Deal
Orina; How about we make a deal? If my brother wins this race, you have to pretend that we made a deal, and you agreed to marry him if he wins.
(Oran is unaware of the deal Orina is making)
Orina is Oran's genderswap, but in this, their twins

seen from Singapore

seen from Germany
seen from United States
seen from Singapore

seen from Mexico

seen from United States

seen from United Arab Emirates

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from China

seen from Singapore
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Singapore
seen from Türkiye

seen from Sri Lanka
Deal
Orina; How about we make a deal? If my brother wins this race, you have to pretend that we made a deal, and you agreed to marry him if he wins.
(Oran is unaware of the deal Orina is making)
Orina is Oran's genderswap, but in this, their twins
DECEMBER IS FOR EYES!! first is this tutorial i followed yesterday and second is me freestyling today hehe
i love adding effects.... eyes are so fun wowie idk what i was drawing before.... i mean i dont hate them that much but theyre all over the place
wips vs actually finished krita files.........
@candicesverse or @CandicanesU on Twitter commissioned this art from @maxjbearo to celebrate #RunIrisRun epi 4x16 of @cwtheflash⚡💜 We have ALL dreamed of Iris having a pup like @candicekp’s @zoekravitzwishes. And w/#IrisWestAllen being a speedster in 4x16 aka #PurpleReign that would make for the most badass duo called #Ziris = Iris and her sidekick Zoë!! ENJOY Fam!! Use the art in your own tweets and posts if you wish. We hope Queen Candice sees it & shows it to Zoë 😍💜⚡
RT this tweet to allow as many fans to see it here
Hitam Dan Putih, Pada Akhirnya Hanyalah Abu-Abu
Ini Adalah Cerpen yang Saya tulis pada tahun 2009 dan dimuat di Kompas.com rubrik oase. Alasan Saya publish di blog ini adalah, Saya khawatir akan hilang di website aslinya
Cheers!!!!
Aku duduk dengan memakai rompi yang kututupi lagi dengan jaket besar menempel di bajuku. Jantungku berdebar, terasa meronta-ronta, rasanya aku tidak kuat lagi menahan lebih lama, jantungku seperti melompat-lompat berusaha keluar dari mulutku. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan di sini. Untuk pertama kalinya aku ragu.
Ya…aku benar-benar ragu dengan apa yang sudah aku yakini selama bertahun-tahun. Kepercayaan yang aku tanamkan selama bertahun-tahun, seakan-akan hancur seketika ketika melihat tatap matanya yang polos, senyumnya seperti mampu membuat malaikat manapun akan menunduk padanya. Sosok kecil itu begitu indah, tangannya yang mungil, ia tidak terlihat seperti calon-calon iblis yang guruku sering bilang. Ia tertawa begitu riang gembira, berlarian ke sana ke mari, semua benda yang disentuhnya terlihat sangat menarik baginya. Ia tertawa begitu gembira bersama kedua orang tuanya. Orang tua yang selama ini kami anggap sebagai iblis perusak moral.
Setan…, Ya begitulah kelompok kami sering menyebutnya. Orang-orang dewasa berkulit putih pucat, dengan rambut pirang. Berbicara bukan dengan bahasa kami. Aku benar-benar benci melihat mereka. Entah dari mana rasa benci ini. Aku juga tidak tahu, yang pasti, seluruh kelompokku membenci mereka, kelompokku selalu mengajarkan bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang telah merusak keyakinan kami dan menghancurkan moral kami. Semua yang dilakukan orang itu selalu bertentangan dengan ajaran kami. Lihat saja bagaimana mereka meminum minuman yang dapat membuat mereka tidak sadarkan diri. Mereka dengan bebas berhubungan intim tanpa terikat pernikahan. Yaa…mereka semua adalah pendosa. Dan aku yakin kalau darah mereka berarti halal untuk ditumpahkan.
