Iqbaal Ramadhan as Piko the Forger
Angga Yunanda as Ucup the Hacker
Rachel Amanda as Fella the Negotiator
Umay Shahab as Gofar the Handyman
Aghniny Haque as Sarah the Brute
Ari Irham as Tuktuk the Driver
Directed by Angga Dwimas Sasongko
Photographed by Jozz Felix
"waktu kecil kan ada semiliar hal yang kita enggak tahu. kenapa pesawat bisa terbang padahal berat. kenapa hujan turun. tapi makin dewasa, kayanya pertanyaan-pertanyaan itu mulai kehilangan haknya. terus berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan yang ribet."
"misalnya apa?"
"misalnya kayak kenapa aku ada di sini sama kamu."
dialog di trailer heartbreak motel
"어렸을 때 우리가 모르는 것들이 수십억까지 있잖아. 왜 비행기는 무거운데도 날아갈 수 있을지. 왜 비는 내릴지. 그런데 나이가 들수록 그 질문들이 점점 권리를 잃었던 것 같아. 그리고 복잡한 질문들로 바뀌기도 하고."
"예를 들면?"
"예를 들면…. 왜 내가 너랑 여기 있을지."
Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini ; Karena kesedihan tak perlu dipendam
Source :https://media.skyegrid.id/film-nanti-kita-cerita-tentang-hari-ini/
Film yang telah ditunggu -tunggu awal tahun 2020 ini sukses mengaduk emosi sejak 5 menit pertama. Bercerita tentang keluarga yang berisikan ayah, ibu dan tiga orang anak sungguh sangat “relate” dengan kehidupan sehari -hari, khususnya saya pribadi sebagai anak pertama. Ulasan ini akan mengandung unsur SPOILER, sehingga bagi temen-temen yang belum nonton, harap nonton dulu yak sebelum lanjut ke bawah-bawah.
Rachel Amanda yang berperan sebagai Awan merupakan salah satu alasan saya menonton film ini, Manda yang sempat vakum beberapa tahun setelah dulu aktif bermain di sinetron dan film akhirnya muncul lagi di sebuah film yang epic, hangat dan sangat emosional ini. Jujur, saya bingung harus memulai dari mana ulasan ini, bahkan di trailernya pun, Visinema selaku rumah produksi tidak memberikan “clue” akan bercerita tentang apa film ini. Hal ini dikarenakan ceritanya bukan sekedar menyelamatkan bumi dari serangan makhluk asing, atau misal horor yang punya premis cerita orang pergi ke suatu tempat dan diganggu makhluk dari dunia lain. Film ini mencoba memotret permasalahan keluarga yang mungkin banyak dialami oleh keluarga-keluarga di Indonesia tapi tidak pernah dibicarakan.
Peran dan masalah anak
Ada 3 karakter utama anak dan 4 karakter pendukung yang menjadi support system anak tersebut selain keluarga. Anak pertama bernama Angkasa yang diperankan oleh Rio Dewanto, anak kedua Aurora yang diperankan Sheila Dara. dan anak ketiga atau si bungsu Awan yang diperankan oleh Rachel Amanda. Diantara mereka ada Lika sebagai pacar Angkasa yang diperankan Agla Artalidia dan juga ada Sivia dan Umay yang menjadi teman Awan. Serta, Kale yang menjadi love interest dari Awan yang diperankan oleh penyanyi Arditho Pramono.
Awan sebagai anak terakhir memiliki privilege lebih dari kakak -kakaknya (setidaknya itu yang coba kita lihat dari kacamata penonton), meskipun bagi Awan itu justru dianggap sebagai hal yang mengganggu bagi dirinya. Terlahir sebagai anak bungsu dan pernah mengalami kecelakaan saat kecil membuat Awan sangat dijaga oleh ayahnya. Dalam satu scene dengan Kale, Awan bercerita bahwa selama ia hidup tidak pernah tau rasanya memilih, karena semuanya sudah disediakan oleh keluarganya. Bahkan saat Awan merasa kesusahan dengan tugas sekolahnya, ia akan dibantu oleh semua anggota keluarganya. Dari pilihan sekolah hingga kantor dimana Awan sekarang bekerja semua tidak terlepas dari peran Ayahnya yang mencoba memberikan hal “terbaik” untuk anaknya.
