Hari Minggu yang tenang di Glasgow. Hari ini, niatnya nugas. Harusnya nugas, sebab ada deadline beruntun di akhir bulan. Seperti biasa, distraksi selalu ada (komitmennya, “I’ll just take a five-minute break,” lalu jadi one-hour break). Gangguan kali ini adalah nostalgia menelusuri hashtag #crushonyounovel di Instagram.
Beberapa komentar di sana buatku adalah bukti hubungan sebab-akibat antar manusia (kita biasa menyebutnya ‘orang asing’), yang masih membuatku terpukau setiap kalinya. Hubungan tangan pertama yang aku punya tentang novel ini hanya dengan editor, sekretaris penerbit, penyiar radio, dan sahabat-sahabat yang ingin tahu/mendukung/pesan buku. Benar-benar di luar perhitungan kalau apa yang ditulis nantinya bisa singgah di pikiran orang lain (I won’t go as far as ‘influencing their mind’). Orang lain yang tak saling kenal, entah tinggal di mana, dan (surprisingly) rata-rata masih berseragam sekolah.
Melihat rentang umur pemberi komentar-komentar yang menghangatkan hati di hashtag tadi, aku jadi kilas balik ke jaman SMP ketika setiap pulang cepat di hari Jumat sering pergi ke perpustakaan daerah yang waktu itu masih berlokasi di Jalan Cikapundung. Itu tiga belas tahun lalu, namun beberapa ide novel yang kubaca di kala itu masih melekat sampai sekarang.
Dulu, pengarang hanya bisa dijangkau lewat surat-menyurat dan acara tatap muka. Sekarang, ada medsos di mana kita bisa memilih untuk mengumbar pikiran (dan perasaan?) kalau mau. Pengarang yang dulu hanya sebatas nama di sampul buku, dan terasa begitu jauh, sekarang jadi bentuk tiga dimensi berupa userid, avatar, caption, foto dan video. Kita bisa tahu lebih banyak tentang orang asing di medsos ketimbang tentang tetangga sendiri.
Kini, pemahaman sebab-akibat bukan lagi garis lurus dari ‘mulai’ ke ‘berhenti’, tapi jadi satu lingkaran penuh. Diawali dari produk hasil passion/hobi/iseng/emosi baik yang terencana maupun spontan, kemudian menyulut suka/benci/senang/kesal entah di benak siapa, komentar sporadis di medsos yang menyentuh perasaan, lalu lingkaran kembali berulang.
Walaupun berkali-kali kita bilang ‘dunia sempit’, aku selalu terkejut bagaimana mudahnya semua yang ada di dunia ini bisa terhubung satu sama lain. Seperti energi yang selalu kekal tapi berubah wujud, setiap aksi akan membawa reaksi. Kita tak perlu tahu apa, di mana, atau bagaimana, cukup yakinlah kalau reaksi pasti ada. Bukankah kebaikan sebesar zarahpun akan dibalas?
Teorinya mudah. Tapi, bagaimana caranya menghitung probabilitas lingkaran aksi-reaksi ini melibatkan 7 milyar manusia dan variabel kehidupan di antaranya? Mungkin, inilah satu lagi bukti betapa konsep yang sederhana tak selalu mudah dimengerti.
Oke, aku harus kembali ke tugas. Di akhir tulisan racau ini, aku ingin berterima kasih untuk semua yang masih mengingat secuil detail interaksi antara kita, langsung maupun lewat karya sebagai perantara, bagaimanapun tidak pentingnya itu, sependek apapun itu, terlepas dari medium yang kita gunakan dulu. It means a lot to me.
This desire to claim a space and live in someone else’s brain cells is just another selfishness of being a human, I guess.
Penginapan Dua Ratus Ribu-an di Hong Kong (atau di mana saja)
Jaman sekarang, rasanya traveling sudah jadi hobi setiap pemuda dan pemudi. Saking mainstream-nya hobi yang satu ini, mungkin sebentar lagi traveling akan masuk sebagai salah satu klausul HAM. Hehe.
Aku termasuk golongan mainstream itu. Alhamdulillah dari kecil ga pernah sekalipun mabuk darat/laut/udara meskipun tiap tahun mudik bermacet-macetan lintas pulau Jawa. Dari di kandungan memang udah didesain biar tahan banting.
Buat aku, faktor pertama pencetus minat traveling adalah tiket murah. Kadang, tujuan ga jadi masalah. Ke manapun asal aman, ada waktu, ada budget, dan belum pernah kujamah(?), ayo let's go deh.
Setelah ada tujuan, hal pertama yang kulakukan yaitu menyusun itinerary. Pilih beberapa objek wisata tujuan lalu atur rutenya biar jarak yang ditempuh adalah yang paling pendek. Biar efisien waktu dan ongkos transportasi dalam kota. Perkara ini serahkan saja pada Google Maps. *aku generasi gugel*
Habis itinerary, terbitlah masalah akomodasi. Oh ya, aku tergolong jarang banget pakai jasa travel agent.
Prinsip #63
Hanya menggunakan jasa travel agent kalau pergi dalam rombongan besar (azas kepraktisan biar tetap bisa enjoy), atau ke tempat terpencil yang informasinya ga bisa diakses melalui internet.
Misalnya, pergi ke tempat terpencil di Indonesia.
Kalau tujuannya berlibur ke negara yang sistem tranportasi publiknya sudah maju, aku lebih pilih mengatur semuanya sendiri kalau sempat.
Seperti saat terakhir kali liburan ke Hong Kong dan Macau.
Awalnya, senang banget waktu nemu tiket pesawat diskon buat ke sana. Langsung borong tanpa permisi. Yang dibayangin cuma Disneyland dan arsitektur tua peninggalan Portugis. Terus begitu browsing harga akomodasi... yang ada gigit jari.
Satu hal yang jelas: Hong Kong dan Macau itu nggak murah buat kelas menengah kita yang bergaji rupiah.
Sebagai perbandingan, suatu hotel internasional bintang tiga merek I di Jakarta pasang harga Rp400ribuan semalam. Tapi, hotel internasional I itu mematok harga Rp1,3juta di Hong Kong per malamnya. Macau lebih parah lagi.
Sederhananya kalau main pukul rata, harga di Hong Kong itu TIGA KALI LIPAT dari Bandung atau Jakarta.
Ada sih, yang harganya dua ratus ribuan. Tapi semacam asrama isi 10 orang per ruang. Masalahnya, aku bawa mama yang bisa dipastikan mengalami culture shock kalau pilih opsi ini.
Ada sih, double/twin room yang harganya empat ratus ribuan. Tapi kamar mandinya sharing sama kamar lain. Kasihan juga kalau memaksa mama nostalgia pengalaman nge-kostnya dulu.
Bagaimana dengan Macau? Hotel termurah yang aku temukan harganya dua juta per malam. BYE.
Setelah bersemedi cukup lama, ilham turun juga.
Ide #85
Hotel/hostel/losmen kan bukan satu-satunya opsi akomodasi.
Lalu, aku ingat beberapa review dari pelancong yang pernah pakai Airbnb. Jadi, Airbnb ini semacam platform yang bisa digunakan siapa saja. di mana saja, untuk transaksi sewa-menyewa seputar akomodasi.
Uniknya, objek sewanya bisa bermacam-macam. Mau nyewa satu rumah/apartemen full? Bisa. Nyewa satu lantai aja? Ada. Nyewa satu kamar aja? Boleh. Bener-bener free trade dan free market. Neolib gitu lah.
Yang mana saking pesatnya pertumbuhannya, kehadiran Airbnb ini sampai dipandang sebagai ancaman oleh industri perhotelan di banyak negara.
Tapi, ini kabar baik buat para budget travelers. Termasuk aku.
Setelah berjibaku dengan layar laptop dan koneksi internet untuk ngubek-ngubek websitenya Airbnb,
...aku pun
...menemukan
...apartemen dua kamar tidur di Hong Kong
...yang kalau dibagi prorata
...per orangnya cuma DUA RATUS RIBUAN per malam!
Bukan hostel dengan ranjang susun, lho. Dikasih kamar mandi sendiri. Tipi sendiri. Ada wifi. Aih, bukankah semua persoalan terjawab dengan wifi?
Terima kasih Airbnb, akhirnya jadi juga liburan.
Sebentar, ini belum happy ending. Baru deh terpikir. Kalau sore-sore pengen ngopi gitu, gimana ya? Atau kalau tengah malam mendadak ngidam ind*mie.
Dengan penuh hasrat harap, aku mengirim pesan ke Host (istilah untuk pihak yang menyewakan) melalui menu website Airbnb. Sempet deg-degan, eleuh gimana kalau host-nya jutek, gimana kalau ada hambatan bahasa...
Dan dibalas kurang dari setengah hari dooong. Jawabannya sangat melegakan hati. "Kita sediain peralatan masak di sini." Yay bisa bawa ind*mie ke Hong Kong! Mengingat harga satu porsi makanan di Hong Kong yang kalau di sini setara rumah makan padang aja mencapai Rp200,000-an, tentu sangat meringankan kalau ada fasilitas di mana kita bisa nyeduh minuman atau makanan instan selama liburan.
Overall, my stay with Airbnb was a pleasant one. Enaknya, ada kolom review untuk setiap properti yang listing. Jadi, kita bisa tahu pengalaman traveler lain yang pernah menginap di sana sebelum menentukan pilihan.