Satu jam yang lalu, aku tiba di ruangan yang luas dan dipenuhi meja-meja bundar tempat orang memakan makanan pesanan mereka. Mereka sering menyebutnya kafe kalau tidak salah. Aku tidak terlalu mengerti dengan tempat-tempat seperti ini. Aku merasa sendiri di sini. Tidak sendiri secara harfiah, sebenarnya orang-orang yang aku benci itu mengelilingi di kanan kiriku. Aku hanya tidak pernah menganggap mereka ada. Lagipula, sepertinya mereka tidak memperhatikan aku. Siapa juga aku?? Aku tidak terlihat putih pucat seperti mereka, aku berbeda dengan mereka. Aku tiba di ruangan ini dengan perasaan benci yang sangat dalam. Kulihat di sekelilingku orang yang jelas-jelas bukan berasal dari negaraku begitu asik bersenda gurau. Mereka memakai pakaian setengah tebuka. “Puh…tidak tahu malu sekali mereka!!!” aku mengumpat dalam hati.
Kebencianku semakin menjadi-jadi ketika aku melihat dua orang, berpasangan, dan mereka saling menempelkan bibir mereka satu sama lain, seolah-olah tidak ada yang memperhatikan mereka di sana. ”Cukup sudah, ini harus diakhiri...!!!” begitu pikirku.
Tapi sekali lagi, tembok kebencianku teralihkan seketika ketika anak kecil tadi tertawa dengan keras sehingga mengaburkan lamunanku. Ahh…tanpa sadar, aku tersenyum melihatnya. Tawanya lucu sekali, tidak seperti orang-orang lain di sini. Tawanya begitu lembut. Seperti nyanyian dari surga, sekalipun aku belum pernah ke surga. Kulit putihnya seperti paling bersinar di antara yang lain. Dengan rambut panjangnya yang dikuncir, dan bibirnya yang mungil, ia bernyanyi-nyanyi kecil. Kebencian yang dari tadi sudah merasukiku semenjak aku sampai ditempat ini tiba-tiba sirna begitu saja melihat wajahnya.
“Ahh…tidak...tidak…” aku berusaha mengalihkan pikiranku. “Ia tidak sebanding dengan apa yang akan aku dapatkan nanti, kelak setelah semua ini berakhir…” bisikku dalam hati.
Tiba-tiba aku teringat… mereka… kelompokku… pernah menjanjikan sesuatu padaku. Selesai dengan tugasku ini, aku pasti akan berada di surga. Itu yang mereka janjikan dan yang aku tanamkan sejak aku mengenal guruku. Ya guruku yang selama ini aku percaya. Setiap kata yang keluar darinya adalah kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat. Setidaknya begitulah pendapatku. Dan tiba-tiba aku teringat beberapa jam yang lalu. Sebelum aku berada ditempat nista ini.
Tiga jam yang lalu
“Apa yang akan kamu lakukan ini adalah tindakan yang mulia…” guruku mulai berbicara. Tangannya sibuk membantuku memakaikan rompi yang dipasangkan ke tubuhku. Rompi ini berisikan bahan-bahan peledak yang aku sendiri tidak tahu ia dapatkan dari mana. Wajahku terlihat ragu sesaat.
Tapi Guruku kembali meyakinkanku, “mereka tidak sama seperti kita, membunuh mereka merupakan berkah untuk kita…nanti engkau akan mendapatkan tempat yang paling indah muridku…tempat yang telah dijanjikan Tuhan kita…”
Aku tidak berani membantahnya, karena aku percaya dengan perkataannya. Guruku yang selama ini selalu mendampingiku di saat aku dilecehkan oleh teman-temanku yang lain. Ia yang selalu membuatku yakin kalau teman-temanku tidak lain adalah para pendosa. Ya, mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sementara aku. Dari kecil aku sudah ditanamkan untuk selalu mematuhi semua yang diajarkan guruku. Ia yang pertama kali mengajarkan bagaimana keyakinan yang aku anut ini adalah keyakinan terbaik dan paling benar.
Guruku juga selalu meceritakan indahnya surga, bagaimana nanti akan ada bidadari-bidadari yang akan menemaniku jika nanti aku berada di surga. Ia juga menceritakan bagaiamana panasnya neraka. Dan ia bilang padaku kalau neraka bukan tempat untuk kami, tapi untuk mereka yang berbeda dengan kami. Untuk mereka yang tidak menganut keyakinan yang kami anut.
