Ibn al-Qayyim رحمه الله said:
“The Cause of Anxiety is Sins.”
[Ad-dawad Dawah p.21 ]
Claire Keane
RMH

shark vs the universe
Keni

No title available
One Nice Bug Per Day
taylor price
almost home
Sade Olutola
I'd rather be in outer space 🛸

izzy's playlists!
art blog(derogatory)

#extradirty
No title available

pixel skylines
NASA

Discoholic 🪩
KIROKAZE
EXPECTATIONS
Fai_Ryy
seen from United States
seen from Norway
seen from United States

seen from Canada
seen from Ireland
seen from Argentina

seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Venezuela
seen from United States

seen from Ireland

seen from T1
seen from United Kingdom
seen from United States
@tellsecret
Ibn al-Qayyim رحمه الله said:
“The Cause of Anxiety is Sins.”
[Ad-dawad Dawah p.21 ]
Kamu ngga pernah tahu ujian apa yang Allah kasih sampai ia bisa berdiri sekuat ini. Kamu ngga pernah tahu air mata yang tiap malam selalu membasahi bantalnya ada dibalik senyum cerianya. Kamu ngga pernah tahu semrawut isi kepalanya ditutupi dengan lawakan lucu yang membuat orang lain tertawa. Kamu ngga pernah tahu kesedihan pilu dalam hidupnya ada dibalik tawa kerasnya.
Setiap orang punya ceritanya masing-masing, bertahannya mereka saat ini adalah hal terhebat dalam hidupnya. Untuk kamu, kamu hebat sudah mau bertahan dan tetap bersyukur. Kamu berani dan hebat untuk semua hal besar yang sudah terjadi di hidupmu! Kamu hebatt!
Manusia seperti air. Air dimanapun akan membentuk sesuai dengan tempatnya namun bagaimanapun bentuknya, hakikatnya air adalah air.
Nasihat Untuk Aku
Kukira caraku untuk menjaga mentalku dari manusia menyebalkan sudah benar, kukira caraku agar tidak menyakiti hati dengan menjaga jarak sudah benar, dan kukira lebih memilih mendekat ke Allah dan berusaha menjauh dari manusia menyebalkan adalah pilihan yang benar..
Aku lupa kalau semua yang aku kerjakan di dunia adalah untuk akhirat. Aku lupa kalau Allah punya hadiah besar, yaitu surga, untuk hambanya yang ikhlas dan sabar.
Aku lupa ada manusia palinggg mulia yang tetap mendoakan kebaikan walau disakiti oleh penduduk Thaif, tetap melakukan kebaikan walau dicaci oleh pengemis buta.. Beliau telah memberikan contoh baik untuk umatnya, aku umatnya yang berusaha mengikuti sunnahnya tapi untuk satu hal ini aku lupa.
Kalau berfikir pendek dan praktis untuk menghindari sakit hati paling bener adalah nge 'cut' semua interaksi dengan orang tersebut. Tapi apa? Hati masih nggerundel dan memutus silaturahmi. Ngga ada balasan surga.. Allah maha memaafkan, rasul telah memberi contoh, walaupun sulit harus berlatih untuk bisa memafkan dan tetap berbuat baik. Ingat imbalannya surga!
Semua berproses, masih harus belajar, sebagai seorang hamba berusaha menerapkan sifat Allah untuk memaafkan, sebagai pengikut umat Rasulullah harus bisa meneladani kebaikannya. Bismillah kita belajar ikhlas dan memaafkan.
Sabar ngga ada batasnya tapi limitku ngga seluas itu. Aku selalu menyiapkan ruang kecewa ketika bekerjasama dan banyak melakukan interaksi dengan orang lain, menerima ketidak ideal an yang sudah terjadi dan memakluminya.
Walau semua itu sudah disiapkan ruangnya, kekecewaan emang lekat dan tidak bisa dihindari. Apapun bentuknya, emosi harus rilis :) walaupun berbentuk kemurungan wajah sampai linangan air mata hehe.
