Day 15 : If You Could Run Away, Where Would You Go?
Memasuki usia seperempat abad, membuatku kadang masih jetlag.
Kok jetlag?
Yap, antara masih agak kaget sama tugas dan tanggung jawab yang tetiba seabrek-abrek kupikul dipundak. Ga tetiba sih, udah merasakannya di umur 20 an. Tapi masih suka bingung, ke mana kaki seharusnya melangkah ketika tiada tempat yang bisa kita sebut rumah?
Harus ke mana kah aku untuk pulang?
Selain kepada Tuhan yaaa, maksudku, insan mana yang bisa ku jadikan tempat untuk kabur dan meluapkan semuanya.
Seiring bertambahnya umur, mulai menyadari seleksi alam itu sungguh ada. Pertemanan mulai menipis dan semakin terlihat yang selalu hadir dalam ups and downs, atau yang hanya singgah mampir minum kopi aja.
Pun asmara, lamanya waktu hubungan tidak menjamin apa-apa. Masih menjadi misteri, dan aku pun bingung, alam semesta akan membawa ku ke mana dan dengan siapa. Perlu berapa waktu lagi aku bertemu orang-orang yang hanya bertemu untuk memberi pelajaran dalam hidup.
Karena pernah sempat memiliki tempat untuk pulang, tapi untuk apa..
jika hanya untuk sementara.
Bukankah menyakitkan, jika kamu menjalani suatu hal yang sebenernya kamu tau bahwa itu tidak berakhir indah? Indah dalam arti, ia akan hilang. Ia tidak akan selamanya ada untuk kamu.
Pada akhirnya, tidak ada tempat untuk pulang selain Sang Pencipta.
Suara hati tetap menjadi urutan teratas untuk bernegosiasi dan berdamai dengan diri sendiri.
