Berita baiknya, karena aku sudah pernah pakai jasa Airbnb, aku bisa bagi-bagi voucher/kupon diskon senilai Rp300,000-an buat kamu yang berencana liburan. Kamu, iya, kamu.
Seorang kawan menyelamatiku, "Congratulation! Now, you are officially an author."
Seorang pengarang, katanya. It felt, and still feel, like magic. Ini adalah salah satu milestone penting dalam hidupku tetapi aku masih belum percaya.
Ada kontrak bermaterai, wawancara, sesi talkshow di radio, kuis di majalah, mention pujian (kritik juga ada) dari pembaca di medsos, teman-teman yang antri PO bertanda-tangan, yang mengajak bertemu untuk foto bareng. Pernahkah kamu merasa mendapatkan sesuatu yang too good to be true for yourself? Yah, begitulah rasanya.
Tapi, ini ternyata realita. Kenyataan yang aku sangat syukuri. So, dreams do come true. Alhamdulillah.
Tentunya, people only see you in the spotlight. Should I tell you the backstage? Or not. Or maybe, just a little.
Hobi menulisku dimulai dari... menulis buku harian saat SD. Inget buku harian bergembok yang dulu tren di kalangan anak 90-an? Sayangnya, dulu aku ga punya yang seperti itu. Alhasil, adikku sering mencuri si buku harian dan membacakannya keras-keras ke seisi rumah. Besoknya, kita saling main petak umpet untuk menyembunyikan buku harian masing-masing.
My first official writing was a short story published by Pikiran Rakyat in 2007 yang mana inspirasi ceritanya datang karena lagi patah hati. Cieh. Tuh kan, galau bisa jadi produktif. Gara-gara waktu itu masuk koran, aku langsung bisa move on. semua ada hikmahnya
Mulai aktif menulis lagi sejak pertengahan kuliah, puncaknya yaitu saat jadi mahasiswa tingkat akhir sampai setahun setelah lulus. Daftar lengkapnya ada di halaman portfolio.
Di masa inilah aku rajin menulis untuk diikutkan lomba. Alasannya sederhana, berburu hadiah. Lumayan, pernah dapat uang saku, menginap di hotel bintang lima, ponsel, laptop, tiket konser, nonton rapat DPD RI, kursus menulis privat sama Sitta Karina, jadi satu-satunya orang Indonesia yang menang di salah satu lomba esai internasional, sampai foto bareng Lee Min Ho (asli, bukan KW). Terdengar asyik? Memang.
Tapi, untuk jadi finalis di 5 lomba, aku harus ikut sekitar 30 lomba. Dengan kata lain, peluang menangnya kecil. Ditambah lagi, nggak semua panitia lomba itu kredibel. Ada yang hadiahnya ga cair, ada yang lombanya mendadak ditutup setelah submission, ada yang pemenangnya nggak pernah diumumkan. Belum lagi momen-momen kekalahan yang bikin patah hati setelah menghabiskan banyak waktu dan energi menulis suatu entri lomba. sakitnya tuh di siniii
Seiring kesibukan berkarier, aku berhenti ikut lomba. Tapi, ada satu draft novel di tangan. Mau diapain, ya? Seusai lulus sidang akhir, aku sengaja menganggur dua bulan untuk menulisnya. Tapi, nggak pede...
Akhirnya, butuh satu tahun untuk mengumpulkan rasa pede sebelum mengirim draft itu ke GagasMedia. Satu bulan masa tunggu sampai ditelepon pertama kali sebagai konfirmasi kalau novel itu akan diterbitkan. Wuih, aku sampai loncat-loncat saking senangnya.
Nyatanya, _happy ending _itu masih panjang. Novel pertamaku masih butuh satu tahun lagi sebelum lahir ke dunia. tsah
Lho, tunggu apa lagi? EDITING, kak, EDITING. Suatu proses penguji ketahanan mental di mana hubungan antara penulis dan editor itu persis seperti mahasiswa tingkat akhir dan dosen pembimbing.
Bedanya, kalimat "Kamu boleh sidang" diganti dengan "Kontrak penerbitan akan segera dikirim".
Dan, inilah novel pertamaku.
Bisa diperoleh di Gramedia, berbagai toko buku online (seperti bukabuku.com), atau Google Play Store.
_Please do buy. _Hehehe.
Terima kasih atas dukunganmu. Nantikan juga adik-adiknya, ya.
Sama seperti kemarin, agenda besar hari ini adalah menjelajah pulau dan snorkeling… ditambah berenang bersama hiu. Ups.
Tidak terlalu jauh dari dermaga, perahu berdiri di depan bangunan yang didirikan di tengah laut, dekat dengan Pulau Menjangan Besar. Yep, inilah penangkaran hiu sirip hitam yang terkenal itu. Ada dua kolam, yang kanan dan yang kiri. Hiu di kolam kiri merupakan jenis blacktip reef shark, yaitu hiu warna abu dengan sirip hitam-putih. Hiu yang tinggal di karang ini terancam punah karena siripnya menjadi bahan sup sirip hiu yang terkenal mahal. Meskipun berbagai literatur mengatakan hiu jenis ini tidak terlalu agresif, tetap saja rasanya deg-degan untuk berendam setinggi dada di kolam penangkaran bersama mereka. Pemandu menyarankan untuk bergerak tenang selama di dalam kolam hiu. Hiu-hiu ini hampir tidak pernah menyerang penyelam kecuali kalau diprovokasi. Tarif masuk penangkaran hiu Rp5.000/orang.
Entah apa nama hiu yang tinggal di kolam sebelah kanan. Beberapa wisatawan menyeletuk, “Ini hiu atau ikan sapu-sapu raksasa?” Sebab, warnanya hitam kemerah-merahan dan bentuk badannya agak pipih.
Hiu yang mirip ikan sapu-sapu raksasa *maaf ya oom hiu*
Bergerak was-was di sarang hiu
Setelah basah kuyup berenang bersama hiu-hiu yang cantik sekaligus menyeramkan, perjalanan dilanjutkan. Tujuannya adalah snorkeling di lepas pantai Pulau Tanjung Gelam. Awak kapal mematikan mesin perahu, para wisatawan berebut memilih snorkel gear lalu menceburkan diri. Seperti biasa, dua orang pemandu bahu-membahu menjadi fotografer bawah air dadakan bagi seluruh wisatawan yang haus berfoto. Hanya dalam dua hari, kartu memori kamera milik agen terisi ratusan foto para wisatawan.
Hampir tiba saatnya makan siang. Para pemandu memastikan seluruh wisatawan telah naik ke atas perahu, lalu perahu berlabuh di tepi Pulau Tanjung Gelam. Pulau ini identik dengan deretan pohon kelapa yang berjejer di tepi pantai. Mereka bergerak berirama tertiup angin; seolah-olah menyambut para wisatawan yang datang berkunjung.
Pemandangan yang menyambut kami di Pulau Tanjung Gelam
Selain barisan pohon kelapa, bebatuan dwiwarna ini adalah ciri khas lain dari Pulau Tanjung Gelam
Cumi-cumi seukuran sandal pria nomor 42 yang terdampar begitu saja di antara bebatuan tepi pantai. Hidupnya berakhir di perut para pemandu.
Aktivitas wisatawan di laut pada hari itu berakhir di lepas pantai Pulau Menjangan Kecil. Ini adalah tempat snorkeling sempurna bagi wisatawan yang ingin berinteraksi dengan ratusan–ya, ini harfiah–ikan. Syaratnya hanya satu: membawa roti tawar saat snorkeling. Remaslah selembar roti tawar di tangan hingga hancur menjadi serpihan-serpihan kecil, niscaya ratusan ikan warna-warni akan menghampirimu. Ada rasa damai yang timbul melihat mereka berenang bergerombol dengan teratur. Uniknya, berapa kalipun tangan penyelam berusaha menyentuh mereka, ikan-ikan kecil ini bisa menghindar. Ternyata kelincahan mereka berbanding lurus dengan kecantikannya. Hal unik lain dari titik snorkeling ini adalah percampuran arus air hangat dan air dingin.
Menemui ikan-ikan cantik
Laris-manis diserbu gerombolan ikan
Sekian cerita tentang petualangan bahari di Karimun Jawa. Tak terasa, besok adalah hari kepulangan. Tentu saja sebagai orang Indonesia asli, tempat terakhir yang tidak boleh luput dijamah adalah: pusat suvenir dan oleh-oleh.
Kami mendapat info kalau di Jalan Diponegoro ada beberapa toko oleh-oleh. Tidak hanya itu, pemandu bahkan memberi tahu oleh-oleh khas Karimun Jawa: tasbih dan tongkat kayu. Yep, bukan makanan hasil budidaya laut, melainkan tasbih yang biasanya identik dengan tempat wisata bernuansa agama.
Seperti biasa, lokasi pusat oleh-oleh ini bisa dicapai dengan berjalan kaki. Benar saja, ada dua toko yang khusus menjual tasbih dan tongkat kayu. Di dinding, tertempel kertas bertuliskan ‘ASLI KAYU DEWADARU’. Saya bertanya sambil memegang tongkat kayu sepanjang +- 60 cm, “Berapa harga tongkat kayu ini, Pak?” Dijawab dengan, “Empat ratus ribu rupiah.” Sontak, saya letakkan tongkat kayu itu kembali ke tempat asalnya. Selidik punya selidik, kayu Dewadaru (nama lainnya adalah Nagasari) adalah kayu langka yang menjadi salah satu ritual pesugihan kuno di Gunung Kawi Jawa Timur, bahan jimat, serta dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Pantas saja harganya sukses membuat orang awam membelalakkan mata. Bahkan, ada mitos yang berkata bahwa kayu dewadaru tidak boleh dibawa keluar Karimun Jawa karena akan menimbulkan angin kencang yang membuat perahu karam. Yang kritis pasti bertanya, “Kalau tidak boleh dibawa pulang, mengapa dijual di toko oleh-oleh?” Namanya juga mitos.