Dari perlakuan yang spesial tersebut, jika dilihat dari perspektif Awan, justru menghalangi dia untuk berkembang dan mengambil keputusan dari dirinya sendiri. Ia justru merasa dikekang dengan banyak keputusan-keputusan yang diambil sepihak oleh keluarga khususnya sang ayah. Ketakutan hingga keistimewaan-keistimewaan itulah yang akhirnya menuntun Awan menjadi anak yang ingin keluar dari zona nyaman dengan tidak ingin diantar jemput oleh kakaknya, ingin pulang lebih malam, ingin bergaul dengan siapapun serta ingin mencoba hal-hal baru yang selama ini hanya ada di bayangannya. Pertemuannya dengan Kale seolah menjadi oase di tengah pencarian Awan. Awan berani melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak ia pernah lakukan bahkan bayangkan seperti makan di pinggir jalan, mencoba makan makanan kaki lima hingga dibonceng naik motor. Bahkan sekedar menyebrang jalan pun Awan sangat takut karena punya trauma saat kecil pernah tertabrak motor yang dipotret di menit ke 5 film.
Anak kedua atau anak tengah bernama Aurora. Sosok ini sebenarnya sosok paling ceria di keluarga sebelum akhirnya Awan lahir dan seolah-olah merebut semua perhatian orang tuanya. Aurora sebagai anak tengah merupakan anak yang sangat berbakat di bidang seni maupun olahraga. Sejak kecil ia telah mengikuti kejuaraan renang hingga punya pameran seni sendiri. Aurora punya keinginan yang sangat kuat untuk pergi dari rumah, ia mati-matian mendaftar beasiswa ke Royal College of Art di Inggris, Iya Inggris, hanya untuk kabur dari keluarga ini. Aurora sejak kecil merasa diabaikan oleh ayahnya yang seolah hanya fokus pada Awan si bungsu.
Hal-hal kecil yang terlihat di film contohnya adalah saat ia berhasil mencatat watu tercepat saat latihan renang. Ia bercerita dan berekspetasi akan mendapat pujian oleh sang ayah tentang pencapaiannya. Reaksi yang muncul dari ayahnya bukanlah memberikan selamat, namun justru menyarankan Aurora untuk mengajari adiknya agar punya catatan yang sama dengan dirinya. Disana Aurora merasa “Oh Awan lagi ya”, meskipun akhirnya atensi itu didapatkan dari ibunya yang memberikan selamat kepada Aurora dengan membisikkan ke Aurora saat makan. Hal -hal yang terjadi pada masa kecil juga terjadi saat pameran tunggalnya. Awan dan ayah bertengkar hebat sampai mengganggu pameran tunggal Aurora. Ya.. perasaan diabaikan atau secara teori disebut Sibling Rivalry mungkin paling menggambarkan Aurora si anak tengah.
Kakak pertama atau si sulung bernama Angkasa dalam film ini digambarkan sebagai sosok yang mandiri, dibebani oleh orang tua sebagai kakak yang harus bertanggung jawab akan adik -adiknya. Sejak kecil, keinginan Angkasa bahkan tidak pernah menjadi prioritas. Sebagai anak yang masih kecil, Angkasa sudah harus dibebani tanggung jawab yang besar, terutama saat Awan lahir dan menyembunyikan rahasia besar keluarga yang coba disembunyikan oleh Ayah dan Ibunya. Rahasia yang terkuak setelah 21 tahun dipendam dan membuat kesedihan tidak memiliki ruang di keluarga ini.
Sejak lahirnya Awan, Angkasa sudah diberi banyak tugas oleh Ayahnya tentang Apakah itu tugas kakak, juga narasi -narasi seperti “Jika adik -adik sedang ada masalah, siapa yang meluk, siapa yang ngasih semangat”, Ya, beban anak pertama untuk menjadi anak dan “perwakilan” dari orang tua itu sendiri. Di film ini, konflik yang dibawa oleh Angkasa bukan tentang keluhan, atau permasalahan pribadi Angkasa. Tapi, kita diajak merasakan bagaimana menjadi Angkasa si anak pertama. Dimulai dari kemandirian Angkasa dan “ketergantungan” Ayahnya tentang tanggung jawab anak pertama yang akhirnya mengabaikan masalah pribadi seperti pernikahannya dengan pacarnya Lika, masalah kantor dan pekerjaan. Beban untuk bertanggung jawab kepada adik-adiknyalah justru dipotret dan mencoba merangkul emosi penonton untuk merasakan.
