Urgensi, Tantangan, dan Kemudahan Belajar Bahasa Arab di Masa Kini
Urgensi atau kepentingan utama mempelajari bahasa Arab adalah memahami wahyu Allah, yaitu Al-Qur'an. Karena Allah menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, penting bagi kita untuk mempelajari bahasanya jika ingin memahami Al-Qur'an dengan baik. Adanya terjemahan memang cukup membantu dalam memahami garis besar isi Al-Qur'an. Akan tetapi, apabila ingin mendapatkan pemahaman yang mendalam dan utuh terkait Al-Qur'an, maka penguasaan terhadap bahasa Arab mutlak diperlukan. Maraknya fenomena berupa penafsiran serampangan dan semena-mena berakar dari ketidakpahaman masyarakat terhadap bahasa Arab. Hanya bermodal sorban, jubah, dan kemampuan retorika, seorang ustadz gadungan dapat menipu ribuan audience-nya dengan penafsiran yang aneh. Hal yang berbeda akan terjadi jika masyarakat memiliki daya kritis dan bekal kemampuan bahasa Arab yang baik.
Urgensi lain dari mempelajari bahasa Arab adalah untuk memahami hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena Rasulullah merupakan orang Arab, bertutur dengan bahasa Arab, dan juga memiliki kefasihan berbahasa yang luar biasa. Dalam beberapa hadits, terlihat bahwa Rasulullah menguasai berbagai dialek bahasa Arab yang masih tergolong "bahasa kampung". Oleh karenanya, untuk memahami hadits, dibutuhkan penguasaan bahasa Arab yang mumpuni.
Penguasaan bahasa Arab yang baik juga dapat membantu dalam mengidentifikasi kesalahan periwayatan dalam hadits. Diceritakan bahwa seorang tabib pernah keliru dalam membaca hadits. Tabib tersebut membaca hadits berikut: Sesungguhnya pada ular hitam (حَيِّةٌّ سَوْدَاءُ ) terdapat obat. Tabib tersebut keliru, padahal teks aslinya memakai huruf Ba pada kata pertama, bukan huruf Ya. Sehingga yang benar, Rasul mengatakan حَبَّةُ السَّوْدَاءِ (biji atau jinten hitam).
Memahami turats atau kitab para ulama juga merupakan urgensi dari mempelajari bahasa Arab. Meskipun kita sudah mulai memahami atau menguasai bahasa Arab, tetap saja masih cukup sulit untuk langsung terjun meng-istinbath atau memgekstrak hukum langsung dari Al-Qur'an maupun hadits. Karena alat yang diperlukan untuk menggali hukum dari kedua sumber hukum tersebut ada banyak, bukan hanya bahasa Arab. As-Suyuthi bahkan menetapkan 15 cabang ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mujtahid agar mampu berijtihad dan menyimpulkan hukun langsung dari Al-Qur'an dan hadits.
Oleh karenanya, penting bagi kita untuk memperkaya diri dengan berbagai ilmu yang diwariskan oleh para ulama lewat kitab-kitab mereka. Tebak apa bahasa yang digunakan oleh para ulama dalam menulis kitabnya? Tentu saja bahasa Arab. Meskipun memang tujuan akhir dari belajar bahasa Arab adalah memahami Al-Qur'an secara langsung, tetapi ada tahapan yang perlu kita lalui terlebih dahulu, yakni menyimak pembahasan para ulama tentang Al-Qur'an.
Selain itu, khazanah keilmuan peradaban Islam yang sangat kaya juga dapat kita akses jika menguasai bahasa Arab dengan baik. Karya-karya ilmiah di zaman keemasan Islam (yakni di era Abbasiyah, meskipun ini debatable) mayoritasnya menggunakan bahasa Arab. Karena bahasa Arab pada saat itu ibarat bahasa Inggris di zaman sekarang. Bahasa Arab, pada saat itu, merupakan simbol kemajuan berpikir dan ketinggian intelektualitas. Orang-orang Eropa berbondong-bondong mempelajari bahasa Arab, hingga disebutkan bahwa ada seorang pendeta yang kecewa akan gandrungnya para pemuda cerdas Eropa waktu itu terhadap bahasa Arab.
