Aku pernah, menaiki sebuah wahana yang tampak menyenangkan nan menantang.
Saat itu, tidak ada perasaan ragu. Aku langsung duduk di bangku paling depan, menghadap langsung dengan kemungkinan-kemungkinan yang entah, mungkin senang, mungkin takut, mungkin tertawa, mungkin menjerit?
Kunaiki 1 putaran
2 putaran
3 putaran
4 putaran
5 putaran
Kuhamparkan karpet di sana, kutinggalkan sikat gigiku, kulonggarkan kancing celanaku, aku mencuci piring, aku menarik kaki, kujulurkan lidahku, kubagikan krimku, kulabeli seluruh kereta dengan namaku, kucolokkan pcku, kulempar tempat tisuku, ku perlihatkan perutku.
Entah sudah berapa putaran, aku tidak menghitung. Mungkin sudah ada di hitungan 38729104893 kali putaran.
Dengan angka sebanyak itu, tentunya masalah teknis pasti ada. Beberapa kali, aku turun.
Apa kendalanya?
Oooh, beberapa rodanya rusak. Aku ganti dengan yang baru.
Dengan angka sebanyak itu, dengan angka sebanyak itu, bertambah terus menerus.
Dengan angka sebanyak itu, aku lupa di hitungan yang keberapa, waduh, kendala teknisnya fatal sekali.
Dengan angka sebanyak itu, jelas wahana ini usang. Waduh, apalagi yang bisa kuperbaiki. Lamban lamban lamban semakin lamban makin lamban.
Tidak tahu dengan banyaknya angka, ini saatnya aku turun. Wahana berhenti mendadak.
Untuk dikembalikan, keadaan harus seperti semula.
Aku robek karpet itu, aku buang sikat gigiku, aku kencangkan celanaku, aku turunkan kakiku, aku, aku, aku, maaf wahana, aku tidak bisa lagi memperbaikimu.
Kuucapkan terima kasih atas seluruh waktunya. Menyenangkan, menyebalkan, menyedihkan, menyeramkan, merindukan.
Belum banyaknya langkah aku berjalan, terdengar wahana itu kembali beroperasi?
Waduh,
Waduh,
Ternyata aku tidak pandai memperbaikinya.
Yah, sudahlah.
Di depan sana ku lihat ada wahana yang jauh lebih menarik. Bisakah aku menambahkan lebih banyak putaran daripada wahana yang itu?
Belum banyak putaran aku berada di wahana tersebut. Sudah terdapat angka, tetapi masih bisa kuhitung. Dengan jari tangan, jari kaki, jari-jari.
Menyenangkan, jauuh menyenangkan, berbeda, menyenangkan, tetapi masih belum banyak putaran.
Ssssssttt
Terdengar namaku? Namaku? Dipanggil di pengeras suara. Namaku? Aku?
Katanya aku dibutuhkan memperbaiki wahana yang kemarin?
Aku tidak bisa, terakhir wahananya berhenti total. Katanya aku bisa, aku bisa.
Waduh,
Aku sangat ingin memperbaiki wahana tersebut. Sangat sangat sangat dan sangat ingin. Tapi, aku sungguh tidak bisa.
Wahana baruku saja harus aku benahi. Belum berhenti juga. Belum ada kendala juga.
Kenapa tidak dari kemarin, ya? Mungkin banyaknya angka bisa saja semakin bertambah. Makin bertambah.
Haduh
Maaf, ya, bukan tidak ingin membantu. Aku masih menikmati. Salahmu juga tidak dari kemarin.
Wahana, wahana, wahana, wahana, dengan banyaknya angka wahana


















