“You were born to pray. So why would you rush during that which you were born for?”
— Husain Abdul Sattar

⁂

JBB: An Artblog!
Mike Driver

@theartofmadeline
No title available

❣ Chile in a Photography ❣

Kiana Khansmith
styofa doing anything
Show & Tell

roma★
Not today Justin
No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
he wasn't even looking at me and he found me
NASA
cherry valley forever
Today's Document

Origami Around
trying on a metaphor
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

seen from Bangladesh
seen from Argentina

seen from United Arab Emirates
seen from Germany
seen from Togo
seen from Indonesia
seen from Türkiye
seen from Philippines
seen from United States
seen from France

seen from United States
seen from Honduras
seen from United States
seen from Brazil
seen from Ireland

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@theshytmblr
“You were born to pray. So why would you rush during that which you were born for?”
— Husain Abdul Sattar
Apa saja yang sedang terjadi dalam hidupmu saat ini.. mungkin air matamu sudah kehabisan ruang, mungkin tak semuanya mampu diceritakan, mungkin banyak bingung yang entah harus diadukan kepada siapa, mungkin ada lelah yang tak sepenuhnya kamu paham dari mana asalnya.
Barangkali kamu kerap berjalan seperti biasa di hadapan manusia, tersenyum, terlihat baik-baik saja. Padahal ada hati yang diam-diam ingin dipeluk oleh ketenangan yang hanya Allah yang punya.
Maka jika ini bagian dari cara-Nya membentukmu, semoga kamu dikuatkan. Jika ini bagian dari ujian-Nya, semoga dadamu dilapangkan untuk menerima. Jika ini jalan panjang menuju sesuatu yang lebih baik, semoga kamu tidak dibiarkan berhenti di tengah karena lelah.
Apa saja yang sedang terjadi dalam hidupmu saat ini.. mungkin air matamu sudah kehabisan ruang, mungkin tak semuanya mampu diceritakan, mungkin banyak bingung yang entah harus diadukan kepada siapa, mungkin ada lelah yang tak sepenuhnya kamu paham dari mana asalnya.
Barangkali kamu kerap berjalan seperti biasa di hadapan manusia, tersenyum, terlihat baik-baik saja. Padahal ada hati yang diam-diam ingin dipeluk oleh ketenangan yang hanya Allah yang punya.
Maka jika ini bagian dari cara-Nya membentukmu, semoga kamu dikuatkan. Jika ini bagian dari ujian-Nya, semoga dadamu dilapangkan untuk menerima. Jika ini jalan panjang menuju sesuatu yang lebih baik, semoga kamu tidak dibiarkan berhenti di tengah karena lelah.
Beberapa orang tidak senang dengan nasihat. Bukan karena terlalu melukai saat disampaikan. Tapi karena hati mereka enggan tuk disalahkan.
Padahal nasihat adalah sebaik-baik bentuk dari cinta. Yang mengingatkan, yang mengarahkan. Yang mengajak untuk memperbaiki kesalahan. Yang berharap akan lahirnya kebaikan.
Karena nasihat bukan untuk menjatuhkan. Tapi untuk menyadarkan bahwa dalam setiap langkah yang kita arungi di kehidupan ini, ada kalanya kita hilang arah dan berbelok meninggalkan syariat. Ada kalanya prinsip kita mulai kendor dan tak lagi kuat.
Sehingga kita butuh untuk disadarkan sejenak. Dengan apa? Dengan fakta terkait diri kita yang terlampau jauh berjalan. Sehingga kita tidak lagi jeli dengan perintah Allah. Sehingga kita tidak lagi peduli dengan ajaran Rasulullah.
Karena jangan sampai kita sibuk membenahi penampilan diri. Tapi nyatanya yang kurang adalah kepala yang tidak lagi terisi dan hati yang mulai mati.
Maka ketika nasihat itu sampai di depan matamu, cobalah sesekali untuk acuh. Karena boleh jadi ia datang sebagai pengingat yang Allah kirimkan untukmu.
Pengingat jika langkahmu sudah terlalu jauh. Pengingat agar engkau kembali seperti dulu.
Dalam balutan syariat dengan tekad sami'na wa atho'na - kami dengar dan kami taat.
12.05 a.m || 24 Januari 2026
Setiap menonton film, terutama yang bertema agama/keluarga/keduanya, selalu berusaha mengambil hikmahnya.
“Oh ternyata sholat itu benar benar tiang agama ya”
“Karena hanya dia yang dekat dengan Allah, jadilah hanya dia yang selamat”