Perasaan Sedih yang Dipendam.
Dalam film NKCTHI, sang ayah memiliki visi bahwa tidak boleh ada kesedihan di keluarga ini. Namun, seperti emosi lainnya, kesedihan tidak seharusnya dipendam dan dihindari. Ia juga harus hidup di diri kita, bukan malah diusir dan dipendam dari diri kita. Luka kehilangan anak ke empat atau saudara kembar Awan saat melahirkan memaksa sang ibu diam dan terus menyalahkan dirinya dan keadaan. Permasalahannya mungkin terdengar remeh, dan beberapa orang mungkin akan mengatakan “Halah, gitu doang”. Dari perspektif seorang ibu, keguguran atau kehilangan buah hati saat melahirkan merupakan hal yang tidak bisa dianggap sebagai permasalahan sepele. Perasaan sedih yang harusnya dirasakan saat kehilangan seorang anak harus dipaksa dipendam oleh sang ayah dengan tujuan agar tidak ada kesedihan-kesedihan lain yang malah menjadi bom waktu bagi keluarga itu.
Kesedihan yang awalnya dipendam, akhirnya muncul saat sang ayah awalnya ingin mengumpulkan anak -anaknya untuk diajak bicara. Dari sana sang ayah sebenarnya ingin berbicara kepada anak-anaknya, terutama kepada Awan yang semakin hari semakin tidak seperti apa yang diharapkan oleh ayahnya. Sang ayah mulai mengaitkan dengan pergaulan Awan dengan Kale, mulai menghubung-hubungkan perubahan sikapnya yang tidak menghargai orang tuanya. Awalnya Awan yang melawan, ditambah dengan meluapnya emosi Aurora yang mengungkapkan bahwa kalian (orang tua) sudah kehilangan Aurora sejak lama, sejak semua keinginan, prestasi Aurora hanya dianggap sebagai opsi kedua, bukan prioritas.
Meledaknya Aurora, membuat Awan merasa bersalah hingga Angkasa yang dari awal hanya diam mulai berbicara bahwa ini adalah kesalahan Ayahnya. Kesalahan ayahnya yang menyembunyikan rasa sakit dan ingin semua baik-baik saja. Ibunya yang selama ini diam karena tidak ingin mengungkap apa yang sebenarnya dipaksa Angkasa untuk berbicara. Akhirnya saat ketegangan tersebut, Angkasa meluapkan emosinya dengan mengatakan “Bagaimana tau rasanya bahagia, kalau sedih aja ga tau kayak gimana rasanya”. Begitulah ungkapan Angkasa kepada ayahnya yang akhirnya menjadi puncak emosi film ini. Awan dan Aurora hanya bisa terperangah dan akhirnya kembali ke kamar masing-masing.
Proses ini akhirnya menyadarkan sang ayah untuk lebih bijak dalam bersikap terutama dalam menghadapi anak utamanya dalam hal parenting. Sang Ibu dan Ayah beserta ketiga anaknya akhirnya sepakat untuk selalu merasakan setiap emosi yang hadir, bersedihlah secukupnya seperti OST dari film ini dari band Hindia. Emosi negatif, layaknya emosi positif bukanlah hal yang patut untuk disembunyikan atau dipendam. Emosi tersebut harusnya dirasakan, dihadapi hingga akhirnya kita bisa menemukan kedamaian dalam diri.
Perspektif Orang Tua
Tidak adil rasanya jika kita hanya melihat perspektif anak-anak tanpa melihat perspektif orang tua sebagai figur penting di keluarga ini. Sang ayah sesungguhnya sangat menyayangi ketiga anaknya. Perlakuannya terhadap ketiga anaknya mungkin jika dilihat akan sangat memberikan atensi yang berlebihan kepada Awan, mengabaikan Aurora dan membebani Angkasa. Namun cara tersebut dengan niat demi kebaikan, ayah dalam film ini dilihat sebagai seseorang yang sangat melindungi keluarga. Mulai dari membatalkan pergi makan ke restaurant karena melihat kucing meninggal, ia percaya bahwa itu merupakan firasat buruk yang menyebabkan lebih kembali dan makan malam di rumah. Selanjutnya saat Aurora nyaris tenggelam, sang ayah tanpa basa-basi langsung turun ke bawah dan mengecek kondisi Aurora. Atau melihat Angkasa kecil dan sang ayah yang bersama -sama membuat keranjang bayi bersama atau pesan-pesan yang diberikan kepada Angkasa tentang tanggung jawab.
