadi saya lari kembali. Enggak apa-apa lah. Toh, enggak rugi sama sekali.
Lari kemarin sore dan tadi agaknya lebih layak disebut jalan santai tinimbang lumpat. Jeda untuk mengambil dokumentasi baik dalam bentuk foto maupun video juga memperlambat durasi. Buktinya untuk mencapai jarak 6 km saya membutuhkan waktu 2 jam 10 menit. Lambat sekali kayak siput.
Kalau boleh jujur, saya jarang olahraga lari selama ini. Lari dari masalah, mungkin saya juaranya. Lelahnya sama sih. Meskipun aspek yang paling lelah lebih di bagian pikiran. He. Saya lebih banyak tidur dan rebahan ketimbang berolahraga selama (pandemi) ini.
Astagfirullah. Padahal, pas saya mencoba lari—tentu motivasi awalnya karena tugas virtual run challenge—enggak buruk juga. Saya mendapatkan banyak manfaat. Dari mulai tubuh yang lumayan bugar, meskipun karena jarang dilakukan, kaki saya pegal-pegal. Mungkin harus dirutinkan. Bismillah, semoga saya istiqamah.
Manfaat lain, saya bisa mengamati tempat dan kejadian di sepanjang track lari pulang-pergi dari rumah hingga ke rumah lagi. Karena tadi saya lari lumayan pagi, saya masih mendapati cantiknya matahari yang mulai naik. Indah. Ditambah sinar kuningnya memancar ke sekitar. Sawah misalnya.
Saya tak akan mungkin melewatkan keindahan itu dengan tidak mendokumentasikannya. Jadinya, stok foto dan video yang indah-indah pun lumayan banyak. Bisa saya tengok lagi kapan-kapan kalau lagi ingin.
Mengapa akhir-akhir ini saya kurang produktif menulis puisi, mungkin salah satunya karena lebih banyak berleha-leha di dalam kamar. Inspirasi nihil. Dengan berlari dan berjalan menyusuri jalan, saya mendapati beberapa momen puitik yang sangat berarti sebagai bahan bakar puisi.
Saya juga jadi tahu ada banyak sekali persoalan di sepanjang perjalanan. Karena persoalan ini terlalu lama dibiarkan, warga jadi mewajarinya. Pertama, mulai dari jalan yang rusak dan ini tentu sangat mengganggu kelancaran perekonomian warga. Warga yang ingin ke pasar untuk membeli kebutuhan dan menjual sesuatu harus memutar ke jalan lain. Di mana, ini tentu berakibat terhadap waktu tempuh dan bahan bakar yang diperlukan.
Persoalan jalan rusak—kurang lebih 2 km—ini pun berimplikasi terhadap lesunya perekonomian warga di sekitaran jalan tersebut. Warung-warung jadi sepi pembeli karena lalu lintas kendaraan yang lewat ke jalan itu tidak sebanyak dulu saat jalan masih bisa dibilang bagus. Sepenting itu akses jalan yang layak untuk dilalui. Tapi, sejak bertahun-tahun dulu, jalan itu belum diperbaiki. Entah apa alasannya. Ah.
Kedua, persoalan klasik yang terjadi sejak dulu akibat kurangnya kesadaran warga, tidak adanya tempat pembuangan sampah yang layak, serta tingginya konsumsi terhadap barang yang menggunakan plastik membuat produksi sampah jadi kian melimpah.
Saya menemukan sampah maupun sisa-sisa pembakarannya di kanan kiri jalan di beberapa titik. Miris, tapi untuk persoalan ini memang butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Dari mulai edukasi mengenai dampak buruk dari tak terkendalinya produksi sampah, terutama plastik, penyediaan TPS yang layak, pengawasan dari pihak-pihak terkait serta harus adanya teladan yang konkret dari pemimpinnya.
Yang ketiga, terkait dengan kesehatan dan menyangkut keselamatan orang banyak, saya temukan kurang sadarnya warga dalam menerapkan protokol kesehatan (tidak menggunakan masker, tetap berkerumun, dan tidak mudah ditemukan tempat cuci tangan plus sabunnya. Padahal ini cara yang jitu hari-hari ini untuk menekan angka penularan virus corona.
Masih berkaitan dengan kesehatan, permasalahan yang saya dapati adalah kurangnya gairah warga untuk berolahraga. Di akhir pekan ini, sepanjang jalan, saya hanya mendapati anak-anak yang bergerombol lari pagi Melihat mereka antusias, saya jadi ingat seusia mereka dulu, saya dan kawan-kawan pun sangat suka lari di hari Minggu. Tak lupa minta uang ke orang tua, karena di jalan kami akan jajan. He.
Jarang-jarang saya temukan orang dewasa. Ya, meski 1-2. Entahlah, apakah minat berolahraga yang kurang, atau karena tuntutan mencari nafkah, sehingga saat libur pun tetap harus bekerja demi keluarga. Tapi, masa iya kerja terus, terutama warga dari kalangan berada mah.
Demikian cerita saya mengenai lari pagi yang cukup jauh setelah sekian lama tidak melakukannya. Semoga dicatat sebagai amal baik oleh Allah Swt. karena telah berikhtiar untuk membuat amanah berupa tubuh ini agar sehat dan terawat.
Cikondang, 6 Juni 2021, 21.04 WIB