Drama Korea
Apa yang memutuskanmu untuk mau menghabiskan waktu berjam-jam didepan layar gadget bahkan sampai terbawa emosi olehnya? Yak! Kali ini ngomongin drama korea! Alasanku nonton drama berevolusi seiring bertambahnya umur. Kalau dulu nonton drama karena pemainnya ganteng dan cantik, karena ceritanya bagus, karena OSTnya bagus, genre drakor.. sekarang tone warna, setting tempat, alur cerita jadi alasan untuk 'Oke coba tonton deh'. Ngga kaya dulu yang kalau udah selesai nonton drama ilang gitu aja.. cuma inget pemainnya. Tapi sekarang lebih banyak mencoba menangkap value apa yang ada dalam drama ini, apa yang bisa jadi refleksi, apa yang bisa diterapkan atau dikulik. Dari drama kita bisa banyak belajar lho! Berbagai macam genre yang diproduksi dengan mengangkat setting profesi tertentu dapat menambah atau mengubah cara pandang kita, ya walaupun pastinya beda ya haha! *Beda negara sis wqwq. Drama korea itu addict. Satu episode kurang, nonton satu episode lagi makin ngerasa kurang, teruus sampai akhirnya begadang untuk nonton drakor. Itu dulu, sampai akhirnya aku ngerasa capek, suntuk, dan ingin keluar dari jeratan per drakoran. Menahan diiringi tekad dan doa yang kuat, bisa! Akhirnya bisa ngga addict nonton drama. Apakah sepenuhnya lepas? Tidak, tapi sudah lebih bijak dalam menentukan kapan nonton drakor bahkan sekarang sudah tidak terlalu menggebu untuk nonton drama on going. Ini semua karena tekad dan doa yang kuat. Niat baik pasti akan terwujud, usaha dan bulatnya tekad kita yang menentukan cepat atau lambat niat kita akan terwujud. Tentu tidak lepas dari ridho Allah ya ehehe.
Relationship
Kalau ditanya “Banyak menghabiskan waktu disosial media apa?” agak dilema njawabnya karena sering buka instagram tapi kalau lihat video youtube durasinya bisa sampe satu jam. Suka aja ndengerin orang ngobrol atau tell a story hehe. Pekan ini ada dua video dengan durasi satu jam lebih yang membuatku berfikir tentang relationship.
Video pertama dari ‘Daniel Tetangga Kamu episode : Ayu-Ditto’. Bahasan yang menurutku menarik adalah cerita Ayu mulai belajar menutup aurat. Salah satu alasan kenapa Ayu mulai menutup aurat adalah ingin menjaga rumah tangganya dan bukti setia kepada suaminya. Ketika seseorang mengetahui kelebihan yang ada dalam dirinya dan dia tahu bahwa kelebihannya ada potensi menjerumuskan kearah yang buruk dan dengan sadar ia memilih untuk menutup kelebihan itu demi menjaga keharmonisan keluarga adalah bentuk nyata, level tertinggi dari kesetiaan suatu hubungan. Kisah itu membuka mata lebih lebar lagi, bahwa bentuk nyata ‘setia’ ngga hanya yang kemana-mana berdua, selalu ada disetiap kesedihan atau kesusahan, dan mendukung satu sama lain. Another level dari ‘setia’ adalah menjaga hubungan dengan cara masing-masing sampai harus menurunkan ego diri sendiri. Kalau yang paling utama dalam hubungan adalah komunikasi, ternyata ada hal yang ngga boleh ketinggalan ketika sedang memupuk suatu hubungan.. hal itu adalah kompromi.
Video kedua adalah video reaction hate comment terpanjang yang pernah aku tonton. Reaction hate comment nya 10%, ilmu dari video tersebut 90%. Kita semua tahu bahwa manusia adalah makhluk paling melelahkan, ada aja tingkah polahnya.. oleh karena itu menjalin hubungan seumur hidup adalah ibadah terrpanjangg. Perlu banyak bekal dan persiapan untuk ibadah tersebut, kalau sholat cukup dengan wudhu dan pakaian suci berbeda dengan menikah yang bekalnya harus dari sisi ilmu, mental, dan finansial. Kalau selingkuh identik dengan pelakor ternyata dalam Islam ada istilahnya! Bahkan dijelasin tahapan perilakunya itu apa aja :’) Agamaku keren banget huhu. Pelakor same as takhbib : manusia yang suka merusak rumah tangga orang.