“Perkataan dan ketikan (di zaman sekarang) yang menyakitkan, itu sangat amat bisa menyakiti orang lain”
Maka selalu kuingat ingat akan kata kata “berkata baik atau diam”
Setidaknya jika pahala kita masih belum banyak, tetapi tidak akan berkurang karena menyakiti orang lain.
perlu waktu
yang namanya kesembuhan hati itu nggak akan terjadi hanya karena waktu. tapi, kesembuhan hati juga nggak akan terjadi tanpa waktu. perlu waktu untuk sembuh. perlu waktu untuk kembali utuh.
take your time, sayang. nggak ada yang ngeburu-buru kamu untuk segera pulih. nggak ada yang bisa memaksa kamu. lagipula, kamu tergesa-gesa mau apa?
take your time, sayang. kamu nggak harus selalu tampil untuk semua orang. boleh kok kamu mengambil jeda sebentar, memeluk dirimu sendiri, menarik napas panjang, menangis.
take your time, sayang. kamu nggak berutang penjelasan kepada siapa-siapa. kamu nggak perlu membuktikan apapun kepada siapapun. kamu hanya butuh... menerima dirimu sendiri, memaafkan semua kekurangannya, memaklumi semua lukanya.
kamu akan sembuh. dengan keyakinanmu yang kuat, Allah akan membantumu. Allah tidak pernah meninggalkanmu. dan Allah memiliki semua waktu yang kamu perlukan.
Pernah ku membaca sebuah tulisan yang berbunyi kurang lebih seperti ini:
“Allah itu menutup aib tiap tiap hambaNya. Jadi jangan sampai diri kita sendiri yang malah membuka aib. Tapi ketika aib itu terbuka hingga diketahui oleh banyak orang, bisa jadi itu sebuah teguran kepada si pemilik aib, karena sudah berkali kali melakukan kesalahan tetapi tak jua bertaubat, sudah berkali kali di ingatkan oleh Allah melalui orang orang terdekatnya, tetapi tak kunjung berhenti.”
Lalu ku pikir, ah… bisa jadi juga ya…
Seperti yang baru saja terjadi.
Seorang istri berzina dengan alasan ekonomi, karena si istri yang lebih besar penghasilannya, karena suami yang tak bisa memenuhi gaya hidupnya. Tetapi malah berakhir semua kontrak kerja istri dibatalkan karena aib istri yang tersebar.
Allahu yahdik.
Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian, dan selalu dijaga oleh Allah di setiap langkah kita, aamiin.
Entah bagaimana sebagian orang berfikir bahwa menyakiti orang lain itu hanya ketika melakukan kekerasan fisik, padahal kata kata yang keluar dari mulut atau yang tertulis di kolom komentar maupun chat juga bisa sama menyakitkannya.
Setiap pulang ke rumah mertua tuh rasanya kaya… pengen muhasabah diri terus🤍🥺
Panasnya itu lho… berasa kayak 1 rumah 1 matahari…😢😭
Gerahnya itu bikin melangkah sedikit aja capekkkk rasanya, ngos ngosan🥺
Bahkan malam hari pun… serasa mataharinya belum terbenam coy😭
Gimana kelak di akhirat, yang matahari jaraknya hanya sejengkal di atas kepala kita…😭😭😭😭
Bye. Sekian muhasabah kali ini.
Sakit sembuh sakit sembuh. Dipaksa sembuh cepat oleh keadaan🧐 sungguh sehat memang nikmat, sampai sampai tidak bisa menikmati rasa sakit🥵
Ya Allah, tolong lindungilah selalu orang tua kami, kakak adik dan saudara kami, suami dan anak cucu kami, aamiin aamiin ♡
D e w a s a
Kapan sih seseorang dapat dikatakan dewasa?
Dewasa ditandai dengan kematangan fisik, psikologis, dan sosial. Mampu untuk mengambil keputusan secara rasional, mengelola emosi, serta memiliki identitas dan konsep diri yang stabil.
Lulus SMA, kuliah, lalu kerja pertama kali pada umur 20 tahun... tapi, setelah diingat ingat, saat itu aku masih merasa seperti anak anak. Pertama kalinya merantau, ternyata tidak semenakutkan itu..
Teman temanku ada yang lebih muda, ada juga yang lebih tua. Dan kami semua bermain dan bekerja bersama. Saat bekerja kami profesional, dan saat bermain kami santai..
"Kenapa sih kamu milih si A? Padahal dia kan childish, aku lebih dewasa dari dia!! *#%#*@,-;;@*@"
"Emang kamu yakin mau sama dia??! nggak apa apa sama masa lalunya?"
Dll...
Dari contoh kalimat tanya diatas? Apakah salah ketika seseorang yang mau menikah itu calonnya masih childish? Lalu apa indikator seseorang itu masih childish atau belum/tidak dewasa?
