aku masih disini bersama rintiknya, berselimut hangat dekapmu, menanti senja yang akan membawa kita mengangkasa.
kau, temani aku mengorbit jagad raya, meski dalam maya, selalu ku semogakan nyata. membasahi setiap dahaga, yang akan luruh saat nanti bersama, meski siksa rindu kian mendera.
tiap sunyi kau ramaikan masaku, meski ku tau kau meradang rindu
jarak hanya rangkaian huruf kan pasti lelah dan menyerah dengan segala renjana kita.
jangan kau muntahkan pahit getir kerinduan, agar kau rasakan manisnya pertemuan.
aku masih berpeluh rindu yang memburu, karena kau segalaku. hingga ku terlelap hangat berteman celotehmu meski sejenak. bukan aku menahan jarak, tapi yakinlah kita semakin dekat.
sampaikan semua tangismu pada rinainya, agar aku mampu merasakan basuhannya.
tak ku berharap cerah mentari temani pagi, karena apapun kau tetap temani. mengeluhlah, bahkan teriaklah, jika itu mampu tenangkanmu, bahuku masih mampu menunggumu. tak ada yang tak pasti, seperti rasa ini tak ada keraguan sama sekali.
tak perlu kau buktikan pada semesta, semua cukup antara kita. tak perlu kau berlari hingga memerah darah, cukup menanti dengan doa yang tak henti. Semua ada akhirnya, seperti lautan kan temui pantai, begitupun penantian, kenali setiap jengkal rasanya, hingga kita tak sesat didalamnya.
maaf aku yang memaksa kau membuka mata lebih lama, karena dalam sunyi sendiri, aku merasa mati. Aku masih berlari mengejar berteriak agar jingga tetap disana, menatapmu dengan sempurna.
jangan kau susuri hutan, negeri ini tropis, aku takut kau meringis akan dinginnya, menangis akan sepinya.
tunggulah di akhir penantian, aku berlari hingga tak menapak bumi. kau rembulanku bersama kita mengorbit arungi semesta.
jangan letih, tanpamu kurasa teramat perih.
ini jawaban dari ribuan pertanyaan yang kau senandungkan di tiap aksara yang ku temukan.