Kau tau apa yg lebih menyakitkan? Kau ingkari janjimu untuk bertemu padahal kau sudah mengiyakan, saat kudapati kau berbohong hanya untuk hatimu merasa tenang dan menang.
Rubiana Marwah
$LAYYYTER
I'd rather be in outer space 🛸

Discoholic 🪩

blake kathryn

#extradirty

Kiana Khansmith
Three Goblin Art

No title available

Kaledo Art
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
ojovivo
h
🩵 avery cochrane 🩵

Janaina Medeiros
KIROKAZE

Andulka
Jules of Nature
we're not kids anymore.

pixel skylines
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
seen from United States
seen from Poland
seen from Algeria
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from T1
seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
@theartofgettingbored
Kau tau apa yg lebih menyakitkan? Kau ingkari janjimu untuk bertemu padahal kau sudah mengiyakan, saat kudapati kau berbohong hanya untuk hatimu merasa tenang dan menang.
Rubiana Marwah
Ada yg setia, tapi diduakan. Ada yg mematahkan, tapi dipertahankan. Ada yg dimiliki orang lain, tapi diidamkan. Ada yg memperhatikan, tapi didiamkan. Ada kau, tapi aku ditiadakan.
Fiersa Besari
Memulai, menjalani, dan mengakhiri sama-sama tidak ada yang mudah. Untuk itu, berdoalah lebih banyak untuk meminta kekuatan, kesabaran, dan segala hal yang berguna untuk menghadapinya. Sebab, perjalanan ke depan tidak pernah dijanjikan akan semakin mudah.
Kurniawan Gunadi (via kurniawangunadi)
Pengorbanan Perasaan
Sewaktu kecil dulu, kita tidak begitu paham bagaimana perasaan orang tua. Saat kita menangis, merengek meminta sesuatu. Saat kita sakit, kemudian terbaring beberapa hari. Kita tidak pernah tahu.
Sampai kita sebesar ini, barangkali kita juga tidak cukup tahu apa yang sebenarnya orang tua rasakan. Seberapa besar pengorbanan rasa mereka hingga kita sampai bisa berjalan sejauh ini.
Saat kamu mengatakan cita-citamu untuk merantau jauh, menempuh studi di luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Mereka bersedia mengorbankan rasa rindu mereka, membiarkan langkah kakimu pergi dengan tenang -dan ringan- untuk menggapai mimpi-mimpimu. Mereka bersedia menahan kangen, perasaan yang lazim. Perasaan-perasaan lain seperti kesepian, juga hal-hal lain yang tidak sanggup diungkapkan. Saat mereka mengingat betapa riuhnya rumah saat kamu masih ada di sana. Rasa cemas setiap hari memikirkanmu di perantauan, hingga tidur mereka tidak nyenyak sampai menerima kabarmu. Meski cuma pesan singkat.
Kemudian, saat kamu berbicara tentang seseorang yang kamu sukai. Saat mereka harus berkorban lebih besar lagi atas perasaannya. Merelakanmu memilih hidupmu dengan orang lain. Dan merelakan diri bahwa dirinya tidak menjadi prioritas utamamu lagi. Kamu memiliki keluarga kecil yang harus kamu urus.
Mereka harus menahan rindu, menahan kesepian, menahan berbagai perasaan yang mungkin baru akan dimengerti saat nanti kita berkeluarga dan memiliki anak.
Perasaan yang mereka korbankan begitu banyak. Rasa cinta, rasa rindu, rasa cemas, rasa khawatir, dan segala perasaan yang diciptakan Tuhan di dunia ini, mereka harus menanggungnya. Dan yang kita tahu hanya beberapa, yang kita tahu hanya sedikit. Sementara kita sering mengeluh kepada mereka. Atas batasan-batasan yang mereka buat, atas aturan-aturan yang tidak bisa kita terima, atas nasihat-nasihat yang menurut kita kuno.
Kita merasa lebih maju dalam segala hal, tapi kita lupa kalau kita tidak pernah bisa mengalahkan pengorbanan mereka sedikitpun. Yogyakarta, 5 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi
