Bicara Buku Ep1: Kita Pergi Hari Ini
"Yang paling mengerikan adalah anak-anak."
Well, pas baca buku ini sebenernya gua gak kaget karena udah sempet baca review orang-orang di literarybase twitter. Gua selalu suka buku-buku yang satir, baik secara langsung maupun engga mengangkat suatu isu yang terjadi di masyarakat. Dan bagi gua buku ini salah satunya. Gak sekali dua kali gua 'smirk' selama baca ini, karena ada banyak fenomena sosial yang disinggung. Gak cuma itu, fokus di buku ini banyak bahas soal keegoisan orang dewasa serta ketamakan manusia. Semua dikemas dengan bahasa yang santai, absurd, dan gak blak-blakan, tapi kena pada intinya dan punya makna yang bisa disetujui oleh pembaca.
Buku ini bagus banget buat yang udah terbiasa baca fantasi, kalian bakal mudah memvisualisasikan latar cerita di buku ini. Buat yg gak terbiasa baca buku fiksi terutama fantasi mungkin akan sedikit ngang ngong ngang ngong di awal dan perlu baca ulang kalau emang pengen bisa gambarin latar cerita di imajinasi kalian.
Bagi yang gak pernah baca karyanya Ziggy mungkin akan sedikit terganggu sama diksi-diksi dan jokes tambahan yang kurang padu dan tabu dari bahasa sehari-hari kita. Jujur, itu yang bikin gua selalu kagum sama karyanya Ziggy. Ya walaupun gua juga gak terlalu menikmati. Tapi gimana dia membolak-balik struktur bahasa, penggunaan tanda baca dan semiotika, semuanya keren. Klo pertama kali baca mungkin akan mikir ini ngaco, padahal yaa sah-sah aja penulis mau kayak gitu.
"Peniup Api meniup api. Api Peniup Api menerpa Kolonel Jagung. Terus, terus-terbakar, terbakar. Terus, terus, sampai Kolonel Jagung berhenti bergetar." (Hlm. 85)
Untuk keseluruhan ceritanya, jujur ini beneran prank. Bukan buku yg layak dibaca sama minor karena byk adegan sadis berdarah-darah. Masalahnya, kebengisan di cerita KPHI ini ditulis dengan santai dan tanpa aba-aba. Yang berakhir bikin gua sebagai pembaca ngerasa "loh loh kok gini". Jangan tertipu dengan covernya yg gemoy dan terlihat ramah untuk anak-anak. Ini buku tentang sisi kelamnya pemikiran 'orang dewasa' yang dinarasikan dalam sudut pandang anak-anak. Ya begitulah Ziggy, selalu berhasil buat gua kagum dgn segala plot twist ceritanya.
"Oh, tidak semuanya. Anak-anak ada banyak gunanya, kan? Ada juga yang tidak cuma jadi bahan makanan. Yah tapi memang sebagian besar dimakan, sih. Tapi ada juga yang tidak, kok. Kalian belun tahu mau diapakan ya?" (Hlm. 133)
"Anak-anak yang datang kesini memang selalu dibuang kukunya, agar tidak mencakar-cakar." (Hlm. 142)
Tapi seperti yang tadi di atas gua bilang, ada beberapa hal yang gak bisa gua nikmati di buku ini. Mungkin karena terbiasa baca footnote di karya ilmiah, gua jadi ngerasa terganggu dengan cara penulis buat footnote di buku ini yang beneran 'ngaco' dan suka-suka penulis mau ngarang apa. Jadi gua skip untuk baca footnotenya.
Overall, gua rekomendasiin buku ini. Karena unik dan ngasih peringatan buat gua pribadi soal gimana gua selama ini meperlakukan binatang (nah bingung kan lu dari satir fenomena sosial, sisi kelam orang dewasa kok tiba-tiba nyinggung binatang wkwkwk). Buku ini walaupun tergolong tipis tapi gua gak bisa nyelesein dalam sekali duduk. Karena cukup melelahkan untuk gua yang sering nyerah ketika baca buku fantasi dan juga emang ceritanya bikin gua kena mental. So, gua kasih 8.5/10 buat buku ini.
🌼 • ┈ ๑ ⋯ ୨ ୧ ⋯ ๑ ┈ • 🌼
Salam sayang, Piwa.
Note: Coba nonton film The Farm, menurut gua buku ini kalau dijadiin film ada bagian yang bakal sedikit mirip sama film itu.