Awal mula takhbib, laki-laki yang suka menggoda istri orang, ciri-ciri :
Menyuruh istri untuk bercerai dengan suami.
Menyuruh istri untuk menikah dengan lelaki lain.
Menghina suami dihadapan sang istri.
Menyuruh istri untuk durhaka pada suami.
Kukira selingkuh terjadi karena mata keranjang dan nafsu yang tidak bisa dikendalikan, tidak pernah bersyukur dan merasa kurang. Ternyata berkhianat dari pasangan terjadi karena ada kesempatan, terhasut Dasim, dan takhbib. Ngeri emang kalau beribadah tapi ngga pake ilmu.
Dari dua video yang aku tonton aku menyimpulkan bahwa, kesetiaan tidak seremeh yang dilihat, yang kemana-mana selalu berdua belum tentu setia. Setia yang sesungguhnya adalah upaya diri sendiri menjaga hubungan kita dengan cara kita yang mungkin perlu menurunkan ego diri sendiri. Pengkhianatan dalam suatu hubungan mungkin terjadi dari faktor internal maupun eksternal. Ketika dua orang yang sudah berkompromi satu dengan yang lain, berkomitmen, saling menjaga.. internalnya kuat maka kesetiaan itu akan diuji dari eksternal dengan tipu muslihat dasim (jin) dan takhbib (manusia).
Maha Suci Allah. Beruntunglah orang beriman yang mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian.
.
Tiap lihat instagram selalu happy dan mencari postingan tentang bocil-bocil unyu menggemaskan, lihat mereka adalah booster tercepat untuk naikin mood. Ada yang ku ikuti dari ibunya program hamil sampai anaknya sekarang udah bisa jalan dan celoteh ini itu :’). Ngelihat daftar barang apa aja yang (kayanya) harus kita punya ketika punya bayi, udah mulai berandai-andai beli gendongan dan seperangkat persiapan MPASI, dan mainan apa aja yang kudu kita punya untuk melatih motorik bocil. Lihat strugglenya mama baru untuk nyiapin MPASI, nyuapin dan ada aja drama GTM, anaknya udah lancar ngomong umur 2th dan ada mama yang masi berusaha memahami jawaban anaknya karena belum lancar ngomong :’) waah! Kayanya seru masuk dunia mama-mama haha.
Besok aku gimana ya ndidik anakku?
Besok apa aja ya yang harus aku buat untuk MPASInya?
Besok aku sekolahin anakku dimana ya? Home schooling? Sekolah Islam? Sekolah inter?
HAHA! Kayanya emang udah umurnya sampe mikir begituan wkwk.
Aku yakin kalau persiapan jadi ibu dan proses menjadi ibu akan berlangsung selamanya, panjang dan ngga mudah :). Akan banyak tantangan dan drama pastinya, berusaha menerapkan teori tapi prakteknya pasti adaa aja :)). Kalau kata mama-mama muda instagram “Nggapapa Bun ngga kaya teori parenting yang penting masi waras” wkwk. Selama ini aku hanya lihat bayi-bayi lucu nan menggemaskan dengan drama normal pada umumnya, padahal pasti ada bayi dengan kebutuhan yang perlu perhatian lebih dan khusus oleh orang tuanya.. mulailah muncul,
Besok kalau anakku kondisinya begini begitu gimana ya?
Hmm emang dasar manusiaa.. Bagaimanapun keadaannya aku rasa semua orang tua akan berjuang dan menyayangi anaknya. Tapi apakah besok aku bisa dapat rezeki spesial itu dari Allah dengan mudah? Banyak perempuan yang harus menunggu lama hingga akhirnya mendapat keturunannya, mengikhlaskan waktu serta harta untuk bisa mengisi rahim mereka dengan janin yang mereka inginkan.. Belum lagi melewati trisemester pertama, merasakan proses persalinan yang masyaAllah :’) Memperjuangkan melahirkan normal setelah berjuang dengan sabar, Allah menakdirkan melahirkan sesar, ngerasain dobel perjuangan.. Sakit dari gelombang cinta adek dan pasca operasi :’) MasyaAllahh.. Akan menjadi pahala ketika ikhlas dan ini jihad perempuan sesungguhnya! Kita keren! Uhuy! Wkwk.