Kondisi yang terlalu sayang pada akhirnya membawa dampak pada takut kehilangan atau bahkan takut untuk merasakan kesedihan. Perlakuan-perlakuan seperti antar jemput anak dari pada memberikan ia kebebasan, perlakuan menggunakan orang dalam perusahaan untuk memberi akses kepada anaknya daripada membiarkan dia menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya. Niat dan tujuan yang baik pada akhirnya akan berakhir dengan buruk jika cara yang digunakan tidak baik, anak justru cenderung menangkap hal lain seperti contohnya Awan yang menganggap Ayahnya berlebihan dan over protective, Aurora yang merasa diabaikan atau Angkasa yang merasa dirinya harus memikul tanggung jawab kepada adik-adiknya hanya karena dia anak pertama.
Perasaan tersebut ditunjukkan oleh ayah dengan cara memfasilitasi rasa aman semu kepada anak-anaknya. Anak-anak tidak pernah diberikan pilihan, atau diajak bicara, semua tercukupi dan semua nyaris tidak pernah diizinkan untuk bersedih. Sang ayah yang dari awal memberi pagar besi untuk kesedihan masuk ke dalam rumah ini akhirnya menumpuk rasa sedih itu yang pada akhirnya meledak layaknya bom waktu.
Filosofi Teras
Sebelum film ini tayang di bioskop, saya merupakan penggemar buku dari Henry Manampiring yang berjudul Filosofi Teras (meskipun belum selesai membacanya). Dalam buku ini dijelaskan bagaimana Filosofi Stoa yang sudah eksis lebih dari 2000 tahun masih relevan dalam menjawab permasalahan hidup saat ini. Fokus di buku ini yakni bagaimana seseorang mampu mengendalikan emosi negatif yang selama ini justru dikatakan sebagai emosi yang tak boleh ditampakkan. Teringat film inside out yang membagi 5 emosi di setiap manusia yakni : Joy, Sad, Anger, Disgust dan Fear sebagai emosi dasar manusia.
Di awal film, Joy coba diglorifikasi seolah menjadi emosi yang paling bagus diantara ke 5 emosi yang lain dan menjadi emosi paling dominan diantara yang lain. Sedangkan Sad adalah emosi yang paling jarang menampakkan diri. Bahkan, Joy mengurung Sad dan tidak mengizinkan Sad keluar dari lingkaran yang dibuat oleh Joy. Ya sama dengan Film tersebut, sangat mirip dengan film NKCTHI, yakni perasaan sedih yang coba untuk dipendam bukan untuk dihadapi dan dirasakan.
Dalam buku Filosofi Teras, kesedihan yang merupakan emosi negatif harus tetap dihadapi, dirasakan, dan ada dalam diri kita. Bukan dengan melarikan diri atau bahkan membiarkan dia dipendam. Dalam film Inside Out, Sadness di awal film dihalangi untuk dimunculkan, hingga akhirnya sang tokoh manusia mengalami berbagai penolakan di lingkungannya, hingga sang tokoh manusia tidak bisa menghadapi dan menangani permasalahan yang dihadapi. Pilihannya pergi dari rumah, pengendalian emosi sang tokoh belum matang. Sadness diilustrasikan pergi bersama Joy ke gudang penyimpanan memori hingga tersungkur ke jurang memori-memori yang harus dibuang. Disana Joy akhirnya menyadari bahwa apa yang dilakukannya salah, sadness harus tetap hidup dan emosi ini justru dapat bertransformasi menjadi bijak, pandai mengelola emosi, seperti ilustrasi emosi yang dimiliki seorang Ibu sebagai seorang yang bijak dan pandai mengelola emosi.
Kembali pada prinsip filosofi teras, selayaknya rasa senang, semangat dan banyak emosi positif lainnya. Emosi negatif harus tetap ada dalam diri manusia, bukan untuk dihindari atau bahkan dipendam. Hal tersebut justru menjadikan tubuh kita rentan terhadap depresi karena tidak terbiasa menghadapi emosi negatif. Seperti kata Angkasa di salah satu adegan favorit saya “Bagaimana tau rasanya bahagia, jika sedih aja tidak tahu bagaimana rasanya”. Merasakan emosi negatif, pada akhirnya mengundang kebahagiaan dengan filosofi stoic sebagai obatnya yakni pengendalian emosi kita yang luar biasa.
