Disana kutemukan sebuah dunia yang sebelumnya belum pernah kujamah, dan sesudahnya tak lagi kujamah.
Sebagian dunia remajaku, kuhabiskan bersamanya.
Cangkul, benih, dan pupuk menjadi teman terbaik di kala Ujian Praktek mendekat.
Aku masih tak menyangka, teori-teori pertanian yang dulu memuakkan, kini tak ada yang bersisa satu pun dalam memori otakku.
Menguap, bersamaan dengan teori ekonomi yang kian lama kian menarik perhatian si otak.
Kadang, rindu itu datang beriringan dengan rasa abstrak yang sulit kudeskripsikan.
Aku rindu pertanian, rindu membuat galengan yang dulu sebagian besarnya tak pernah kugarap, rindu menebar pupuk karena itu adalah hal yang paling sederhana dan tak begitu melelahkan, rindu saat menunggu waktu panen tanaman singkong atau kangkung, dan bermacam-macam rindu yang menumpuk.
Aku ingin ke Lampung, tapi disana bukan lagi tempatku untuk pulang.
Pun ada suatu hal yang selama ini menghalangi ragaku untuk sampai disana.
Ialah rasa takut.
Rasa takut akan kebetulan-kebetulan yang barangkali akan terjadi (kembali) disana, seperti beberapa tahun silam, saat aku dipertemukan di toko buku oleh seseorang yang telah lama tak bersua namun wajahnya amat familiar dimataku.
Apa yang aku lakukan saat itu? Jelas, aku seperti orang bodoh yang berlari lalu terpeleset sampai akhirnya kutemukan tempat persembunyian dibalik tumpukan buku. “Kau penyelamatku”, batinku pada buku.
Saat itu, ingin sekali kumenggerutu pada Tuhan yang telah menciptakan takdir bernama “kebetulan”. Namun aku tau, hal itu akan membuatku menjadi hamba durhaka.
Tak mau kusebut “kebetulan” itu sebagai kenangan. Karena itu adalah satu di antara seribu alasan mengapa aku tak ingin kembali ke kota itu.
Namun, jika suatu hari kamu melihatku di Lampung, artinya pertanian adalah alasan yang kupilih untuk kembali kesana. Walau hanya sekadar melepas rindu. Entah kapan.
Pertanian adalah kenangan sekaligus pelajaran hidup. Disana kubelajar arti menunggu juga arti kerja keras. Bahwa ketika kita ingin mendapatkan hasil yang maksimal, kita harus melalui proses yang tak mudah dan tak bisa berleha-leha.
Pertanian.. maaf aku tak dapat melanjutkan langkahku bersamamu.
Percayalah, kenanganmu akan selalu melekat di hati dan pikiranku (terkecuali teorinya :D).
Terimakasih telah menjadi pelajaran eksklusif yang tak semua siswa sebayaku -kala itu- bersedia menjamahmu.
Dan aku merasa tersanjung mendapat gelar alumnus siswa pertanian, hehe