Contoh tongkat dan tasbih seharga ratusan ribu rupiah
Selain tongkat kayu dan tasbih, tersedia kaus dan gantungan kunci beraneka motif. Tanpa sengaja, saya mengambil kaus yang bertuliskan, “You are committing a dangerous trade by purchasing souvenirs made from species living in coral reef” Glek, seketika saya melirik beberapa gantungan kunci yang berisi kepiting kecil yang diawetkan.
Di perempatan Jalan Diponegoro, ada gerobak kuliner dengan spanduk bertuliskan ‘MARTABAK BANDUNG’. Lumayan untuk mengganjal perut sebelum berkemas untuk kepulangan besok dan mengakhiri hari.
Hari Keempat
Apabila saat berangkat kami menaiki KMP Muria, untuk kepulangan kami memilih naik Kapal Cepat Bahari. Kapal ini berangkat pukul 08:00 dari Karimun Jawa. Dibandingkan Muria, Bahari dua setengah kali lebih cepat. Tentu saja ada harga khusus yang harus dibayar. Selain tiket seharga Rp80.000-90.000, penumpang pun disuguhi sensasi menaiki kora-kora di Dufan pada setiap detiknya. Sebab, perahu akan terangkat sekian derajat ke udara lalu terbanting ke permukaan setiap membentur ombak. Yang cenderung mabuk laut disarankan menyiapkan amunisi seperti obat anti mabuk, minyak kayu putih/aromaterapi, dan kresek hitam sebagai upaya terakhir.
(1) Pick-up yang menjemput wisatawan di homestay, (2) Interior Bahari, (3) Deburan ombak setiap beberapa detik, (4) Papan pelabuhan
Pukul 10:30, kapal menepi di Pelabuhan Penyeberangan Jepara. Perjalanan belum berakhir sampai di sini. Jadwal keberangkatan bus yang kebetulan hanya ada pada sore hari membuat kami harus menunggu selama enam jam. Untungnya, pelabuhan di sana tergolong aman. Kami menumpuk tas di depan warung makan (yang menjadi tempat sarapan saat berangkat), lalu memutuskan untuk melancong ke sekeliling pelabuhan. Hampir sepuluh penarik becak dan bentor yang mangkal di depan warung makan masing-masing meyakinkan, “Tasnya ditinggal aja, biar saya jagain.”
Setelah membawa dompet, ponsel, dan kamera, petualangan dadakan pun dimulai. Tak jauh dari pelabuhan, ada penyewaan motor mini hasil modifikasi. Motor-motor yang dibentuk mirip motor trail dan ATV ini disewakan dengan harga Rp20.000 per 20 menit (belum ditawar). Lumayan untuk mengisi waktu luang.
Pilih yang mana?
Kejutan tidak berhenti sampai di situ. Ada seekor elang laut perut putih yang dikurung dalam sangkar persegi panjang besar di tempat yang menyerupai alun-alun. Elang ini cukup sadar akan ketampanannya dan selalu tahu bagaimana caranya berpose.
Sekali waktu, ia membentangkan kedua sayapnya yang lebarnya mencapai 1,5 meter
Tak terasa, waktu keberangkatan bus semakin dekat. Kami pun bergegas berjalan menghampiri warung makan. Penarik-penarik becak dan bentor tadi menepati janji, tas-tas kami masih ada di tempatnya semula.
Biaya
Total biaya pokok per orang untuk perjalanan yang dilakukan pada bulan September 2012 ini adalah Rp796.000 dengan rincian sebagai berikut:
Rp595.000 Paket wisata Jepara-Karimun Jawa-Jepara all-in termurah selama 4 hari 3 malam (disediakan oleh banyak agen wisata, bisa ditemukan di mesin pencari), sudah termasuk tiket KMP Muria dan Kapal Cepat Bahari
Rp90.000 x2 Bus Bandung-Jepara-Bandung
Rp10.000x2 Becak atau bentor dari terminal ke pelabuhan Jepara
Rp1.000 Bea masuk pelabuhan
Tips-tips
Hindari bepergian ke Karimun Jawa pada bulan Januari-Juni. Cuaca dan gelombang yang tidak bersahabat bisa menghalangi aktivitas atau bahkan menunda waktu kepulangan.
Saat ini, banyak agen wisata yang menawarkan paket wisata untuk ke Karimun Jawa. Cermatlah dalam memilih paket, setidaknya lama berlibur harus melebihi panjangnya perjalanan yang ditempuh. Misalnya, paket “3 hari 2 malam” sesungguhnya hanya menyediakan waktu satu hari untuk berlibur, sebab hari pertama dan terakhir ‘habis’ untuk perjalanan. Apabila wisatawan berasal dari provinsi lain yang membutuhkan waktu tempuh sampai sehari penuh, agak sayang rasanya apabila hanya mengambil paket 3 hari 2 malam.
Listrik hanya menyala dari pukul 18:00 sampai dengan 06:00. Jangan lupa untuk mengisi ulang baterai perangkat elektronik (ponsel, kamera, dll) di malam hari.
Jangan lupa untuk membeli roti tawar sebelum snorkeling di lokasi yang banyak ikan seperti Pulau Kecil dan Pulau Menjangan Kecil.
Untuk mencegah kulit terbakar, jangan lupa mengenakan sunblock sebelum beraktivitas.
Bagi yang mengikuti paket wisata, biasanya pemandu akan menyediakan jasa foto underwater gratis sepuasnya. Bawalah flashdisk untuk meng-copy foto-foto dari kamera pemandu.
Please take nothing but pictures, please leave nothing but footprints. Mari sama-sama menjaga keasrian tempat wisata agar bisa terus menjadi kebanggaan bangsa.
Akhir kata, selamat mengeksplorasi keindahan Karimun Jawa dan jatuh cinta (lagi dan lagi) kepada Indonesia!
Dua tahun lalu, takdir (ihiy) membawa saya ke salah satu surga dunia. Namanya, Karimun Jawa. Entah mengapa, tulisan ini hanya rapi tersimpan di folder laptop. Walaupun nominal harga pasti berubah karena inflasi, rasanya garis besarnya masih relevan. Sharing is caring, so... enjoy my story!
Itulah kalimat yang tepat untuk mengungkapkan keindahan Karimun Jawa. Berita baiknya, tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk bertamasya ke salah satu dari tujuh taman laut nasional yang ada di Indonesia ini. Berikut adalah ringkasan liburan secara umum selama empat hari tiga malam di Karimun Jawa.
Hari Pertama
Setidaknya, ada tiga alternatif menuju Karimun Jawa:
(1) Membawa kendaraan pribadi, menitipkannya di pelabuhan Jepara dengan tarif Rp25.000/hari, lalu menyeberang dengan feri
(2) Naik bus sampai terminal Jepara lalu disambung naik becak atau bentor (becak-montor) dengan membayar Rp10.000/2 orang plus bea masuk pelabuhan Rp1.000/becak. Terakhir, naik feri.
(3) Naik pesawat sampai ke Semarang dan naik feri yang menuju Karimun Jawa dari pelabuhan Semarang.
Bagi backpacker, bus menjadi moda transportasi yang paling banyak dipilih. Sebagai perbandingan, harga tiket bus Bandung-Jepara (12 jam perjalanan) dipatok mulai dari Rp85.000 sudah termasuk makan malam.
(1) Becak dan bentor di terminal, (2) jalanan Jepara pukul 07:00 yang lengang, (3) warung makan di pelabuhan, (4) di dalam KMP Muria kelas ekonomi
O ya, nama lengkap pelabuhan adalah Pelabuhan Kartini Jepara. Bagi wisatawan yang sampai terlalu pagi di pelabuhan, jangan khawatir tentang sarapan. Sambil menunggu keberangkatan feri, wisatawan bisa mengunjungi warung prasmanan yang buka dari pagi sampai malam dan menyediakan nasi lengkap dengan lauk-pauk populer seperti ayam goreng, telur balado, sambal terasi, sambal goreng ati-rempela, dll. Seporsi nasi, ayam goreng, sambal terasi, dan teh manis panas dihargai Rp16.000.
Ada tiga jenis feri yang menuju Karimun Jawa, yaitu feri dengan kecepatan ekspres (1,5 jam), cepat (2,5 jam), dan standar (6 jam).
KMP Muria, feri dengan kecepatan standar, berangkat sekitar pukul 09:00. Harga tiketnya hanya Rp40.000, namun wisatawan dapat meng-upgrade tiketnya ke kelas VIP dengan menambah Rp25.000. Fasilitas kelas VIP yaitu tempat duduk sofa dengan sandaran adjustable, pendingin ruangan (yang benar-benar dingin), toilet terpisah, dan
televisi yang terus-menerus memutar film box office.
Selamat datang di Karimun Jawa!