Dengan kemampuan untuk mengakses harta karun ilmu di zaman keemasan Islam, harapannya hal tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan kembali umat Islam yang saat ini sedang terpuruk dan tertidur di berbagai lini kehidupan. Kombinasi antara akses terhadap ilmu langit (Al-Qur'an dan hadits) dan ilmu dunia (sains, ilmu sosial, teknologi, dll) diharapkan mampu membawa umat ini kembali ke masa kejayaannya.
Setelah membahas urgensi dari mempelajari bahasa Arab, sekarang saya akan menguraikan beberapa tantangan dalam belajar bahasa Arab, setidaknya menurut pandangan saya pribadi.
Tantangan pertama dan menurut saya paling fundamental adalah adanya stigma bahwa belajar bahasa Arab itu susah. Seolah, ilmu ini hanya bisa dipelajari dan dikuasai oleh orang yang sudah mondok bertahun-tahun. Seolah, orang umum atau non-santri itu otomatis kesulitan dalam mempelajari bahasa Arab. Bahkan ekstremnya, bisa menimbulkan pikiran: Jangankan membaca kitab gundul, baca Al-Qur'an yang sudah full harakat saja masih salah. Ini adalah tantangan pertama sekaligus tersulit, karena berkaitan dengan mindset atau pola pikir. Biasanya, apabila seseorang sudah memiliki mindset tertentu, akan sulit untuk mengubahnya.
Oleh karenanya, penting bagi kita untuk memiliki growth mindset, seperti dawuhnya Carol S. Dweck. Yaitu sebuah mindset yang mau membuka diri terhadap pertumbuhan dan perkembangan. Saya memang tidak bilang bahwa bahasa Arab itu 100% mudah atau bisa dikuasai hanya bermodal menyimak video Youtube berdurasi 2 jam. Tetap ada bagian-bagian yang ketika dipelajari akan terasa sulit. Namun, pemilik growth mindset akan melihat hal tersebut sebagai tantangan untuk berkembang lebih jauh.
Lebih jauh lagi, saat ini banyak sekali sarana untuk mempelajari bahasa Arab (saya akan elaborasikan hal ini lebih detail pada bagian "peluang belajar bahasa Arab"). Sehingga, seharusnya stigma bahwa belajar bahasa Arab itu sulit sudah berangsur-angsur hilang.
Tantangan berikutnya dalam proses belajar bahasa Arab adalah konsistensi. Untuk menguasai bahasa Arab, memang dibutuhkan waktu yang panjang. Tahapannya cukup banyak, dan bagi orang yang tidak memiliki semangat dan kegigihan yang tinggi, besar kemungkinan akan gugur di tengah jalan. Hal ini terjadi baik di pelajaran yang berkaitan dengan muhadatsah (percakapan) maupun kaidah gramatikal formalnya. Perlu diketahui, dalam mempelajari bahasa Arab memang ada 2 metode: klasik maupun modern. Metode klasik menitikberatkan pada penguasaan ilmu nahwu, shorof, dan balaghah dengan tujuan utama lancar dalam membaca dan memahami turats ulama. Sementara metode modern menggunakan kaidah linguistik modern yang bertujuan mengasah 4 skill berbahasa: membaca, menulis, mendengar, dan berbicara.
Pada metode klasik, buku referensi tingkat dasar yang biasa digunakan adalah Matan Al-Ajurumiyyah karya Al-Ajurrum (dalam ilmu nahwu). Untuk tahap ini saja, bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk menguasai kitab tersebut. Apalagi jika ditambah dengan syarah-syarahnya. Pengalaman saya mengikuti daurah online yang membahas kitab ini, peserta yang bertahan hingga akhir biasanya tinggal separuhnya atau bahkan kurang. Pada metode modern, ada 2 kitab utama yang biasa digunakan: Durusul Lughah karya Syaikh V. Abdurrahim dan Al-Arabiyyah Baina Yadaik karya Dr. Abdurrahman bin Ibrahim Al-Fauzan. Kitab Durusul Lughah terdiri dari 4 jilid, dan umumnya pembelajar kitab ini "menyerah" di jilid 2. Adapun kitab al-Arabiyyah Baina Yadaik terdiri dari 4 jilid juga, tetapi tiap jilid dibagi menjadi 2 bagian (A dan B) sehingga totalnya 8 jilid. Saya jarang sekali menemukan kelas online yang membahas jilid 2B ke atas, mungkin saking jarangnya peminat.