Padahal orang itu sudah tidak tantrum seperti toddler, sudah bisa mengontrol emosi, sudah bisa melakukan semua kegiatan secara mandiri, bisa mengambil keputusan sendiri meski terkadang ada yang belum bijak, hingga sudah tidak menyulitkan orang lain...
Apakah hal hal itu masih belum cukup untuk membuat seseorang bisa disebut dewasa?
Ada orang yang dulunya pemalu sangat pemalu bahkan hingga bisa dikatakan takut diajak ngobrol oleh orang lain. Takut disapa dan ditanya a i u e o.
Tapi saat orang itu mulai tumbuh semakin besar, lulus sekolah, bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai daerah, jauh dari keluarga karena harus merantau, lalu orang tersebut mulai memberanikan diri untuk berteman, membuka percakapan, hingga bisa akrab dengan orang lain yang berbeda beda karakternya. Bukankah itu dapat dikatakan sebagai sebuah "character development".
Bukankah seseorang yang sudah bisa mengusahakan "character development" itu dapat disebut menuju ke dewasa..?
Lalu karena menemukan kenyamanan dalam berteman, akhirnya sempat "kebablasan" seperti suara tertawanya jadi terlalu kencang..😂
Seiring berjalannya waktu, Ia mendapat teguran, ujian, dan akhirnya belajar lagi hingga membentuk karakter yang baru, yang kembali pemalu, tetapi sudah tidak takut lagi untuk bertemu orang lain, memulai percakapan, hingga berteman dengan orang baru, lebih mindfull dalam hidup, memilih untuk bicara hanya yang penting saja, mulai memilah dan memilih lingkungan yang sesuai dengan kepribadian tetapi tidak anti dengan hal yang berbeda, dan lebih kalem...
Selama Ia hidup dan bersosialisasi pun pasti ada kesalahan. Yang mana, manusia tidak luput dari kesalahan. Manusia merupakan makhluk yang sempurna karena mereka ciptaan Allah. Tapi segala tindak tanduk perbuatan manusia itu ya diciptakan oleh... diri kita sendiri. Kalau mau baik ya jadi baik, tapi memilih yang lain, ya bisa jadi ikut arus yang lain itu.
Jika seseorang mulai lebih memilih menjadi pendiam, mungkin memang dia menemukan kenyamanan disana. atau jika dia lebih memilih menjadi orang yang "grapyak", cheerfull dan mudah hahahihi ke orang lain, bukankah tidak apa juga? Dengan tetap memperhatikan aturan aturan dalam islam tentang bagaimana bergaul. Tapi kenapa harus di cap "childish" hingga tidak dewasa...?
Jika seseorang mulai belajar, berbenah, dan mau meningkatkan diri menjadi ia yang lebih baik dari kemarin, bukankah itu luar biasa...?
Menarik diri bukan karena insecure, tapi untuk melindungi diri sendiri dan keluarganya, untuk membatasi terikut atau terciprat pengaruh buruk dari lingkungan, hingga karena ingin bersantai dan tidak terlalu bergulat dengan hiruk pikuk kehidupan orang lain.
Entah apa pandangan orang lain, selama kita tidak pernah berniat buruk dan menyakiti mereka. Entah apa kata orang lain, yang merasa terusik dengan niat niat baik orang lain.
Kita tidak akan bisa membahagiakan semua orang. Yang tidak suka tak apa, yang suka terima kasih. Yang husnudzon alhamdulillah, yang suudzon bisa menimbulkan penyakit hati. Yang meminta maaf tentu sangat baik, yang memaafkan juga akan mendapat pahala.
Mungkin seperti "cantik" yang relatif, "kedewasaan" juga bisa jadi... relatif...
Dan untuk bilang ke orang lain dengan kata kata seperti "dia kan nggak cantik!! Cantikan juga aku!!" Atau "dia itu childish, lebih dewasa aku!!!" It's.. unnecessary... ☺️
Tapi... siapa kita bisa mengatur orang lain...? ☺️
Kabar Baik yang Kuterima dari Diriku Sendiri Setelah Sekian Lama
Ada kabar baik yang bisa kuberikan kepada diriku sendiri adalah "alhamdulillah aku masih bisa berpikir jernih dan bertahan dalam kondisi saat ini." Aku masih bisa melihat -meski samar- hikmah yang bisa kuambil, masih bisa kunikmati proses yang berliku-liku ini meski aku belum tahu kapan akan berakhir turbulensinya. Aku masih punya teman yang bisa diajak bercerita. Aku masih bisa melihat kebaikan meski setitik kecil aja.