Sekilas Karimun Jawa
Penginapan di Pulau Karimun Jawa pada umumnya berbentuk homestay alias kamar kos dengan kamar mandi luar. Biaya penyewaan kamar sekitar Rp100.000/malam. Fasilitasnya adalah kasur king size, kipas angin, meja rias, terkadang termasuk lemari. Ada juga cottage terapung di bibir pantai, seperti yang terdapat di Pulau Tengah, dengan harga mulai dari Rp750.000/malam.
Hari pertama biasanya dihabiskan dengan istirahat, berburu foto matahari terbenam, dan jalan-jalan di sekitar homestay. Saat malam hari, wisatawan yang bosan biasanya berkumpul di alun-alun untuk menikmati kelapa muda (Rp10.000), sop buah (Rp5.000), siomay (Rp7.000), atau ikan bakar(>Rp40.000); yang disantap sambil berbincang di atas tikar.
Hari Kedua
Berbeda dengan Pulau Tidung, titik-titik snorkeling di Karimun Jawa harus ditempuh dengan berperahu cukup lama –sekitar satu jam. Tidak heran kalau aktivitas snorkeling biasanya memakan waktu sehari penuh.
Destinasi kami hari ini adalah Pulau Tengah, Pulau Kecil, dan Pulau Gosong. Seluruh peserta dari beberapa grup wisatawan diminta berkumpul di dermaga pada pukul 09:00. Dermaga ini hanya berjarak +- 100 meter dari alun-alun dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Perahu yang dipakai untuk membawa wisatawan berkapasitas 30 orang.
Perahu yang dinaiki. Yang paling kanan adalah salah satu pemandu. Rasa-rasanya, seluruh pemandu di sana patut diberi julukan ‘manusia ikan’ karena kemampuan menyelam dan menahan nafas mereka.
Setelah melewati beberapa pulau, wisatawan sampai di titik snorkeling pertama: lepas pantai Pulau Tengah. Kedalaman yang variatif (3-20+ meter) membuat nyaris tidak ada ikan yang menghampiri. Di sisi lain, terumbu karangnya menjadi cukup variatif baik dari bentuk maupun ukuran. Sesi snorkeling berlangsung antara 45 menit sampai dengan satu jam.
Pada awalnya, saya pikir snorkeling adalah semata-mata tentang kemampuan berenang. Yang jago renang pasti bisa snorkeling, sebaliknya, yang nggak bisa renang nggak akan bisa snorkeling. Kenyataannya, anggapan itu tidak selalu benar. Snorkeling membutuhkan kesiapan mental. Meskipun disediakan pelampung yang jelas-jelas aman, wisatawan tetap membutuhkan nyali untuk menceburkan diri ke dalam air dan mengatur nafas lewat mulut. Ketenangan dalam menyesuaikan diri mengenakan breathing equipment dan snorkel fins menjadi ukuran seberapa jauh seseorang dapat menikmati aktivitas snorkeling.
Menyeramkan? Nggak juga. Sebagai warga negara kepulauan terbesar di dunia, sayang sekali kalau tidak dapat menikmati keindahan bawah laut Indonesia. Tahukah kamu, hanya 0,01% area laut yang ditumbuhi terumbu karang dan sebagian besar dari jumlah itu ada di wilayah laut Indonesia?
Seusai snorkeling, perahu menepi di Pulau Tengah. Sembari menunggu para pemandu membakar ikan untuk makan siang, wisatawan dipersilakan berkeliling pulau. Pulau Tengah dapat dikenali dengan gradasi warna air laut serta terumbu karang yang jelas terlihat bahkan dari atas permukaan. Pasir putih di pinggir pantai terasa lembut dan hangat. Saking lembutnya, kaki akan terbenam sampai semata kaki saat berjalan di pesisir.
Bagian depan Pulau Tengah
Bagian belakang Pulau Tengah. Bayangkan tidur siang beralaskan pasir putih empuk, di bawah teduhnya naungan pohon, diiringi backsound deburan ombak
Tak lama kemudian, pemandu berkeliling pulau memanggil para wisatawan. Makan siang kala itu terbuat dari nasi putih, ikan bakar gurih, sambal kecap, sambal terasi, dan tumis aneka sayuran. Para wisatawan duduk melingkar di atas tanah lalu makan dengan nikmat di bawah pohon kelapa.
Setelah kenyang, seluruh wisatawan dan pemandu naik ke atas perahu lalu menuju Pulau Kecil. Di ujung dermaga, mesin perahu dimatikan. Seluruh wisatawan loncat dari atas perahu tanpa ragu-ragu karena mulai terbiasa. Terumbu karang di dasar pantai Pulau Kecil lebih bervariasi dibandingkan di Pulau Tengah. Wujud fantastis, ukuran gigantis. Imajinasi membawa wisatawan menelusuri hutan belantara bawah laut itu seraya bergumam dalam hati, “Oo, terumbu karang yang itu mirip brokoli. Yang itu, otak. Yang itu, kura-kura raksasa.” Ada terumbu karang yang ‘hanya’ seukuran meja makan, namun ada juga yang seukuran mobil sedan. Di sini, wisatawan juga mempelajari trik untuk mengundang puluhan ikan mungil penghuni terumbu karang. Caranya, gerakkan tangan dengan pola kuncup-membuka terus-menerus. Ikan-ikan telah menghapal gestur itu sebagai tanda penyelam yang membagikan makanan.
Snorkeling di Pulau Kecil. Bayangan di belakang itu adalah kaki-kaki dermaga.
Foto ini bukan cuplikan film kartun atau hasil rekayasa piranti lunak grafis. Ini asli!
Aktivitas hari ini disudahi dengan menapakkan kaki di Pulau Gosong... yang sukses bikin badan gosong. :P Pulau yang merupakan sebidang tanah berbentuk persegi panjang ini dikelilingi perairan dangkal nan tenang sampai dengan radius +- 20 meter. Tak heran apabila perahu diberhentikan agak jauh dari pinggir pulau agar wisatawan dapat merasakan kejernihan airnya yang berwarna hijau muda. Saat meloncat turun dari perahu, ketinggian air mencapai sepinggang. Tiba-tiba, saya melihat sepasang ikan warna biru-hijau terang dengan garis merah yang berenang gesit di kedalaman air satu meter.
Dear friends, I'm about to release my first novel that I've been working on since 2012. This novel is greatly influenced by my campus life in #Bandung. Buat adek-adek (jadi berasa tua, hiks 😖), this novel will give you insight to realistic life as a college student. Buat kakak-kakak, boleh lho kalau mau nostalgia jaman jadi mahasiswa dengan baca fiksi ini. That's it for now, I'll keep you updated about the release date. 😉 #CrushonYouNovel
DAY 4 – Madame Tussauds, Siam Paragon Mall, Don Mueang Airport
None of us could believe that it was the last day already. *screaming from afar* We breakfasted in hotel, then fetched a cab and went straight to Siam Discovery. Today’s blessing is that our taxi driver was very friendly and communicative this morning. Upon knowing that we are Indonesian, he told us his vacation to Bali years ago in which he visited Tanah Lot, and watched Kecak dance.
(Our taxi driver who loved to smile)
Madame Tussauds Bangkok lied in 4th Floor of Siam Discovery. As I had purchased the ticket online beforehand (and got discount for it), I only needed to show the confirmation e-mail and BCA Mastercard that I used. By purchasing Madame Tussauds ticket online, I paid THB480 instead of THB800 per person. Wax figures, here we came!
I gotta admit that the wax figures were unbelievable. The celebrities’ wax figures were visibly artificial, like the face was smaller, the waist was slender, etc. But the politicians’ wax figures were beyond amazing. The Buddhist renowned monk had its toe nails a bit scratched. Soekarno had sunburned hands with uneven melanin spots on them. Vladimir Putin had his signature no-nonsense lip expression. There were also Aung San Suu Kyi, Mahatma Gandhi, etc – all were close reproductions to the living/dead person. Oh my God. At first, I even hesitated to touch the figures because they seemed so real.
(Cookie and his admirable acting) (Too happy to let him go <3)
(Yeah I'm that strong :)) )
(Mom and her only football obsession)
(Singing my heart out like she did)
(Cheers to our childhood icon!)
Have you watched “Night at The Museum” movie? I imagined if something like that actually happened in Madame Tussauds, especially in the politicians section. Wouldn’t it be world war every night? LOL.
(An obligatory figure to take photo with for all Indonesians)
(Again, an admirable acting...)
(Who wore it better, me or mom?)
Our guess yesterday about the extra luggage came true. Cookie had to pull it then put it somewhere in the corner everytime we took picture. He carried two backpacks (his and mom’s) and one trolley luggage, while I carried my backpack. Everytime we took picture, there would be pile of belongings in the hidden side of the room. How complicated yet funny. =))
Taking pictures were surprisingly exhausting. We decided to wrap it up and move to neighboring building a.k.a Siam Paragon Mall. This Siam Complex (Siam Discovery, Siam Tower, Siam Paragon Mall) lied in the heart of Bangkok with broad pavement which made comfortable walking area for tourists.
(Public sitting area in Siam Paragon)
And we were instantly busy searching for food in Siam Paragon. The food court was called Food Republic and it was actually very nice. I liked the minimalist interior, the façade above allowed enough sunrays to get into the building.
