i wanna be like this one peacock, surviving any condition
hello vonnie

shark vs the universe

@theartofmadeline
Not today Justin
cherry valley forever
taylor price
Misplaced Lens Cap

ellievsbear

No title available

#extradirty
KIROKAZE
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Lint Roller? I Barely Know Her
occasionally subtle
Color Me Curious

tannertan36
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

roma★
untitled
noise dept.

seen from France
seen from Venezuela
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Canada

seen from Morocco

seen from United Kingdom
seen from Qatar
seen from Bangladesh
seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Indonesia

seen from Uruguay
seen from Bangladesh
seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from Singapore
@thatdina
i wanna be like this one peacock, surviving any condition
If you tired, learn to rest not to quit
Your feeling is valid. Nothing wrong about it as long as you keep it to your self, you don't take violent act to express it and you hurt no one. It is the people who can't understand your feeling is not valid. And fake. And pretentious. And they better be left alone.
i
am
still trying
.
because forgive
is
a never ending
lesson
.
because i
am
only human
Mari berbahagia telah melewati hari ini dan akan bertemu esok. Biarkan semua menjadi pembelajaran agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
#quotesoftheday
Beberapa orang menangis untuk menyuarakan hatinya. Beberapa orang menangis dalam diam agar hanya dia yang tau suara hatinya.
#woman
Salah satu bentuk keegoisan yang sering tidak kita sadari adalah merasa paling benar diantara yang lain.
Kelak, jika memang kita harus berpisah, semoga kenangan manis tentangku yang akan membuatmu merindukanku.
Segalanya menjadi lebih rumit jika herhubungan dengan perut. Kaki pun di taruhnya di kepala, asal perut tetap penuh.
Ada batas dalam setiap hubungan. Ada rahasia yang seharusnya tetap menjadi milikmu sendiri. Ini suatu bentuk penghormatan, dan kewaspadaan. Tidak ada yang tahu bagaimana kelak hubungan itu akan berlanjut ataukah putus.
Kalau aku merasa kamu berubah, ada 2 kemungkinan. Pertama, kamu memang berubah, kedua aku sedang rindu padamu. Rindu, kau tahu, memang selalu membuat hal kecil menjadi besar, hal besar menjadi semakin besar, dan sedikit ketidak pedulianmu menjadi pertanyaan berupa : apa kau masih sayang padaku?
Aku menulis, untuk mengenangmu. Untuk mengenang kita.
Membicarakan keburukan orang lain tidak menunjukkan jika diri ini memang lebih baik. Barangkali hati memang tidak mudah menerima, dan aksi nyata membalas keburukan dengan kebaikan tidak semudah membalik telapak tangan.
Benar adanya jika manusia tidaklah kuasa atas dirinya. Tapi satu hal, manusia selalu mempunyai pilihan.
Tiada yang lebih melegakan dari perasaan yang lapang dan ikhlas.
Bertemu
Kepada ia yang seperti tak pernah kehabisan energi aku hanya mengangguk dan menunjukkan ke 2 jempolku saat ia melambaikan tangan lalu menggoyangkan tangan satunya lagi yang sedang memegang dua botol minuman dingin.
Sampai saat ini aku masih kagum dengan cara Tuhan mempertemukanku dengannya. Seandainya malam itu aku terlambat 1 menit saja tentu saat ini aku tetap akan menjadi seorang laki-laki yang monoton –begitu ia menyebutku jika ingin menggodaku.
Malam itu seharusnya menjadi malam yang sial dan menyebalkan. Bagaimana tidak. Setelah lembur menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk meski hanya kutinggal dalam jangka waktu 2 hari, aku justru kehilangan kunci mobil. Padahal di dalam kepalaku sudah terbayang bagaimana bantal, guling, selimut dan kasur kamarku yang memanggilku untuk segera tidur. Kau pasti tahu bagaimana perasaanku saat itu dan juga akan merasa begitu sial jika menjadi diriku. Semua mendadak ingin kusumpah serapahi. Entah jendela ruangan yang masih terbuka meski aku memang belum menutupnya, pagar yang kenapa di cat berwana hitam, bunga mawar di depan pos satpam –yang penghuninya sudah terkantuk-kantuk meski baru jam 11 –dan tak kunjung kuncup atau keset kaki yang mengapa harus bertuliskan “welcome”. Dengan amat sangat terpaksa aku memutuskan menaiki bus kota, sebab setelah menunggu hampir 20 menit aku juga tak kunjung mendapatkan taksi. Keputusan itu pun juga baru kuambil setelah mendengar sang sopir berteriak kepada kernetnya agar segera naik.
Memang terdengar seperti kisah cinta ala remaja alay yang di di tivi, tapi.. uhm.. memang begitu adanya. Di dalam bus itu aku tidak sengaja duduk bersebelahan dengannya –tentu setelah ia menawarkan tempat duduknya yang memang kosong. Dan sama seperti sekarang, meski saat itu sudah hampir larut ia seperti tidak kehabisan energi dengan memulai percakapan. Tidak usah kujelaskan bagaimana detailnya, akan menjadi amat sangat panjang sebab aku bahkan masih ingat pertanyaan apa yang pertama kali ia tanyakan. Singkat cerita kecerewetannya membuatku tahu ternyata kita ternyata tinggal di 1 komplek apartemen tapi berbeda lantai dan ia juga sedang sial sebab ban mobilnya bocor tertusuk paku saat tadi pagi berangkat. Tapi bagian itu tidak lebih “menye” ketimbang bagian dimana aku memberanikan diri meminta nomor handphonenya saat turun dari bus dengan alasan barangkali bisa berangkat atau pulang bersama di lain waktu.
“Kemana lagi kita setelah ini?” Ia membuyarkan lamunanku dengan menggerak-gerakkannya minuman dingin yang ada di tanggnya ke kanan dan ke kiri di depan wajahku
“Aku baru ingat, saat aku akan mengeluarkan handphoneku untuk meminta nomermu, aku mendapati kunci mobilku ada di saku belakang tas tertutup oleh sapu tangan,” ujarku menjawab pertanyannya yang menunjukkan betapa ia masih bersemangat untuk menjelajadi kota ini lebih jauh.
“Hah?”
“Ayo,” aku menggandeng tangannya, lalu mejawab pertanyannya dengan membisikkan pernyataan yang membuat pipinya bersemburat merah meski dibawah sinar rembulan.
Kepada angin yang bertiup, telah digariskan kemana ia akan menuju. Namun kepada kata yang terucap, sepertinya belum ditentukan kapan ia akan menjadi pedang atau sekadar bualan.