Waktu yang dibutuhkan untuk menguasai kitab-kitab tersebut tentu sangatlah panjang. Itu baru kitab dasar, kita belum berbicara kitab yang levelnya lebih tinggi. Maka, sebenarnya tidak heran juga stigma sulitnya belajar bahasa Arab merebak luas. Karena memang butuh waktu sangat panjang dan konsistensi tinggi untuk menguasainya. Konon, sekelas Imam asy-Syafi'i saja butuh waktu 20 tahun untuk menguasai bahasa Arab hingga fasih. Namun, hal tersebut jangan sampai menyurutkan langkah kita untuk mulai mempelajari bahasa yang mulia ini.
Tantangan lain yang kerap membayangi para pelajar bahasa Arab adalah minimnya pengaplikasian dari materi pelajaran yang didapat. Hal ini terutama terjadi di lingkungan madrasah, bahkan pesantren. Saya saat ini sedang mengajar bahasa Arab untuk teman-teman pengajian ibu saya. Beberapa di antaranya sebenarnya sudah pernah belajar bahasa Arab, baik di pesantren maupun madrasah, termasuk ibu saya sendiri. Namun, karena mereka tidak memahami bagaimana menggunakan ilmu tersebut, akhirnya mereka lupa nyaris semua materi bahasa Arab yang dahulu mereka pelajari. Ibu saya bahkan terang-terangan mengakui bahwa dahulu hanya menghafal kaidah saja, seperti kaidah tashrif (perubahan kata), tetapi tidak mengerti apa gunanya.
Situasi tersebut tidak hanya dialami oleh para pelajar yang menggunakan metode klasik, yakni fokus pada mempelajari kaidah formal. Hal tersebut juga dialami dalam pembelajaran bahasa Arab dengan metode modern. Seringkali, para pelajar hanya mempraktikkan bahasa Arab di dalam kelas saja. Di luar kelas, nyaris tidak pernah diaplikasikan. Termasuk saya sebenarnya seperti ini juga, hehe. Akibatnya, proses pembelajaran menjadi tidak maksimal. Idealnya, seorang pelajar bahasa Arab metode klasik mencoba untuk terus mempertajam skill-nya dengan membaca kitab secara rutin dan mandiri. Sedangkan untuk pelajar bahasa Arab metode modern, idealnya ia mencoba untuk memulai bercakap-cakap menggunakan bahasa Arab. Bahkan, jika bisa menggabungkan kedua metode ini, hasilnya tentu akan luar biasa.
Setelah membahas beberapa tantangan dalam belajar bahasa Arab, saya akan memberikan secercah harapan berupa peluang atau kemudahan dalam belajar bahasa Arab di masa ini. Kemudahan pertama adalah ilmu bahasa Arab sudah di tahap kematangannya. Sehingga, kitab-kitab dari mulai tingkat dasar hingga tingkat ahli sudah terbentang di depan kita. Di ilmu nahwu misalnya, kita disuguhkan kurikulum lengkap. Pada tingkat dasar, kita bisa mengkaji Matan Al-Ajurumiyyah. Lanjut ke tingkat menengah, sudah ada Qathrun Nada karya Ibn Hisyam hingga Alfiyyah karya Ibnu Malik. Di tingkat akhir, sudah ditunggu oleh Al-Kitab karya Sibawaih. Bahkan di masa kini, ada beberapa kitab yang sifatnya pengantar atau pra-dasar. Di Indonesia, kita mengenal kitab Al-Muyassar fi 'Ilm An-Nahwi karya Ust. Aceng Zakaria atau kitab Mukhtarat karya Ust. Aunur Rofiq. Atau kalau mau yang berbahasa Indonesia, ada buku Ilmu Nahwu untuk Pemula karya Ust. Abu Razin. Begitu juga di ilmu sharaf, ilmu balaghah, dan lain-lain (akan saya elaborasikan lebih lengkap pada bagian yang khusus membahas kitab-kitab tiap cabang ilmu).