(A stylish corner in Food Republic)
I was thinking to order tom yum, pad thai, or the sort. I meant, “We are in Thailand and this might be our last chance to eat locally before going to airport.” But Cookie had set his eyes on BIBIMBAP and we could not resist it either. So, we had dolsot bibimbap, topokki, Japanese milk tea with bubble, and macaroons as dessert.
(The japanese-brand milk tea. Three large cups for THB255)
(Our lunch: refreshing Dolsot Bibimbap. Three servings of it plus one serving of Topokki cost THB605)
(Macaroons which cost THB50/each)
The Korean chef who cooked Bibimbap asked our opinion about his creation. We gave two thumbs for it. He asked where we came from, whether we had tasted Korean foods before, and was surprised when he knew. He was like, “How did you find out about Korean foods in that developing country of yours?” LOL, kidding. Well, sir, there’s hallyu, and we are big fans of it. He was barely convinced when we told him there were already many Korean restaurants in Bandung.
We relaxed for a while. I had the chance to shop Sephora (my most expensive purchase so far in the skincare category).
Then, the time came to head to Don Mueang. Several taxis came by and they offer THB200 no-meter fare, excluding toll fare. We firmly refused. One quiet driver came by and he agreed to go by meter. At first, he looked scary as he had countless tattoos and put on cold face expression. Later on, my mom told me, “I think he wants to get involved in the conversation.” It turned out that he was rather shy, very polite, honest, and cute. He even silently slowed down the cab when we found a mall named iSETAN (=”devil” in Indonesia) because I told him it was funny for us. He gave a chance for me to take out my camera to snap it. One of best taxi drivers we ever had.
(The "devil" building)
We arrived in Don Mueang in 40 minutes and spent our time over waffles, free wifi, duty-free shopping, dry-fruit snack shopping, until the time showed 20:30 and we were called to board the plane.
(Shopping more items in duty-free store as souvenir)
(Last selfie in Bangkok)
Until next time, Bangkok. Thank you for the priceless experience.
DAY 3 – Chatuchak Weekend Market, Ferry at Saphan Taksin, Asiatique the Riverfront
What could make a girl happier than shopping? As long as I live, I only know a few other options. LOL.
I don't fancy spending most of my hard-earned money on shopping for myself, for I know that the joy in owning things is only temporary. I still love the process itself, though, e.g. comparing alternatives then choosing the best (in terms of quality/mode/price) of all available options.
Up until now, does anyone here want to offer me a personal shopper vacancy? =))
On this second day, I allotted two-hour time for shopping in Chatuchak Weekend Market. Simply put, it was a mission impossible since we turned out spending four hours in the area. Oh, why did time fly so fast... Not only did we use plenty of time, we also walked a great deal of distance. We started from Chatuchak MRT Station and finished in Kamphaeng Phet MRT Station while shopping.
(Taxi > Phetchaburi Subway/MRT Station > One-trip fare to Chatuchak Station in only... 20 minutes. For THB31/person)
(The tale of taken token --- At first, I thought someone pulled a prank by putting fake coins into the MRT ticket machine and we were unlucky to get it as a change. Then, I recognized that it was a token.)
(Busy-gaming Cookie. Me and mom are in the window's reflection.)
(Posing in Chatuchak Park)
(One busy alley in Chatuchak Weekend Market. Traditional all-you-can-find market with full-working electricity and water pipe.)
(Mostly-eaten mango sticky rice for only THB35 if I'm not mistaken)
That explained the heavy jolt in our thighs and one additional trolley luggage. One can literally find anything in this Chatuchak/Jatujak/JJ Weekend Market and we only explored one section. If you want to explore all of it, I think you should spend the whole Saturday-Sunday from 09:00 to 17:00 with doping and a porter.
We brought our additional luggage to hotel with a happy yet worry heart. The problem was how to carry the huge luggage in the next day since we planned to visit Madame Tussauds and Siam Paragon Mall before heading to airport. Well, save the worry for later.
(Welcome to the new luggage and its content!)
In short, Chatuchak was where we spent our money the most and we did not regret since every baht was well spent.
We took a nap in the hotel and showered, then got ready again to watch sunset in the Mother River of Bangkok. Through my previous research, I knew there was a free tourist boat to enjoy Chao Phraya River near Saphan Taksin BTS. My original plan was to ride the ferry from there until Asiatique The Riverfront – an open-air shopping mall which located right next to the river. So, we headed to southern area, the Bangkok downtown. Walking distance from Saphan Taksin BTS to ferry port was no more than one kilometer. But wait, there were two ferries – the modern-looking and the old-looking ones! We randomly hopped on the old-looking one… and turned out it was the wrong ferry. LOL.
(Can you recognize the hue difference between my left and right side?)
(Mom's phobia started to show in 3.. 2.. 1..)
It gave great relief for mom, though. I did not know that she had phobia riding on the water. So, we came back to land, paid THB21/person just to cross the river, and once again relied to taxi. We walked a bit in Bangkok neighborhood, through a small, dark alley (or “gang” in Indonesia) to reach the main road. FYI, it was a safe walk even though we were rather lost. We saw no one sat randomly on the corner of the alley, looking at passerby with undescribed thoughts.
In my opinion, not many tourists chose Asiatique as their destination. It was packed, but mostly by Thai people. Our goal in Asiatique was to ride this giant ferris wheel which cost THB90/person. The queue was pretty long, we waited in line around 20 minutes or so. The view was nice and could had been nicer if it was during sunset. Afterward, we ate bread dipped in green sweet sauce which tasted oh-so-heavenly for THB70. The bread was so smooth and warm, the sauce fitted in place, and the seller was inside a modified, pink-coated, old Volkswagen. How romantic. Too bad I forgot to take picture.
(The biggest, tallest ferris wheel in town, for THB250/person)
(Asiatique The Riverfront)
(Coconut Ice Cream with milk, roasted peanut, pineapple in syrup, and nata de coco for THB45. Nuff said.)
The night went darker and it was time to go back to hotel. Here came the taxi challenge – anyone could get no-meter taxi which costed less than THB250 was the winner. We stopped a few taxis and none of them were willing to go by meter. I finally got one for THB200, but the cunning driver did not mention that we bore the toll fare of THB50. Well, whatever. Actually, it was rather comical to compare taxi drivers’ behavior during daylight and night.
We arrived at hotel and there was only one day left until we would leave Bangkok tomorrow’s night. If only I could rewind, rewind, rewind to the first day.
DAY 2 – Grand Palace, Wat Phrakeaw, Tuktuk, MBK Center, Baiyoke Sky Bar
Here came our first day of real adventure in Bangkok. The joy of solo traveling instead of joining a travel agent is the laid-back schedule. We fetched a taxi by standing on pavement in front of the hotel. Our nice driver speaks proper English, and he acted as a guide for us that morning. “This is the King Rama’s Palace, that one over there is Dusit Zoo, that is the King’s photograph, etc.” We were so happy to meet this mister!
I found out that Thai people paid high respect to their monarchy. The king’s photograph was in every big traffic light, and put in huge golden frame with lots of flower bouquets.Do not compare it to politician’s “Vote for Me” banners that are usually put near traffic light. The photographs of King Bhumibol Adulyadej were put in such meaningful way at every major intersection.
We stopped in front of the Grand Palace gate at 9:00. Since we had not eaten yet, we stroll around to find a dining place. The stores across the tourist gate were styled in uniformity. The street and the area were clean. We found two interesting places, unfortunately, the first was not open yet (“Still cleaning. Come back again in 10 minutes!” but 30 minutes passed and they were still busy preparing) and the second did not sell breakfast.
(I should tag this picture with #ootd)
(Who is that mister, Mom?)
So, we ended up eating in “Subway”, american chain of healthy(?) fast food whose main menu was sandwich with generous filling of vegetables and chicken/fish/pork. FYI, you can easily find Subway stalls in most of major tourist attractions in Bangkok.
(Subway's tuna sandwich with parmesan bread)
We ate, we relaxed, and oh no!- the sun was getting high. I forgot that the temperature could reach 40 C degree in the noon! So, absorbing the heat were us. =))
The admission tickets for Grand Palace, Wat Phrakeaw, and Queen Sirikit Museum of Textile were sold as one for THB500/person (about IDR182,500). Previously, I had googled and all blogs said it was only THB300. Useful tip next time you go on vacation: spare some room for annual inflation.
For such price, I would have utilized the ticket to walk around for at >3 hours should the weather was a bit friendlier. Me, mom, and Cookie lasted only 1,5 hours yet we already felt like our insides were boiling. LOL.
(The palace soldier who did not move a muscle no matter what happened)
(Optimizing my Xperia's self timer)
(Exhausted from the heat)
(This is Queen Sirikit Museum of Textile inside of Grand Palace complex a.k.a the only place with cool AC in which you can cheat from the heat outside)
However, I realized that the Bangkok sun ray did not give produce sunburn as much as it did in Indonesia, say, Jakarta or Bali. My skin only got subtly darker, whereas I expected worse. Thank God.
(Resting a while in a park in front of Grand Palace. The doves were in good shape and they did not fear human.)
(Well, this trip was originally intended for mom's birthday present ;) )
Have you ever heard of tuktuk? For us, it was like Thailand's version of Indonesia's bajaj or bemo. Tuktuk is a modification of vespa with attached metal carriage in the back and completed with roof and metal bar to enhance the safety. The driver's driving way was insane, though. He drifted at every turn, no matter how small the space that he got which was as narrow as the distance from one car to another in a jammed street. My mom screamed from fear, me and Cookie screamed from amazement, haha. Even though far more expensive than modern taxi, being driven in a tuktuk was quite a refreshment after we got beaten up by Grand Palace's hot and humid weather.