Dalam buku Filosofi Teras meskipun tidak terlalu dibahas di film NKCTHI menggunakan prinsip “dikotomi kendali”, dimana filsafat stoisisme membuat kita sadar bahwa ada hal yang berada dalam kendali kita dan ada juga beberapa hal yang diluar kendali kita, dan kita hanya akan bahagia jika kita hanya peduli dengan sesuatu yang kit kontrol. Termasuk saat penolakan Kale terhadap Awan, seperti di bukunya NKCTHI “Kita sama -sama tahu, saat ekspektasi ditaruh di raga lain, kecewa sering jadi teman” .
Mengapa ini sangat “Relate”
Film ini berhasil mengaduk perasaan penonton yang telah menyaksikan film ini. Mungkin film ini tidak memotret kemiskinan atau kesenjangan atau isu-isu sosial lainnya. Namun, yang dipotret oleh film ini adalah bagaimana kisah ini dekat dengan keluarga-keluarga di Indonesia dan jarang dibicarakan. Kisah bagaimana seharusnya emosi dikelola hingga poses healing yang dekat namun jarang diungkap. Kisah anak pertama yang harus menjadi pemimpin untuk adik -adiknya, harus lebih bijaksana, sosok pahlawan untuk adik dan perwakilan orang tua untuk adiknya. Atau anak tengah yang merasa diabaikan karena lahirnya anak terakhir. Anak terakhir yang bagi sebagian keluarga merupakan anak kesayangan karena dianggap paling kecil, minim pengalaman sehingga perlu diprioritaskan dan harus diberikan banyak fasilitas lebih dibanding kedua kakaknya yang justru merasa sangat dikekang hidupnya.
Saya pribadi selaku anak pertama merasa sangat “relate” dengan Angkasa sebagai anak pertama, film ini seolah menyuarakan “Finally, someone speaks up!”. Tugas -tugasnya, kontradiksi yang ada hingga bagaimana seorang kakak yang juga punya masalah sendiri dalam hidupnya harus perlu bertanggung jawab atas keutuhan keluarga. Film ini sangat cocok untuk orang tua baru, anak -anak remaja. Pesan -pesan yang sangat menyentuh dan sangat bisa diterapkan di kehidupan sehari -hari. Worth to watch dan sangat bangga bisa menonton film ini di usia dewasa awal saya.
Semua langkah besar dimulai dari langkah kecil. Walt Disney bersama Ub Iwerks menempati studio pertama mereka dalam sebuah gudang tua. Sementara Steve Jobs dan Steve Wozniak menjadikan garasi sebagai kantor pertama Apple Computer.
Berbekal inovasi dan kerja keras mewujudkan mimpi, Disney dan Apple kini berhasil menjadi pengisi daftar “The World's Most Valuable Brands”.Nyaris tak ada golongan kelas menengah penyuka hiburan dan teknologi yang tidak mengetahui kedigdayaan dua perusahaan tersebut.
Langkah kecil serupa juga dilakukan Angga Dwimas Sasongko, saat mendirikan Visinema Pictures pada 2008. Sebuah garasi di Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (Jaksel), milik seorang kawannya ia sewa dan jadikan kantor.Dengan bantuan seorang pegawai, inventaris kala itu hanya dua buah meja dari kayu jati, beberapa kursi, dan seperangkat komputer. Tak lebih.
“Meja kayu ini pemberian bokap (ayah, red). Setelah pindah kantor, papannya gue jadikan bagian pintu supaya orang-orang yang masuk kantor ini tahu bahwa di sinilah Visinema bermula,” terang Angga kepada saya saat menemuinya di kantor pusat Visinema Group di mintakat Cilandak Timur, Jaksel (25/6/2019).
Usai menjelaskan sejarah singkat berdirinya Visinema, kami mengelilingi kantor yang berdiri di atas lahan seluas 2000 meter persegi itu. Total pegawainya sekarang telah mencapai sekitar 120 orang.
Berbeda dengan kantor perusahaan film lain yang biasa saya datangi, dinding di kantor Visinema lebih banyak memajang lukisan alih-alih poster film yang telah mereka produksi. Serasa berada di dalam galeri lukisan.
Menurut Angga, hal itu dimaksudkan untuk menciptakan atmosfer bahwa mereka semua bekerja di perusahaan kreatif.