Allah memang luar biasa! Cara Allah membuktikan kebesarannya dengan menghadirkan janin dari suatu yang hina yang akhirnya disayang dan dirawat, prosesnya yang kompleks dari mulai nutfah-alaqah-janin dengan masing-masing proses selama 40 hari :’). Luar biasa!. Tapi Allah juga tak sampai disitu saja menunjukkan kebesaran dan kekuasannya, ketika aku yang melihat bayi udah kepikiran ina itu, Allah hadirkan seorang wanita luar biasa untuk menjadi pengingat rasa syukur. Seorang wanita dengan sindrom MRKH tipe 1, tidak memiliki rahim. Perempuan yang belum pernah sama sekali merasakan nyeri haid, mengeluarkan darah haid.. Allahu Akbar :’). Aku yang nangis gulang-gulung hari pertama dan kedua haid, ngeluh ngeringkuk karena nyeri haid maluu luar biasa. Mungkin ada yang menginginkan rasa itu, menunggu hari dimana nyeri itu datang.. tapi sampai kapanpun hari itu tak akan datang.
Cara Allah menegur hambanya sangatlah lembut, tak perlu bentakan keras atau suara yang melengking. Cukup dengan 30 menit mendengar suara lembut kisahnya sudah banyak memberi tamparan. BERSYUKUR! Semua yang kita dapatkan saat ini dengan cuma-cuma patut dan harus disyukuri. Allah maha baik, Allah adil, dan Allah tidak tidur. Allah memberikan ujian karena Allah tahu hambanya mampu.
Agaknya kurang pas jika terlalu mengkhawatirkan masa depan, lebih baik mempersiapkan. Jadi sudah sampai mana persiapannya? HAHA. Sampai detik ini nulis padahal masi takut untuk bahas komitmen dll wkkw. Dasar aku.
0°
Nol derajat es batu Ketika kamu hampir menyerah dengan penantian dan rutinitas saat ini, ingatlah 0° es batu. Titik beku es batu adalah 0°C, apabila suhu diturunkan lagi menjadi -20°C es batu tetap menjadi es batu, jika dinaikkan suhunya menjadi -5°C es batu masih menjadi es batu. Tetapi ketika suhu berubah menjadi 1°C perlahan es batu akan mencair dan menjadi air. Semua yang telah kita lakukan walaupun tidak/belum terlihat hasilnya suatu saat nanti ketika sudah melewati ambang batas akan terlihat hasilnya/wujudnya. Semua akan ada waktunya.