Tapi disatu sisi, aku ragu…aku ragu karena aku tidak ingin mengakhiri hidupku. Ahh…mungkin ini hanya instingku saja sebagai mahluk hidup yang takut kehilangan nyawanya. Dan sekali lagi guruku meyakinkanku, “Kelak, aku akan menyusulmu nak…aku biarkan engkau melakukan ini karena aku ingin engkau melihat surga terlebih dahulu…” Ya…hatiku semakin yakin dengan perkataannya, aku yakin kalau yang aku lakukan ini adalah hal yang benar, aku yakin itu. ### Dan sekarang, aku berada di tempat yang penuh dengan orang-orang yang aku benci ini, dengan rompi yang berisi bahan-bahan peledak yang aku yakin mampu meruntuhkan tempat ini. aku sudah membayangkan senyum-senyum jahat mereka akan terhapus seketika oleh satu ledakkan yang aku ciptakan. “tik…tik…tik…”
Aku bisa mendengar suara detik jam yang menempel dirompi yang aku kenakan. Aku siap untuk pergi selama-lamanya demi membela keyakinanku.
Jantungku semakin berdetak kencang. Seperti beradu cepat dengan detik-detik jam yang aku rasakan. Semakin kencang…semakinkencang… Tapi tiba-tiba…
“Heloo….” Sekali lagi, suara anak kecil itu menganggu konsentrasiku. Ia kembali tersenyum, tapi tunggu…sepertinya anak kecil itu tersenyum ke arahku…aku menengok kebelakang, mencari-cari orang yang beruntung mendapatkan senyumannya itu. Tapi tidak ada siapa-siapa dibelakangku. Sepertinya akulah orang beruntung yang mendapatkan senyumannya itu. Anak itu terus tersenyum ke arahku, aku mencoba mengabaikannya,. “Tidak…aku tidak boleh lengah, mereka pasti setan yang sedang mencoba menggodaku.” Kali ini ia melambaikan tangannya kepadaku. Aku masih mencoba mengabaikannya, tapi lambaian tangannya semakin jelas tertuju padaku.
Aku tidak tahan, akhirnya aku balas melambai padanya. Dan sepertinya anak kecil itu suka padaku. Kedua orang tuanya pun ikut melambaikan tangannya padaku. Dan beberapa saat kemudian, aku terhentak… Ada sesuatu yang lain yang menjalar disekujur tubuhku….jantungku semakin berdetak kencang. Tapi detakan jantungku ini berbeda. Aku jadi takut…ya..aku takut…kali ini aku benar-benar takut. Apa yang akan aku lakukan ini benar atau salah. Aku ragu…
Anak kecil itu terus melambaikan tangannya padaku sambil sedikit-sedikit bergumam dalam bahasa yang tidak aku mengerti.
Jantungku semakin cepat memompa darahku…benarkah yang akan aku lakukan ini?? benarkah anak yang memiliki senyum seindah ini adalah iblis yang akan merusak moral kelompok kami??
Aku berusaha untuk mengingat-ingat kembali semua ajaran-ajaran yang guruku berikan, tapi sepertinya anak kecil ini lebih mempengaruhiku…aku merasa ia bukanlah seorang yang berdosa. Ia hanyalah seorang anak kecil yang sebentar lagi akan kehilangan nyawanya akibat perbuatanku.
Aahhh…bagaimana ini…pikiranku benar-benar kacau… aku tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah ini semua terjadi…Aku melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam kecil di dadaku. Hanya sepuluh detik lagi…hanya sepuluh detik lagi sampai aku merampas kebahagiaan anak itu…
Tiba-tiba tanpa sadar, air mataku mulai menetes, membasahi pipiku…aku tersedu-sedu…sementara anak kecil itu masih melambaikan tangannya padaku… 5…4…3…2…1… ###
Our #ziris screen execution from @spredfast #SFSummit - big ups to @chrisnclements + @meganwillin for the #design + great job by @socktan97 on the #motion #spredlife (at ACL Moody Theater)
"Unwrap me?" // "If you sing one more Christmas carol I swear..." - Ziris x
“Unwrap me?”
Head turning to see Zinc dressed in what looked like only a robe and a small ribbon tied around her head, Chris’ eyebrows shot up. Instantly intrigued, the ghost smiled and stepped closer. “You got me exactly what I wanted, sweets,” he commented, his fingers untying the ribbon before moving to the knot that held her robe together. Leaning forward, he placed a kiss on her lips before he let the robe fall to the floor. “Merry Christmas to me!”
“If you sing one more Christmas carol I swear...”
Quickly cutting her off with another verse of “Santa Claus is Coming To Town” Chris smirked. “Aww come on, sweets, this song is a classic,” he mock-whined, his bottom lip puckering. Taking another bite of his candy cane, he looked at her. “How’s the next part of the song go again?”