(Picture taken from Tuktuk's passenger "seats")
...and to MBK Center we went. Why MBK Center of all shopping places?
They gave free t-shirt and discount card for tourist in 6th floor's information center
We shopped branded, export-rejected items for women at Warehouse Export
(selfie inside of MBK Center, with the freebies in my hand)
A useful tip when looking for dining place in MBK Center is to avoid International Food Court at 5th Floor and head to conventional food court. The place in the first was a rip-off, except you really miss your country's food and cannot live without it (for example, there was Jimbaran stall for indonesian food which closely resembles the real thing).
But since we already seated and were too hungry to move, we ordered anyway. This was the seafood tom yum ("No pork! Seafood only," said the madam seller) which successfully went down my stomach in a few gulps.
(This shrimp picture still melts my saliva until today)
Afterward, we went back to the hotel to wash up and stretch out a bit. In the evening, we went out again to visit one thing that Bangkok had to offer: sky bar. I chose Baiyoke Sky Bar, which was an old attraction and had tacky bar interior design, nonetheless still remained as Bangkok's tallest building -at least in 2014.
The most unbelievable ornaments were alien AND spiderman statues in staircase toward the viewing dock in the rooftop. WTF with the random idea and unmatched combination. The view was magnificent, though. It was worth it to pay THB490 (~US$16) for the entrance fee plus one welcome drink which tasted better than the bar's visual.
(It is not shown in picture, but trust me, the waitresses' uniform was sort of outer-spaceship flight attendant...)
We walked down to Baiyoke Night Market and successfully held our desire to shop, because tomorrow would be the ULTIMATE SHOPPING DAY in Chatuchak! So, we fetched a taxi and went straight to the hotel.
Another impression of Bangkok was that "it is easier to get out than to go back home/to hotel". When we stepped out of the hotel, almost all taxis were willing to carry us by meter. When it was dark and we wanted to go back to the hotel, half of the taxis rejected and the other half would not agree to go by meter. The latter cost tourists at least 200% but of course it was better than to walk to the hotel.
.
The perfect case would be go out in taxi during low traffic hours, then go back to hotel using MRT/Bangkok Sky Train during peak traffic hours. Because when one taxi's fare is shared by three people, the cost of going with taxi by meter does not differ that much than MRT/Sky Train's one-trip fare. Note that it is only applicable if your hotel is located within walking distance to train station (be prepared for higher rent price, though).
Well, take it, or leave it. One cannot win all the time.
This is my first post in 2014. Too late to say happy new year eve, right? LOL.
I thought I was quitting blogging forever. I did not have fancy meeting every week, nor did I spend money on new fashion item every few days. Simply put, I did not have enough reason to blog. #excuse101
Until Bangkok happened in end of last April.
(Mom, the birthday woman. Cookie, the porter slash bodyguard)
It seems that even an ordinary life like mine has its perks sometimes.
So, here I find myself to blog about our recent trip. Me and my mom’s second trip abroad, and Cookie’s very first time.
.
Why Bangkok? Because I got budget airline promo ticket in January. At first, I planned to save it for my mom’s birthday present this May. But, she needed motivation to go through uterus-removal surgery (due to growing myoma) so I revealed the news ahead to her. I salute her willingness to do this semi backpacker trip exactly after 1 month of her surgery. I mean, we walked like miles and miles every day in hot Bangkok weather.
DAY 1 – Bandung to Jakarta to Bangkok
There was direct flight from Bandung to Bangkok, but unfortunately the ticket was not on promo. So, we took the longer route to CGK Airport in Jakarta by Cipaganti Airport Shuttle. We started from Bandung at 9:30 and arrived in CGK around 14:00. The flight number QZ 8320 would take off at 16:55. So, we strolled around the airport, ate late lunch, visited the toilet (!), and optimized the not-so-fast free wifi. It was my first time to fly from CGK in a looong time. My last time was when I was a little girl, so I was fascinated at how big the airport complex was.
At 15:00, we entered the security check and paid @ Rp150,000 of airport tax, because tax is one unavoidable thing for any earthling, isn’t it?
(Waiting for our flight in CGK)
(So exciteeed for our first adventure abroad)
Our flight was delayed for half an hour but it took off smoothly… and we had our dinner on board. Fortunately, I had pre-booked the meals so the price was 20% cheaper. Yay for AirAsia’s meal pre-booking discount!
(Steak, Chicken Satay, and Uncle Chin's Rice)
I forgot how cold the cabin temperature can be, bbrrrr.. Cookie lent me his jacket, and he ended up shivering for me. Poor black knight.
We stepped off the plane around 21:00. YAY WELCOME TO BANGKOK… and suddenly were at loss. Other Indonesian tourists gathered with their travel agent but we were by ourselves. We couldn’t speak Thai, nor could we read their alphabets. Luck and English and intuition were all we count on. It’s okay, because otherwise it wouldn’t had been an adventure.
(Just landed at Don Mueang Airport, Bangkok)
My original plan was to fetch a bus. But it was too dark, and all buses ran at their full speed that we could barely recognize their route code. *sigh* Taxi was a more suitable choice. So, we stood in line and I took my first chance to fetch a taxi in Bangkok.
It was not easy. First, not all drivers want to trouble themselves into carrying foreigners due to language barrier. Second, only a few drivers would go by meter. Third, we pronounced the destination address differently than they did so they misunderstood. For example, our destination was Phetchaburi. I pronounced it in English way, but Thai people would spell “r” similar to “l” and they did not necessarily say the “a” in the middle. LOL, can you imagine the driver’s frustration when I tried to convey my message?
Our first driver was an tiny elder with white hair. He was kind and helpful but we lacked in communication so, unfortunately, in the end he got angry for a reason that we really could not understand. We’re sorry, Mr. Driver.
So, we finally arrived at Q Hotel. It is a small, relatively new hotel at New Phetchaburi Road. Check-in process went smooth, we got two rooms in 3rd Floor. Lobby, 1st and 2nd Floors were cool from AC, but 3rd Floor’s corridor was naturally hot. Maybe because those in 3rd Floor are Agoda-generated guests with cheap room price. =))
(In the middle of staircase to 3rd Floor in Q Hotel)
Mom wanted to rest immediately. Cookie wanted to buy cigarette and I was hungry, so we walk in the neighborhood… and found a Lawson convenience store (just like what we had in Jl. Cihampelas - Bandung). Finding something familiar in the middle of all unfamiliarities was a happiness. So, I bought several snacks and Cookie bought his first and last cigarettes in Bangkok. Me would like to thank the expensive cigarette price, hahaha.
(Looking for a convenience store...)
(Above: Chicken Salapao or bakpao in bahasa, I almost chose the pork ones, LOL. Below: Cornetto Green Tea which tasted good)
We slept a bit past midnight, and were ready for our adventure the next day.
Kalau diingat-ingat lagi, saya juga kagum sama diri sendiri dan semua rombongan yang bisa melalui lima jam itu di dalam bus yang AC-nya dimatikan karena supirnya pelit. Ditambah lagi, ini Jakarta kak, tahu sendiri segimana suhu udara outdoor dan kepengapannya. Semua ini demi Lee Min Ho. *geleng-geleng kepala*
Singkat cerita, jam-jam penuh siksaan itu cepat berlalu karena kami yang di-oven di dalam bus sibuk mengobrol, bergosip, dan mengalami delusional massal karena si Oppa, hahaha. O iya, saat pertama kali tiket berfoto bareng diketahui oleh rombongan, wuih, entah berapa pasang mata yang memelototi saya. Syereeem hahaha. Nggak lama kemudian, mereka balik memberikan tips dan trik untuk curi-curi kesempatan pas foto bareng. Ada yang minta saya nyabut rambutnya Oppa buat tes DNA(!), ada yang minta saya pegang hidungnya yang mancung(!), ada yang minta tanda tangan, ada yang minta saya menceritakan wangi parfum Oppa, dll. Girls can be scary, right?
Pukul 05:00pm, sebagian besar Minoz Bandung ganti baju. Ooh, ternyata mereka sengaja pakai kaos katun yang pewe saat berangkat dan menyimpan setelan yang hip banget (a.k.a baju tempur) biar nggak kucel pas ketemu si Oppa. Pintar. Nggak kayak saya yang dari pagi udah pakai dress. Maklum, baru pertama kali.
Ruang ganti baju dan bersolek dadakan: di dalam bus yang tirai dan pintunya ditutup.
Pukul 06:00, kami sudah cantik dan siap memasuki venue. Bagusnya fanmeeting yang disponsori oleh Indosat dan beberapa pihak lain ini, nomor bangku sudah tertera di tiket, mirip seperti tiket bioskop. Jadi, nggak usah mengantri mengular dari siang hanya untuk mendapatkan posisi duduk terbaik.
Di dalam JCC, saya pun mencari Mbak Erry. Kata sandi dari Mbak Erry yang disampaikan lewat sms yaitu, "Aku pakai baju pink, nih." Banyak juga ya, yang pakai baju pink. Akhirnya saya memutuskan untuk menukar tiket foto bareng terlebih dahulu di booth Indosat. Tiket ini berbentuk gelang kertas pink (lagi) yang dilingkarkan di pergelangan tangan.