Salah satu lukisan favoritnya sengaja diletakkan di dinding sebelah kanan setelah pintu masuk ruang kerja Visinema.
Lukisan tersebut karya Dedy Supriadi asal Yogyakarta. Pelukis ini kerap memaknai ruang tak lain adalah garis dalam wujud teks.“Lukisan ini menggambarkan gue sebagai seniman,” katanya.
Dalam kanvas yang berisi sapuan warna putih gading itu ada kutipan terkenal dari Rebekah Joy Plett.
Angga membacakannya dengan mengganti kata “artist” dan “object” dengan “filmmaker” dan “entertainment”. Lalu dengan pelan ia membacakannya:
“When you buy something from an filmmaker, you are buying more than an entertainment. You're buying hundreds of hours of errors and experimentation. You're buying years of frustation and moment of pure joy. You're not buying just one thing. You're buying a piece of a heart, a piece of a soul, a small piece of someone else's life.”
“Kalimat itu menjadi moto dalam perusahaan kami. Namanya membangun perusahaan atau organisasi, lo pasti akan selalu bereksperimen dan mengalami eror. Pertanyaannya sekarang, apakah kita mau menggunakannya untuk bertumbuh atau mau main aman?,” ujarnya.
Menjadi rumah tumbuh kembang bersama
Visinema adalah tempat bagi bakat-bakat muda yang ingin sama-sama tumbuh mencari celah baru, pangsa pasar baru, dan kemungkinan-kemungkinan dalam penceritaan yang baru.
“Kadang ada yang berhasil, ada juga yang enggak. Oleh karena itu, gue memberikan ruang untuk kesalahan dan eksperimentasi. Asal selalu ada progres,” katanya.
Ia mencontohkan progres yang terjadi dalam pembuatan film Filosofi Kopi (2015) dan sekuelnya yang meluncur dua tahun berselang.
Pola racikan dua film tersebut sangat berbeda. Dalam Filkop, untuk pertama kalinya mereka mengenalkan yang namanya “user generated movie”.
Khalayak diperkenankan menyumbang ide visual dan elemen-elemen artistik film. Tujuannya agar gambar dalam versi film bisa mewakili imajinasi pembaca cerpennya.
Saat hendak memproduksi sekuelnya, Filosofi Kopi: Ben & Jody, giliran khalayak diperkenankan menentukan cerita dan menciptakan karakter pendamping baru lewat kompetisi #NgeracikCerita. Hingga kemudian hadirlah tokoh Tarra (diperankan Luna Maya) dan Brie (Nadine Alexandra).
Pengalaman dari dua kali melibatkan partisipasi khalayak tadi semakin membuka mata Angga. Sesungguhnya ada banyak talenta baru nan berbakat di luar sana yang menantikan datangnya kesempatan.
Untuk ia berkomitmen menjadikan Visinema sebagai rumah bagi para bakat baru untuk tumbuh dan berkembang bersama dalam berkarya.
“Jadi bukan cuma tempat untuk gue doang. Jadi lo gak bakal menemukan credit title bertuliskan ‘An Angga Sasongko production’ dalam film-filmnya Visinema,” sambung Angga.
Sudah ada beberapa nama yang berkesempatan menjalani debut di industri film melalui Visinema. Sebutlah misalnya Chicco Jerikho yang mengawali petualangannya sebagai aktor film lewat Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) garapan Angga.
Lalu dari kursi sutradara, Visinema tak segan mempercayakan kendali penyutradaraan film dengan jenama sepopuler Keluarga Cemara kepada Yandy Laurens, sosok yang sebelumnya lebih sering membuat film pendek.
Sabrina Rochelle Kalangie, sutradara miniseri Filosofi Kopi The Series: Ben & Jody , mendapatkan tongkat komando dalam film Terlalu Tampan.
Dalam beberapa proyek film yang sudah diumumkan Visinema hingga 2020, beberapa sutradara debutan masih akan hadir, yaitu Ruben Adrian dan Irfan Ramly.
Ruben yang sebelumnya menyutradarai beberapa iklan dan web series, termasuk sebagian episode Filosofi Kopi the Series yang saat ini tayang di Go-Play, akan menyutradarai film Kostan Mas Jay.
Sementara Irfan, selama ini lebih banyak menulis skenario, akan mengepalai produksi film Melankolia, yang sebelumnya sempat akan diberi judul Sephia (seperti dalam gambar di atas).