Meski setiap hari aku berjibaku dengan rasa lelah dan sepi, rasa kosong tanpa arti. Hari-hariku berlalu begitu saja tanpa mengajakku beranjak ke mana-mana, ya begini-begini saja seperti biasa.
Aku masih bisa bertahan dan berpikir jernih, bahwa mengakhirnya dengan tiba-tiba adalah keputusan yang bodoh. Aku masih bisa menilai dengan logika bahwa kehidupan ini adalah bagian dari prosesku yang menjadikanku bernilai. Meski seringnya aku gagal menilai baik diriku sendiri, tapi segelintir temanku yang sedikit itu, terus menilaiku dengan baik. Orang-orang yang mengenal latar belakang hidupku, merasa sedikit terbantu dengan keberadaanku.
Aku ingin bersyukur karena aku bisa bertahan sampai sejauh ini, sesuatu yang dulu sering kudoakan untuk segera berakhir saja, tapi aku sadar bahwa aku belum siap jika harus tiba-tiba menemui-Nya dengan keadaanku sekarang. Aku hanya perlu bersabar lebih panjang atas apa yang kuhadapi, sembari menikmati momen-momen baik yang kualami. Menenangkan diri dengan mencukupkan hidupku sesederhana ini, tidak muluk-muluk mencapai mimpi seperti orang lain yang kukenali. Aku cukup menjadi diriku, mencintainya, mensyukurinya, dan menjadi orang baik semampuku. Itu sudah lebih dari cukup. (c)kurniawangunadi
Been there... ☺️ glad Allah guide me and all 🤍
Ya Allah, mudahkan aku yang selalu merasa bersalah atas keputusanku, atas kehendakku, yang mungkin menyakiti hati anakku, yang membuat waktunya begitu terbatas bersama denganku. Semoga Kau mudahkan semuanya… Kau lembutkan hatiku dan hatinya… Dan Engkau yang memberikan solusi atas semuanya…
Sebuah nasihat yang cukup menarik.
Setelah kamu melakukan yang perlu, let it be. Tidak semua situasi harus kamu benahi sampai orang lain happy.
Meniti Jalan yang Samar dengan Keyakinan
Kita nggak tahu siapa yang akan jadi pasangan hidup kita, tapi kita yakin untuk terus berjalan ke arah sana dengan persiapan sebaik-baiknya. Bahkan, saat kita merasa persiapan kita sudah sebaik itu, umur kita terus beranjak hingga kepala tiga tapi tak kunjung tiba ke perlaminan. Kita masih dengan keyakinan yang sama, bahwa kita akan tiba, nanti.
Hidup ini adalah sekumpulan ketidakpastian. Dan semakin dewasa, kadang kita semakin ragu sama jalan ke depan, karena begitu samarnya apa yang ada di jauh sana. Kita nggak tahu, apa yan ada di masa depan, tapi kita memilih untuk terus melangkah maju. Dengan rasa was-was, takut, tapi sekaligus yakin.
Sebab kalau kita memilih untuk berhenti, dengan hal-hal pasti yang kita miliki saat ini. Kita sadar bahwa mungkin ini semua juga akan hilang suatu hari.
Untuk itu, kita tahu bahwa jalan satu-satunya untuk bertemu dengan masa depan adalah tidak berhenti melangkah. Meskipun dengan rasa takut, tetap jangan berhenti. (c)kurniawangunadi
Menasihati Diri Sendiri
Kehidupan dunia itu kalau dikejar, melelahkan, dan tidak akan ada ujungnya.
Kamu boleh berhenti, tapi setelah mencoba melakukan semua hal yang bisa kamu kendalikan.
Masalah itu pasti akan terus menerus ada, di tahapan hidup manapun, di siapapun. Jadi, banyak-banyaklah belajar dari orang lain yang telah melewati masalah-masalah yang sedang dihadapi. Biar nggak stuck.
Nggak perlu ngurusin orang yang banyak drama.
Rezeki itu dari Allah, bukan dari manusia, bukan dari tempat kerja. Jadi, nggak usah takut buat ngambil keputusan besar kalau di kerjaan itu udah nggak lagi sejalan sama nilai-nilai yang kamu pegang.
Belajarlah untuk bertabayun, karena kamu pernah di fase hanya mendengarkan satu persektif seseorang dan kamu percaya, tapi akhirnya kamu sadar bahwa orang yang kamu dengarkan itulah yang sedang bermasalah hidupnya. Jangan telan mentah-mentah apa kata orang lain tentang seseorang sampai kamu menemukan buktinya.
Kalau kamu lagi buntu sama jalan yang diambil, itu bukan karena jalannya memang buntu, tapi kita kadang nggak sadar kalau sebenarnya kitalah yang bertugas untuk membuka jalan itu. Karena tujuanmu memang harus menempuh jalan yang belum pernah ada. Jadi, jangan dulu menyerah! Kamu ingin menasihati apa untuk dirimu sendiri?