Jadi admin lembaga, buat saya sadar kalau ada beberapa orang tua yang disuruh isi formulir supaya tahu tempat lahir, tanggal lahir, alamat, ama nomer telpon malah nggak diisi dan nyepelein. Cuma TPQ aja minta macem-macem, gitu katanya. Kalau gitu, boleh nggak data tempat lahir anaknya saya isi di antah berantah, 39 Desember 2059 trus alamat rumahnya diisi rumah presiden?! Entar salah lagi, jadi masalah lagi. Makanya jangan nyepelein!
Mohon maaf ya Bapak Ibu, lembaga kami itu sudah ada nomer statistik dan sudah terdaftar di Kemenag, jadi mau nggak mau datanya harus lengkap. Kalau tidak lengkap, yang kena tegur bukan sampean-sampean itu, tetapi saya, operator lembaga sekaligus kepala lembaga.
"Mbak, kok sampean ga pernah update Emis?"
"Memang keliatan ya, Pak?"
"Keliatanlah, cepet update Emisnya!"
Atau kayak komen admin kabupaten.
"Itulah lembaga, baru dapet bantuan baru buru-buru ngisi data!"
Itu mulutttt! Pedes bangettt!
Maaf. Bukannya kita nggak mau ngisi data, ya Mas, orang tuanya tuh lhooo, nggak kooperatif. Udah dari kapan tahun dimintain data, tetapi nggak ngasi-ngasi. Berasa private gitu data anak sama orang tuanya.
Apalagi menurut saya, Emis itu nggak user friendly. Buat kami-kami admin lembaga yang emang nggak punya background IT dan paling banter bisa ngoperasiin Ms Office ama buka browser, Emis itu ribet. Belum lagi kalau data yang sudah diisi dengan keringat dan darah justru hilang dari akun Emis! Ke mana data santri lembaga saya yang 60 orang lebih itu, hei?! Jawab!!!
Atau jangan-jangan data lembaga saya nggak hilang, tetapi migrasi ke kementrian lain soalnya mas admin kalau di grup kerjaannya marah-marah mulu. Jadi daripada kena marah, mereka pindah berjamaah. Awas lho mas, marah-marah bikin cepet tua. Kita-kita yang lain mah nyantai aja wong udah tua. Mas ini yang masih muda, perlu waspada. Apa pengen banget dikira seumuran ama kita-kita??
Saya masih berharap Emis 4.0 ini lebih ramah pengguna. Terutama untuk kami-kami yang gaptek. Kalau memang perlu ada pelatihan, yaaa monggo diadakan pelatihan. Sama kayak Emis, sebelum migrasi ke Emis 4.0. Setelah dapat pelatihan, nyatanya kami-kami yang tadinya tidak faham jadi mengerti pengolahan data Emis. Dan ketika ada kesalahan waktu entry data, data error, data santri dan rombel nggak muncul and so on, kita udah tau mesti ngapain.
Jangan kayak sekarang! Migrasi ke Emis 4.0 malah cuma dikasih buku panduan penggunaan doank. Pas ada masalah data, tanya sana sini malah nggak ada solusi. Didiemin aja salah. Kena marah lagi.