Nak, maaf bapak sudah lama tidak menulis pesan kembali. Kamu akan melihat jarak antar satu tulisan dengan tulisan lain cukup renggang.
Tapi bapak tetap ingin menulis pesan penting ini.
Nak, bapak menyadari, betapa bapak punya sifat pengecut di dalam diri. Sifat pengecut plin-plan yang melukai orang(-orang) di sekitar bapak—termasuk orang yang bapak (sangat) sayangi.
Rinciannya bagaimana, bapak tidak ingin cerita merinci. Satu hal yang pasti, itu tentang komitmen. Tentang menjaga kepercayaan.
Dan bapak merusak kepercayaan itu. Malah, menjadi trauma baginya.
Sekian tahun berlalu, kepercayaan yang runtuh itu masihlah runtuh. Bapak memaklumi itu. Pun, mustahil bapak mengemis kepercayaan tersebut, seakan ia dapat dibangun dalam semalam.
Perihal itu, pun, bapak sudah menyakitinya. Sakit yang sangat sakit. Sakit yang jika dia ingat, sensasi mual hingga sesak itu datang kembali. Itu namanya trauma. Bapak paham, karena bapak pun punya trauma.
Percayalah nak, menyakiti orang yang kita sayangi itu benar-benar menyesakkan.
Saat ini bapak memohon kesempatan kedua. Tapi pada kenyataannya, bapak kadang tidak cukup kuat untuk memulai kembali. Jawabannya yang datar dengan tata bahasa formal adalah bukti bahwa hal ini pun menyakitkannya.
Entah dia akan memberi kesempatan kembali atau tidak, bapak siap dengan akibatnya.
Toh, bapak paham. Mana ada orang yang mau mendekati sumber luka?
Nak, kamu jangan menjadi seperti bapak yang pengecut ini. Jangan menyiksa dirimu dengan penyesalan lama seperti bapak. Terlebih, dengan orang-orang yang kausayangi.
Kamu anak bapak yang baik, nak. Sifat-sifat bapak yang buruk ini jangan kauikuti. Berkatalah yang baik, berprinsiplah dalam hidup, berlakulah yang mulia.
Nak, kali ini bapak dengan sisa-sisa kesadaran, tidak ingin mengakhiri hidup dengan pengecut. Bapak pikir, usaha inilah untuk menutup duka hidup dengan baik.
Baik-baik sama ibu, yah. Titip cium.