Bahkan, dalam kitab-kitab modern sudah tersaji dengan berbagai tasyjir (bagan) yang memudahkan pemahaman. Lalu, beberapa kitab juga memanjakan visual dengan warna-warni yang estetik. Contoh terbaik dalam hal ini adalah seri kitab "Kayfa Tutqinu" yang ditulis oleh Ahmad Iskandar. Saat ini, sudah ada 7 judul dari seri Kayfa Tutqinu tersebut: An-Nahwa, Ash-Sharfa, Al-Balaghah, Al-Ajurumiyyah, Al-Arudh, Al-Imla, dan Al-Kitabah Al-Arabiyyah. Saya menganggap kitab tersebut seperti power rangers, karena tiap judul diwakili warna yang berbeda. Misal, Kayfa Tutqinu An-Nahwa covernya berwarna putih-biru, sementara Ash-Sharfa berwarna putih-merah, dan sebagainya.
Asal kita memiliki kemauan untuk bersabar menapaki kitab-kitab tersebut langkah demi langkah, maka kita akan memiliki ilmu yang tinggi dalam bahasa Arab. Dengan izin Allah, tentunya.
Kemudahan lainnya adalah tersedianya begitu banyak platform untuk belajar bahasa Arab. Tinggal pilih saja, mau belajar secara daring atau luring. Belajar secara luring dapat ditempuh misalnya di LIPIA, Kampung Arab Pare, bahkan saya pun membuka kelas Durusul Lughah secara luring untuk pengajian ibu saya. Kalau mau cari yang daring, bahkan jauh lebih banyak. Yang gratisan pun banyak, meski masih lebih banyak yang berbayar. Tempat belajar daring yang paling saya rekomendasikan untuk belajar bahasa Arab secara terstruktur dan gratis adalah Yayasan BISA. Di situ, pelajar akan dipandu dari tingkat dasar hingga tingkat ahli. Ada juga lembaga SAIN, FAHIMNA, dan lain sebagainya. Hanya saja, meski gratisan, kelas-kelas tersebut tetap menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi. Tercatat, di BISA, hanya separuh peserta yang mampu naik ke level berikutnya. Sehingga di level tertinggi, hanya tersisa segelintir orang. Di sinilah semangat juang para peserta benar-benar diuji.
Untuk kelas berbayar, Yayasan BISA juga menyediakannya. Kelas yang berbayar lebih eksklusif dan biasanya hanya diikuti belasan orang dalam satu kelas. Kalau kelas gratisannya punya hierarki yang linier, maka kelas berbayarnya lebih bersifat memperkaya wawasan dan mempertajam skill membaca kitab para pesertanya. Di lembaga SAIN pun demikian. Kelas daring berbayar yang sedang naik daun saat ini adalah Lisanul Arab. Kelas-kelasnya menawarkan materi yang jarang dibahas dan platform-nya memiliki corak premium yang khas. Jika ingin merasakan pembelajaran yang formal, bisa mendaftar di kampus online IOU (International Open University) yang telah membuka program S1 dan S2 Bahasa Arab. Saya saat ini sedang menempuh S1 Bahasa Arab di sana.
Belum lagi berbagai materi yang bertebaran di Youtube, Facebook, Instagram, dan sebagainya. Sehingga, sebenarnya sudah sangat mudah bagi kita untuk mempelajari bahasa Arab. Tinggal kitanya saja yang perlu disiplin dalam menjalani prosesnya.
Munculnya semangat untuk mempelajari Islam lebih dalam dan mengamalkannya juga turut membantu menciptakan atmosfer yang kondusif untuk belajar bahasa Arab. Gairah masyarakat untuk mempelajari Islam membuat materi-materi pembelajaran bahasa Arab menyebar luas layaknya jamur di musim hujan. Para "suhu" bahasa Arab pun turun gunung untuk mengajari masyarakat yang sedang berapi-api semangatnya dalam mengkaji Islam. Euforia seperti ini harus dimanfaatkan sehingga kita terkena efek baik dari meningkatnya animo masyarakat terhadap bahasa Arab.
Situasi politik Arab yang kini lebih terbuka pun mendorong penyebaran bahasa Arab sebagai bahasa internasional. Imbas dari hal ini adalah munculnya para influencer poliglot yang juga memasukkan bahasa Arab dalam konten-konten mereka. Meski memang dalam hal ini, bahasa Arab 'ammiyah (informal) lebih sering dipromosikan ketimbang bahasa Arab fusha (formal).
Mungkin 20-30 tahun lalu, ketahuan belajar bahasa Arab saja bisa dianggap teroris. Namun, saat ini situasi berbeda. Suasana kondusif untuk belajar bahasa Arab tersebut harus mampu mendorong kita untuk memulai dan lebih giat dalam mempelajarinya.