Surah Maryam menjadi surah yang sering saya dengarkan akhir-akhir ini.
Kisah awal Surah Maryam yang menceritakan tentang Zakaria 'alaihissalaam dan Maryam, cukup menyentuh bagi saya.
Rasionalitas manusia berakal ditantang untuk memikirkan kisah ini. Bagaimana mungkin, seorang yang sudah tua dengan istri yang mandul bisa mendapatkan seorang anak dan bagaimana pula seseorang bisa lahir tanpa ayah?
Kira-kira siapa yang tak mengharapkan punya keturunan? Dengan segala pengharapan, Nabi Zakariya memohon untuk diberikan keturunan untuk melanjutkan perjuangan dakwah.
Siapa pula yang tak bertanya-tanya ketika diberi kabar bahwa ia akan memiliki anak pada usianya yang renta dan istrinya yang mandul?
Maka, semua keterbatasan akal manusia memang akan tunduk ketika Allah berfirman "Hal itu adalah mudah bagi-Ku".
Cukup. Sebuah kalimat dari Allah yang menenangkan. Tak usah bertanya bagaimana caranya. Akal selalu terbatas pada apa yg biasa manusia ketahui.
Siapa wanita yang tak terkejut ketika ada kabar bahwa ia akan mengandung seorang anak padahal ia tak pernah berhubungan dengan seorang lelaki?
Maka, semua keterbatasan akal manusia memang akan tunduk ketika Allah berfirman "Hal itu adalah mudah bagi-Ku."
Kabar ini merupakan ujian terberat Maryam. Membayangkan seorang wanita shalihah pada zamannya, yang mengandung seorang anak tanpa disentuh seorang pria, betapa tak gampang. Cibiran orang-orang sekitar jelas membuat Maryam begitu depresi.
Dua kisah ini saja, dua kisah. Membuat saya berulang kali mendengarkan surah ini.
Saya, jelas bukan Nabi Zakariya. Kondisi pun jauh dari serupa. Saya masih 21 tahun, belum menikah. Menginginkan punya anak, tentu. Tapi saat ini bukan itu. Ada begitu banyak hal lain yang saya inginkan, namun berdo'a sungguh-sungguh saja saya payah.
Saya jelas juga bukan Maryam atau mengalami kondisi serupa. Saya lelaki. Ujian hidup saya tak seberat Maryam, namun kadang mengeluh tak karuan.
Tak ada yang luar biasa dari diri saya. Tak ada hal-hal yang di luar nalar akal manusia yang terjadi pada diri saya. Tapi cukuplah saya tau bahwa apapun beratnya ujian kehidupan yang saya rasakan tidak akan pernah sebanding dengan Maryam.
Kalaulah dari dua kisah di atas, dua kisah ini begitu di luar nalar manusia, harusnya saya tak perlu banyak bertanya tentang hidup saya.
Dan pergulatan hidup saya mungkin akan menimbulkan harapan-harapan, kecemasan atas ketidakpastian, jatuh bangun emosi juga ujian hidup akan datang tiada henti-hentinya. Dari semua ini mungkin sebagian akan menimbulkan kabar bahagia dan sebagian kepahitan hidup.
Dan ketika saya sampai pada titik saya bertanya dengan redaksi; bagaimana mungkin, kenapa seperti ini, dan kalimat-kalimat yang menunjukkan keterbatasan akal saya,
saya cukup mengingat firman Allah pada surat ini "Hal itu adalah mudah bagi-Ku." Dan cukup. Kalimat ini begitu menenangkan.