❤️
Akhir-akhir ini banyak lagu tentang cinta beda keyakinan. Lagunya Brisia Jodie, Ziva, dan ada lagi dari X factor rilis lagu tentang cinta beda keyakinan. Pertama kali dengerin lagunya Brisia Jodie masih okelah, ndengerin punya Ziva "Kaya familiar deh, oh ternyata lagu recycle" tapi makin lama kok jadi agak ngganggu yaa.. Mulai banyak muncul lagu genre cinta beda keyakinan. Jadi menormalisasi hal ini, seakan nggapapa jatuh cinta dan memperjuangkan cinta beda keyakinan. Suka bahkan sampai jatuh cinta itu bisa dikendalikan, aku meyakini itu. Suka sampai tumbuh jadi cinta pasti ada triggernya, ada suatu hal yang memicu. Kalau sedang dekat dengan seseorang (non muslim) hingga muncul rasa suka bahkan nyaman harus dicari yang memicu itu apa. Kalau udah ketemu, ya dihindari atau diminimalisir trigger tersebut supaya sayangnya ngga berubah jadi suka bahkan cinta. ((Aku juga ngga paham betul sih cinta itu apa)). Makanya aku ngga sepakat sama yang bilang "Cinta itu datang tiba-tiba, cinta datang tanpa alasan, dll" hmmm. Tidak mungkinn.. semua itu ada pemicunya, semua itu terjadi karena ada alasannya. Minimal mulai tertarik fisiknya yang akhirnya memicu jadi suka. Ingat, semua ada alasannya wkwk. Cinta beda keyakinan itu ngga akan berhasil, capek, sia-sia. "Jalani aja dulu, nanti dipikir sambil jalan" adalah kalimat egois kepada pasangan beda keyakinan, memaksakan ego dan nafsu dan ngga dikasi kepastian ujungnya mau gimana dan sampai kapan. Jangankan sama yang beda keyakinan, yang sama-sama Islam aja belum tentu berhasil. Yang seagama aja perlu banyak toleransi supaya langgeng, perlu banyak memahami supaya tetep akur. Lah kalau beda tuhan toleransinya lebih berat bruh. Memaksakan pasangan untuk mengikuti keyakinan juga salah. Ber-tuhan, meng-hamba ngga bisa dipaksain.. Bahkan Habib Husein Jafar mengatakan bahwa (aku lupa kalimat pasnya apa) masuk Islam karena pernikahan itu salah. Karena orang yang memeluk agama Islam harus dengan kesadaran penuh dan TANPA paksaan. Kalau masuk Islam karena pernikahan berarti ada paksaan disana. ADA PAKSAAN. Percayalah, ngga usah denial! Hm. Beda kasus kalau ada yang tertarik Islam kemudian belajar dengan muslim/ah dan makin cinta trus mereka nikah.. Ya itu di film, cuma ada di film wkwk. Urusan hati emang harus hati-hati, logika kudu tetep jalan dan prinsip harus kuat!. Mm kalau ngga kuat, minimal prinsipnya fleksibel lah ya haha. Ujung dari hubungan yang serius adalah ibadah terpanjang, nikah. Makin berumur konsep pasangan berubah-ubah, kalau dulu pengen yang tinggi ina itu berubah lagi 'yang penting good looking dan bisa jadi imam' padahal tujuan utama Allah memasangkan manusia adalah untuk melengkapi satu sama lain dan bersama-sama menuju jannah-Nya. Makanya kalau nikah alasannya cinta perluas lagi jadi surga. Kalau belum siap, ngga usah deket-deket apalagi nyari-nyari. Stay cool, siapin, mantep, baru cari.
HeyHo!
Udah lama kuperhartiin, hampir semua temenku yang menggunakan 'close friend' ketika upload sesuatu disana isinya bukan aib, rahasia, kelemahan, atau yang lainnya. Yang diupload di 'close feiend' hanya postingan biasa, kalau dipikir-pikir "Lah ini mah orang lain lihat ngga masalah, mungkin bisa jadi insight bagi orang lain..". Pun sama orang-orang yang punya second account juga mengunggah sesuatu yang normal disana, bukan aurat atau keburukan lain. Lantas kenapa menggunakan fitur close friend? Kenapa uploadnya di second account? Itu semua karena kenyamanan. Nyaman ketika upload sesuatu dan dilihat oleh orang yang kita kenal, nyaman berbagi dengan orang-orang terdekat, dan nyaman hati serta pikirannya karena orang terdekat minim kemungkinan untuk nyinyir. Aku pribadi dulu lebih suka membagikan sesuatu di status whatsapp dengan alasan "Aku hanya menyimpan nomor orang yang benar-benar aku kenal personal", tapi itu semua luntur karena mau tidak mau kondisi memaksakan untuk menyimpan nomor orang-orang yang punya kepentingan sekelibet dan 'rajin' lihat status kita. Wah bagiku itu sangat tidak nyaman. Apalagi instagram, media sosial itu sangat tidak ramah haha. Akun utama instagramku sangat-sangat membosankan karena banyak orang yang tidak aku kenal disana. Kenapa difollow? Karena ikut acara dan saling berbagi username untuk menambah kenalan :"). Untuk aku yang tidak suka perkenalan online.. Hmm sulit. Second accountku berisi orang-orang insyaAllah bisa dipercaya dan tidak semua tahu betul siapa aku tapii aku nyaman berbagi kegilaan disana. Namunn senyaman-nyamannya aku di second account, tidak semua benar-benar bisa aku bagi disana. Masih ada rasa ngga enak untuk mengutarakan pikiranku. Dulu setiap upload status diwhatsapp aku selalu berusaha menguload hal positif dan bermanfaat dengan pedoman 'Yang lihat banyak jadi harus ada nilainya'. Di second account pun aku juga berusaha begitu, oleh karena itu upload disanapun ngga bisa 'los' karena kalau upload tentang apa yang aku pikirkan, khawatir akan menjadi akun toxic yang menyebalkan. Setelah vakum sekian tahun dari twitter, dengan banyak pertimbangan akhirnya debutlah mulai main twitter. Kukira disana aku akan bisa ‘los’ untuk mengetik ina itu.. HAHA! Ternyata engga juga wkwk.
