Aku dan perasaan sialan ini.
Aku berada di tengah keramaian, tapi aku merasa sepi.
Aku dikelilingi orang-orang yang tertawa, tapi hatiku seperti terhimpit.
Aku didatangi seorang teman terdekat, aku senang bukan main, tapi mataku mulai panas. Air mataku menggenang di pelupuk mata.
Ragaku berada di tengah ingar-bingar tempat makan di salah satu pusat perbelanjaan, tapi pikiranku melayang ke dirinya.
Dentingan demi dentingan bunyi pesan singkat instan memecah konsentrasiku.
Aku mencoba tersenyum, bahkan tertawa, tapi hatiku menangis.
Pikiranku sedang tidak berada di ragaku.
Aku membuka laptopku, berarap pikiran yang mengusikku akan pergi. Yang aku dapat hanya kosongnya pandangan mataku.
Aku mulai menyumbat telingaku dengan headset, menyetel volume musik sedemikian tinggi, berharap pikiran yang mengusikku pergi. Yang ku dapat malah air mata sialan ini yang tetap datang di pelupuk mataku.
Aku seperti berlari, padahal sedari tadi aku hanya duduk di sudut tempat makan.
Aku seperti sedang mengupas bawang merah, padahal jemariku hanya menari di atas keyboard laptopku.
Aku seperti sedang bersebelahan dengan perokok, padahal aku berada di non-smoking area.
Aku… ini apa namanya?
Mungkin aku akhirnya merasakan apa dulu aku perbuat ke orang lain.
Apa yang aku tanam, itu yang akan aku tuai, kan? Allah Swt. menjamin itu.
Semoga aku segera pulih.