Ini dia gelang bukti hak foto bersama. Ada yang bersedia membayar Rp2,5-3 juta buat ini. *langsung nyembunyiin gelang di dalam lengan baju*
Sewaktu saya tanda tangan lembar pengambilan, masnya bilang, "Ooh, Mbak Shinta, toh? Tadi dicariin sama temennya."
Saya spontan celingak-celinguk, "Yang mana, mas?"
"Itu," kata si mas sambil menunjuk ke tempat duduk yang jaraknya nggak sampai lima meter.
Di antara segerombolan cewek yang duduk di situ, untungnya hanya satu yang pakai baju pink.
"Mbak Erry?"
"Shinta?"
KYAAA. Kami pun berpelukan berputar-putar, udah kayak talkshow zaman baheula yang mempersatukan anggota keluarga yang terpisah lama itu, lho.
Di sana, segala serba mengantri. Mau ke kamar kecil, ngantri. Mau isi pertanyaan buat Lee Min Ho, ngantri. Mau foto gratis bareng life-size figure Lee Min Ho asalkan beli voucher Indosat senilai minimal Rp5000 ini pun antriannya sepanjang ini loh:
Lagi-lagi, dalam hati saya berujar, "The power of fangirling."
Pukul 07:00pm, kami pun memasuki Plenary Hall dengan tertib. Iklan silih berganti muncul di layar. Penonton nggak sabar, entah berapa kali orang-orang berteriak, "Lee Min Ho! Lee Min Ho!"
Ngomong-ngomong, atmosfer Plenary Hall malam itu romantis sekali lho:
Ini dia yang kupanggil Mbak Erry
Mana malam minggu, mana mau ketemu si Oppa, mana suasana seromantis ini... Aih.
Seiring dengan berlalunya menit, penonton makin tegang. Beberapa cewek ngomong ke saya, "Aduh, deg-degan gini. Aaak," sambil mengusap dada. Sound system keras sedikit, ada yang teriak. Lighting terang sedikit, ada yang heboh. Dikiranya Lee Min Ho udah mau naik panggung. Padahal teknisi lagi ngetes (atau iseng) doang.
Setelah penantian yang rasanya seabad, Lee Min Ho naik ke panggung pukul 07:45pm. Di situ, saya merinding. Bukan karena Lee Min Ho tapi karena reaksi ratusan-ribuan cewek di seantero Plenary Hall. Mereka berteriak. Mereka berdiri. Oleh karena yang depan berdiri, yang belakang naik ke atas kursi. Gila, benar-benar gila. Tapi kok menyenangkan, ya? Nggak setiap hari ada kesempatan di mana kita dimaklumi bertingkah histeris sesuka hati, kan? Hihihi.
Tersihir. Semua hanya karena han namja (=satu lelaki).
Tulisan ini nggak akan menjabarkan secara rinci kelakuan Lee Min Ho di atas panggung (dan sekali kesempatan ketika ia membelah kerumunan). Sebab, bakal butuh 7 hari 7 malam buat menceritakan secara rinci. Meskipun saya nggak bisa membandingkan dengan event serupa soalnya baru pertama kali, rasanya pihak penyelenggara patut dapat acungan dua jempol. Acara sukses, antrian tertib, komunikasi lancar walaupun Lee Min Ho berbahasa Korea dan MC Dave Hendrik berbahasa Indonesia (terima kasih buat penerjemah yang super swift), penonton histeris, dan... suasana lobby super meriah berkat totalitas para sponsor untuk memberi servis terbaik bagi pengunjung.
Satu hal yang bikin saya penasaran adalah ketika Lee Min Ho menjawab kuesioner fans yang menanyakan nomor ponselnya.
Dia menjawab, "010402536##"
Kalau kata teori peluang di matematika = 10 x 9 = 90 kemungkinan! Ayo, ayo, adakah yang mau beli pulsa lalu memanfaatkan layanan Indosat buat telepon ke Korea dan menjajal 90 kemungkinan itu? :))
Momen terbaik buat saya dan Mbak Erry dan segenap orang lain yang dikaish durian runtuh oleh Indosat tentu saja ketika berfoto bareng. Aaaaaaaakk Asia's most wanted actor yang selama ini cuma dilihat di layar kaca bisa benar-benar ada di depan mata. Beneran tinggi! Beneran ganteng! Beneran ramah!
Foto Lee Min Ho di ponsel saya. Diambil diam-diam saat foto bareng, curi-curi kesempatan dari security korea yang super strict (percaya nggak sih, security-nya Lee Min Ho aja GANTENG).
Dulu saya nggak suka korea. Bukan negaranya, tapi hallyu wave-nya.
K-pop, k-drama, apalah itu namanya. Saat hallyu mulai mewabah di kampus sekitar tahun 2009, memang masih sedikit "penyebar virus"-nya.
Lalu, si @carmayden menjejali saya dengan Boys Over Flowers. Terlepas dari ide cerita yang luar biasa hiperbola, ada setitik rasa tertarik di sana.
Lalu, menjelang Lebaran 2011 kalau nggak salah, si Karin kembali lagi dengan virus yang lain. Kali ini judulnya City Hunter. Virus yang ini telak banget, soalnya efeknya masih terasa sampai sekarang. Aktor utama di drama serial ini, Lee Min Ho, benar-benar sreg memerankan tokoh Lee Yoon Sung - seorang profesor IT berusia 28 tahun yang dimanipulasi menjadi martir pembalasan dendam oleh eks-tentara yang dendam kepada pemerintah. Intinya, itu adalah salah satu must watch korean drama.
Entah takdir atau bukan (lebay), Lee Min Ho dijadwalkan akan menggelar Global Fan Meeting di Indonesia di mana salah satu sponsornya adalah Indosat. Masalahnya, saya nggak tahu berita tentang event ini, yah mungkin semacam efek bekerja: jadi nggak up to date sama dunia luar. Sampai tanggal 15 Maret, berita tentang Lee Min Ho yang mau fanmeeting di Indonesia sampai ke monitor PC saya berkat status Facebook teman bloggerku (ketjup basahhh) @margeraye.
Berkat tanya-jawab via chatting, saya dipertemukan secara virtual dengan mbak @zizydmk. Setelah mengirimkan link blog ini dan sepucuk surat elektronik, saya pun diganjar satu tiket silver dan satu tiket foto bersama Lee Min Ho dari Indosat. Alamak! :'D
Rezeki memang nggak kemana. *peluk Melly & Mbak Zizy*
Ajibnya lagi, Melly juga menyodorkan(?) teman nonton yaitu Mbak Erry @ebibitititeliti yang juga jadi blogger Indosat untuk Lee Min Ho. Mbak Erry ini pernah dua kali ke Korea Selatan, gratis, dan dapet uang saku puluhan juta berkat menang kontes SEO blogging. Iya, emang bikin sirikkkk.
Tinggal dua lagi masalah yang belum terpecahkan:
Naik apa ke/dari JCC, secara acara baru selesai pukul 21:00
Pergi sama siapa biar aman dan terjamin. Tadinya saya kepikiran mau mengembara sendiri naik travel disambung Transjakarta kombinasi taksi tetapi rencana ini langsung ditentang keras sama mama dan Cookie. Duileh kompak amat.
Bawa teropong. Biarpun newbie, persiapan harus maksimal
Jalan keluar itu datang mendadak lewat @asrisacicank, teman kantor dan k-pop lover, yang menyarankan ikut rombongan @minozbandung. Pukul 08:00am hari Sabtu 23 Maret sampai pukul 03:00am keesokan harinya, saya pun terjebak sama rombongan Minoz (julukan untuk fans Lee Min Ho). Terjebak dalam arti yang menyenangkan. Meskipun saya nggak kenal satupun dari mereka sebelumnya, nggak ada satupun awkward moment sepanjang hari itu. Begitu juga dengan Mbak Erry, mommy blogger dengan dua "buntut" (=anak), yang teriak-teriak bareng, berdiri di kursi bareng ketika barisan depan sudah berdiri duluan, ngantri toilet bareng, dll, sepanjang fanmeeting. Serasa ketemu teman lama. It's amazing how fangirling unites people. :)
We are total stranger to each other
Bersama sebagian kecil Minoz Bandung. Kiri ke kanan: belum kenalan, belum kenalan, belum kenalan, Anita (dari Purwakarta), Nima, saya, Ratu (dari Medan). Teman sebangku saya, Ita, datang dari Garut.
Saya dan rombongan Minoz Bandung berangkat dari Bandung jam 09:00am. Sampai JCC sekitar 12:00pm. Cari parkir setengah jam, makan siang a la piknik di tempat parkir yang teduh oleh pepohonan (tapi tetap pengap -namanya juga Jakarta), sholat di mushola komplek GBK yang kualitasnya agak menyedihkan (karena disatukan dengan WC -mana harus bayar), menukar tiket (alhamdulillah sistemnya bagus jadi nggak ngantri panjang)... waktu pun menunjukkan pukul 02:00pm. Acara dimulai pukul 07:00pm.
Tempat penukaran tiket yang antriannya lancar jaya
Bukan. Tulisan ini bukan tentang hal-hal yang berbau supranatural melainkan tentang dunia fangirling. Ya, fangirl (istilah yang sedang hip untuk menyebut penggemar fanatik selebriti tertentu) biasanya memandang idola mereka nyaris seperti manusia setengah dewa.
