“Semakin kau mencari yang terbaik, maka kau akan selalu mendapatkan yang terburuk.”
Beberapa orang kadang salah fokus pada pepatah ini. Mungkin, yang muncul di benak adalah bagaimana mungkin mendapatkan yang buruk kalau terus mencari yang terbaik? Otomatis, setidaknya hasilnya pasti ‘baik yang lebih’, begitu yang diharapkan.
Hasil? Mungkin benar kalau hanya dilihat dari sana. Tapi, ketika dalam proses mencari, kita akan selalu dalam perilaku membandingkan. Ketika membandingkan satu sisi terbaik, maka kita akan sebenarnya selalu fokus pada keburukan mana yang paling minimal. Bukankah begitu? Seringkali, kita malah lebih condong pada buruknya, bukan baiknya. Pada dasarnya, baik adalah baik, bulat. Tetapi yang dikatakan lebih baik hanya menjadi definisi yang kabur untuk pengertian dari ‘kekurangan yang lebih sedikit’.
Otak manusia, mudah cenderung pada yang buruk. Suatu waktu, kita dihadapkan pada analogi serupa anekdot, misalnya
“Mau pilih mana, yang baik tapi jelek atau yang cakep tapi brengsek?”
Kebanyakan orang setidaknya memilih opsi pertama, sedangkan sebagian kecilnya mungkin memilih opsi kedua kalaulah ia bisa menoleransi tergantung seberapa brengsek orang itu. Tapi, taruhlah mayoritas memilih opsi pertama tadi karena kedua opsi tadi masih seimbang pada kata ‘tapi’.
Meski begitu, muncul analogi lain, seperti
“Mau pilih mana, yang baik tapi jelek atau yang baik dan cakep?”
Perbedaan mendasarnya adalah tidak ada konfrontasi pada opsi kedua, yang secara wajar lebih unggul daripada opsi pertama. Siapa sih yang tidak mau dipasangkan dengan orang baik, cakep pula? Itu bahkan bisa menjadi patron yang disetujui orang banyak. Kalaulah memang kita beruntung, maka bisa jadi kita menemui baik dan cakep itu. Syukuri, lalu miliki sepenuhnya atau justru itu bisa dimulai dari diri kita sendiri.
Tetapi, di atas langit itu ada langit. Selalu akan ada yang lebih baik dan yang lebih cakep yang mungkin kita belum temui dan itu nanti akan terjadi. Semakin kita merasa bahwa kita mencari yang terbaik, maka kita jadi fokus pada hal buruk bernama terus memperbandingkan. Lama-kelamaan, kita malah menjadi tidak puas pada hal baik yang kita miliki karena merasa bahwa kita masih bisa mencari dan memilih yang lebih baik di luar sana walaupun itu sangat tidak pasti. Gila kan? Barangkali yang kita sangka lebih baik itu justru tidak menjadi baik karena sepenuhnya tidak cocok dengan kita. Memperbandingkan adalah hal terburuk yang kita lakukan pada sesuatu yang sudah baik.
Sebab, ada orang di luar sana sudah pernah menyesal karena terlalu fokus membandingkan, lalu tanpa sadar melepaskan yang ia miliki untuk ditukar pada seburuk-buruknya kemungkinan.