Seringnya, kita tidak bisa memilih semua pilihan. Padahal, menurut kita, semuanya penting. Semuanya berharga, tapi lagi-lagi, kita hanya bisa mengambil salah satu, tidak semua sekaligus. Bukankah sering, kita takut melepaskan kesempatan, ingin mendapatkan semuanya. Tapi rumus hidup di dunia ini tidak seperti itu, selalu ada hal yang dikorbankan untuk hal yang lain. Selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan dan kalau kita tak juga berani mengambil konsekuensi tsb. Pada akhirnya, kita tidak membuat pilihan apapun. Kita terlalu takut mengambil resiko. Terlalu lama berpikir dan selalu berpikir tentang diri sendiri. Lupa, kalau pilihan kita berdampak pada kehidupan-kehidupan yg lain. Kita sibuk mencari keuntungan pribadi. Sibuk mencari cara agar diri kita selamat, lupa untuk peduli dg yg lain. Pilihan-pilihan yang ada di depan kita selalu mengajarkan kita untuk berpikir lebih luas, tidak hanya tentang diri sendiri. Apakah kita sudah berhasil belajar dari setiap pilihan yang kita buat sebelum ini?
Genggamanmu
Kamu hanya bisa mengenggam sesuatu sesuai ukuran kepalan tanganmu, tak pernah lebih. Kalau memaksakan, tentu ia akan lepas dari tanganmu. Ukuran genggaman tanganmu berbeda dengan milik orang lain. Untuk itu, takaran atas segala sesuatu, berbeda setiap orang. Dan membandingkan antara diri kita dengan orang lain, tidak akan pernah memberikanmu jawaban yang memuaskan.
PemberianNya terukur dalam takaran kebijaksanaan yang sulit kamu pahami dan seringnya baru dipahami belakangan.
Setiap kejadian, setiap rezeki, segala sesuatu yang ada di hidup kita adalah takaran yang terbaik untuk diri kita, kita sajalah yang sering salah memahami maksudNya. Kita yang sering suka menerka-nerka, menghubung-hubungkan kejadian yang satu dengan yang lain sebagai pembenaran atas asumsi kita. Kita sering merasa ada ketidakadilan, padahal kita sendiri yang tidak adil pada diri sendiri karena membanding-bandingkan.
Apa yang ditakdirkan menjadi milikmu tidak akan pernah menjadi milik yang lain. Hanya saja, seberapa sering kita merelakan apa yang kita genggam untuk diberikan kepada yang lain. Bukankah kepemilikan yang hakiki itu ketika kita membelanjakan rezeki itu di jalanNya? Bukan yang terus menerus kita genggam erat.
©kurniawangunadi
Yang Paling
Orang yang paling sedih saat tahu kita bersedih adalah orang tua kita. Yang lebih khawatir saat kita khawatir. Yang sangat bahagia saat kita bahagia. Bukankah sebenarnya sederhana bagi kita untuk berbakti? Hanya saja, kita terjebak pada gaya hidup, tren, pada hal-hal kekinian yang membuat kita resah karena sibuk membandingkan pencapaian, penampilan, kekayaan, dan atribut lainnya.
Kita bingung pada diri kita sendiri dan orang tua lebih bingung pada anaknya yang tidak bisa menjelaskan hidupnya. Seakan mereka merasa gagal mendidik kita padahal kita yang gagal mendefinisikan diri sendiri, kita gagal meletakkan sumber-sumber kebahagiaan dan rasa syukur. Kita menjadikan cita-cita orang lain menjadi cita-cita kita tanpa kita sadari bahwa kapasitas kita berbeda. Kita sibuk merawat penampilan tapi lupa merawat akal sehat.
©kurniawangunadi
Aku pernah menempatkanmu di samping. Menjadikanmu seorang pendamping. Hingga kau berhenti berjalan, mengajariku caranya berjuang sendirian. Dan kemudian, aku menemukan kekuatan di antara ketiadaan.
Fiersa Besari
Akan ada titik dimana setiap orang terbentur antara perasaan dan kenyataan. Apa yang ia rasakan, berbeda dengan kenyataan. Seiring waktu, saat usia bertambah, kau akan semakin mengerti bahwa menuruti perasaan bukanlah hal yang selamanya tepat. Seperti perasaanmu kepadanya? Kenyataannya mungkin bertolak belakang dan upayamu untuk menuruti perasaanmu selalu membuahkan kekhawatiran
kurniawangunadi
(via kurniawangunadi)