Dah nulis panjang lebarnya disini aja lah yaw! Luvv.
Apa yang lebih menyedihkan dari gagal menggapai mimpi? Tidak punya mimpi.
fzz
Anak
Rasanya masih jauh dan terlalu dini (mungkin) untuk membicarakan perihal anak. Tapi sejak 2019, karena nekat, akhirnya jadi sering berinteraksi dengan anak SD, aku mendapat kesempatan mendampingi beberapa murid untuk belajar.
Dari kesempatan itu aku belajar banyak hal, mulai dari karakter anak, keluarga, pola didik, dan tentunya kesabaran serta ketegasan. Sejauh ini sudah ada 5 siswi sekolah dasar yang kudampingi mereka belajar. Karakter keluarga yang berbeda, urutan kelahiran mereka, lingkungan mereka, dan sekolah yang berbeda sangat-sangat mempengaruhi seorang anak. Dulu aku kurang percaya bahwa anak pertama pasti blablabla, anak tengah sering diabaikan (misalnya), anak ketiga manja dan lain-lain, tapi ternyata memang urutan kelahiran mempengaruhi watak dan karakter mereka. Apalagi keluarga inti, latar belakang atau background keluarga memiliki pengaruh besar pada anak. Sifat, perilaku, cara bersosialisasi, cara menyelesaikan masalah.. semuanya! Sangat dipengaruhi keluarga dan orang tua. Singkatnya parenting itu ngga boleh dan ngga bisa main-main. Perlu persiapan yang ngga bisa sehari atau semalem, sembilan bulan aja belum tentu beres :’).
Anak itu beneran sepolos, seputih itu. Belum bisa milih dan orang tua lah yang bertanggung jawab atas anaknya. Sebagai orang luar juga ngga bisa sembarang menghakimi cara orang tua mendidik anak, semua yang dipilih dan dilakukan pasti ada alasannya. Termasuk memilih sekolah anak di sekolah internasional yang minim pelajaran agamanya. Beban mendidik anak memang tidak sepenuhnya ke ibu, tapi memang ibu memiliki porsi besar karena ibu adalah madrastul ula (sekolah pertama bagi anak). Ketika orang tua memilih menyekolahkan anaknya di sekolah internasional dan mengatakan bahwa bahasa arab tidak terlalu penting, al-quran cukup dibaca saja dan mencari guru les mengaji karena anaknya tidak bisa mengaji dengan harapan anaknya bisa menghafal al-quran (untuk melengkapi bacaan sholat) itu hal yang benar-benar miris. Miris karena orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah internasional yang full berbahasa Inggris dan jaminan bisa kuliah di luar negeri, tidak bisa mengatasi resiko kalau anaknya pasti minim pengetahuan agamanya. Orang tua memang mampu menggaji orang lain untuk mengajarkan baca quran, tetapi orang tua meninggalkan peran utama seorang ibu yaitu madrasatul ulaa. Setidaknya kalau tidak mampu mengajarkan pendidikan formal, ya ajarkan agama pada anak. Makin miris ketika alasan ibu adalah “Anaknya ngga mau kalau diajarin ibunya” ada ‘gap’ antara ibu dan anak.