“Itu film drama romantis,” jawab Ipang, sapaan Irfan, kepada saya saat menghubunginya.
Posisi sebagai produser juga diamanatkan kepada nama-nama yang sebelumnya tak banyak orang tahu. Ada Nurita Anandia, Cristian Imanuell, dan Kori Adyaning.
“Buat gue yang paling menarik hari ini adalah melihat bakat-bakat baru itu naik ke atas panggung mempresentasikan filmnya dan gue ada di belakang,” kata Angga.
Suatu ketika, sineas Andibachtiar Yusuf (45) pernah mengutarakan kepada saya seperti apa rasanya bekerja sama dengan Visinema.
Ucup, panggilan akrabnya, telah menyutradarai film Love for Sale (2018) dan Bridezilla yang tayang mulai 1 Agustus 2019 di bawah panji Visinema.
Kini ia sedang melakukan proses syuting Love for Sale 2 yang dijadwalkan meluncur akhir 2019.
“Setiap kali kami berdebat, tidak pernah ada teori yang patah karena alasan laku dan enggak laku. Bukan itu pertimbangan yang dipakai di sini. Buat gue itu sebuah kemewahan yang terkadang enggak gue dapatkan di tempat lain,” ungkap Ucup.
Transformasi perusahaan
Prestasi Cahaya dari Timur: Beta Maluku sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2014, lalu menyusul keberhasilan melebarkan potensi bisnis Filosofi Kopi tidak hanya sebatas film, membuat Angga berani memancang target.
Ia ingin menjadikan Visinema Pictures lebih besar lagi. Sebagai payung besar yang menaungi banyak lini bisnis, tidak terbatas hanya soal film bioskop semata.
“Selain itu, dalam membuat film kami tidak melulu melihat skala bisnisnya hanya dari jumlah penonton. Lebih holistik,” jelasnya.
Pria yang mengawali karier filmmaker-nya sebagai asisten sutradara tiga dalam film Catatan Akhir Sekolah (2004) itu melanjutkan, tidak ada organisasi kreatif seperti Visinema yang bisa mengembangkan sebuah cerita pendek menjadi jenama yang punya kedai dan lini bisnis dengan skala seperti Filkop sekarang.
Sumber pendanaan untuk mewujudkan bayangan tentang Visinema yang lebih besar berasal dari dua momen pemodalan.
Pertama seturut masuknya dukungan dari Ancora Capital melalui Gita Wirjawan sebagai angel investor saat memproduksi Cahaya dari Timur.
Momen kedua terjadi tahun lalu seturut masuknya Global Digital Prima (GDP) Venture.
Dijelaskan Angga bahwa posisi Ancora dan GDP di Visinema sebagai equity partner alias mitra yang punya kepemilikan perusahaan.*
Pun demikian para pendiri Visinema tetap memegang proporsi saham mayoritas.
Kini Visinema Pictures telah bertransformasi menjadi Visinema Group. Di dalamnya selain ada Visinema Pictures dan ritel Filkop, juga menaungi Visinema Content, Visinema Campus, Visinema Music, Visinema Think, Visinema Animation, Sinedu, dan Skriptura.
Berbekal sumber daya manusia mumpuni dan keragaman cerita yang menjadi investasi terbesar dalam menjalankan lini bisnis, Visinema Group mulai tahun ini giat meningkatkan kapasitas produksi.
Khusus dari sektor film, Jika sebelumnya mereka paling banter memproduksi dua film dalam setahun, maka angka itu melonjak hingga tiga kali lipat.
Filkop juga telah membuka satu kedai baru di Semarang. Menyusul kehadirannya di Jakarta dan Yogyakarta. Tahun ini mereka berencana membuka cabang baru lagi di Makassar.
Dari ranah musik, persembahan terbaru label Visinema Music adalah album mini berisi lima lagu dari kelompok Arah.
Nama kelompok yang beranggotakan Roy Sungkono (vokalis), Tanta Ginting (gitaris), Gilbert Pohan (bassis), dan Azizah Hanum (drummer) juga menjadi judul sebuah serial web berisi lima episode yang jadi ranah penggarapannya Visinema Content.
Sementara satu lini bisnis lain yang akan segera mereka kembangkan potensinya adalah Visinema Animation.
"Produksi pertamanya nanti kami bekerja sama dengan studio animasi The Little Giantz mengadaptasi serial Nussa," pungkas Angga yang ternyata penggemar berat film animasi.