Kalau ada orang yang mengingatkan kita atas kekeliruan yang kita lakukan tapi kita merasa tersinggung. Barangkali ada yang salah dengan diri kita, dengan hati kita. Dan menjadi renungan saat hati dan pikiran kita cukup jernih: “Apa arti semua ibadah kita saat kita msh tersinggung ketika diingatkan atas perbuatan kita yang keliru?” Bukankah barangkali itu caraNya menyelamatkan kita? Jangan-jangan sudah berulang kali, kita berdoa memohon keselamatan tapi saat akan diselamatkan justru kita yang menolaknya? #NTMS
Di Masyarakat
Selepas lulus dan benar-benar keluar dari dunia perkuliahan kemudian menjadi bagian dari warga masyarakat, bertetangga, berumah tangga, bersosial, saya menjadi semakin banyak belajar dalam sekitar tiga tahun terakhir ini.
Sewaktu dikampus, banyak sekali bentukan label yang dibuat dan dilekatkan pada mahasiswa hanya dari apa yang dilakukannya. Saya hanya akan mengangkat satu saja dari sekian banyak, yaitu ansos (anti sosial). Label yang dilekatkan pada mereka yang tidak mau ikut dalam organisasi, tidak aktif dalam kegiatan mahasiswa dsb.
Kini saya paham bahwa setiap orang itu punya semestanya sendiri. Dan pemahaman ini hadir selepas saya masuk ke dalam wilayah organsisasi yang lebih luas, tidak hanya melingkupi kampus. Juga setelah saya masuk ke dalam masyarakat.
Orang yang tidak aktif dalam kegiatan kampus/organisasi tidak berarti dia tidak aktif sama sekali. Dulu saya mendapati kawan-kawan saya adalah orang yang banyak bekerja di lab, kalau dulu labelnya anak-anak SO (study oriented). Mereka punya keaktifan di tempat yang lain. Dan sebagaimana pengisian peran di dunia ini, mereka adalah orang-orang yang melengkapi peran-peran tsb. Dan kontribusi mereka sama sekali tidak bisa disepelekan.
Dulu saya masih dalam cara berpikir yang dangkal, mau sekece apapun peneliatannya kalau gak aktif ya akan dilabelin ansos atau SO. Dan semakin mendekati lulus kala itu, saya paham bahwa pencapaian saya secara akademis sangat biasa-biasa saja dan tidak memberikan kontribusi yang banyak dibidang ilmu pengetahuan, bahkan TA saya atau mungkin juga kita semua hanya dibuat hanya untuk memenuhi syarat kelulusan, kemudian teronggok begitu saja di perpustakaan. Tidak ada niatan untuk membuatnya benar-benar menjadi bermanfaat bagi kehidupan manusia atau alam atau apapun yang kita teliti.
Dan ketika berada di masyarakat, terjun langsung. Kita akan menemukan fakta bahwa tidak akan ada yang bertanya kita lulusan mana dsb. Tapi bagaimana sikap dan sifat kita di masyarakat itu sendiri. Apakah kita menjadi tetangga yang baik. Bagaimana kita berusaha mengenal dan saling kenal dalam satu wilayah baru semisal kita baru pindahan. Juga bagaimana kita mengambil peran dalam masyarakat itu.
Banyak dari kita mungkin merasa kaku atau kikuk ketika di masyarakat, padahal amat terkenal dan banyak teman di kampus. Kita juga enggan mengambil peran sesederhana misal jaga ronda, atau jadi bendahara RT, dsb. Dan sungguh, di masyarakat kita dihargai atau dihormati bukan dari label lulusan kita. Mereka tidak tahu apa yang kita perbuat di kampus, tapi bagaimana kita di masyarakat.
Selamat belajar menjadi warga masyarakat. Sebab sesungguhnya itulah kehidupan yang sesungguhnya, kampus terlalu ideal dan steril. Di masyarakat kita akan menemukan dinamika yang berbeda dan kita akan tinggal disana lebih lama daripada di lingkungan kampus.
Jadi sudah sejauh mana kita mengenal tetangga kiri kanan kos-kosan/kontrakan kita? Padahal sudah bertahun kita tinggal disitu, sebagai pendatang :)
Yogyakarta, 2 Juli 2017 | ©kurniawangunadi
Expectation will only lead you to destruction
Arjulio
bahahaha ketawain aja boooi