Hari Sabtu, 23 Maret 2013 besok, @indosatmania akan mensponsori fanmeeting salah satu aktor Korea Selatan yang sedang naik daun. Dia adalah... nggak lain dan nggak bukan... Lee Min Ho! Semua tentang Global FanMeeting Lee Min Ho bisa kamu lihat dengan melacak tagar #IM3LeeMinHo di Twitter.
Siapa itu Lee Min Ho? Aduh, masa sih nggak tahu ciptaan Tuhan yang satu ini.
Googling dulu sana. :3
(Lee Min Ho di "Boys Over Flowers" - 2008)
(Lee Min Ho di "Faith" - 2012)
Dan berikutnya adalah drama serial yang menurut saya sejauh ini adalah masterpiece-nya Lee Min Ho:
(Lee Min Ho di "City Hunter" - 2011)
City Hunter adalah drama Korea pertama yang saya tonton sampai dua kali bolak-balik gak peduli DVD tergores dan subtitle banyak yang ngaco. Sejauh ini setelah saya menonton belasan drama serial, City Hunter masih jadi drama serial favorit. Drama mana lagi yang bisa mencampurkan romansa, aksi, dan politik ke dalam satu scene? Kayaknya drama serial ini 99,9% perfect, deh. Terutama dari pemeran utama cowoknya. *terdengar teriakan "kyaaa" di kejauhan*
Begitu tahu Lee Min Ho mau fanmeeting di JCC Indonesia, langsung lah saya penasaran. "Indosat ya yang ngadain? Berapa tiketnya?" "Apakah LMH sekeren di City Hunter?" *terus ngiler*
Apalagi, begitu saya ngepoin akun Twitter para Minoz (sebutan untuk fans LMH) yang totalitasnya mengundang geleng-geleng kepala sekaligus bikin mengacungkan dua jempol. Ada fans yang menyiapkan hadiah spesial untuk si oppa ganteng, ada yang jauh-jauh terbang dari luar Jawa, bahkan ada fans yang "niat banget" perawatan kecantikan dari ujung rambut ke ujung kaki. Wuih, saya rasanya kayak ketinggalan kereta menuju si abang Minho.
Betapa beruntungnya saya ketika tahu kalau Indosat sedang mencari blogger & buzzer untuk meliput Global FanMeeting Lee Min Ho. Saya langsung daftar tanpa pikir panjang. Urusan dari Bandung ke Jakarta naik apa, itu belakangan (thanks to Minoz fanbase Bandung yang sudah memfasilitasi transportasi). Bagaikan durian runtuh, saya dihubungi melalui e-mail untuk menunggu e-ticket yang akan diberikan secara gratis oleh Indosat. Sesuatu! ;)
Belum sempat beli tiket? Tanya-tanya ke akun Twitter Indosat aja, siapa tahu masih ada kesempatan. Ini denah tempat duduk untuk acara besok pukul 19:00-21:00:
Semoga semoga semoga, ke depannya Indosat bisa memboyong lebih banyak lagi selebriti berkualitas ke Indonesia. Atau giliran memfasilitasi selebriti berkualitas Indonesia buat unjuk gigi ke ajang internasional.
Akhir kata, sampai ketemu di #IM3LeeMinHo besok, @indosatmania! Tunggu liputan selanjutnya, hohohohoho. *ketawa ala Santa Klaus*
Cookie: [talking about his family, then somehow the topic jumps to his brother] He has not yet found his soulmate.
His tone implies as if it's a problem.
Me: Relax, he's only 20. Some men get married when they are 30.
C: But, I met you in high school!
I grin. Ah, he's worried about his brother. How cute.
Me: We are a rare situation. That's why we have to be grateful, Dear.
(A picture of him taken by his friend, posted and tagged to his FB account. Thank you, Mr. I-forget-your-name. My boy here rarely makes this kind of face... which is a shame. It's one of his sincere expressions which are effortlessly infectious to me.)
Naik bus & pakai tour guide sampai siang, lalu pakai skytrain & MRT & jalan kaki. Orchard Road, mengantar sebagian rombongan ke Changi Airport, lalu mengelilingi Resorts World Sentosa dari ujung ke ujung dengan skytrain, internal shuttle bus dan tentunya... jalan kaki.
(Kinokuniya book store, Orchard Road. Penyesalan terbesar adalah nggak belanja di sini padahal harganya jauh lebih murah dari di Indonesia. Hiks.)
(Santun di negeri orang)
(Melindungi si kakek dari serangan FPI)
Jalan kaki hari ini adalah yang terjauuuuuuuuuuh selama 21 tahun hidup di dunia. Minimal sepuluh kilometer, lah. Paha dan telapak kaki berasa berkonde, lalu berasa nggak ada aja saking capeknya. Tadinya niat ke Universal Studio tapi cuaca gerimis dan waktu terlalu mepet. Tiket seharga S$75 yang sudah didiskon jadi S$66 di airport pun dirasa terlalu mahal karena sikonnya begitu. Ya sudahlah, buat sekarang cukup berfoto dulu di gerbangnya.
(Menunggu MRT)
(Akhirnya mengalami naik MRT sekelas yang selama ini cuma bisa dilihat di Running Man :') )
(Ubur-ubur di sea world di Sentosa. Sea world nya nggak lebih besar dari yang di Ancol. Namun, ikan-ikan di sini mulus, montok, dan terawat.)
Oh ya, ada Casino bawah tanah di Sentosa yang gratis dimasuki oleh turis asing. Penduduk Singapura malah harus membayar mahal agar bisa masuk. Hebat ya pemerintah, konsepnya bikin bangkrut turis asing tapi penduduknya sendiri dijauhkan dari marabahaya J-U-D-I (gaya bang rhoma). Tata guna lahan di Sentosa juga keren sekali. Di atas tanah, pepohonan hijau diatur dengan rapi, rimbun, dan seragam. Eeh, di bawah tanahnya dimanfaatkan untuk parkir ratusan bus. Padahal, lahannya super terbatas.
SENIN
MRT & jalan kaki. National University of Singapore dan Nanyang Technological University.
(National University of Singapore. Kalau mau jalan-jalan gratis di kampus ini, naik internal shuttle bus langsung dari stasiun MRT terdekat saja.)
(Tangga menuju NUS Career Centre. Jadi semangat naik tangga, deh.)
(NUS Career Centre yang kantornya selevel sama salah satu KAP Big 4 di Kuningan, Jakarta. KAMPUS LHO, KAMPUS!)
(Pindah ke NTU Career & Attachment Office)
(NTU Career & Attachment Office)
Ada pengalaman mengesankan sewaktu kita mau naik taksi dari stasiun MRT terdekat ke NTU: supir taksinya menolak nganter kalau kita nggak tahu persis lokasi gedung tujuan ada di sebelah mana, saking luasnya tuh kampus jadi supir taksi itu nggak mau rugi waktu muter-muter nggak penting! Pendapat saya, NTU itu bukan kampus tapi kabupaten.
Selain itu, kami juga mampir (lagi) ke Bugis (beli titipan oleh-oleh yang belum sempat terbeli), jalan kaki melewati 4 lampu merah untuk shalat di Masjid Sultan di kawasan Arab (kalo di Bandung, boro-boro jalan yang ada naik angkot). Malamnya, kami makan durian di pinggir jalan. FYI, Pak B itu maniak durian. Durian dari setiap daerah di Indonesia kayaknya udah dicicipi oleh beliau. Di sana, kami makan durian Mustang yang konon adalah durian grade A+ dari Malaysia dengan harga S$40 dari sebelumnya S$70. Komentar Pak B, "Masih lebih enak durian Bali yang harganya cuma Rp25,000." Oh ya, orang Singapura konon maniak durian. Jadi, durian berkualitas tinggi dari Malaysia seluruhnya diekspor ke Singapura. Orang Malaysia-nya sendiri hanya kebagian durian kelas menengah. Namun, durian tidak boleh dimakan di sembarang tempat apalagi dibawa ke MRT/taksi/bus karena baunya yang mengganggu nonpecinta durian. Durian hanya bisa dimakan di beberapa tempat, salah satunya ya di pinggir jalan di Bugis ini. Kios ini nggak hanya menjual durian tapi juga mangga, rambutan, dan buah tropis lainnya. Variannya sedikit dan harganya naik berkali-kali lipat dari di Indonesia. Pantas saja kalau orang Indonesia yang tinggal di luar negeri banyak yang kangen buah-buahan tropis. Wahai orang Indonesia, merugilah kalian yang nggak suka makan buah!
(Durian Mustang. Segini, harganya S$40.)
SELASA
Naik taksi langsung ke Changi Airport. taksi di sini ada +25% charge selama peak hours (jam masuk kerja, pulang kerja, weekend, hari libur nasional). Sekitar setengah 12 siang, kami sampai di Bandara Husein dengan selamat. Yang tadinya ngantri imigrasi hanya <5 menit di Changi, jadi 30 menit di Husein. Yang tadinya sejuk ber-AC, jadi semi sejuk berkipas angin. Yang tadinya bandara mewah sekelas mal, jadi................. ah, sudahlah.
(Terbang berkalang mega mendung)
(Pemandangan pertama sesampainya di Bandung. Ini bandara apa terminal bus.)
Sekarang, satu halaman di paspor saya sudah dibubuhi cap. Semoga hampir seluruh halaman paspor ini akan dibubuhi cap dari negara lain pada tahun 2017 saat masa berlakunya habis kelak. Amin ya robbal'alamin.