Anakku, Guruku.
Dulu, cita-cita tertinggiku adalah ingin menjadi ibu. Aku tau itu mungkin tampak konyol, untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika hanya ingin menjadi seorang ibu? Dulu, kupikir hidupku akan sempurna betul saat aku menjadi ibu. Tapi setelah menjalaninya, kenapa aku sering merasa hilang arah? Kenapa aku justru sering merasa tidak bahagia?
Pikiran ini sering sekali melintas di benakku selama dua tahun terakhir. Ya, tahun yang berat. Pandemi ini memang berat bagi semua orang, tak terkecuali aku. Meskipun aku tak kekurangan apapun secara fisik dan materi, tapi memiliki banyak waktu di rumah, membuatku banyak berpikir dan menyelam, jauh ke dalam sana. Aku banyak mempertanyakan eksistensiku, aku banyak meragukan diriku apalagi kemampuanku. Tak terhitung momen jatuh dan menangis tergugu, merasa diri tidak mampu dan tidak punya apapun untuk dibanggakan.
Apa kamu tidak bahagia menjadi ibu? Tentu aku bahagia! Tidak terhitung juga syukurku menjadi ibu dari anak manisku ini.. tidak terhitung juga momen kami bertiga tertawa bersama, begitu bahagia. Maka kerap aku merenung, mengapa aku justru sering merasa sedih di tengah kebahagiaan ini? Apa yang aku cari?
Semakin lama menyelam, pelan-pelan aku semakin tau jawabannya.. bahwa anakku, menjadi jalan bagiku untuk melihat hal-hal yang selama ini tidak terlihat. Ketakutanku, amarah terbesarku, semua cela dan dosa yang kututupi rapat-rapat bahkan sering tidak aku tahu keberadaannya. Anakku, menjadi cermin, agar aku melihat sisi kelamku untuk kuperbaiki. Anakku, membuatku banyak merenung, pola pengasuhan apa yang perlu aku putus dan aku pertahankan. Anakku, juga menjadi jalanku untuk kembali menyapa & menemukan kembali diriku sendiri..
Di sisi lain, anakku juga memperlihatkan sisi terangku yang tak pernah aku yakini ada sebelumnya.. aku jadi yakin kalau aku mampu, kalau aku cukup baik, kalau aku diinginkan, kalau aku dicintai. Tanpa batas, tanpa cela, di matanya. Anakku tidak pernah meragukanku satu kali pun..
Maka aku ingat seorang guruku pernah menyampaikan pesan kurang lebih begini:
“Ketika anakmu menjadi triggermu, ketika anakmu memancing amarahmu, ingatlah.. bahwa anakmu adalah gurumu. Ia memperlihatkan hal-hal yang perlu kamu perbaiki. Ia adalah gurumu agar kamu menjadi lebih baik.”
Teringat pula sebuah kutipan dalam buku yang kutemukan catatannya beberapa hari lalu di blog ini:
“Konon, hari paling penting dalam hidup manusia adalah hari saat manusia itu tahu untuk apa dia dilahirkan. Sekarang Sabari tahu bahwa dia dilahirkan untuk menjadi seorang ayah. Seorang ayah bagi Zorro. Anaknya telah mengurai semua misteri tentangnya. Karena dia seorang Sabari maka Tuhan memberinya Zorro. Bahwa tangannya yang kasar dan kuat seperti besi adalah agar dia tak gampang lelah menggendong Zorro. Bahwa dia gemar berpuisi dan berkisah adalah agar dapat membesarkan anaknya dengan puisi. Sabari memeluk anaknya yang telah jatuh tertidur, serasa memeluk awan.” - Andrea Hirata, dalam bukunya berjudul “Ayah”
Pelan-pelan, aku mulai paham maksud Allah memberiku jalan hidup seperti ini.
Nak, jika kelak kamu membaca ini, ibu ingin sekali kamu tahu bahwa kamu telah mengajari ibu banyak hal. Yang paling penting adalah, kamu, mengajari ibu untuk menolong diri ibu sendiri. Terima kasih tak terhingga untuk itu ya nak. Ibu masih perlu banyak belajar, dan akan terus belajar untuk menjadi lebih baik.














