Refleksi Strength Training: Saat Hidup Sedang Riuh-riuhnya, Mungkin Ini yang Butuh Kita Ingat Sekali Lagi
"Jangan lupa napas, ya! Ayooo, jangan lupa napas."
Kalimat ini hampir selalu dikatakan oleh coach saya ketika kami sedang melakukan strength training (olahraga latihan beban). Mungkin ini kesannya lucu, "Kenapa sih napas doang harus diingetin, emang ada orang yang lupa bernapas?" Awalnya saya pikir juga begitu, tapi ketika sedang melakukan strength training, ternyata saya bisa lupa bernapas! Saking fokusnya bertahan dan menstabilkan diri sampai 1 set gerakan selesai, saya sampai lupa bernapas. Terkadang juga bingung, "Ini saatnya tarik napas atau buang napas, ya?" 😂🙏🏻
It’s the little things that matter. Hal kecil, sih. Hal sederhana, sih. Tapi kita lupa~
Kalau dipikir-pikir, hal serupa sering terjadi pada diri kita, ya. Saat hidup dan pernikahan terasa riuh dan tidak baik-baik saja, kita seringkali lupa pada hal-hal kecil dan sederhana (yang sebenarnya tidak sekecil dan sesedehana itu, dan justru memberikan dampak yang besar). Apa saja?
✅ Kesempatan hidup dari Allah. Bahkan sebelum kita membuat list kebaikan yang Allah beri, kesempatan untuk bisa hidup dan memaknai kehidupan saja sudah anugerah, bukan?
✅ Kemampuan untuk bisa bangkit dan bertahan yang Allah berikan. Siapa sih yang sekarang hidupnya benar-benar baik-baik saja? Rasanya nggak ada. Kayak quotes yang sering kita dengarlah, "Everyone you meet is fighthing a battle you know nothing about." Memangnya siapa yang bisa membuat kita tetap bersedia menjalaninya lalu bangkit dan bertahan kalau bukan Allah?
✅ Bahasa-bahasa sayang Allah yang dihadirkan-Nya lewat ujian. Kita suka merasa nggak disayang ya sama Allah, apalagi kalau tema hidup kita isinya lagi banyak sedihnya. Tapi kan itu tanda Allah sayang dan masih merhatiin kita nggak sih?
✅ Bisa menangis dan menemukan kelemahan diri. Terkadang mungkin kita cengeng, tapi, dengan sedikit demi sedikit upaya, sebenarnya setiap tangis dan kelemahan diri yang kita temukan bisa mendorong kita untuk bertransformasi dan menemukan salah satu kunci hidup: bahwa kita memang lemah tanpa pertolongan Allah. Kalau kita nggak merasa lemah, mana mungkin kita akan kembali pulang dan minta tolong sama Allah, kan?
Begitulah. Dalam sendu yang sedang terasakan, sebenarnya hidup kita ini "meriah" dengan seluruh kasih sayang dari-Nya meski mungkin saat ini kita masih berproses untuk memahaminya.
Ini note to myself, kita saling mendoakan yaa. Semoga Allah karuniakan kepada kita jiwa yang lapang untuk menjalani hari-hari ke depan. Wallahu 'alam bishawab.