Bertaruh Pada Api
Aku pernah merasakan bagaimana hidup perlahan-lahan merenggut segalanya dariku. Bukan dalam satu kejadian besar yang dramatis, tapi melalui rangkaian pukulan kecil yang terus datang tanpa henti.
Awalnya, aku pikir aku bisa bertahan. Aku pernah kuat, pernah percaya diri, dan pernah merasa hidupku berjalan di jalur yang tepat. Tapi, semuanya berubah.
Aku kehilangan passionku—tempat di mana aku menghabiskan sebagian besar waktuku, tempat yang selama ini menjadi sumber rasa aman dan identitasku. Satu keputusan di luar kendaliku mengubah segalanya. Aku dipukul jatuh karena keadaan merusak kehidupan pribadiku yang memburuk, bukan karena kesalahanku. Tapi tetap saja, pukulan itu menamparku keras.
Pertengahan 2021, aku hampir kehilangan orang yang paling aku cintai. Bukan karena kematian, tapi karena penyakit yang mengubahnya yang tiba-tiba. Penyakit stroke yang menyerang kedua orang tua ku, bersyukurnya mereka berhasil bertahan namun ada beberapa bagian yang berubah. Aku tak bisa menyalahkan Tuhan, meskipun hatiku hancur berkeping-keping. Rasanya seperti kehilangan arah dalam kabut tebal yang menyesakkan.
Hari-hari berikutnya adalah perjuangan yang sulit. Bangun di pagi hari terasa seperti tugas berat. Aku sering duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke dinding, bertanya pada diriku sendiri, “Untuk apa semua ini?” Hidup yang dulu penuh warna berubah menjadi abu-abu. Aku kehilangan rasa percaya diri, kehilangan harapan, dan yang paling buruk, aku kehilangan diriku sendiri.
Namun, di tengah semua keputusasaan itu, ada sesuatu yang menolak untuk benar-benar mati dalam diriku. Aku tidak tahu apa itu—mungkin sisa-sisa semangat yang pernah ada, atau sekadar keinginan untuk membuktikan pada dunia bahwa aku masih ada. Aku mulai perlahan-lahan, dengan langkah-langkah kecil yang nyaris tak berarti.
Langkah pertama adalah memaksa diriku keluar rumah. Awalnya hanya berjalan di sekitar lingkungan, tanpa tujuan jelas. Tapi aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Udara pagi yang sejuk, sinar matahari yang hangat, suara bising knalpot yang merusak kesadaran—semua itu memberiku sedikit langkah awal kembali namun terasa berat. Mungkin kecil, tapi cukup untuk membuatku ingin merasakannya lagi keesokan harinya.
Aku mulai mencari hal-hal yang bisa membantuku bertahan. Aku membaca buku-buku tentang orang-orang yang pernah hancur, tapi berhasil bangkit. Kisah-kisah mereka memberi tahu aku bahwa aku tidak sendirian, bahwa banyak orang yang pernah berada di titik terendah, namun berhasil menemukan jalan keluar. Aku menulis. Awalnya hanya coretan tanpa arah, tapi seiring waktu, menulis menjadi cara untuk mengeluarkan semua rasa sakit yang mengendap di dalam. Setiap kata yang kutulis terasa seperti membebaskan diri dari beban.
Hari demi hari, aku mulai menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Aku belajar memaafkan diriku sendiri atas segala hal yang tidak bisa kukendalikan. Aku belajar bahwa rasa sakit adalah bagian dari proses, bukan musuh yang harus kuhindari. Dan di balik semua itu, aku mulai menemukan diriku kembali.
Memaafkan diriku sendiri adalah langkah paling sulit. Selama ini, aku sering menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Aku merasa gagal, merasa tidak cukup baik, merasa tak layak untuk dicintai. Tapi perlahan, aku mulai melihat bahwa aku adalah manusia, dengan segala kekurangan dan kelemahanku. Aku mulai memahami bahwa tidak apa-apa jatuh. Yang penting adalah bagaimana aku memilih untuk bangkit.
Aku juga mulai menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil. Dulu, aku selalu mengejar kesuksesan besar, mengukur hidup dengan pencapaian besar. Tapi sekarang, aku mulai menghargai momen-momen sederhana. Menikmati segelas kopi hangat di pagi hari, mendengarkan suara hujan di sore hari, atau sekadar berbicara dengan teman. Aku menyadari bahwa hidup tidak harus sempurna untuk bisa dinikmati.
Proses ini tidak mudah. Ada hari-hari di mana aku merasa kembali terpuruk. Tapi sekarang, aku tahu bahwa tidak apa-apa. Aku tidak harus selalu kuat. Aku hanya perlu terus bergerak, sedikit demi sedikit, satu langkah pada satu waktu.
Hidupku mungkin tidak seperti yang aku bayangkan dulu, tapi aku menemukan sesuatu yang lebih berharga. Aku menemukan diriku sendiri. Aku belajar bahwa hidup adalah perjalanan, bukan tujuan. Dan meskipun aku pernah jatuh berkali-kali, aku akan terus bangkit. Karena di dalam diriku, ada sesuatu yang tak akan pernah mati: keinginan untuk terus hidup dan menemukan kebahagiaan, meskipun jalannya sulit.
Mengutip dari lirik lagu Dongker yang bertajuk 'Bertaruh Pada Api'
''Bertaruh pada api Berpura takkan mati Aku sendiri Apakah kita sendiri?''
Pertanyaan itu kerap menghantui, meski sendiri, namun,
Aku belum selesai. Aku masih di sini. Aku masih hidup. Dan itu cukup.
Adios,
Iqbal Firdaus
