Alasan lain mempercayakan orang lain untuk mendampingi belajar anak adalah karena kesibukan ibu bekerja. Ini memang tidak bisa disalahkan karena kondisi keluarga tiap orang berbeda-beda, ada yang istri (re: ibu) harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi harapannya ibu tetap perhatian dan mengajarkan sesuatu/nilai-nilai pada anaknya. Ada lagi yang membuat hati sedih dan sangat menyayangkan hal tersebut, dimana ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang memilih untuk menyewa jasa orang lain untuk mendampingi anaknya sedangkan ia memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Ketika di rumah pun banyak menghabiskan waktu di kamar, padahal aku yakin kalau ibu mau pasti bisa mendampingi anaknya belajar. Semua tergantung kemauan orang tua, pilihan orang tua dapat berdampak besar pada anak.
SEDIH
Gagal lolos PTN 2017 harusnya menjadi salah satu pengalaman paling sedih dalam hidup. Gagal melanjutkan pendidikan di kampus impian, belajar bidang ilmu yang diidam-idamkan, dan ramai mengerjakan tugas PKKMB bersama teman-teman baru yang diunggah ke media sosial. Harusnya sedih bahkan bisa berlarut-larut, tapi faktanya saat gagal PTN tentu ada perasaan sedih namun hanya sebatas sedih. Tidak sampai berlarut-larut. Waktu itu memang sudah menyiapkan ruang kekecewaan dan sangat bisa menerima apapun takdir Allah. Tidak marah atau iri pada siapapun, alhamdulillah saat itu memang benar-benar diberi Allah kekuatan untuk menerima dan menjalani takdir terbaik dari-Nya.
Saat ini diujung semester 6, semester terakhir perkuliahan -malah harusnya sudah tuntas semua, selesai- qadarullah memang harus bersabar lebih dan lebih dari sebelumnya karena belum ujian TA. Tahu hal ini pasti akan terjadi, mundur dari timeline, bahkan sudah mempersiapkan ruang kekecewaan.. tapi kok beda yaa. Kalau sebelumnya bener-bener ikhlas menerima kegagalan masuk PTN, ini udah masuk PTN tinggal sidang sedihh nya bukan main. Kecewa, sedih bahkan sampai marah. Ngerasa rapuh, kosong, hatinya berlubang. Mungkin (tapi memang sudah) sedih + kecewa kenapa kok ngga segera dijawab chatnya, kenapa kok lama, dan kenapa-kenapa lainnya. 2021 luar biasa, dimulai dari bulan Mei sebagai awal perjalanan tugas akhir. Singkat cerita sampailah di bulan Juli getir lanjut ke bulan Agustus manis (semoga). Fase long journey ini tu optimis-semangat-sabar-ikhlas-tawakal-pasrah-sampe marah. Sedih emang kenapa proses baik ini harus berujung marah, ada sedikit kecewa juga. Kenapa kok begini, kok aku ngga gini aja, dan lain-lain. Menyalahkan diri sendiri adalah yang paling benar. Berharap manusia memang kesalahan fatal karena akan berujung kecewa, tapi bodohnya akan terus dilakukan.
Bulan Juli sampai awal Agustus stok kesabaran masih ada sampai akhirnya menipis dan mulai ngadu ke Allah. “Ya Allah katanya Engkau tidak akan menguji seorang hamba melebihi kapasitasnya, aku dah ngga kuat ya Allah. Udah capek pengen marah. Pengen cepet selesai TAnya” se hopeless itu. Udah nyerah sama semuanya, jadi putus asa, males, dan ngga tahu mau ngapain lagi.
Aku tahu kalau Allah akan memberikan waktu terbaik, imbalan bagi orang sabar itu besar.. tapi aku udah ngga bisa, tapi ngga bisa ngapa-ngapain juga. Cuma bisa marah dalam diam, memendam kekecewaan, dan nangis. Sampe capek ngomong atau nulis “semoga bla bla bla”. Ngerasa salah kalau marah tapi pengen marah, astaghfirullah.
END.
Nafas dakwah yang dicontohkan Rasul adalah nafas perbaikan. Jika agendamu, bertemakan dakwah, tapi tidak membawa perbaikan justru membawa perpecahan, mari dievaluasi
(via kayyishwr)
Disimpan Sendiri
Bertambahnya umur menjadikan saya ingin semua serba simpel-praktis, tidak mau ribet. Termasuk hati atau perasaan. Berbeda dengan saya terdahulu, ketika sedih atau marah merasa harus diekspresikan, digembar-gemborkan agar semuanya plong. Saat ini itu semua tidak berlaku. Disimpan, diolah, dan diuraikan sendiri lebih nyaman. Walaupun memang capek sendiri hehe.. Tapi itu lebih baik (menurut saya) daripada diceritakan ke orang lain. Ntah kenapa saat ini menceritakan emosi ke orang lain jadi malas dan merasa hal tersebut menjadi beban bagi saya atau orang lain. ((Padahal saya tipe orang yang tidak pernah keberatan apabila ada orang mengeluh dan menceritakan kegelisahannya, orang lain mungkin juga begitu)). Saya malas menceritakan hal yang saya rasakan (tidak mengenakkan) akan mempengaruhi mood saya karena saya harus mengingat hal yang tidak mau saya ingat. Sepertinya ini salah, tapi saya nyaman jadi tetap saya lanjutkan. Selama saya masih bisa handle dan merasa waras serta tidak merugikan orang lain, menyimpan semua sendiri akan baik-baik saja.
Memiliki banyak teman baik, keluarga yang terbuka adalah suatu yang harus disyukuri. Saya mempunyai keduanya, tapi saya juga memiliki rasa tidak percaya untuk menceritakan masalah-masalah saya ke orang lain. Saya tahu ini masalah internal saya.
Dari hal yang saya alami diusia saat ini saya sedikit memahami mengapa ada orang yang akhirnya memilih media sosial sebagai buku hariannya. Memilih media sosial sebagai pelampiasan atas kemarahan dan kekecewaannya. Tidak ragu dalam memposting hal-hal pribadinya, karena mungkin orang tersebut sedang diposisi seperti saya. Tidak memiliki kepercayaan menceritakan masalah pada orang lain tapi ingin menceritakannya, yang akhirnya dia memilih menceritakan pada khalayak.
Saya masi punya malu dan memiliki sekat-sekat dimedia sosial. Sulit bagi saya memposting hal-hal pribadi.
Kalau kamu disimpan sendiri, lari ke sosmed, atau punya 'tong sampah' hidup?
Juli, 2021. Pertengahan tahun yang harus bisa dilewati dengan baik dan sempurna. Akhir semester yang kukira akan menjadi mudah dan bisa terlewati seperti sebelum-sebelumnya, tapi ternyata Allah mau hamba-Nya lebih lama untuk bersabar dan lebih sungguh-sungguh untuk meminta. Ujian sebelum lulus bermacam-macam bukan? Mencoba ikhlas dan masih berusaha bersabar. Disisi lain selalu ada hal tak terduga yang mengejutkan. Kepercayaan yang diberikan untuk diemban dalam jangka waktu yang tak ditentukan. Sekejap mencoba menelaah dan mensyukuri apa yang telah dipercayakan. "Allah menguji sesuai dengan kemampuan hamba-Nya" masih ampuh untukku saat itu. Sudah menerima dan ikhlas akan apa yang bakal diemban dan Allah punya skenario lain yang tak terduga :) Amanah itu diganti dengan sesuatu yang ku khawatirkan, kucemaskan, bahkan kuhindari.
Doaku diijabah. "Pengen ningkatin kapasitas diri deh, pengen keluar zona nyaman atau paling ngga memperluas zona nyaman", kontan dijawab Allah lewat amanah yang diganti tadi. Langsung tanpa babibu. Kaget, shock, (nahan) nangis adalah respon ketika diberitahu amanah tersebut. Mau ilang aja. Mau kabur aja.
Semoga ini menjadi proses dalam pendewasaan, semoga aku dan kamu dikuatkan, semoga kesabaran dan keikhlasan dilebarkan dan diluaskan. Amin.